- Dana Umat dan Lahirnya Inovator Sosial
- Mimpi yang Tumbuh di Tanah Garam
- MUI Bandung Dorong Aspirasi Damai
- Wakaf Saham Buka Peluang Ekonomi Umat
- OJK-BBF Perluas Pasar Batik Lokal
- Jonatan Donasikan Seluruh Bonus Asian Games
- Perhutani-BRI Jajaki Pengembangan UMKM Hutan
- LPDP Perketat Syarat Sertifikat TOEFL
- BAZNAS-Sabana Perkuat Program ZChicken
- Baznas-KSrelief Salurkan 30.000 Paket Bantuan
Mimpi yang Tumbuh di Tanah Garam
Oleh: Raeihan Ramadhan
.jpg)
Keterangan Gambar : Foto: Dok. Ilustrasi AI
Di Desa Lantora, laut selalu datang lebih dahulu daripada matahari. Sebelum ayam jantan selesai berkokok, perahu-perahu telah bergerak meninggalkan pantai, membelah air yang masih hitam oleh sisa malam. Dari kejauhan, lampu-lampu kecil mereka tampak seperti kunang-kunang yang tersesat di permukaan bumi.
Desa itu terletak di pesisir utara Pulau Sulawesi, di antara laut yang luas dan perbukitan yang menyimpan mata air. Orang-orangnya hidup dari ikan, kebun, dan apa pun yang bersedia tumbuh di tanah lembap. Di halaman rumah, pohon pisang berdiri berdekatan dengan cabai dan tomat. Jagung dijemur di para-para bambu. Di dapur, ikan asin bergantung di atas tungku, mengirimkan aroma garam dan asap ke seluruh ruangan.
Orang-orang Lantora jarang membicarakan kelaparan. Jika beras habis, masih ada jagung. Jika lauk tak tersedia, laut menyimpan ikan. Jika tak ada cabai di dapur, seseorang tinggal memetiknya dari kebun belakang. Namun, bagi Arman, ayah dari seorang anak perempuan berusia dua belas tahun bernama Suri, hidup yang cukup tidak selalu berarti hidup yang mudah.
Baca Lainnya :
- Gunung yang Tak Pernah Menjanjikan Kepulangan0
- Sekolah yang Menolak Jadi Sunyi0
- Dua Nama di Bawah Langit Abu0
- Hujan yang Menulis Surat0
- Nama-Nama di Dinding Kampus0
Arman seorang nelayan. Ia juga mengelola tempat pengasapan ikan kecil di samping rumah. Setiap hari, ikan-ikan roa dibelah, dibersihkan, lalu disusun di atas rak kawat. Asap kayu tempurung kelapa mengepul dari tungku, menempel pada dinding, pakaian, bahkan rambut orang-orang yang bekerja di sana.
Suri tidak menyukai bau asap itu. Ia lebih suka aroma rumput basah di lapangan sekolah atau bau tanah setelah hujan. Setiap sore, sepulang belajar, ia berlari ke lapangan kecil di depan sekolah dasar. Di sana, bersama anak-anak lelaki, ia bermain sepak bola menggunakan bola plastik yang warnanya mulai pudar.
Ia satu-satunya anak perempuan yang rutin ikut bermain. Lututnya sering lecet, ujung roknya kadang terkena lumpur, dan rambutnya selalu berantakan ketika pulang. Tetapi ia tidak pernah mengeluh.
“Kalau besar nanti, saya mau jadi pemain bola,” katanya suatu malam.
Arman yang sedang memperbaiki jaring hanya tertawa kecil. “Pemain bola perempuan?”
“Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa. Ayah cuma bertanya.”
Suri mengangkat dagu. “Saya mau seperti Rafael.”
Rafael adalah pemain sepak bola dari sebuah negeri jauh. Suri mengenalnya melalui pertandingan yang ditonton dari telepon genggam milik gurunya. Ia menyukai cara lelaki itu menggiring bola, seolah-olah rumput lapangan membuka jalan hanya untuknya. Sejak saat itu, Suri mulai mengumpulkan potongan gambar Rafael dari internet dan menempelkannya di dinding kamar.
Di bawah salah satu gambar, ia menulis dengan spidol biru: Suatu hari, saya juga akan bermain di stadion besar.
Arman membaca tulisan itu ketika hendak mengambil senter. Ia tidak mengomentarinya. Tangannya hanya berhenti sejenak di atas kepala anaknya sebelum kembali memeriksa jaring.
Dahulu, kehidupan Arman di laut lebih banyak bergantung pada firasat. Ia memperhatikan bentuk awan, arah angin, dan posisi bulan untuk memperkirakan pasang-surut. Jika laut terlihat tenang, ia berangkat. Jika burung-burung terbang rendah, ia biasanya menunggu. Tidak ada layar yang memberitahunya apakah gelombang akan meninggi atau di mana ikan berkumpul.
Beberapa kali ia tersesat ketika cuaca berubah tiba-tiba. Pernah pula ia pulang dengan perahu hampir kosong setelah menghabiskan dua malam di laut. Saat itu, istrinya, Mira, menunggu di pantai sambil menggenggam ujung selendang. Ia tidak marah. Ia hanya bertanya apakah Arman sudah makan.
Kini, sejak jaringan internet masuk ke Lantora, sebagian kebiasaan itu berubah. Sebuah menara pemancar berdiri di dekat balai desa. Lampu indikatornya berkedip pada malam hari, seperti mata yang tak pernah tidur. Arman mulai memeriksa prakiraan cuaca melalui telepon genggam, mempelajari koordinat penangkapan ikan, dan menghubungi pembeli sebelum perahunya kembali ke darat.
“Dulu kita berangkat hanya dengan menebak-nebak,” katanya kepada Suri. “Sekarang Ayah bisa melihat cuaca sebelum berangkat.”
Suri mengangguk, tetapi perhatiannya tertuju pada layar. Ia sedang menonton video Rafael melakukan tendangan bebas.
“Kalau begitu, internet bisa membuat semua hal lebih mudah?”
Arman menatap laut dari jendela. “Tidak semua.”
Pada suatu pagi, kapal Arman pulang membawa hasil tangkapan yang cukup banyak. Ikan cakalang dan layang memenuhi bagian bawah perahu. Beberapa orang sudah menunggu di pantai, termasuk dua pedagang dari kota kecamatan yang datang menggunakan mobil bak terbuka.
Suri membantu ibunya membawa keranjang. Matahari belum tinggi, tetapi pasir mulai terasa panas. Para awak kapal mengangkat ikan satu per satu, sementara suara tawar-menawar terdengar dari beberapa arah.
Arman memeriksa teleponnya. Pesan dari pembeli masuk sejak satu jam sebelumnya. Mereka telah mengetahui perkiraan waktu kedatangannya melalui percakapan singkat di tengah laut.
“Kalau dulu, kita harus menunggu sampai ada orang datang,” katanya kepada Suri. “Kadang ikan sudah tidak segar, harganya jatuh.”
“Sekarang tidak perlu menunggu?”
“Lebih mudah mencari pembeli. Tapi harga tetap bukan selalu milik kita.”
Suri melihat ayahnya berbicara dengan pedagang. Keduanya berdebat sebentar tentang harga sekilogram ikan. Pedagang itu menunjuk tumpukan hasil tangkapan yang masih menggunung. Arman mengusap dagunya, lalu menyebut angka yang lebih rendah daripada harapannya.
Suri tidak mengerti mengapa ikan sebanyak itu justru membuat ayahnya tampak cemas.
“Kenapa tidak dijual besok saja?” tanyanya setelah pedagang pergi.
Arman menatap tumpukan ikan. “Kalau tidak ada tempat pendingin, ikan tidak bisa menunggu.”
Ia pernah bercerita tentang masa ketika hasil tangkapan yang tidak segera terjual harus dibuang atau ditenggelamkan. Tidak ada ruang penyimpanan besar di desa mereka. Es harus didatangkan dari kota lain, dan jumlahnya terbatas. Laut bisa memberikan banyak ikan dalam semalam, tetapi desa belum tentu memiliki cara untuk menyimpannya.
“Jadi, kita punya banyak ikan, tetapi tetap bisa rugi?” tanya Suri.
Arman mengangguk. “Laut memberi rezeki. Manusia harus belajar menjaganya.”
Sore harinya, Suri pergi ke lapangan. Hujan baru saja berhenti. Tanah merah melekat pada telapak sepatunya. Di pinggir lapangan, beberapa anak lelaki sedang membagi tim. Ketika Suri datang, seorang anak bernama Dimas menggeser bola ke belakang kakinya.
“Tim kami sudah penuh,” katanya.
“Bukankah masih ada satu tempat?”
“Ini permainan anak laki-laki.”
Suri tidak menjawab. Ia meletakkan tas sekolah di bawah pohon ketapang, lalu mengikat rambutnya lebih erat. Dimas tertawa kecil bersama dua temannya.
“Kalau kamu kalah, jangan menangis.”
Suri mengambil bola yang menggelinding ke dekat kakinya. Ia menaruhnya di tanah, lalu menendang ke arah gawang bambu. Bola itu melesat rendah, melewati sela kaki Dimas, dan masuk di antara dua sandal yang dijadikan tiang.
Anak-anak mendadak diam.
“Sekali lagi,” kata Suri.
Permainan dimulai. Ia berlari di antara tubuh-tubuh yang lebih besar, menghindari kaki yang berusaha merebut bola. Ketika salah seorang anak mendorong bahunya, ia hampir jatuh. Namun, ia bangkit sebelum lututnya menyentuh tanah. Ia terus menggiring bola hingga mendekati gawang.
Tendangannya kali ini melambung terlalu tinggi.
Dimas tertawa. “Katanya mau jadi Rafael.”
Suri mengambil bola dan mengembalikannya ke tengah lapangan.
“Rafael juga pernah gagal menendang,” katanya.
Ia tahu kalimat itu mungkin tidak sepenuhnya benar. Namun, ia pernah melihat pemain pujaannya kehilangan bola, gagal mencetak gol, dan duduk dengan kepala tertunduk. Justru bagian-bagian itu yang membuatnya percaya bahwa menjadi hebat tidak berarti tidak pernah gagal.
Di rumah, Mira sedang menjemur ikan yang telah diasapi. Suri masuk dengan kaki berlumpur. Ibunya menunjuk ember di sudut dapur.
“Cuci kaki dulu. Lantai baru saja dipel.”
Suri menurut. Setelah makan malam, ia membuka telepon genggam dan mencari video latihan sepak bola. Jaringan sempat terputus beberapa kali. Gambar Rafael membeku dengan satu kaki terangkat, lalu bergerak kembali setelah beberapa detik.
Suri tertawa sendiri.
Mira yang sedang melipat pakaian melirik layar. “Besok ada ulangan matematika, bukan?”
“Ada.”
“Sudah belajar?”
“Sudah. Saya juga bisa cari rumus kalau lupa.”
Suri membuka sebuah aplikasi kecerdasan buatan yang pernah diperkenalkan gurunya. Ia mengetik soal pecahan, membaca penjelasan, lalu menyalin langkah penyelesaian ke buku. Bagi Suri, telepon genggam bukan sekadar benda untuk menonton pertandingan. Dari benda kecil itu, ia bisa melihat stadion yang belum pernah didatanginya, mempelajari gerakan yang belum pernah diajarkan siapa pun di desa, dan bertanya tentang hal-hal yang tidak sempat dijelaskan di kelas.
Namun, ia juga tahu bahwa layar tidak dapat menggantikan latihan. Ia masih harus berlari di lapangan yang berlubang, menahan ejekan teman-temannya, dan mengulang tendangan yang sering meleset.
Mira duduk di sampingnya. “Kamu sungguh ingin jadi pemain bola?”
Suri mengangguk.
“Kalau nanti tidak jadi?”
Suri berhenti menulis. “Saya belum tahu.”
Mira merapikan kerah seragam anaknya. “Tidak semua mimpi harus selesai seperti yang kita bayangkan.”
Suri menatap ibunya. “Kalau begitu, untuk apa bermimpi?”
Mira tersenyum tipis. “Supaya kita tahu ke mana harus berjalan.”
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan pertemuan kecil tentang penggunaan internet untuk belajar. Guru mereka memperlihatkan peta dunia melalui layar pintar yang dipasang di ruang kelas. Anak-anak berdesakan di depan layar. Ada yang mencari gambar hewan, ada yang melihat gunung bersalju, dan ada pula yang ingin mengetahui jarak antara desa mereka dengan ibu kota.
Suri meminta gurunya membuka video pertandingan sepak bola. Ketika gambar stadion muncul, anak-anak bersorak.
“Suatu hari, kita bisa menonton langsung di sana,” kata gurunya.
Suri memandang lapangan hijau di layar. Rumputnya tampak rata, garis-garis putihnya bersih, dan tribun penonton berdiri tinggi mengelilinginya. Ia membayangkan dirinya berlari di tengah lapangan itu. Namun, bayangan tersebut segera bertemu dengan kenyataan: lapangan sekolahnya yang berlumpur, bola plastik yang hampir kempis, serta sandal jepit yang masih menjadi tiang gawang.
Sepulang sekolah, ia tidak langsung pulang. Ia berdiri di tengah lapangan dan menatap dua tiang bambu yang mulai miring. Dimas datang bersama teman-temannya.
“Main?” tanyanya.
Suri mengangguk.
Mereka bermain sampai matahari turun. Tidak ada yang membicarakan siapa yang paling hebat. Tidak ada yang mengukur berapa gol yang dicetak. Ketika bola tersangkut di semak, mereka mencarinya bersama-sama. Ketika Dimas terjatuh, Suri mengulurkan tangan.
Di kejauhan, laut mulai berwarna tembaga. Perahu-perahu pulang satu demi satu, membawa ikan untuk dijual, diasapi, atau dimasak malam itu. Asap dari rumah-rumah naik perlahan, bercampur dengan aroma daun basah dan garam.
Malamnya, Suri membuka buku tulis. Ia menulis sebuah kalimat di halaman paling belakang: Saya ingin menjadi pemain bola, tetapi saya juga ingin desa ini punya lapangan yang lebih baik.
Ia membaca kalimat itu dua kali. Kemudian, di bawahnya, ia menambahkan: Saya ingin orang-orang di sini bisa menyimpan ikan lebih lama, supaya hasil laut tidak terbuang.
Untuk pertama kalinya, ia merasa mimpinya tidak hanya berkaitan dengan dirinya sendiri.
Dari ruang depan terdengar suara Arman berbicara melalui telepon. Ia sedang mengatur pembelian es untuk perjalanan melaut berikutnya. Sesekali suaranya meninggi ketika membicarakan harga. Suri mendengarkan sambil menatap gambar Rafael yang menempel di dinding.
Di luar, menara pemancar berkedip di tengah gelap. Laut tidak terlihat dari jendela, tetapi suaranya sampai ke rumah, berulang-ulang seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu.
Suri mematikan lampu kamar. Esok pagi ayahnya akan kembali melaut, ibunya akan menyalakan tungku pengasapan, dan ia akan berangkat sekolah dengan sepatu yang solnya mulai terlepas. Sore nanti, ia mungkin akan kembali bermain di lapangan berlumpur.
Ia belum tahu apakah suatu hari akan berdiri di stadion besar. Ia juga belum tahu apakah desanya kelak memiliki tempat penyimpanan ikan yang cukup, atau apakah semua anak akan mendapatkan kesempatan belajar melalui internet.
Namun, sebelum tidur, ia membayangkan sebuah lapangan dengan rumput yang tumbuh rata di antara rumah-rumah pesisir. Di salah satu sisinya, ada gudang pendingin untuk menyimpan ikan. Di sisi lain, anak-anak berlari mengejar bola tanpa perlu memikirkan apakah mereka laki-laki atau perempuan.
Dalam bayangan itu, Suri tidak sedang mencetak gol. Ia hanya mengoper bola kepada seorang anak yang berdiri bebas di dekat gawang.
Dan untuk alasan yang belum sepenuhnya ia pahami, pemandangan itu terasa lebih menyenangkan daripada menjadi pahlawan sendirian. (*)




.png)

.png)
.png)
.png)



.png)
.png)