- Dana Umat dan Masa Depan Pekerjaan Hijau
- Sekolah yang Menolak Jadi Sunyi
- Donasi Raisa-Natasha Bantu Korban Karhutla
- Tiga Mahasiswa Batang Terima Beasiswa BPI
- Beasiswa Fulbright Biayai Studi hingga AS
- Kemdiktisaintek Buka Beasiswa Doktoral 2026
- Beasiswa Bojonegoro Jangkau Ribuan Mahasiswa
- Jaro Ade Dorong Beasiswa Santri
- YPMAK Perketat Evaluasi Beasiswa Mahasiswa
- OJK-BWI Integrasikan Wakaf dan Perbankan
Sekolah yang Menolak Jadi Sunyi
Oleh: Raeihan Ramadhan
.jpg)
Keterangan Gambar : Foto: Dok. Ilustrasi AI
Pagi itu, lonceng sekolah tidak berbunyi.
Di halaman Lycée Saint-Claire, puluhan bangku disusun melintang di depan gerbang. Meja-meja kelas dikeluarkan dari ruang belajar, ditumpuk hingga membentuk barikade. Di antara kaki-kakinya, seseorang mengikat kain putih bertuliskan Nous voulons un avenir—kami menginginkan masa depan.
Udara Valenne terasa lembap. Musim gugur baru saja tiba, membawa angin dingin dari sungai yang membelah kota. Daun-daun kuning menempel di trotoar, sementara aroma kopi dari kedai seberang sekolah bercampur dengan bau cat semprot yang masih basah.
Baca Lainnya :
- Dua Nama di Bawah Langit Abu0
- Hujan yang Menulis Surat0
- Nama-Nama di Dinding Kampus0
- Kampung yang Menunggu Hujan0
- Musim Gugur di Lembah Aruna 0
Di antara kerumunan itu, Elise berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku mantel. Ia tidak memegang pengeras suara, tidak pula mengangkat poster. Hanya sebuah buku catatan kecil yang diselipkan di tasnya.
“Kalau mereka datang, jangan mundur,” kata Julien.
Elise menoleh. Temannya itu sedang mengikat selembar kain pada pagar. Rambutnya berantakan, matanya kurang tidur.
“Kalau mereka datang, kita bicara,” jawab Elise.
Julien tertawa pendek. “Kau masih percaya mereka mendengarkan?”
Elise tidak menjawab. Ia memandang gerbang sekolah yang tertutup. Di baliknya, ruang-ruang kelas masih menyimpan papan tulis penuh rumus, meja dengan coretan nama, dan buku-buku yang belum sempat dikembalikan ke perpustakaan. Semua tampak biasa, kecuali pagi itu tak seorang pun diizinkan masuk.
Seminggu sebelumnya, kabar pemangkasan anggaran pendidikan menyebar melalui grup percakapan siswa. Pemerintah kota berencana mengurangi dana kegiatan ekstrakurikuler, membekukan perekrutan tenaga pengajar pengganti, dan menggabungkan beberapa kelas di sekolah negeri.
Bagi orang dewasa, angka-angka itu mungkin hanya deretan dalam lembar anggaran. Bagi Elise, angka tersebut berarti kelas sejarah yang akan kehilangan gurunya, perpustakaan yang hanya buka tiga hari seminggu, dan laboratorium yang selama ini menjadi tempatnya melarikan diri dari rumah.
Ayahnya, seorang pengemudi trem, selalu berkata bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan agar anak-anaknya tidak harus bekerja dengan punggung membungkuk seperti dirinya. Namun, setiap malam ia pulang dengan wajah lelah, menghitung tagihan listrik di meja makan sambil mengeluh tentang harga susu dan roti.
“Kau tidak perlu ikut campur urusan pemerintah,” katanya ketika Elise menyampaikan rencana demonstrasi.
“Ini urusan sekolah.”
“Sekolahmu masih berdiri.”
“Kalau gurunya dikurangi, kelasnya digabung, apa yang tersisa?”
Ayahnya meletakkan sendok. Sup bawang di mangkuknya belum tersentuh.
“Kau pikir berteriak di jalan bisa mengubah semuanya?”
Elise memandang tangan ayahnya yang pecah-pecah. Ia tahu tangan itu telah menarik tuas trem selama dua puluh tahun. Ia juga tahu ayahnya tidak pernah berani menolak lembur, meskipun punggungnya sering sakit.
“Aku tidak tahu,” jawabnya. “Tapi diam juga belum tentu mengubah apa-apa.”
Ayahnya kembali makan. Percakapan mereka berhenti di antara bunyi sendok dan piring.
Gerakan itu bermula dari sebuah ruang kelas.
Mereka berkumpul setelah jam pelajaran terakhir, ketika cahaya matahari masuk miring melalui jendela. Julien membawa pengeras suara kecil. Amira mencetak selebaran di perpustakaan. Elise menulis tuntutan di papan tulis.
Tidak semua siswa setuju. Beberapa menganggap demonstrasi hanya akan membuat mereka tertinggal pelajaran. Ada yang khawatir nilai ujian terganggu. Sebagian lainnya takut nama mereka tercatat oleh pihak sekolah.
“Kalau kita menutup gerbang, bagaimana dengan siswa yang ingin belajar?” tanya seorang anak laki-laki bernama Mathieu.
Julien menyandarkan punggung ke meja. “Kalau gerbang tetap dibuka, siapa yang akan mendengar kita?”
“Tidak semua orang punya pilihan untuk tidak sekolah.”
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Elise menghapus satu baris tulisan di papan. Ia tahu Mathieu benar. Ibunya bekerja membersihkan rumah-rumah orang kaya di kawasan utara. Ia sendiri datang ke sekolah dengan sepatu yang solnya mulai terbuka. Tidak semua siswa memiliki kesempatan untuk mengambil risiko.
“Kita tidak boleh memaksa siapa pun,” kata Elise akhirnya. “Yang mau ikut, ikut. Yang tidak, jangan dihalangi.”
Julien menatapnya sejenak, lalu mengangguk. Namun, wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya sepakat.
Pada hari pemblokiran, jumlah siswa jauh lebih banyak daripada perkiraan mereka. Dari sekolah lain, rombongan berdatangan membawa poster dan bendera kecil. Sebagian mengenakan syal, sebagian menutupi wajah dari udara dingin. Di jalan utama, kendaraan melambat karena kerumunan memenuhi sebagian trotoar.
Seseorang menyanyikan lagu lama tentang kebebasan. Suaranya mula-mula terdengar ragu, lalu disambut puluhan suara lain.
Elise berdiri di dekat gerbang. Ia melihat kamera ponsel terangkat, merekam setiap teriakan. Beberapa siswa menyiarkan demonstrasi secara langsung. Komentar-komentar masuk begitu cepat hingga sulit dibaca.
Berjuanglah!
Anak-anak malas.
Sekolah bukan tempat politik.
Elise membaca satu per satu sampai layar ponselnya terasa seperti jendela yang dibuka ke ruangan penuh orang asing.
Di seberang jalan, polisi mulai berdatangan. Mereka mengenakan helm, pelindung tubuh, dan membawa tameng. Kendaraan mereka berhenti di dekat halte trem.
Julien mengangkat pengeras suara.
“Ini sekolah kami! Kami tidak meminta kemewahan. Kami hanya ingin belajar dengan layak!”
Tepuk tangan menyambutnya. Namun, dari barisan belakang terdengar seseorang melempar botol plastik ke arah polisi. Botol itu jatuh jauh sebelum mencapai sasaran.
Elise menoleh. Ia tidak mengenali orang yang melemparnya.
Ketegangan meningkat ketika polisi meminta massa membuka jalan. Seorang petugas berbicara melalui pengeras suara, mengingatkan bahwa pemblokiran mengganggu ketertiban umum.
Julien menolak membubarkan barikade.
“Kalau kita pergi sekarang, besok mereka akan menganggap kita tidak pernah ada,” katanya.
Elise melihat tangan Amira gemetar. Gadis itu memeluk tasnya erat-erat, seolah di dalamnya tersimpan sesuatu yang lebih berharga daripada buku dan alat tulis.
“Julien, cukup,” bisik Elise.
“Kenapa?”
“Lihat mereka.”
Di depan barisan polisi, seorang petugas muda berdiri dengan wajah tertutup pelindung. Hanya matanya yang terlihat. Ia mungkin sebaya dengan kakak Elise yang sedang mencari pekerjaan. Di balik helm itu, Elise membayangkan seorang anak yang juga pernah duduk di kelas, menghafal sejarah, dan menulis cita-cita pada selembar kertas.
Namun, bayangan itu segera buyar ketika pengeras suara kembali berbunyi.
Polisi mulai bergerak maju.
Barikade meja bergeser. Beberapa siswa mundur. Ada yang berteriak, ada yang menangis. Di tengah kekacauan, sebuah papan poster terinjak hingga patah. Amira terjatuh ketika seseorang mendorong dari belakang.
Elise menarik lengannya.
“Kau tidak apa-apa?”
Amira menggeleng, menahan sakit pada lututnya.
Di depan mereka, Julien masih berdiri sambil mengangkat kedua tangan. Ia meneriakkan tuntutan yang sama, meskipun suaranya tenggelam oleh bunyi sepatu dan perintah petugas.
Elise tidak tahu siapa yang memulai dorong-mendorong itu. Ia hanya ingat suara benturan, meja yang terbalik, dan seorang siswa yang kehilangan kacamatanya. Polisi mengamankan beberapa orang yang dianggap menghalangi jalan. Di kejauhan, sirene ambulans terdengar pendek, kemudian menjauh.
Ketika keadaan mulai mereda, Elise menemukan buku catatannya tergeletak di dekat pagar. Sampulnya basah oleh air hujan dan tergores sepatu.
Ia memungutnya.
Di halaman pertama terdapat tulisan tangannya sendiri: Aku ingin menjadi guru sejarah.
Elise membaca kalimat itu lama-lama. Ia menulisnya ketika berusia tiga belas tahun, saat gurunya meminta seluruh siswa menggambar pekerjaan yang ingin mereka lakukan kelak. Ia menggambar sebuah kelas dengan jendela lebar dan papan tulis yang penuh nama tokoh sejarah.
Kini, kelas itu terasa jauh. Bukan karena ia tidak lagi ingin menjadi guru, melainkan karena ia mulai mengerti bahwa ruang belajar tidak selalu berada di dalam gedung.
Malamnya, ayah Elise pulang lebih awal. Trem terakhir yang dikemudikannya mengalami keterlambatan karena jalan ditutup demonstran. Ia meletakkan jaket di kursi dan melihat luka kecil di siku anaknya.
“Kau ikut?” tanyanya.
Elise mengangguk.
“Polisi?”
“Mendorong kami. Beberapa teman dibawa.”
Ayahnya membuka lemari, mengambil kotak obat, lalu duduk di hadapan Elise. Ia membersihkan luka itu dengan kapas. Gerakannya hati-hati, tetapi wajahnya keras.
“Kau bisa terluka lebih parah.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau ditangkap?”
Elise menunduk. Ia tidak punya jawaban.
Ayahnya menutup botol antiseptik. “Aku tidak ingin kau mengalami hidup yang sulit.”
Elise mengangkat wajah. “Tapi bukankah Ayah selalu bilang aku harus punya masa depan yang lebih baik?”
Lelaki itu diam. Tangannya berhenti di atas meja.
“Ya.”
“Kalau sekolah kami tidak lagi memberi kesempatan, aku harus bagaimana?”
Ayahnya berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar, lampu trem melintas seperti garis kuning yang membelah gelap.
“Dulu, waktu aku seusiamu, kami juga pernah turun ke jalan,” katanya.
Elise menatap punggung ayahnya.
“Kami menuntut upah yang layak. Kami membawa spanduk, meneriakkan slogan, lalu pulang dengan tangan kosong. Beberapa orang kehilangan pekerjaan. Setelah itu, orang-orang berhenti bicara.”
“Lalu Ayah?”
“Aku mulai bekerja di trem.”
Elise menunggu cerita itu berlanjut. Namun, ayahnya hanya menarik tirai dan kembali duduk.
“Apakah Ayah menyesal?”
Lelaki itu menggosok kedua telapak tangannya.
“Ada hal-hal yang tidak bisa kita ulang. Ada juga yang tidak boleh kita biarkan terulang.”
Hari-hari berikutnya, demonstrasi meluas ke beberapa sekolah di Valenne. Ada yang memilih memblokade gerbang, ada yang menggelar diskusi terbuka, ada pula yang mengadakan kelas di taman kota. Foto-foto siswa yang berhadapan dengan polisi beredar di berbagai media.
Pemerintah kota menyatakan akan meninjau kembali kebijakan anggaran. Pihak sekolah meminta kegiatan belajar segera dipulihkan. Tidak ada kepastian kapan keputusan itu akan berubah.
Julien ingin melanjutkan pemblokiran.
“Kita sudah sampai sejauh ini,” katanya dalam pertemuan kecil di taman.
Amira menggeleng. “Aku tidak mau ada yang terluka lagi.”
“Kalau kita berhenti, mereka menang.”
Elise memandangi daun-daun yang jatuh ke permukaan kolam. Seekor burung merpati mematuk remah roti di dekat bangku. Ia teringat Mathieu yang tidak ikut demonstrasi karena harus menjaga adiknya. Ia teringat Amira yang bekerja setiap akhir pekan di toko bunga. Ia juga teringat petugas muda dengan mata yang terlihat dari balik helm.
“Bagaimana kalau kita mengubah cara?” katanya.
Julien mengerutkan dahi.
“Kita buat kelas terbuka. Kita undang guru, orang tua, dan warga. Kita tunjukkan apa yang hilang kalau anggaran itu dipotong.”
“Diskusi tidak akan membuat mereka takut.”
“Memang kita ingin membuat mereka takut?”
Julien terdiam. Untuk pertama kalinya, Elise melihat temannya itu tidak segera menemukan jawaban.
Pada Sabtu pagi, mereka menggelar kelas terbuka di halaman perpustakaan kota. Tidak ada barikade, tidak ada pengeras suara yang memekakkan telinga. Hanya beberapa kursi pinjaman, papan tulis kecil, dan termos berisi kopi.
Mathieu datang membawa dua kotak kue. Amira menempelkan kertas berisi daftar kelas yang terancam digabung. Seorang guru sejarah menjelaskan bagaimana pemangkasan anggaran akan memengaruhi pembelajaran. Beberapa orang tua berdiri di belakang, mendengarkan tanpa menyela.
Ayah Elise datang menjelang siang. Ia masih mengenakan seragam pengemudi trem. Di tangannya ada sebuah buku tua yang sampulnya hampir terlepas.
“Ini buku sejarah yang dulu kupakai,” katanya.
Elise menerimanya. Di halaman pertama, ada tulisan nama ayahnya dengan tinta biru yang mulai pudar.
“Untuk apa, Yah?”
“Barangkali bisa dipakai.”
Elise tersenyum kecil. Ia membuka buku itu dan menemukan sebuah kalimat yang digarisbawahi: Sejarah tidak pernah selesai ketika peristiwa berakhir. Ia tinggal dalam ingatan orang-orang yang mengalaminya.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Di seberang taman, dua petugas polisi berdiri di dekat kendaraan mereka. Salah satunya memandang ke arah kelas terbuka, lalu kembali berbicara dengan rekannya. Tidak ada yang tahu apakah mereka mendengarkan.
Sore itu, ketika kursi-kursi mulai dibereskan, Julien menghampiri Elise.
“Kau pikir ini akan berhasil?”
Elise menatap papan tulis yang masih menyisakan bekas kapur. Di sana tertulis tiga kata: Sekolah adalah masa depan.
“Aku tidak tahu,” jawabnya.
Julien memasukkan tangan ke saku jaket. “Dulu kau selalu punya jawaban.”
“Dulu aku pikir semua hal bisa diselesaikan dengan satu teriakan.”
“Sekarang?”
Elise menghapus sebagian tulisan di papan. Debu kapur menempel pada telapak tangannya.
“Sekarang aku tahu, ada suara yang harus tetap dijaga setelah kerumunan bubar.”
Julien tidak menjawab. Ia membantu mengangkat meja.
Ketika mereka meninggalkan taman, lonceng gereja berdentang dari kejauhan. Trem melintas dengan gerbong yang hampir penuh. Di salah satu jendelanya, Elise melihat seorang anak kecil sedang menulis sesuatu di kaca yang berembun. Tulisan itu segera menghilang ketika kendaraan berbelok.
Malam turun di Valenne. Gerbang sekolah masih tertutup, tetapi di papan pengumuman depan gedung, seseorang menempelkan selembar kertas baru.
Elise berhenti untuk membacanya.
Di sana tertulis jadwal kelas terbuka berikutnya, lengkap dengan nama-nama guru dan siswa yang bersedia mengajar.
Ia mengeluarkan buku catatan dari tas, membuka halaman terakhir, lalu menulis satu kalimat:
Besok, kita belajar lagi.
Setelah itu ia menutup buku dan berjalan pulang. Di belakangnya, sekolah tetap gelap. Namun, dari salah satu jendela lantai dua, seberkas cahaya masih menyala. (*)





.png)
.png)

.jpg)



.png)
.png)