Nama-Nama di Dinding Kampus
Oleh: Raeihan Ramadhan

By Raeihan Ramadhan 04 Nov 2026, 02:15:06 WIB Cerpen
Nama-Nama di Dinding Kampus

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Ilustrasi AI


Di Kota Prawira, hujan selalu datang terlambat. Ia menunggu sampai debu menebal di daun-daun ketapang, sampai selokan di depan kampus mengeluarkan bau masam, sampai para pedagang kaki lima menutup dagangan dengan plastik biru. Baru setelah itu, langit menumpahkan airnya, seolah-olah sedang menebus sesuatu.

Pada suatu sore, di kamar kos lantai dua Jalan Kenanga, Raka menemukan sebuah buku yang sampulnya telah mengelupas. Buku itu terselip di antara tumpukan diktat dan koran bekas. Di halaman pertama, seseorang menulis dengan tinta hitam: Jangan percaya pada cerita yang hanya memiliki satu suara.

Raka membaca kalimat itu dua kali. Ia tidak tahu siapa yang menulisnya. Buku itu milik Dimas, teman sekamarnya yang sudah tiga minggu tidak pulang.

Baca Lainnya :

Dimas adalah mahasiswa sejarah yang suka berbicara sambil mengupas jeruk. Ia sering meninggalkan kulit jeruk di atas meja, membuat kamar kos berbau manis dan sedikit pahit. Bersama Raka, ia tergabung dalam kelompok diskusi bernama Ruang Sela. Mereka tidak memiliki sekretariat resmi. Pertemuan berlangsung di rumah kontrakan milik seorang pensiunan guru, di belakang toko fotokopi, atau kadang di warung mi ayam yang tutup selepas magrib.

Anggota mereka tidak banyak: Raka, Dimas, Sari, Banu, Jalu, dan Wening. Mereka datang dari fakultas berbeda, membawa kebiasaan dan kecemasan masing-masing. Sari selalu mencatat, Banu lebih suka menggambar peta di kertas bekas, Jalu tertawa ketika gugup, sedangkan Wening hampir tidak pernah berbicara sebelum semua orang selesai.

Awalnya, mereka hanya membaca buku. Buku-buku yang tidak tersedia di perpustakaan kampus, buku yang fotokopinya beredar dari tangan ke tangan, buku yang halaman-halamannya berbau lembap karena terlalu sering disembunyikan. Mereka membicarakan tanah yang diambil dari petani, buruh yang tidak dibayar, mahasiswa yang dikeluarkan karena menulis kritik di majalah kampus.

Lama-lama, pertanyaan di dalam buku tidak lagi tinggal di meja.

Malam itu, Ruang Sela berkumpul di rumah kontrakan Pak Sasmita. Rumah tersebut berada di ujung gang sempit, di balik pohon mangga yang dahannya menyentuh kabel listrik. Di ruang tengah, kipas angin berputar dengan suara seperti orang menggerutu. Teh manis dalam gelas-gelas kecil telah kehilangan uapnya.

“Kalau kita terus membaca, siapa yang akan mendengar?” tanya Sari.

Banu mengangkat wajah dari kertas yang sedang ia gambar. “Orang-orang di luar sana.”

“Orang-orang yang mana?”

Tidak ada yang segera menjawab.

Dimas duduk dekat jendela. Ia mengenakan kemeja biru yang lengannya digulung sampai siku. Di pangkuannya ada sebuah buku catatan kecil, penuh tulisan yang rapat.

“Kita mulai dari yang paling dekat,” katanya. “Buruh pabrik di sebelah timur kota. Mereka sudah tiga bulan tidak menerima upah penuh.”

Raka memandang Dimas. Ia tahu temannya itu baru pulang dari pertemuan dengan beberapa buruh. Di lengan Dimas ada bekas tinta, dan sepatunya masih berdebu.

“Kalau nama mereka dimuat, mereka bisa kehilangan pekerjaan,” kata Wening.

“Kalau nama mereka tidak dimuat, orang akan mengira mereka tidak pernah ada,” jawab Dimas.

Kalimat itu membuat ruangan senyap. Di luar, sebuah sepeda motor lewat dengan knalpot yang memekakkan telinga. Pak Sasmita mematikan radio. Mereka tahu pertemuan seperti itu bukan lagi sekadar diskusi buku.

Mereka mulai menyusun selebaran. Banu menggambar denah pabrik dan jalan masuknya. Sari menulis kesaksian para buruh. Raka menyunting kalimat-kalimat yang terlalu panjang. Dimas membaca semuanya dengan suara pelan, berhenti pada bagian yang menyebut nama seorang pekerja perempuan bernama Narti.

“Nama ini harus diganti,” katanya.

“Dia sendiri yang meminta namanya dicantumkan,” sahut Sari.

Dimas mengusap kening. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah selebaran ini beredar.”

“Dia tahu,” kata Sari. “Dia yang paling tahu apa yang terjadi di pabrik itu.”

Raka memandang kertas di hadapannya. Ia ingin mengatakan bahwa keberanian tidak seharusnya menjadi sesuatu yang diputuskan oleh orang lain. Namun, kata-kata itu tidak keluar. Ia hanya menggarisbawahi nama Narti, lalu meletakkan pensil.

Selebaran itu beredar pada hari pasar. Kertas-kertas tipis diselipkan di bawah kaca mobil, ditempel di papan pengumuman, dibagikan di dekat terminal. Sebagian orang membacanya sambil berdiri. Sebagian meremasnya dan memasukkan ke saku. Seorang pedagang sayur meminta satu lembar tambahan untuk dibawa pulang.

Dua hari kemudian, pihak kampus memanggil beberapa mahasiswa. Nama Raka tercantum di daftar. Ia duduk di ruang administrasi yang dingin, di hadapan seorang pejabat dengan dasi abu-abu.

“Saudara terlibat dalam kegiatan yang dapat mengganggu ketertiban,” kata pejabat itu.

Raka melihat jam dinding. Jarumnya bergerak tanpa suara.

“Kami hanya menyampaikan keadaan buruh.”

“Keadaan buruh bukan urusan mahasiswa.”

Raka ingin tertawa, tetapi tenggorokannya terasa kering. Ia membayangkan Narti berdiri di depan mesin jahit, menghitung upah yang tidak pernah cukup untuk membeli beras sebulan. Ia membayangkan Dimas mengupas jeruk di kamar kos, meninggalkan kulitnya di meja.

“Kalau bukan urusan kami, lalu siapa yang boleh membicarakannya?”

Pejabat itu menutup map.

Raka pulang dengan surat peringatan. Di jalan, hujan turun tiba-tiba. Ia berlari menepi, berlindung di bawah atap toko kelontong. Air mengalir dari ujung genteng, membentuk tirai yang memisahkannya dari jalan.

Di seberang, dua orang lelaki berdiri dekat mobil berwarna gelap. Mereka tidak membeli apa-apa. Salah satunya memegang rokok, tetapi tidak menyalakannya.

Raka menunduk, berpura-pura memeriksa tali sepatu.

Setelah peringatan itu, Ruang Sela tidak lagi berkumpul dengan jadwal tetap. Mereka datang bergantian. Buku-buku dibungkus koran. Catatan disimpan di tempat berbeda. Pak Sasmita mengganti gembok rumah kontrakan, meski tidak pernah menjelaskan alasannya.

Dimas semakin jarang pulang. Ketika datang, ia duduk lama di dekat jendela, mendengarkan suara kendaraan di gang. Suatu malam, ia menyerahkan buku catatannya kepada Raka.

“Kalau sesuatu terjadi, simpan ini.”

Raka menolak. “Jangan bicara seperti itu.”

Dimas tersenyum. “Aku hanya menitipkan buku.”

Di halaman terakhir, ada daftar nama buruh dan mahasiswa. Beberapa nama diberi tanda bintang. Di bawahnya tertulis: Kita bukan orang-orang yang tidak takut. Kita hanya belum menemukan cara untuk hidup dengan diam.

Raka menutup buku itu.

“Kenapa kau selalu menulis seolah-olah sedang berpamitan?”

Dimas memandang ke luar. “Mungkin karena setiap kali kita bicara, ada sesuatu yang tidak bisa kita bawa pulang.”

Raka tidak menjawab. Ia ingin mengingat wajah Dimas dengan tepat, tetapi wajah itu tampak berubah oleh cahaya lampu yang berkedip-kedip.

Pada malam ketika Dimas tidak pulang, hujan tidak turun. Udara panas, dan nyamuk berputar di sekitar lampu. Raka menunggu sampai lewat tengah malam. Ia menghubungi Sari, Banu, Jalu, dan Wening. Tidak seorang pun tahu Dimas berada di mana.

Pagi harinya, kamar kos mereka masih menyimpan bau jeruk yang mengering. Di atas meja, ada cangkir kopi dengan lingkaran hitam di dasarnya. Buku catatan kecil itu tidak ada.

Raka mendatangi rumah kontrakan Pak Sasmita. Pintu terkunci. Di dekat pagar, ia menemukan selembar kertas yang basah oleh embun. Tidak ada tulisan di sana, hanya bekas lipatan dan noda tanah.

Hari-hari berikutnya dipenuhi kabar yang tidak utuh. Ada yang mengatakan Dimas dibawa untuk dimintai keterangan. Ada yang melihatnya di sebuah kendaraan. Ada pula yang menyebut namanya di tempat yang tidak pernah mereka kenal.

Raka mengunjungi kantor-kantor, bertanya kepada orang-orang yang menolak menatap matanya. Ia membawa foto Dimas, foto yang diambil ketika mereka makan mi ayam di warung dekat kampus. Dalam foto itu, Dimas sedang tertawa dengan mulut penuh, sementara Raka memalingkan wajah karena malu.

“Apakah Saudara mengenal orang ini?” tanyanya.

Jawaban yang diterima selalu serupa: tidak tahu, tidak ada catatan, silakan kembali lain waktu.

Suatu sore, Raka berdiri di depan papan pengumuman kampus. Di sana, nama-nama mahasiswa yang mendapat beasiswa ditempel rapi. Ia mencari nama Dimas, meski tahu tidak mungkin menemukannya. Kertas-kertas itu bergerak ditiup angin, membuat nama-nama di atasnya seolah sedang berbisik.

Ia mengeluarkan pensil dan menulis di sudut papan: Dimas Pradana—belum pulang.

Seorang petugas segera menyuruhnya menghapus tulisan itu.

Raka menghapusnya. Namun, ujung pensil meninggalkan lekukan di permukaan papan.

Bertahun-tahun kemudian, kampus membangun gedung baru di atas lapangan tempat mereka dahulu membagikan selebaran. Toko fotokopi telah berubah menjadi kedai minuman. Rumah kontrakan Pak Sasmita dijual kepada keluarga yang membuka usaha laundry. Pohon mangga di ujung gang ditebang karena akarnya merusak saluran air.

Raka kembali ke Prawira setelah ibunya meninggal. Ia kini bekerja sebagai editor di sebuah penerbit kecil. Ia jarang menulis tentang masa lalu. Setiap kali mencoba, kalimat-kalimatnya terasa terlalu rapi, seolah kehilangan dapat disusun menjadi paragraf yang selesai.

Di kamar lamanya, ia menemukan buku yang pernah ditinggalkan Dimas. Sampulnya semakin rapuh. Kalimat di halaman pertama masih terbaca: Jangan percaya pada cerita yang hanya memiliki satu suara.

Raka duduk di lantai. Ia membaca daftar nama di halaman terakhir. Narti, buruh pabrik, kini tinggal di kota lain. Sari menjadi pengacara. Banu bekerja sebagai guru seni. Jalu membuka bengkel. Wening tidak pernah lagi datang ke pertemuan mereka.

Nama Dimas tetap berada di sana, ditulis dengan tinta yang mulai pudar.

Raka mengambil selembar kertas. Ia mulai menulis tentang Ruang Sela: tentang buku-buku yang dibaca diam-diam, tentang teh yang dingin, tentang perdebatan mengenai nama Narti, tentang ketakutan yang tidak pernah mereka akui di depan satu sama lain. Ia menulis tentang Dimas yang mengupas jeruk, tentang kulit jeruk yang tertinggal di meja, tentang suara kipas angin yang seperti orang menggerutu.

Ia berhenti ketika sampai pada bagian tentang malam terakhir.

Di luar, hujan akhirnya turun. Air menetes dari atap, menyusuri dinding, lalu menggenang di halaman. Raka memandang kertas yang belum selesai. Ia sadar, selama ini ia ingin menulis kisah Dimas agar orang-orang tahu bahwa temannya pernah hidup. Namun, ia juga takut menjadikan Dimas sekadar tokoh dalam cerita yang ia kendalikan.

Ia mengambil pensil, lalu menambahkan satu kalimat di bawah daftar nama:

Ada bagian dari hidup seseorang yang tidak dapat ditulis oleh orang lain.

Raka meletakkan pensil.

Di luar jendela, hujan terus turun, membasuh jalan yang pernah mereka lalui. Ia tidak tahu apakah kalimat itu cukup. Ia juga tidak tahu apakah suatu hari seseorang akan datang membawa suara Dimas sendiri.

Untuk sementara, ia membiarkan halaman itu terbuka.

Di atas meja, kulit jeruk yang sudah kering terbelah ketika tersentuh angin. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment