- Dana Umat untuk Kemandirian Digital
- Dua Nama di Bawah Langit Abu
- OK OCE-Rumah Zakat Berdayakan UMKM
- IZI Jabar Dukung Pemulihan Masjid
- 665 Mahasiswa Banggai Terima Bantuan Biaya Kuliah
- PCIM Hungaria Perluas Akses Beasiswa Internasional
- MUI Jajaki Penambahan Beasiswa ke Mesir
- Beasiswa BI Buka Peluang bagi Mahasiswa Polbeng
- 35 Jurnalis Terima Beasiswa Pascasarjana BRI
- EHEF 2026 Buka Peluang Beasiswa Eropa
Dua Nama di Bawah Langit Abu
Oleh: Raeihan Ramadhan
.jpg)
Keterangan Gambar : Foto: Dok. Ilustrasi AI
Pagi itu, roti di toko Narin menghitam sebelum sempat dikeluarkan dari tungku. Ia lupa mengangkat loyang ketika radio di sudut ruangan menyebut dua nama: Samir Vahid dan Reza Nouri.
Keduanya telah dihukum mati.
Penyiar membacakan berita dengan suara datar, seperti sedang mengumumkan jadwal kereta. Mereka disebut terlibat dalam kematian empat petugas keamanan saat demonstrasi di Lapangan Soroush, sembilan bulan sebelumnya. Pengadilan telah memeriksa perkara. Mahkamah Agung menguatkan putusan. Permohonan banding ditolak.
Baca Lainnya :
- Hujan yang Menulis Surat0
- Nama-Nama di Dinding Kampus0
- Kampung yang Menunggu Hujan0
- Musim Gugur di Lembah Aruna 0
- Peluit yang Tak Menyudahi Malam0
Narin mematikan radio.
Asap tipis keluar dari tungku. Di luar, kota Mehran mulai bergerak: pedagang sayur mendorong gerobak, perempuan-perempuan menjemur karpet di balkon, dan anak-anak berlari mengejar bus sekolah. Dari kejauhan, menara jam berdiri di antara gedung-gedung baru, jarumnya terus berjalan seolah tak pernah mendengar kabar buruk.
Narin mengambil roti yang gosong. Ia mengikis bagian hitamnya dengan pisau, tetapi kerak itu menempel di meja seperti bayangan.
Samir pernah duduk di toko itu setiap Jumat. Ia selalu memesan teh tanpa gula dan roti pipih yang dibelah menjadi empat. Reza lebih jarang datang. Ia bekerja memperbaiki jam dan radio di lorong belakang pasar, tempat bau tembaga terbakar bercampur aroma jeruk kering.
Mereka bukan sahabat dekat Narin. Namun, di kota yang belakangan memaksa orang memilih antara mengenal dan tidak mengenal seseorang, kedekatan kadang hanya berarti pernah berbagi meja.
Pada malam demonstrasi, Narin menutup toko lebih awal. Harga tepung naik lagi. Seorang pelanggan mengembalikan dua roti karena uangnya kurang. Di pasar, orang-orang berbisik tentang nilai mata uang yang jatuh, tentang gaji yang tak lagi cukup untuk membeli minyak, beras, dan obat batuk.
Ketika suara massa mulai terdengar dari arah Lapangan Soroush, Narin menurunkan pintu besi toko. Ia menyisakan celah setinggi telapak tangan agar udara masuk.
Dari celah itu, ia melihat orang-orang berlari. Ada yang membawa batu, ada yang mengangkat papan bertuliskan tuntutan, ada pula yang hanya berjalan sambil memukul panci. Seorang lelaki tua tersandung di dekat kios buah. Dua anak muda membantunya berdiri.
Lalu terdengar letusan.
Narin tidak tahu dari mana asalnya. Ia hanya melihat orang-orang menunduk serentak, seolah sebuah tangan besar menekan kepala kota. Beberapa detik kemudian, suara pecahan kaca menyusul. Asap mengambang di antara lampu jalan.
Ia berlari ke belakang toko, membuka pintu gudang, lalu menyelipkan diri di antara karung tepung. Di sana, ia mendengar langkah-langkah tergesa, teriakan, dan bunyi benda berat jatuh ke aspal.
Ketika semuanya mereda, empat petugas keamanan telah meninggal. Berita itu beredar sebelum fajar. Nama-nama mereka disebut di radio, di layar televisi, di dinding kantor pemerintahan.
Nama Samir dan Reza belum disebut.
Tiga hari kemudian, Samir datang ke toko. Ia tidak memesan teh. Wajahnya pucat, dan tangan kirinya dibalut kain.
“Bisa duduk sebentar?” tanyanya.
Narin membuka pintu lebih lebar. Samir duduk di bangku dekat tungku. Ia memandang roti-roti yang baru matang, tetapi tidak menyentuhnya.
“Aku melihat seseorang jatuh,” katanya.
Narin menunggu.
“Di dekat mobil polisi. Aku mencoba menariknya ke pinggir jalan.”
“Siapa?”
Samir menggeleng. “Aku tidak tahu.”
Ia membuka balutan di tangannya. Ada luka panjang di telapak, belum kering seluruhnya.
“Orang-orang bilang kau membawa senjata,” kata Narin.
Samir memandangnya. “Orang-orang bilang banyak hal.”
Narin merasakan sesuatu mengeras di tenggorokannya. Ia ingin bertanya apakah Samir berada di dekat empat petugas yang tewas. Ia ingin bertanya apakah ia melihat siapa yang menembak. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu terasa seperti pintu yang hanya bisa dibuka dari satu sisi.
Samir berdiri.
“Kalau ada yang bertanya, katakan aku datang membeli roti.”
“Kau tidak membeli roti.”
“Kalau begitu, katakan aku datang karena lapar.”
Ia pergi tanpa menoleh. Narin melihat balutan putih di tangannya menghilang di antara orang-orang yang membawa kantong belanja.
Reza ditangkap pada malam berikutnya. Dua petugas datang ke bengkelnya, membawa surat perintah dan sebuah tas hitam. Mereka mengangkut radio, perkakas, serta buku catatan yang berisi daftar pelanggan.
Ibu Reza mendatangi toko Narin keesokan pagi. Perempuan itu membawa sekantong kacang pistachio yang belum dibuka.
“Dia tidak melakukan apa-apa,” katanya.
Narin tidak menjawab. Ia menuangkan teh ke gelas kecil. Uapnya naik, lalu lenyap di udara dingin.
“Dia memperbaiki jam,” lanjut perempuan itu. “Kalau jam orang terlambat, dia tidak pernah menertawakan. Katanya, semua orang punya waktunya sendiri.”
Narin menunduk. Di meja, kacang-kacang itu bergetar ketika kereta melintas di bawah jalan layang.
“Apakah kau melihatnya malam itu?” tanya ibu Reza.
Narin mengangguk.
“Apakah dia membawa senjata?”
Narin mengangkat wajah. Ia teringat suara letusan, orang-orang yang berlari, dan bayangan seorang lelaki yang jatuh di dekat mobil polisi. Ia tidak tahu apakah lelaki itu petugas atau demonstran. Ia tidak tahu siapa yang mengangkat tangan, siapa yang melempar batu, siapa yang menembak.
“Aku melihat banyak orang,” katanya.
Perempuan itu memegang kantong kacang lebih erat. “Itu bukan jawaban.”
Narin tahu. Ia juga tahu jawaban yang lengkap dapat membahayakan seseorang, sementara jawaban yang tidak lengkap bisa menjadi beban yang tinggal bertahun-tahun.
Pengadilan berlangsung di gedung yang jendelanya selalu tertutup tirai. Narin tidak pernah masuk ke sana. Ia hanya melihat keluarga-keluarga menunggu di luar, membawa map, botol air, dan roti yang dibungkus kain.
Berita tentang persidangan datang sepotong-sepotong. Samir dan Reza disebut sebagai pelaku utama. Mereka dituduh membawa senjata dan terlibat dalam tindakan yang mengancam keamanan negara. Dakwaan dibacakan dengan istilah-istilah yang terasa lebih besar daripada manusia yang disebut di dalamnya.
Di pasar, orang-orang berhenti membicarakan kasus itu ketika petugas lewat. Di rumah, televisi tetap menyala, tetapi volumenya dikecilkan. Di masjid, seorang imam mengingatkan bahwa kemarahan tidak boleh menghapus kewajiban untuk berlaku adil. Di kedai teh, seseorang berkata bahwa empat keluarga telah kehilangan anak mereka, dan itu tidak boleh dianggap kecil.
Narin mendengar semuanya. Ia menyimpan kalimat-kalimat itu seperti menyimpan tepung di dalam wadah tertutup: berharap tak ada yang tumpah, tetapi tahu sesuatu akan rusak jika terlalu lama dibiarkan.
Pada hari putusan, Samir dan Reza dijatuhi hukuman mati. Narin membaca kabar itu di layar telepon, berdiri di depan toko yang belum dibuka.
Ia mengetuk layar sekali, lalu sekali lagi, seolah berita itu bisa berubah jika disentuh dengan cara yang tepat.
Malamnya, ia pergi ke bengkel Reza. Pintu sudah disegel. Di balik kaca, jam-jam dinding masih tergantung. Beberapa menunjukkan pukul sebelas lewat tujuh menit, beberapa pukul tiga, beberapa berhenti pada waktu yang berbeda. Narin membayangkan Reza berdiri di sana, membuka penutup belakang sebuah jam, memeriksa roda-roda kecil yang bergerak tanpa suara.
Ia menempelkan telapak tangan ke kaca.
Di rumah, ibu Reza menunggunya. Perempuan itu tidak bertanya tentang putusan. Ia hanya menyodorkan secangkir teh dan berkata, “Aku ingin tahu apakah dia takut.”
Narin memegang cangkir dengan kedua tangan.
“Aku tidak tahu.”
“Semua orang takut,” kata perempuan itu. “Tapi aku ingin tahu apakah dia sempat mengatakan sesuatu.”
Narin memandang teh yang bergetar. Ia ingin mengarang kalimat yang menenangkan, sesuatu tentang keberanian atau keteguhan. Namun, ia tahu kata-kata yang dibuat untuk menghibur sering kali lebih mudah diterima daripada kebenaran yang tidak memiliki bentuk.
“Aku tidak pernah mendengar dia bicara tentang kematian,” katanya.
Ibu Reza mengangguk. Ia tidak menangis. Ia hanya menutup pintu ketika angin mulai masuk.
Pagi pelaksanaan hukuman, kota Mehran dibungkus kabut tipis. Narin membuka toko seperti biasa. Ia menguleni adonan, menyalakan tungku, menyusun roti di atas kain bersih. Radio mengumumkan bahwa hukuman telah dilaksanakan setelah proses hukum selesai dan putusan dikuatkan.
Ia tidak mendengar seluruh berita. Di luar, seorang anak kecil menjatuhkan koin ke selokan. Anak itu berlutut, mencoba meraihnya dengan ranting. Ibunya memanggil dari seberang jalan.
Narin keluar, mengambil sapu, lalu membantu anak itu mengangkat penutup selokan. Koin tersebut tersangkut di antara daun basah. Anak itu tersenyum ketika berhasil mengambilnya.
“Terima kasih,” katanya.
Narin mengangguk. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi anak itu sudah berlari ke arah ibunya.
Di dalam toko, dua roti kembali gosong. Narin tidak mengikisnya. Ia membiarkan bagian hitam itu menempel, lalu meletakkannya di rak paling bawah.
Sore hari, seorang lelaki datang membeli roti. Ia mengenakan mantel cokelat dan membawa koran yang dilipat di bawah lengan.
“Dua orang itu memang pantas dihukum,” katanya sambil menghitung uang.
Narin membungkus roti.
“Empat petugas meninggal,” lanjut lelaki itu. “Keluarga mereka juga menunggu keadilan.”
Narin menyerahkan bungkusan. “Ya.”
Lelaki itu berhenti sejenak. “Kau mengenal salah satu dari mereka?”
Narin melihat tangannya sendiri. Ada bekas luka kecil di ibu jari akibat pisau roti.
“Pernah.”
“Lalu?”
Narin membuka mulut, tetapi suara tungku mendahuluinya. Api bergerak di balik kaca, merah dan tenang.
“Lalu mereka sudah tidak ada,” katanya.
Lelaki itu mengangguk, mengambil roti, dan pergi.
Malam turun perlahan. Narin membersihkan meja, menyapu tepung, lalu mematikan radio. Ia mengeluarkan buku catatan pelanggan dari laci. Di halaman terakhir, ada dua nama yang ditulisnya berbulan-bulan lalu: Samir Vahid, dua roti; Reza Nouri, satu roti dan satu jam dinding.
Ia menatap tulisan itu lama-lama.
Di luar, kabut mulai turun lagi. Lampu jalan menyala satu per satu, membuat bayangan orang-orang memanjang di dinding. Narin menutup buku catatan, tetapi tidak memasukkannya ke laci.
Ia meletakkannya di dekat jendela.
Untuk pertama kalinya, ia membiarkan nama-nama itu terlihat dari jalan. (*)












.png)
.png)