- Ketika Beasiswa Harus Melahirkan Integritas
- Gunung yang Tak Pernah Menjanjikan Kepulangan
- Baznas-NU Bantu Penyintas Gempa Flores
- Wakaf Produktif Antar RS Achmad Wardi Mendunia
- Rumah Zakat Atasi Krisis Air Semarang
- Baznas-Sixerhood Galang Dana Kemanusiaan
- BAZNAS Perkuat Pengentasan Kemiskinan di DIY
- Kemenag Percepat Pemulihan Pesantren Aceh
- LSP BWI Kembangkan Ekosistem Wakaf Produktif
- Pemerintah Pulihkan Status Wakaf Blang Padang
Gunung yang Tak Pernah Menjanjikan Kepulangan
Oleh: Raeihan Ramadhan
.jpg)
Keterangan Gambar : Foto: Dok. Ilustrasi AI
Di Lembah Aruna, orang-orang terbiasa mengukur waktu dari suara helikopter. Pagi dimulai ketika baling-baling pertama berputar di landasan batu. Siang ditandai oleh deru mesin yang membawa tabung oksigen, bahan makanan, atau pendaki yang terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan. Sementara senja datang bersama helikopter terakhir yang turun dari gunung, membawa wajah-wajah pucat dan cerita tentang salju yang tak pernah selesai turun.
Di desa itu, langit bukan sekadar ruang kosong. Ia adalah jalan raya yang tidak memiliki rambu, tempat mesin-mesin terbang melintas di antara punggung gunung dan awan yang mudah berubah perangai.
Laras tinggal di sebuah rumah kayu beratap seng di tepi Sungai Nara. Ayahnya dahulu seorang pemandu pendakian, tetapi sejak sebuah longsoran salju merenggut tiga orang dalam rombongannya, lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktu memperbaiki kompor dan menambal sepatu. Ia meninggalkan gunung tanpa pernah benar-benar bisa meninggalkannya.
Baca Lainnya :
- Sekolah yang Menolak Jadi Sunyi0
- Dua Nama di Bawah Langit Abu0
- Hujan yang Menulis Surat0
- Nama-Nama di Dinding Kampus0
- Kampung yang Menunggu Hujan0
Laras mewarisi kebiasaan ayahnya mencatat cuaca. Setiap pagi ia menuliskan arah angin, ketebalan awan, dan suhu di buku bersampul cokelat. Catatan itu ia kirimkan kepada kantor pengelola penerbangan di desa. Orang-orang menganggapnya pekerjaan kecil, semacam kesibukan yang dilakukan perempuan yang tidak punya banyak pilihan. Namun Laras tahu, di tempat setinggi itu, perubahan angin beberapa menit saja dapat menentukan siapa yang pulang dan siapa yang tinggal sebagai nama di batu peringatan.
Sejak suaminya, Danu, meninggal dalam kecelakaan pendakian lima tahun lalu, ia tak pernah lagi menyukai bunyi baling-baling. Tetapi ia tidak pernah menutup telinga.
Danu meninggalkan seorang anak perempuan bernama Nara, yang kini berumur sembilan tahun. Setiap kali mendengar helikopter melintas, anak itu akan berlari ke halaman, mendongak, lalu bertanya apakah orang-orang di dalamnya sedang melihat rumah mereka.
“Tidak semua orang punya waktu untuk melihat ke bawah,” jawab Laras suatu kali.
Nara mengerutkan kening. “Kalau begitu, untuk apa mereka terbang tinggi-tinggi?”
Laras tidak menjawab. Ia sendiri sudah lama mencari jawaban atas pertanyaan yang serupa.
Musim pendakian tahun itu datang lebih ramai daripada biasanya. Hotel-hotel kecil di Lembah Aruna penuh oleh orang-orang dari berbagai negeri. Mereka datang dengan jaket berwarna terang, sepatu mahal, dan kamera yang menggantung di leher. Di kedai teh, mereka berbicara tentang puncak seolah-olah puncak adalah sebuah pintu yang tinggal didorong untuk dibuka.
Beberapa di antara mereka menginap hanya semalam sebelum melanjutkan perjalanan. Sebagian lain membayar mahal untuk diterbangkan mendekati kawasan perkemahan dasar. Helikopter menjadi semacam jalan pintas bagi mereka yang ingin menyingkat jarak antara keinginan dan pencapaian.
“Orang sekarang ingin menaklukkan gunung tanpa sempat mengenalnya,” kata ayah Laras suatu sore.
Laras sedang mengaduk teh mentega di atas tungku. Di luar, seorang anak berlari mengejar roda sepeda yang terlepas.
“Bukankah sejak dulu orang mendaki untuk mencapai puncak?”
“Dulu mereka berjalan. Mereka mendengar napas sendiri, merasakan dingin, dan tahu kapan harus berhenti.”
“Sekarang juga begitu, Ayah. Hanya caranya berbeda.”
Ayahnya mengangkat wajah. “Apakah semua yang bisa dilakukan manusia harus dilakukan?”
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, seperti asap yang enggan keluar melalui cerobong.
Pada awal November, dua perusahaan penerbangan swasta mendapat banyak pesanan. Satu mengangkut penumpang, satu lagi mengirimkan kargo ke kawasan perkemahan. Persediaan makanan, tabung oksigen, tenda, dan perlengkapan penyelamatan harus tiba sebelum cuaca memburuk. Di antara jadwal yang rapat, para pilot bekerja seperti orang-orang yang dikejar sesuatu yang tak terlihat.
Laras mencatat angin pagi itu bergerak dari barat laut. Awan menggantung rendah di sisi timur, sementara kabut tipis merambat dari lembah. Ia mengirimkan laporan kepada kantor penerbangan dan menambahkan satu kalimat: Jarak pandang dapat berubah cepat menjelang tengah hari.
Tak lama kemudian, teleponnya berdering.
“Apakah menurutmu penerbangan masih aman?” tanya seorang petugas.
Laras memandang punggung gunung yang sebagian tertutup kabut.
“Aman bukan berarti tanpa risiko,” katanya.
Di seberang sana, petugas itu terdiam sejenak. “Kami perlu jawaban yang lebih jelas.”
Laras menggenggam telepon lebih erat. Ia ingin mengatakan agar semua penerbangan dihentikan. Namun ia tahu, keputusan itu bukan miliknya seorang. Ada orang-orang yang menunggu obat, ada pendaki yang perlu dievakuasi, ada pekerja yang menggantungkan penghasilan pada setiap penerbangan.
“Periksa kembali keadaan angin sebelum lepas landas,” katanya akhirnya.
Siang itu, Laras sedang menjemur pakaian ketika suara dari langit terdengar berbeda. Bukan deru tunggal yang biasa melintas, melainkan dua bunyi mesin yang saling bertumpuk. Ia mendongak. Dua helikopter bergerak di antara dinding gunung, satu berwarna merah tua, satu lagi kelabu. Keduanya tampak kecil di hadapan lereng bersalju.
Laras melihat keduanya mendekati kawasan pendaratan.
Lalu terdengar bunyi seperti dua lembar logam besar diremas bersamaan.
Salah satu helikopter bergetar. Tubuhnya berputar sesaat sebelum menghantam tanah bersalju. Helikopter lain oleng ke samping, baling-balingnya menyapu sesuatu yang tidak terlihat dari kejauhan. Asap tipis muncul di antara bangunan-bangunan kecil di kawasan perkemahan.
Laras menjatuhkan keranjang pakaian.
Nara keluar dari rumah sambil membawa boneka kain. “Ibu?”
“Masuk.”
“Tapi—”
“Sekarang, Nara!”
Anak itu berhenti. Barangkali ia belum pernah mendengar suara ibunya setajam itu.
Dalam beberapa menit, desa yang semula sibuk oleh urusan masing-masing berubah menjadi ruang tunggu yang penuh kecemasan. Orang-orang berkumpul di depan kantor penerbangan. Telepon berdering tanpa henti. Beberapa keluarga mencoba menghubungi kerabat yang bekerja di gunung. Di kedai teh, televisi kecil menayangkan gambar yang direkam seseorang dari kejauhan: dua helikopter dengan badan penyok, serpihan logam berserakan di atas salju, dan sejumlah orang berlari membawa tandu.
Laras berdiri di depan layar itu. Ia mengenali warna merah tua pada salah satu badan helikopter. Perusahaan tersebut baru saja mengangkut beberapa wisatawan dari kawasan pendakian. Helikopter yang lain membawa kargo.
“Berapa orang di dalamnya?” seseorang bertanya.
Tidak ada yang tahu.
Beberapa jam kemudian, kabar pertama datang. Seorang wisatawan asing meninggal dunia. Seorang penumpang lain mengalami luka-luka dan berhasil diselamatkan. Petugas masih mengumpulkan keterangan dari saksi dan memeriksa lokasi kejadian.
Laras membaca pengumuman itu berkali-kali. Kalimatnya pendek, dingin, dan tampak tidak sebanding dengan apa yang baru saja terjadi. Seseorang telah kehilangan nyawa, seseorang lain harus menjalani hari-hari berikutnya dengan tubuh yang terluka, sementara dua mesin yang sebelumnya membawa harapan kini tergeletak seperti bangkai burung besi.
Malamnya, ayah Laras datang membawa sebuah radio tua.
“Dulu, ketika aku masih menjadi pemandu, ada seorang pendaki yang selalu ingin berjalan paling depan,” katanya. “Ia merasa orang yang pertama mencapai puncak adalah orang yang paling berani.”
“Apa yang terjadi dengannya?”
“Suatu hari, ia tetap berjalan ketika badai datang. Kami menemukannya dua hari kemudian.”
Laras meletakkan cangkir di meja. “Apakah dia meninggal?”
Ayahnya menggeleng. “Tidak. Ia selamat, tetapi kehilangan dua jari. Setelah itu, ia tidak pernah lagi membicarakan puncak.”
“Berarti gunung mengajarinya sesuatu.”
“Bukan gunung. Keputusannya sendiri.”
Laras memandang ayahnya. Di luar, salju turun tanpa suara. Atap seng rumah mereka mulai memutih.
“Kalau begitu, mengapa orang terus datang?”
Ayahnya mengusap permukaan radio dengan kain. “Karena manusia sering mengira bahwa sesuatu yang indah harus dimiliki.”
Keesokan paginya, seorang perempuan asing datang ke rumah Laras. Namanya Elin. Ia bekerja sebagai penerjemah bagi rombongan wisatawan dan mengenal salah seorang korban kecelakaan. Wajahnya sembap, matanya menyimpan malam yang tidak selesai.
“Namanya Adrian,” kata Elin. “Dia datang dari negeri jauh. Sebelum berangkat, dia berjanji akan mengirim foto puncak kepada anaknya.”
Laras mempersilakannya duduk. Ia menuangkan teh, tetapi perempuan itu hanya memegang cangkir tanpa meminumnya.
“Anaknya berumur berapa?”
“Tujuh tahun.”
Elin mengeluarkan sebuah telepon genggam. Di layarnya terlihat foto seorang anak laki-laki dengan gigi depan yang tanggal. Di belakangnya ada pohon kecil yang dihiasi lampu.
“Dia meminta ayahnya pulang sebelum ulang tahunnya,” kata Elin. “Adrian menjawab bahwa ia akan berusaha.”
Laras tidak segera menanggapi. Ada banyak kalimat yang mungkin diucapkan orang kepada keluarga yang kehilangan seseorang. Sebagian terdengar seperti penghiburan, sebagian lain hanya cara untuk menghindari kesunyian. Ia memilih duduk di hadapan Elin tanpa mengatakan apa-apa.
Setelah beberapa saat, Elin bertanya, “Apakah gunung ini selalu seperti itu?”
“Seperti apa?”
“Indah, tetapi mengambil orang.”
Laras menatap jendela. Dari sana, puncak gunung terlihat seperti punggung seekor binatang purba yang sedang tidur.
“Gunung tidak mengambil siapa pun,” katanya perlahan. “Kita yang datang kepadanya dengan segala keinginan.”
Elin menunduk. Jari-jarinya mengusap tepian cangkir.
Beberapa hari sesudah kecelakaan, aktivitas penerbangan berangsur kembali. Pemeriksaan dilakukan, jadwal diperbarui, dan perusahaan-perusahaan mengumumkan langkah-langkah keselamatan. Orang-orang kembali membeli tiket, menyewa perlengkapan, dan mengantre di kantor pendaftaran pendakian. Kehidupan di lembah selalu menemukan cara untuk bergerak, bahkan ketika duka belum sempat mengering.
Laras kembali mencatat cuaca. Ia menulis suhu, arah angin, dan perubahan awan. Namun, di halaman terakhir buku cokelatnya, ia menambahkan sesuatu yang berbeda:
Tidak semua perjalanan harus diselesaikan. Tidak semua puncak harus dicapai.
Ia memandang kalimat itu cukup lama sebelum menutup buku.
Sore hari, Nara menggambar dua helikopter di selembar kertas. Satu berwarna merah, satu lagi kelabu. Di bawahnya ia menggambar gunung dengan puncak putih dan sebuah rumah kecil di lembah.
“Ini apa?” tanya Laras.
“Helikopter yang jatuh.”
“Kenapa kamu menggambarnya?”
“Supaya tidak lupa.”
Laras berjongkok di samping anaknya. Ia ingin mengatakan bahwa tidak semua hal harus diingat, tetapi ia tahu ada kenangan yang tumbuh justru karena tidak diberi tempat untuk pergi.
“Lalu rumah ini?”
“Rumah kita.”
“Kenapa diletakkan jauh dari gunung?”
Nara mengangkat bahu. “Supaya kalau gunung marah, rumah kita tidak ikut jatuh.”
Laras tersenyum tipis. Ia mengusap rambut anak itu, kemudian memandang gambar tersebut. Dua helikopter yang patah sayapnya tampak seperti serangga yang kehilangan arah. Gunung di belakangnya berdiri tegak, tanpa ekspresi.
Malam turun lebih cepat. Dari kejauhan terdengar suara mesin sebuah helikopter yang sedang bersiap lepas landas. Laras berdiri di ambang pintu. Ia melihat lampu kecil bergerak di antara kabut, mula-mula seperti kunang-kunang, lalu menghilang di balik punggung gunung.
Di atas meja, buku catatan cuaca masih terbuka. Angin barat laut. Awan rendah. Jarak pandang menurun.
Laras mengambil pensil, lalu menambahkan satu kalimat di bawah catatan itu:
Barangkali keberanian bukanlah kemampuan untuk terus terbang, melainkan kesediaan untuk mendarat ketika langit meminta kita berhenti.
Ia meletakkan pensil. Di kamar, Nara sudah tertidur dengan gambar helikopter di samping bantalnya.
Laras mematikan lampu ruang depan, tetapi membiarkan lampu teras menyala. Ia tidak tahu siapa yang akan melihatnya dari kejauhan, atau apakah cahaya sekecil itu berarti bagi seseorang yang sedang berusaha pulang.
Di luar, gunung tetap berdiri. Salju menutupi bekas-bekas roda, jejak sepatu, dan serpihan yang belum sempat dibersihkan. Seolah-olah alam sedang menghapus sesuatu dari permukaannya, meski manusia tahu bahwa tidak semua yang hilang benar-benar lenyap.
Pagi nanti, helikopter mungkin akan kembali melintas. Orang-orang akan kembali menatap puncak, mengukur jarak, menghitung biaya, dan menyiapkan perjalanan. Sementara di sebuah rumah kayu di Lembah Aruna, seorang perempuan akan membuka buku catatan cuacanya, menuliskan arah angin, lalu sekali lagi bertanya kepada langit: berapa banyak orang yang harus kehilangan jalan pulang sebelum manusia belajar untuk tidak selalu memaksakan perjalanan? (*)






.png)





.png)
.png)