Hujan yang Menulis Surat
Oleh: Raeihan Ramadhan

By Revolusioner 05 Nov 2026, 03:36:02 WIB Cerpen
Hujan yang Menulis Surat

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Ilustrasi AI


Pada pagi ketika patok-patok merah muncul di halaman musala, hujan baru saja berhenti. Air menetes dari ujung daun mangga, jatuh ke tanah yang selama puluhan tahun diinjak sandal, sepeda, dan kaki-kaki anak sekolah. Di dekat pagar bambu, seorang lelaki berjaket kelabu menancapkan sebatang besi dengan palu. Bunyi pukulannya terdengar seperti seseorang mengetuk pintu dari sisi yang salah.

Mira berdiri di ambang rumah, memegang cangkir teh yang belum sempat diminumnya.

“Tanah ini sudah dibeli,” kata lelaki itu, tanpa menoleh.

Baca Lainnya :

Mira memandang patok merah di dekat pohon jambu. Di sana, ibunya pernah menanam serai. Di sana pula, ayahnya menggali lubang untuk menanam tiang jemuran, lalu mengeluh karena tanahnya terlalu keras.

“Dibeli siapa?” tanyanya.

Lelaki itu membuka map plastik. “Atas nama keluarga Wiranata.”

Nama itu pernah terdengar di rumah mereka, biasanya dalam percakapan yang segera diputus oleh ibunya. Nama itu seperti noda minyak di kain: semakin digosok, semakin melebar.

Kramaloka dahulu bukan bagian dari kota. Ia adalah kampung di ujung jalan aspal, di antara kebun singkong dan rawa yang mengering saat kemarau. Orang-orang mengenal batas tanah lewat pohon, parit, atau batu besar yang setengah tertanam. Surat-surat disimpan dalam kaleng biskuit, dibungkus plastik, lalu diletakkan di atas lemari agar aman dari tikus dan banjir.

Ketika kota merambat ke arah timur, kebun-kebun berubah menjadi gudang, rawa menjadi perumahan, dan jalan tanah menjadi jalur angkot yang berdebu. Kramaloka tak pernah benar-benar pindah, tetapi setiap tahun terasa semakin jauh dari dirinya sendiri.

Ayah Mira, Sardi, meninggal tujuh tahun lalu. Ia meninggalkan sebuah rumah berdinding papan, dua pohon mangga, dan selembar surat lama yang selalu dilarang ibunya untuk dibaca sembarangan.

“Jangan dibuka kalau tidak perlu,” kata ibunya, Ningsih, setiap kali Mira bertanya.

“Kalau memang tidak perlu, kenapa disimpan?”

Ningsih biasanya melipat kain atau mengaduk sayur. “Karena ada hal-hal yang tidak selesai hanya dengan dibuang.”

Mira tidak pernah mengerti. Ia bekerja sebagai petugas arsip di kantor kelurahan. Sehari-hari ia menata berkas yang berbau debu, tinta, dan kelembapan. Ia percaya sesuatu yang tercatat dapat ditemukan kembali; sesuatu yang memiliki nomor dapat ditelusuri; sesuatu yang ditandatangani memiliki ujung yang jelas.

Namun, nama Wiranata membuat keyakinan itu berderit.

Empat puluh satu tahun sebelumnya, seorang lelaki bernama Wiranata datang ke Kramaloka dengan sepatu mengilap dan sebuah mobil yang terlalu besar untuk jalan kampung. Ia membeli lahan di sebelah utara, lalu menyewa rumah tua milik keluarga pedagang beras. Beberapa orang mengatakan ia akan membangun gudang. Yang lain menduga ia hendak membuka pabrik.

Tak ada pabrik yang berdiri. Sebaliknya, pagar kawat tumbuh mengelilingi lahan yang luas. Di baliknya, rumput meninggi dan pohon-pohon liar berakar. Sesekali ada orang datang mengukur tanah. Sesekali pula terdengar kabar bahwa lahan itu akan dijual, disewakan, atau diperebutkan oleh ahli waris.

Wiranata sendiri jarang terlihat. Ia tinggal di rumah besar di seberang kota, tetapi namanya hadir di Kramaloka seperti cuaca buruk yang belum turun.

Orang-orang mulai menyebutnya tuan tanah.

Pada tahun-tahun berikutnya, rumah-rumah kecil tumbuh di sekitar lahan itu. Ada yang dibangun dengan izin lisan, ada yang didirikan setelah seseorang membayar sejumlah uang kepada penjaga, ada pula yang muncul begitu saja ketika malam terlalu gelap untuk membedakan batas. Orang-orang menyebutnya menumpang, menggarap, mengisi, atau sekadar bertahan.

Ayah Mira pernah menjadi salah satunya.

“Bapak tahu tanah ini bukan milik kita?” tanya Mira, suatu malam, ketika ia masih remaja.

Sardi sedang memperbaiki radio. Ia mengencangkan sekrup kecil dengan obeng yang sudah aus.

“Bapak tahu,” jawabnya.

“Lalu kenapa kita tinggal di sini?”

Sardi mematikan radio. Dari luar, suara kereta melintas seperti besi panjang yang menggesek langit.

“Karena waktu itu kita tidak punya tempat lain.”

Mira menunggu penjelasan berikutnya. Ayahnya kembali menyalakan radio. Lagu keroncong yang pecah-pecah memenuhi ruangan.

Kabar pengukuran lahan menyebar lebih cepat daripada kabar kematian. Dalam dua hari, orang-orang dari berbagai sudut Kramaloka berkumpul di warung Bu Saminah. Mereka membawa fotokopi kartu keluarga, kuitansi listrik, surat keterangan, dan cerita yang berbeda-beda tentang bagaimana mereka sampai di sana.

“Kalau memang tanahnya punya mereka, kenapa dibiarkan puluhan tahun?” tanya seorang lelaki yang menjual es batu.

“Karena mereka menunggu harga naik,” jawab yang lain.

“Kalau kita punya hak, tunjukkan suratnya.”

Kalimat terakhir membuat semua orang diam. Di meja, gelas-gelas teh menyisakan lingkaran kecokelatan.

Mira datang membawa salinan peta dari kantor kelurahan. Ia tidak seharusnya membawanya keluar, tetapi garis-garis pada peta itu telah melekat di pikirannya. Lahan yang diklaim keluarga Wiranata mencakup rumah-rumah, musala, lapangan kecil, dan sebuah gang yang menjadi jalan menuju pasar.

“Batasnya tidak masuk akal,” kata Mira.

“Batas di kertas memang sering lebih lurus daripada hidup,” ujar Bu Saminah.

Mira menatap peta. Garis hitam itu membelah rumah-rumah seperti pisau yang tak perlu mengangkat suara.

Seminggu kemudian, seorang perempuan tua datang ke kantor kelurahan. Ia mengenakan kebaya lusuh dan membawa tas kain berisi dokumen. Namanya Rukmini. Ia mengaku pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Wiranata.

“Dulu, sebelum pagar dipasang, orang-orang masuk lewat jalan utara,” katanya. “Ada sumur di sana. Ada pohon sawo. Saya ingat karena Tuan Wiranata pernah marah ketika anak-anak memetik buahnya.”

Mira membuka buku catatan.

“Apakah Ibu tahu soal pembelian tanah?”

Rukmini mengeluarkan selembar kertas yang tepinya menguning. Bukan sertifikat, melainkan catatan pembayaran upah dan daftar nama pekerja. Di bagian bawah, ada tulisan tangan: Tanah bagian selatan dipakai sementara oleh warga, sampai pembangunan dimulai.

Mira membaca kalimat itu berulang kali.

“Ini bisa membantu?”

Rukmini menggeleng. “Saya tidak tahu. Saya hanya tidak ingin ingatan saya ikut hilang.”

Mira memotret kertas itu dengan telepon genggamnya. Ketika perempuan tua tersebut pergi, ia menyimpan foto itu dalam folder pribadi. Untuk pertama kalinya, ia merasa arsip bukan hanya tempat menyimpan sesuatu yang telah selesai. Kadang-kadang, arsip adalah tempat orang menitipkan sesuatu yang belum menemukan bentuk.

Malam itu, Mira membuka kaleng biskuit milik ayahnya. Di dalamnya terdapat surat-surat lama, kartu berobat, foto keluarga, dan amplop cokelat yang dilipat dua. Ia membuka amplop itu perlahan.

Surat tersebut ditulis oleh seseorang bernama Wiranata, ditujukan kepada Sardi. Isinya pendek. Ia mengizinkan Sardi menempati sebidang tanah di sisi timur, tanpa biaya, sampai ada keputusan lebih lanjut. Di bawahnya terdapat tanda tangan dan tanggal yang hampir tak terbaca.

Mira duduk lama di lantai. Ia mendengar ibunya batuk dari kamar.

“Kenapa Ibu tidak pernah menunjukkan surat ini?” tanyanya keesokan pagi.

Ningsih sedang memotong daun singkong. Pisau berhenti di atas talenan.

“Karena surat itu bukan bukti bahwa tanah ini milik kita.”

“Tapi juga bukan bukti bahwa kita harus pergi begitu saja.”

Ibunya meletakkan pisau. “Ayahmu pernah mencoba menemui mereka. Tidak ada jawaban. Lalu ia bekerja, membesarkanmu, memperbaiki rumah. Tahun demi tahun lewat. Kita mulai merasa tanah ini mengenal kita.”

“Bukankah itu juga sesuatu?”

Ningsih memandang halaman. Air hujan masih menggenang di dekat patok merah.

“Barangkali. Tapi tanah tidak bisa bicara di pengadilan.”

Hari pertemuan warga tiba di balai kelurahan. Kursi plastik disusun rapat. Kipas angin berputar dengan suara seperti napas orang kelelahan. Di depan, dua orang dari keluarga Wiranata duduk bersama kuasa hukum mereka. Salah satunya, lelaki berusia sekitar lima puluh tahun, memperkenalkan diri sebagai Damar Wiranata.

Ia berbicara dengan tenang. Keluarganya, katanya, memiliki dokumen sah. Lahan itu diwariskan dari ayahnya. Mereka tidak bermaksud menyakiti siapa pun, tetapi pembangunan tak dapat terus tertunda.

“Empat puluh satu tahun bukan waktu yang sebentar,” kata seorang warga.

Damar menunduk, lalu merapikan kertas di depannya. “Saya memahami itu.”

“Memahami tidak sama dengan memberi tempat.”

Mira berdiri di belakang, memegang salinan surat ayahnya. Ia ingin maju, tetapi sesuatu menahan kakinya. Surat itu bukan milik semua orang. Ia hanya membuktikan bahwa keluarganya pernah menerima izin tinggal sementara. Jika ia mengangkatnya, mungkin ia akan menyelamatkan rumah mereka, tetapi membiarkan rumah-rumah lain tetap tanpa suara.

Damar melihatnya.

“Apakah ada yang ingin menyampaikan dokumen tambahan?”

Mira merasakan telapak tangannya basah. Ia mengeluarkan surat dari amplop, memandang tanda tangan yang mulai pudar, lalu memasukkannya kembali.

“Belum,” katanya.

Kata itu terdengar kecil, tetapi menimbulkan ruang yang tak segera terisi.

Sepulang dari balai kelurahan, Mira berjalan melewati lahan berpagar. Rumput di dalamnya setinggi pinggang. Di sudut, sebuah pohon sawo tumbuh miring, cabangnya menembus kawat. Beberapa buah jatuh di tanah, membusuk, dikerumuni semut.

Ia teringat Rukmini, anak-anak yang memetik buah, ayahnya yang memperbaiki radio, dan ibunya yang menyimpan surat seperti menyimpan bara di bawah abu.

Di ujung gang, seorang anak perempuan sedang menggambar rumah dengan kapur. Ia membuat atap merah, jendela biru, dan pohon besar di halaman. Garis pagar yang membatasi gambar itu terlalu tebal.

“Kenapa pagarnya besar sekali?” tanya Mira.

Anak itu mengangkat bahu. “Biar rumahnya tidak diambil.”

Mira berjongkok. Kapur putih menempel di ujung jarinya.

“Kalau tidak ada pagar?”

Anak itu berpikir sebentar, lalu menggambar sebuah pintu.

Mira berdiri dan melanjutkan langkah. Di belakangnya, suara kapur menggores semen terdengar lirih, seperti seseorang sedang menulis nama di permukaan yang mudah terhapus.

Beberapa hari kemudian, patok-patok merah bertambah. Di kantor kelurahan, berkas permohonan warga menumpuk di meja Mira. Ada surat keterangan tinggal, kuitansi pembayaran, foto rumah dari tahun-tahun berbeda, dan pernyataan saksi yang ditulis dengan bahasa seadanya. Setiap lembar membawa kehidupan yang tak bisa diringkas menjadi satu kolom.

Mira mulai menyusun salinan surat ayahnya bersama dokumen Rukmini. Ia tidak tahu apakah keduanya akan mengubah keputusan siapa pun. Ia juga tidak tahu apakah tindakannya merupakan keberanian atau sekadar cara menunda rasa bersalah.

Pada sore yang mendung, Damar datang sendirian ke kantor kelurahan. Ia berdiri di depan meja Mira, melepas kacamata, lalu mengusap pangkal hidung.

“Apakah Anda menemukan sesuatu?” tanyanya.

Mira menatap map yang terbuka.

“Banyak yang ditemukan,” jawabnya. “Tapi belum tentu semuanya diakui.”

Damar mengangguk pelan. “Saya juga menemukan surat-surat lama. Ayah saya tidak pernah menceritakan semuanya.”

“Apakah Bapak tahu mengapa tanah itu dibiarkan?”

Damar menatap jendela. Di luar, seorang petugas menyapu daun yang jatuh.

“Kadang-kadang, orang mewarisi sesuatu tanpa mewarisi penjelasannya.”

Mira tidak menjawab. Untuk sesaat, ia melihat bukan pemilik tanah, melainkan seorang anak yang tumbuh di rumah dengan cerita yang tak lengkap.

Damar mengambil mapnya. “Saya akan kembali.”

Mira mengangguk. Ia tidak bertanya kapan.

Malamnya, hujan turun lagi. Mira duduk di teras, menatap patok merah yang berkilat terkena lampu jalan. Ibunya meletakkan dua cangkir teh di meja.

“Surat itu akan kamu serahkan?” tanya Ningsih.

Mira mengangkat cangkir, tetapi tidak meminumnya.

“Belum tahu.”

Ningsih duduk di sebelahnya. Dari kejauhan terdengar azan Isya, bercampur suara mesin kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti.

“Kalau kita kehilangan rumah?”

Mira memandang pohon mangga. Cabang terendahnya hampir menyentuh atap.

“Kalau kita diam, mungkin kita kehilangan lebih dari rumah.”

Ibunya tidak menjawab. Ia meraih tangan Mira, lalu melepaskannya kembali, seolah-olah baru ingat bahwa tangan anaknya kini telah tumbuh menjadi tangan orang dewasa.

Di halaman, air hujan mengalir melewati patok merah, membentuk parit kecil. Mira membayangkan tanah itu menyimpan jejak kaki semua orang yang pernah melintasinya: pemilik yang datang membawa surat, pekerja yang menggali fondasi, keluarga yang membangun dapur, anak-anak yang bermain kelereng, dan orang-orang yang suatu hari akan datang untuk mengukur ulang.

Ia masuk ke rumah, mengambil surat ayahnya, lalu meletakkannya di atas meja. Di sampingnya, ia menaruh kertas kosong.

Di luar, hujan terus turun. Patok merah itu tidak bergerak. Tetapi tanah di sekelilingnya perlahan berubah menjadi lumpur. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment