- Dana Umat dan Lahirnya Inovator Sosial
- Mimpi yang Tumbuh di Tanah Garam
- MUI Bandung Dorong Aspirasi Damai
- Wakaf Saham Buka Peluang Ekonomi Umat
- OJK-BBF Perluas Pasar Batik Lokal
- Jonatan Donasikan Seluruh Bonus Asian Games
- Perhutani-BRI Jajaki Pengembangan UMKM Hutan
- LPDP Perketat Syarat Sertifikat TOEFL
- BAZNAS-Sabana Perkuat Program ZChicken
- Baznas-KSrelief Salurkan 30.000 Paket Bantuan
OJK-BBF Perluas Pasar Batik Lokal
.png)
Keterangan Gambar : Foto: Dok. Finance.detik.com (Pemkab Banyuwangi)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkolaborasi dengan Banyuwangi Batik Festival (BBF) melalui rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) untuk memperkuat ekosistem usaha batik sekaligus memperluas peluang pasar bagi perajin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banyuwangi.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya mendorong perkembangan industri kreatif berbasis budaya lokal, tetapi juga meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya pelaku usaha batik.
Kepala OJK Jember, Aris Budiman, mengatakan penyelenggaraan BBF yang dipadukan dengan BIK menjadi salah satu upaya strategis untuk mendekatkan layanan dan pemahaman keuangan kepada masyarakat. Menurut dia, pengembangan industri batik membutuhkan dukungan lintas sektor agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Baca Lainnya :
- Perhutani-BRI Jajaki Pengembangan UMKM Hutan0
- BAZNAS-Sabana Perkuat Program ZChicken0
- Kadin-Dekranasda Perkuat UMKM Bekasi0
- BI Luncurkan 3 Program Unggulan ISEF 0
- Baznas dan Kadin Latih Pekerja Mustahik0
"Proses pembuatan batik membutuhkan kain, pewarna, dan berbagai bahan pendukung. Begitu pula upaya meningkatkan literasi keuangan, membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan hingga pemerintah daerah," ujar Aris dalam keterangannya, Sabtu (7/11/2026).
Aris berharap sinergi antara BIK dan Banyuwangi Batik Festival dapat terus dilaksanakan sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat, terutama para perajin batik setempat.
Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, turut menyampaikan bahwa BBF telah berkembang menjadi wadah pelestarian warisan budaya sekaligus penguatan ekonomi para pelaku usaha batik. Festival tahunan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari perajin, pedagang batik, desainer fesyen lokal, hingga pelaku UMKM.
"Di satu sisi kita merayakan warisan budaya, di sisi lain kita memperkuat ekonomi para perajin dan pelaku UMKM yang menghidupkan budaya," papar Mujiono.
Dia berharap BBF terus memberikan ruang bagi perajin untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi, baik melalui penciptaan motif, pengembangan desain, maupun strategi pemasaran produk.
"Termasuk memanfaatkan layanan keuangan digital untuk memperluas jangkauan pasar batik Banyuwangi," kata Mujiono.
Angkat Motif Khas Batik Banyuwangi
Banyuwangi Batik Festival tahun ini diselenggarakan pada 6–8 November 2026 di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan. Memasuki penyelenggaraan ke-14 sejak pertama kali digelar pada 2013, festival tersebut mengangkat motif Sabuk Mangir Latar Ukel.
Selama penyelenggaraannya, BBF tidak hanya menjadi panggung peragaan busana, tetapi juga sarana memperkenalkan kekayaan motif batik tradisional Banyuwangi. Kegiatan ini sekaligus mendorong kreativitas perajin dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap produk budaya daerah.
Sejumlah motif yang pernah diperkenalkan dalam festival tersebut antara lain Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi Pecah, Blarak Sempal, Sekar Jagad Blambangan, Cacing Sembrug, dan Wader Kesit.
Adapun motif Sabuk Mangir Latar Ukel yang diangkat tahun ini merepresentasikan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan leluhur Banyuwangi. Pengangkatan motif tersebut diharapkan dapat memperkaya khazanah batik daerah sekaligus memperluas pengenalannya kepada masyarakat.
Rangkaian BBF dan BIK turut menghadirkan beragam kegiatan, seperti peragaan busana batik, Financial Expo dan Bazar UMKM, pemilihan Duta Lembaga Jasa Keuangan (LJK), talk show literasi keuangan, kompetisi kreasi budaya dan desain batik, kompetisi tandan Cavendish berkualitas, hingga BIK Run.
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, festival tersebut memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk mempromosikan produk sekaligus menjalin interaksi langsung dengan masyarakat dan wisatawan.
Eca, salah satu pelaku usaha batik yang mengikuti festival, menyambut pengangkatan motif Sabuk Mangir Latar Ukel sebagai kesempatan untuk memperkenalkan keragaman batik Banyuwangi kepada khalayak yang lebih luas.
"Setiap tahun selalu ada motif baru yang diangkat. Harapannya, kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap batik semakin tumbuh dan batik lokal semakin dikenal," pungkas dia.
Pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Ketika perajin memperoleh kesempatan untuk mengembangkan produk, memperluas pemasaran, dan mengakses layanan keuangan, warisan budaya juga memiliki peluang untuk menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan. Semangat ini sejalan dengan nilai filantropi Islam yang mendorong pemberdayaan, bukan sekadar pemberian bantuan sesaat. Melalui zakat dan infak yang dikelola secara produktif, pelaku UMKM dapat memperoleh dukungan untuk meningkatkan kapasitas usaha, menjaga tradisi, dan membangun kemandirian ekonomi bagi keluarga serta komunitasnya.
Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.finance.detik.com




.png)

.png)
.png)



.png)
.png)