- Tokopedia dan LAZISNU Salurkan Paket Buka Puasa
- Zakat: Pengertian, Hukum, Jenis, Syarat, dan Ketentuan
- Sungai Rahmat Suscia Rahmani
- Zakat Fitrah di Tengah Banjir Rob: Dari Teks Fikih ke Aksi Nyata
- BAZNAS Salurkan Beras ke Korban Rob Bekasi
- Sahkah Puasa Jika Meninggalkan Shalat?
- Sejarah Zakat di Indonesia
- Zakat di Kerajaan Arab Saudi
- Besarnya Pahala Shalat Tarawih Ramadhan
- Bolehkah Makan Setelah Imsak? Ini Penjelasannya
Sungai Rahmat Suscia Rahmani
Oleh: Daffa Atha

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT
Banjir rob di Muara Gembong itu seperti tamu tak diundang yang betah berbulan-bulan. Ia datang tanpa permisi, menginap tanpa tahu diri, dan pulang tanpa pamit. Rumah-rumah di Desa Pantai Harapan Jaya dan Pantai Bahagia berubah menjadi kolam yang tak pernah diminta. Perahu lebih sibuk parkir di teras daripada melaut.
Di tengah genangan yang membuat
kaki keriput sebelum waktunya itu, datanglah Suscia.
Nama lengkapnya Suscia Rahmani,
tapi warga cukup memanggilnya “Mbak Sus.” Aktivis filantropi yang lebih sering
bersepatu bot lumpur daripada sepatu hak tinggi. Ia hafal bau air rob, hafal
suara genset mogok, dan hafal cara membujuk donatur yang dompetnya sering lebih
keras dari batako.
Baca Lainnya :
- Zakat Penghabisan di Bulan Kemerdekaan0
- Jalan Pulang Seorang Ayah0
- Di Balik Ayat yang Tak Selesai0
- Iman yang Tak Tenggelam Dalam Arus 0
- Luka yang Tak Terlihat0
Hari itu, ia ikut mengawal
distribusi 200 paket beras zakat fitrah masing-masing 5 kilogram yang
disalurkan lewat koordinasi dengan Badan Amil Zakat Nasional. “Zakat itu jangan
cuma jadi wacana di mimbar,” katanya suatu kali, “ia harus bisa berenang.”
Warga menyambut beras itu seperti
menyambut tamu yang benar-benar ditunggu. Watiah, dengan kaki yang setia
digigit kutu air, nyaris memeluk karung beras sebelum memeluk Suscia. Sementara
Tambrun, nelayan dengan penghasilan yang kadang cuma cukup untuk membeli bensin
perahu dan separuh kilo beras, berkali-kali mengucap syukur.
“Zakat fitrah itu menyucikan yang
puasa dan mengenyangkan yang lapar,” ujar Suscia pada seorang relawan muda yang
sibuk memotret untuk media sosial. “Kalau cuma suci tapi tak ada yang kenyang,
itu namanya suci sendirian.”
Relawan itu manggut-manggut,
meski tak sepenuhnya paham. Ia lebih paham filter yang tepat untuk cahaya
senja.
“Anak hanyut! Anak hanyut!”
Orang-orang berlarian. Sungai
yang biasanya jinak tiba-tiba menjadi seperti ular yang baru bangun tidur.
Seorang bocah terseret arus, tangannya menggapai apa saja kecuali pegangan yang
kokoh.
Tanpa banyak teori, Suscia
melompat.
Ia tidak sempat mengingat dalil,
tidak pula mengutip Fiqh az-Zakah. Yang ia ingat hanya satu: manusia
lebih penting daripada rapat evaluasi.
Air sungai lebih dingin dari
komentar warganet. Arusnya lebih deras dari arus kas lembaga filantropi yang
sedang seret. Tapi Suscia lebih keras kepala daripada semuanya.
Dengan satu tangan ia meraih
batang bambu yang mengambang, dengan tangan lain ia menyambar kerah baju si
bocah. Beberapa detik yang terasa seperti satu bab skripsi akhirnya berakhir
ketika warga membantu menarik mereka ke tepi.
Bocah itu batuk, menangis, lalu
memeluk Suscia dengan erat. “Tante jangan pergi,” katanya.
Belakangan baru diketahui, bocah
itu adalah putra seorang pejabat tinggi yang kebetulan sedang meninjau proyek
tanggul yang tak kunjung rampung.
Pejabat itu datang dengan wajah pucat, lebih pucat dari proposal yang sering ia abaikan. Jasnya rapi, tapi matanya berantakan. Ia memeluk anaknya lama sekali, lalu menatap Suscia seperti menatap ayat yang baru ia pahami artinya.
“Saya tidak tahu harus bagaimana
membalasnya,” katanya lirih.
Suscia, masih menggigil dan
sedikit malu karena bajunya berbau sungai, menjawab enteng, “Kalau mau
membalas, jangan ke saya. Balas ke mereka.” Ia menunjuk rumah-rumah yang
setengahnya masih terendam.
Pejabat itu terdiam.
Beberapa hari kemudian, kabar
beredar lebih cepat dari air pasang: sang pejabat menyumbangkan sebagian besar
hartanya untuk program filantropi, khususnya bagi masyarakat penyintas bencana.
Bukan sekadar CSR yang difoto lalu dilupakan, melainkan dana yang benar-benar
dialokasikan untuk tanggul, perahu, pelatihan usaha, dan lumbung pangan.
“Kadang,” kata Suscia kepada
timnya, “orang baru mengerti arti zakat setelah hampir kehilangan yang paling
ia cintai.”
Ia lalu bercerita tentang delapan
asnaf, tentang bagaimana fakir dan miskin selalu disebut pertama. Tentang
gagasan bahwa zakat bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi membangun
kehidupan. Ia menyebut nama-nama ulama dengan santai, seolah mereka kawan
diskusi di warung kopi.
“Teks itu penting,” ujarnya
sambil membagikan teh hangat, “tapi yang lebih penting adalah siapa yang kita
tolong setelah membaca teks.”
Program pun berkembang. Dari sekadar distribusi beras zakat fitrah, lahir pelatihan pengolahan hasil laut, koperasi kecil nelayan, hingga sekolah darurat untuk anak-anak yang bosan belajar dari buku yang lembap.
Pejabat itu beberapa kali datang,
kali ini tanpa rombongan berlebihan. Ia lebih sering duduk mendengar daripada
berdiri berpidato. Anak yang dulu hanyut kini berlari-lari di antara tumpukan
karung beras, bercita-cita menjadi “penolong seperti Tante Sus.”
Muara Gembong masih dilanda rob
sesekali. Air masih datang tanpa undangan. Tapi kini, warga tak lagi merasa
sendirian. Mereka punya lumbung, punya perahu, punya pelatihan, dan yang tak
kalah penting punya harapan.
Suatu malam, setelah semua
relawan pulang, Suscia duduk di tepi sungai. Ia memandangi air yang memantulkan
cahaya bulan seperti potongan koin yang tercecer.
“Zakat,” gumamnya pelan,
“seharusnya memang seperti ini. Mengalir. Membersihkan. Dan, kalau perlu,
menyelamatkan.”
Sungai "rahmat" tak menjawab. Tapi kali ini, ia terdengar lebih bersahabat.

1.png)






.jpg)
.png)
.png)