Jalan Pulang Seorang Ayah
Oleh: Najwa Najihah

By Revolusioner 12 Nov 2025, 15:09:46 WIB Cerpen
Jalan Pulang Seorang Ayah

Keterangan Gambar : Foto: Asisten AI


Hujan turun deras sejak malam, menimpa atap seng rumah semi permanen di pinggiran Bekasi. Air mulai naik ke halaman, tapi Pak Hasan masih belum berhenti bekerja. Tangannya gemetar saat memindahkan karung beras ke bak mobil pickup kecil berlogo BAZNAS.

“Pak, istirahat dulu. Bapak belum tidur dari semalam,” kata Rina, anak sulungnya, yang baru pulang kerja shift malam.

Hasan tersenyum samar. “Masih ada dua titik lagi yang belum kebagian. Nanti Subuh Bapak berangkat.”
“Bapak tuh keras kepala!”
ujar Rina.
“Kalau semua orang istirahat, siapa yang nganter zakat ini, Rin?”
ucap Pak Hasan.

Baca Lainnya :

Kalimat itu menggantung di udara, tenggelam dalam bunyi hujan yang tak henti.

Sudah hampir dua minggu banjir besar melanda kampung mereka. Air menenggelamkan mushola, warung, dan rumah warga. Banyak yang mengungsi, tapi Hasan tetap bertahan di rumah, sekaligus jadi relawan zakat BAZNAS di wilayahnya.

Ia bukan pegawai tetap, hanya buruh panggul di pasar yang kadang ikut menyalurkan zakat dari donatur. Tapi baginya, itu satu-satunya cara agar hidupnya tetap punya arti setelah ditinggal istrinya tiga tahun lalu.

“Zakat itu bukan cuma tentang uang,” katanya dulu pada Rina. “Kadang, yang kita kasih cuma tenaga. Tapi kalau niatnya tulus, nilainya sama di mata Tuhan.”

Pukul empat dini hari, Hasan akhirnya berangkat. Pickup nya membawa paket sembako dan uang tunai dari donatur BAZNAS. Jalan menuju daerah pengungsian penuh air dan lumpur. Ia berhenti di tengah jembatan kecil yang nyaris roboh, mencoba menyeberang perlahan.

Tiba-tiba, tanah di pinggir sungai longsor. Pickup oleng, ban belakang tergelincir. Hasan turun, berusaha mendorong kendaraan itu sendirian. Hujan makin deras. Di kejauhan, suara azan Subuh terdengar dari masjid yang separuh terendam air.

“Sedikit lagi…” gumamnya sambil menahan napas.

Ia berhasil mengeluarkan mobil dari lumpur, tapi tubuhnya ambruk seketika. Nafasnya sesak. Tangannya masih menggenggam karung beras bertuliskan “Zakat untuk Korban Banjir”.

Beberapa jam kemudian, relawan menemukan Hasan sudah tidak bernyawa. Di saku jaketnya, ada secarik kertas basah bertuliskan tulisan tangan:

“Kalau aku tak pulang, tolong sampaikan zakat ini. Biar yang menerima tahu, Allah selalu kirim pertolongan lewat tangan orang kecil.”

Rina menatap surat itu lama sekali. Air matanya jatuh satu-satu, bercampur hujan. Ia tidak tahu apakah harus bangga atau marah. Tapi saat ia ikut ke posko untuk menyerahkan zakat terakhir ayahnya, semua rasa itu berubah jadi haru.

Seorang ibu pengungsi menggenggam tangannya dan berkata, “Kalau bukan karena bapakmu, anak-anak saya belum makan dua hari. Terima kasih ya, Nak.”

Rina hanya menunduk, tapi dalam dadanya ada sesuatu yang hangat yaitu sesuatu yang dulu ia sebut beban, kini ia sebut cinta. Beberapa minggu berlalu. Rina datang ke kantor BAZNAS membawa formulir pendaftaran relawan. Saat ditanya alasan bergabung, ia menulis singkat:

“Karena saya ingin melanjutkan perjalanan ayah sebelum Subuh terakhirnya.”

Di luar, langit pagi cerah untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu. Di jalanan yang dulu banjir, Rina melihat anak-anak bermain, tertawa, dan hidup kembali — sama seperti semangat ayahnya yang tak pernah tenggelam. ***




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment