- Akademizi Dampingi Audit Syariah untuk LAZ Ulil Albab
- BAZNAS Luncurkan 29 Program Ramadan
- BAZNAS dan Media Kolaborasi Perkuat Literasi Zakat
- Tagline Ramadan BAZNAS RI “Zakat Menguatkan Indonesia”
- Kemenimipas Bantu Penyintas Banjir di Padang
- Lazismu Terapkan Tata Kelola Profesional Zakat Produktif
- Lazismu Jember Perkuat Kolaborasi Penghimpunan
- Masjid PB Soedirman dan Lazismu Galang Dana untuk Sumatra
- Zakat Sukses dan PT Agrinas Bantu Penyintas Banjir Cilegon
- Komunitas Musik Indie Bantu Sumatra via DD
Jalan Pulang Seorang Ayah
Oleh: Najwa Najihah

Keterangan Gambar : Foto: Asisten AI
Hujan turun deras sejak malam, menimpa atap seng
rumah semi permanen di pinggiran Bekasi. Air mulai naik ke halaman, tapi Pak Hasan masih belum berhenti
bekerja. Tangannya gemetar saat memindahkan karung beras ke bak mobil pickup
kecil berlogo BAZNAS.
“Pak, istirahat dulu. Bapak belum tidur dari
semalam,” kata Rina, anak
sulungnya, yang baru pulang kerja shift malam.
Hasan tersenyum samar. “Masih ada dua titik lagi
yang belum kebagian. Nanti Subuh Bapak berangkat.”
“Bapak tuh keras kepala!” ujar Rina.
“Kalau semua orang istirahat, siapa yang nganter zakat ini, Rin?” ucap Pak Hasan.
Baca Lainnya :
- Di Balik Ayat yang Tak Selesai0
- Iman yang Tak Tenggelam Dalam Arus 0
- Luka yang Tak Terlihat0
- Warisan Terakhir Nenek Rahmah0
- Dentang Terakhir Telegraf0
Kalimat itu menggantung di udara, tenggelam
dalam bunyi hujan yang tak henti.
Sudah hampir dua minggu banjir besar melanda
kampung mereka. Air menenggelamkan mushola, warung, dan rumah warga. Banyak
yang mengungsi, tapi Hasan tetap bertahan di rumah, sekaligus jadi relawan zakat BAZNAS di
wilayahnya.
Ia bukan pegawai tetap, hanya buruh panggul di
pasar yang kadang ikut menyalurkan zakat dari donatur. Tapi baginya, itu
satu-satunya cara agar hidupnya tetap punya arti setelah ditinggal istrinya
tiga tahun lalu.
“Zakat itu bukan cuma tentang uang,” katanya
dulu pada Rina. “Kadang, yang kita kasih cuma tenaga. Tapi kalau niatnya tulus,
nilainya sama di mata Tuhan.”
Pukul empat dini hari, Hasan akhirnya berangkat.
Pickup nya membawa paket sembako dan uang tunai dari
donatur BAZNAS. Jalan menuju daerah pengungsian penuh air dan lumpur. Ia
berhenti di tengah jembatan kecil yang nyaris roboh, mencoba menyeberang
perlahan.
Tiba-tiba, tanah di pinggir sungai longsor.
Pickup oleng, ban belakang tergelincir. Hasan turun, berusaha mendorong
kendaraan itu sendirian. Hujan makin deras. Di kejauhan, suara azan Subuh
terdengar dari masjid yang separuh terendam air.
“Sedikit lagi…” gumamnya sambil menahan napas.
Ia berhasil mengeluarkan mobil dari lumpur, tapi tubuhnya ambruk seketika. Nafasnya sesak. Tangannya masih menggenggam karung beras bertuliskan “Zakat untuk Korban Banjir”.
Beberapa jam kemudian, relawan menemukan Hasan
sudah tidak bernyawa. Di saku jaketnya, ada secarik kertas basah bertuliskan
tulisan tangan:
“Kalau aku tak pulang,
tolong sampaikan zakat ini. Biar yang menerima tahu, Allah selalu kirim
pertolongan lewat tangan orang kecil.”
Rina menatap surat itu lama sekali. Air matanya
jatuh satu-satu, bercampur hujan. Ia tidak tahu apakah harus bangga atau marah.
Tapi saat ia ikut ke posko untuk menyerahkan zakat terakhir ayahnya, semua rasa
itu berubah jadi haru.
Seorang ibu pengungsi menggenggam tangannya dan
berkata, “Kalau bukan karena bapakmu, anak-anak saya
belum makan dua hari. Terima kasih ya, Nak.”
Rina hanya menunduk, tapi dalam dadanya ada
sesuatu yang hangat yaitu sesuatu
yang dulu ia sebut beban, kini ia sebut cinta. Beberapa minggu berlalu. Rina datang ke kantor BAZNAS membawa
formulir pendaftaran relawan. Saat ditanya alasan bergabung, ia menulis
singkat:
“Karena saya ingin melanjutkan perjalanan ayah
sebelum Subuh terakhirnya.”
Di luar, langit pagi cerah untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu. Di jalanan yang dulu banjir, Rina melihat anak-anak bermain, tertawa, dan hidup kembali — sama seperti semangat ayahnya yang tak pernah tenggelam. ***

1.png)







.jpg)
.png)
.png)