- Akademizi Dampingi Audit Syariah untuk LAZ Ulil Albab
- BAZNAS Luncurkan 29 Program Ramadan
- BAZNAS dan Media Kolaborasi Perkuat Literasi Zakat
- Tagline Ramadan BAZNAS RI “Zakat Menguatkan Indonesia”
- Kemenimipas Bantu Penyintas Banjir di Padang
- Lazismu Terapkan Tata Kelola Profesional Zakat Produktif
- Lazismu Jember Perkuat Kolaborasi Penghimpunan
- Masjid PB Soedirman dan Lazismu Galang Dana untuk Sumatra
- Zakat Sukses dan PT Agrinas Bantu Penyintas Banjir Cilegon
- Komunitas Musik Indie Bantu Sumatra via DD
Iman yang Tak Tenggelam Dalam Arus
Najwa Najihah

Keterangan Gambar : Foto: Asisten AI
Langit Kelantan seakan lupa cara
berhenti menangis. Hujan turun tanpa jeda selama empat hari, menenggelamkan
sawah, rumah, bahkan jalan raya yang biasanya padat kendaraan. Banjir kali ini
bukan sekadar bencana, tapi ujian bagi siapa pun yang masih memilih untuk
peduli.
Di antara deru air dan gemuruh
petir, Aina sebagai relawan muda BAZNAS dari Indonesia, berdiri di depan posko
darurat. Wajahnya pucat kelelahan, tapi matanya tetap tajam menatap peta daerah
terdampak.
“Semua rute utama ke Kampung Nibong
terputus,” ujar Hafiz, relawan tempatan yang sejak pagi menemaninya.
“Air sudah naik sampai atap sekolah.”
Baca Lainnya :
- Luka yang Tak Terlihat0
- Warisan Terakhir Nenek Rahmah0
- Dentang Terakhir Telegraf0
- Kepak Sayap Berbagi Komunitas Filantropi 0
- Kereta Harapan0
Aina mengepalkan tangan. “Kalau
begitu, kita cari jalur sungai. Warga di sana sudah dua hari tanpa makanan.”
“Bahaya, Aina. Arus deras. Perahu
tak kuat—”
“Kalau kita tunggu aman, mereka
sudah tak punya apa-apa lagi,” potong Aina tegas.
Keheningan singkat menggantung.
Hafiz tahu, menentang Aina sama saja menolak nurani sendiri. Akhirnya, mereka
menyiapkan perahu karet kecil, membawa karung berisi beras, obat, dan selimut.
Perjalanan itu terasa seperti
menantang maut. Angin berhembus liar, hujan menampar wajah tanpa ampun. Sungai
yang dulunya tenang kini berubah menjadi monster cokelat yang berputar,
menggulung apa saja yang berani melintasinya.
“Pegang kuat-kuat!” teriak Hafiz
saat perahu dihantam gelombang air.
Aina memeluk erat satu karung
bantuan. Dalam benaknya terbayang wajah anak-anak di Kampung Nibong, yang
mungkin sedang menangis kelaparan. “Sedikit lagi!” kata Hafiz, berusaha
melawan arus dengan dayung yang nyaris patah.
Tiba-tiba—kraaaak!—batang
pohon besar tumbang di depan mereka, menghantam perahu. Dalam sekejap, perahu
terbalik. Dunia menjadi gelap dan dingin. Aina tenggelam bersama karung di
pelukannya, tubuhnya terbentur puing kayu, paru-parunya terbakar oleh air yang
masuk.
Di ambang pingsan, satu pikiran
terus terngiang: Jangan lepaskan. Jangan lepaskan.
Aina terbangun di tepi surau
kampung, tubuhnya menggigil hebat. Karung bantuan masih di sisinya—basah, tapi
utuh. Ia menatap sekeliling: dinding kayu surau miring, air masih menggenang
sampai lutut, dan suara tangis anak-anak menggema dari dalam.
Hafiz datang dengan bahu berdarah.
“Aku... pikir kau tak selamat,” katanya parau. Aina tersenyum lemah. “Aku janji
bantuan ini sampai.”
Ia menyeret karung itu ke dalam
surau, disambut oleh pandangan penuh harap. Seorang ibu muda menggenggam tangan
Aina sambil menangis. “Kami sudah dua hari hanya minum air banjir,” katanya.
Anak-anak berebut roti kering,
seorang lelaki tua mencium bungkus obat yang ia terima. Aina nyaris tak sanggup
menahan air mata. Semua rasa sakit di tubuhnya seolah lenyap melihat
wajah-wajah itu kembali hidup.
Malam tiba. Hujan mulai reda, hanya
tersisa rintik lembut di atas atap surau. Di luar, lampu-lampu darurat dari BAZNAS
Malaysia mulai tampak di kejauhan—bantuan besar akhirnya datang. Tapi bagi
Aina, malam itu sudah cukup bermakna.
Hafiz duduk di sampingnya, menatap
air yang masih beriak pelan. “Kenapa kamu begitu keras kepala, Aina? Bisa saja
kamu mati.”
Aina tersenyum. “Kalau aku mati
karena menolong, itu bukan akhir yang buruk. Banjir bisa menenggelamkan rumah,
tapi tidak hati manusia—selama masih ada yang mau mengangkat yang lain.” Hafiz
terdiam. Di tengah kegelapan dan genangan air, kata-kata itu menggema lebih dalam
dari suara petir mana pun.
Keesokan paginya, matahari pertama muncul dari balik awan kelabu. Cahaya hangat menembus permukaan air, memantul di wajah-wajah lelah yang kini tersenyum. Di antara puing dan lumpur, Aina berdiri memandang sungai yang kemarin nyaris menelannya. Bagi banyak orang, banjir itu adalah bencana. Tapi bagi Aina, di tengah arus deras dan rasa takut, ia menemukan sesuatu yang lebih kuat dari air.

1.png)







.jpg)
.png)
.png)