Iman yang Tak Tenggelam Dalam Arus
Najwa Najihah

By Revolusioner 22 Okt 2025, 12:54:09 WIB Cerpen
Iman yang Tak Tenggelam Dalam Arus

Keterangan Gambar : Foto: Asisten AI


Langit Kelantan seakan lupa cara berhenti menangis. Hujan turun tanpa jeda selama empat hari, menenggelamkan sawah, rumah, bahkan jalan raya yang biasanya padat kendaraan. Banjir kali ini bukan sekadar bencana, tapi ujian bagi siapa pun yang masih memilih untuk peduli.

Di antara deru air dan gemuruh petir, Aina sebagai relawan muda BAZNAS dari Indonesia, berdiri di depan posko darurat. Wajahnya pucat kelelahan, tapi matanya tetap tajam menatap peta daerah terdampak.

“Semua rute utama ke Kampung Nibong terputus,” ujar Hafiz, relawan tempatan yang sejak pagi menemaninya. “Air sudah naik sampai atap sekolah.”

Baca Lainnya :

Aina mengepalkan tangan. “Kalau begitu, kita cari jalur sungai. Warga di sana sudah dua hari tanpa makanan.”

“Bahaya, Aina. Arus deras. Perahu tak kuat—”

“Kalau kita tunggu aman, mereka sudah tak punya apa-apa lagi,” potong Aina tegas.

Keheningan singkat menggantung. Hafiz tahu, menentang Aina sama saja menolak nurani sendiri. Akhirnya, mereka menyiapkan perahu karet kecil, membawa karung berisi beras, obat, dan selimut.

Perjalanan itu terasa seperti menantang maut. Angin berhembus liar, hujan menampar wajah tanpa ampun. Sungai yang dulunya tenang kini berubah menjadi monster cokelat yang berputar, menggulung apa saja yang berani melintasinya.

“Pegang kuat-kuat!” teriak Hafiz saat perahu dihantam gelombang air.

Aina memeluk erat satu karung bantuan. Dalam benaknya terbayang wajah anak-anak di Kampung Nibong, yang mungkin sedang menangis kelaparan. “Sedikit lagi!” kata Hafiz, berusaha melawan arus dengan dayung yang nyaris patah.

Tiba-tiba—kraaaak!—batang pohon besar tumbang di depan mereka, menghantam perahu. Dalam sekejap, perahu terbalik. Dunia menjadi gelap dan dingin. Aina tenggelam bersama karung di pelukannya, tubuhnya terbentur puing kayu, paru-parunya terbakar oleh air yang masuk.

Di ambang pingsan, satu pikiran terus terngiang: Jangan lepaskan. Jangan lepaskan.

Aina terbangun di tepi surau kampung, tubuhnya menggigil hebat. Karung bantuan masih di sisinya—basah, tapi utuh. Ia menatap sekeliling: dinding kayu surau miring, air masih menggenang sampai lutut, dan suara tangis anak-anak menggema dari dalam.

Hafiz datang dengan bahu berdarah. “Aku... pikir kau tak selamat,” katanya parau. Aina tersenyum lemah. “Aku janji bantuan ini sampai.”

Ia menyeret karung itu ke dalam surau, disambut oleh pandangan penuh harap. Seorang ibu muda menggenggam tangan Aina sambil menangis. “Kami sudah dua hari hanya minum air banjir,” katanya.

Anak-anak berebut roti kering, seorang lelaki tua mencium bungkus obat yang ia terima. Aina nyaris tak sanggup menahan air mata. Semua rasa sakit di tubuhnya seolah lenyap melihat wajah-wajah itu kembali hidup.

Malam tiba. Hujan mulai reda, hanya tersisa rintik lembut di atas atap surau. Di luar, lampu-lampu darurat dari BAZNAS Malaysia mulai tampak di kejauhan—bantuan besar akhirnya datang. Tapi bagi Aina, malam itu sudah cukup bermakna.

Hafiz duduk di sampingnya, menatap air yang masih beriak pelan. “Kenapa kamu begitu keras kepala, Aina? Bisa saja kamu mati.”

Aina tersenyum. “Kalau aku mati karena menolong, itu bukan akhir yang buruk. Banjir bisa menenggelamkan rumah, tapi tidak hati manusia—selama masih ada yang mau mengangkat yang lain.” Hafiz terdiam. Di tengah kegelapan dan genangan air, kata-kata itu menggema lebih dalam dari suara petir mana pun.

Keesokan paginya, matahari pertama muncul dari balik awan kelabu. Cahaya hangat menembus permukaan air, memantul di wajah-wajah lelah yang kini tersenyum. Di antara puing dan lumpur, Aina berdiri memandang sungai yang kemarin nyaris menelannya. Bagi banyak orang, banjir itu adalah bencana. Tapi bagi Aina, di tengah arus deras dan rasa takut, ia menemukan sesuatu yang lebih kuat dari air.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment