- Media Gerakkan Kebaikan via Jurnalisme Filantropi
- Lilawangsa Run Himpun Donasi Rumah Ibadah
- Elon Musk Siap Donasikan Seluruh Kekayaan
- Baznas Bantu Pemberdayaan Pesantren Rp871 Juta
- Baitul Mal Aceh Tengah Bantu Alkes Warga Dhuafa
- Dibuka, Beasiswa Kalla 2026
- UE Luncurkan Program Pengungsi Iklim
- Ikafe Unair Luncurkan Beasiswa
- Wakaf Masjid Istiqlal, Pertama Masuk BEI
- RZ Dorong Sudiyono Jadi Muzaki
Media Gerakkan Kebaikan via Jurnalisme Filantropi

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Suaraaisyiyah.id
Dalam rangkaian resepsi milad ke-24 Lazismu, Majalah Suara
Muhammadiyah berkolaborasi dengan Lazismu meluncurkan buku berjudul Jurnalisme
Filantropi, Media dan Visi Kesejahteraan. Peluncuran berlangsung di Gedung
Perpustakaan Nasional, Jakarta, belum lama ini.
Buku setebal 345 halaman tersebut dibahas oleh sejumlah
tokoh, yakni penulis buku Roni Tobroni, Pemimpin Redaksi Republika Andi
Muhyidin, Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas
RI Tirta Sutedjo, serta Peneliti Filantropi Islam Amelia Fauzia. Masing-masing
membedah isi buku berdasarkan perspektif dan keahliannya.
Roni Tobroni mengatakan buku tersebut lahir dari dua
kegelisahan intelektual, yakni perkembangan jurnalisme yang terus menghadapi
disrupsi serta praktik kedermawanan yang menjadi karakter kuat masyarakat
Indonesia, tetapi belum terhubung secara optimal dengan dunia jurnalisme.
Baca Lainnya :
- Elon Musk Siap Donasikan Seluruh Kekayaan0
- Alumni UGM Donasi Banjir Sumatra Rp75 Juta0
- Filantropi Islam Indonesia Harus Mendunia0
- ISMI Kembangkan Ekosistem Ekonomi Masjid0
- Bapanas Siapkan Rp17 T Bantuan Beras 0
“Buku ini digagas untuk menjembatani dua kegelisahan itu.
Tetapi diksi jurnalisme filantropi menjadi sebuah kajian keilmuan baru yang
interdisiplin dan melahirkan cara pandang, pendekatan, dan konsep baru dalam
bidang jurnalisme,” ujar dia.
Dia menjelaskan, jurnalisme filantropi tidak hanya bertugas
menyampaikan informasi. Konsep tersebut juga tidak sebatas memberitakan
kegiatan sosial maupun penderitaan masyarakat, tetapi turut mengawal persoalan
sosial, menggerakkan semangat kedermawanan, serta mendorong masyarakat untuk
bersama-sama mencari solusi.
“Oleh karena itu, ukuran keberhasilan jurnalisme filantropi
bukan pada banyaknya berita, bukan pada seberapa viral, tetapi pada seberapa
besar dampak yang dihadirkan bagi kehidupan sosial masyarakat,” ujar dia.
Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin mengatakan buku
tersebut berupaya menjadi penghubung antara masyarakat yang membutuhkan bantuan
dengan pihak yang ingin memberikan bantuan. Menurut dia, jurnalisme filantropi
dapat memainkan peran sebagai jembatan di antara kedua pihak tersebut.
“Karya Mas Roni ini akan sangat membantu. Buku ini berhasil
merangkum, menceritakan tahap demi tahap dan juga bagaimana kemudian jurnalisme
filantropi itu diterapkan,” papar dia.
Andi menjelaskan, jurnalisme filantropi mencakup proses
pemberitaan yang disertai empati hingga mendorong aksi nyata. Menurut dia,
sejumlah media besar saat ini mulai bergerak ke arah tersebut, meskipun masih
diperlukan diskusi lebih lanjut mengenai penerapannya.
“Jurnalisme filantropi itu berarti memberitakan, lalu
menampilkan empati dan melakukan aksi. Kondisi itu yang sedang dilakukan oleh
media-media besar. Mereka sedang bergerak ke arah sana, tapi kita juga perlu
berdiskusi lebih lanjut soal ini,” ungkap dia.
Selain menjalankan fungsi pemberitaan, jurnalisme juga
dinilai memiliki peran dalam membangun kepercayaan publik. Direktur
Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas RI Tirta Sutedjo
menilai konsep jurnalisme filantropi dapat menjadi pendekatan menarik untuk
memperkuat kepercayaan masyarakat.
Menurut dia, konsep tersebut dapat mengangkat isu sosial dan
kesejahteraan masyarakat sekaligus menghadirkan solusi terhadap persoalan yang
diberitakan.
“Kita memiliki agenda besar tahun 2045, tepatnya 100 tahun
Indonesia Merdeka. Harapannya, kita sudah menjadi negara maju. Artinya tidak
ada kemiskinan lagi dan seluruh masyarakat Indonesia sudah sejahtera,” ungkap
dia.
Tirta mengatakan jurnalisme filantropi perlu mengambil peran
yang lebih besar, salah satunya dalam menghapus pelabelan negatif terhadap
kelompok rentan yang masih banyak ditemukan di Indonesia.
“Ini menjadi tugas kita bersama. Baik pemerintah,
masyarakat, jurnalis, dan media perlu bergandeng tangan sehingga agenda bersama
ke depan bisa berjalan dengan baik dan lancar,” tutur dia.
Sementara itu, Peneliti Filantropi Islam Amelia Fauzia
mengatakan praktik filantropi telah mengakar kuat di Indonesia. Menurut dia,
terdapat hubungan timbal balik antara filantropi yang melahirkan jurnalisme
maupun jurnalisme yang turut mendorong berkembangnya filantropi.
“Ada Republika yang melahirkan Dompet Dhuafa. Ada
Muhammadiyah yang melahirkan koran ataupun Suara Muhammadiyah. Ini sebagian
contoh saja. Mungkin di luar Indonesia lebih banyak lagi,” papar dia.
Amelia menilai jurnalisme filantropi perlu dilengkapi dengan
kode etik agar memiliki standar yang jelas dalam memberitakan, mengawal, maupun
mengadvokasi berbagai persoalan sosial dan kemasyarakatan.
“Bagaimana seorang jurnalis menjaga independensi
jurnalistik. Paling tidak tetap saja jurnalisme filantropi harus ada kode
etiknya. Bagaimana menyeimbangkan fungsi advokasi dengan prinsip-prinsip
verifikasi, independensi, dan integritas,” tandas dia.
Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media, Deni Asy’ari, dalam
sambutannya mengatakan keberadaan pers tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan
berita dan informasi. Menurut dia, pers juga memiliki tanggung jawab untuk
mencerahkan, memperkaya wawasan, dan memberdayakan masyarakat.
“Kita berharap buku yang ditulis Kang Roni Tabroni ini,
peran pers ke depan tidak sekadar mengungkap fakta, tetapi mulai membangun
empati, memberi inspirasi, dan mengkoordinasi potensi, dan mengkonsolidasi
sumber daya, termasuk di lingkungan Lazismu,” jelas dia.
Deni optimistis integrasi antara kekuatan jurnalisme dan
gerakan filantropi dapat menghasilkan dampak yang besar. Menurut dia,
kolaborasi tersebut dapat memperkuat upaya mengonsolidasikan potensi ekonomi,
zakat, infak, dan sedekah.
“Kami berharap buku ini memberi pengaruh bahwa dunia pers
tidak melulu soal berita, tapi ke depan, dunia pers bisa menginspirasi,
membangun empati, dan mengkonsolidasikan potensi-potensi besar secara ekonomi
dan juga memberikan solusi untuk membangun negeri ini,” tandas dia.
Peluncuran buku Jurnalisme Filantropi, Media dan Visi
Kesejahteraan menjadi momentum untuk memperkenalkan gagasan mengenai peran
media dan jurnalisme dalam memperkuat gerakan filantropi sekaligus mendorong
terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Kontributor: Fadhlan
Editor: MAS
Sumber: www.suaraaisyiyah.id











.png)
.png)