Nama yang Tak Tercatat
Oleh: Raeihan Ramadhan

By Revolusioner 31 Okt 2026, 00:44:50 WIB Cerpen
Nama yang Tak Tercatat

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI


Pagi di Kampung Watu Lemba selalu datang bersama debu. Angin dari bukit kering membawa butiran tanah ke halaman rumah-rumah beratap ilalang, menyusup ke celah pintu, menempel pada piring, juga pada pakaian yang dijemur sejak kemarin. Di kejauhan, beberapa ekor kuda berjalan tanpa tergesa, sementara matahari merayap di atas padang rumput yang warnanya menyerupai jerami tua.

Di rumah batu milik keluarga Ranggala, Luri sedang mencuci piring ketika suara lonceng kecil terdengar dari halaman depan. Ia segera mengeringkan tangan pada kain di pinggang. Bukan karena suara itu istimewa, melainkan karena ia tahu siapa yang akan datang.

Seorang lelaki berkuda berhenti di depan beranda. Namanya Randa, pengurus rumah keluarga bangsawan yang oleh penduduk kampung dipanggil Tuan Wira. Lelaki itu tidak pernah mengetuk pintu. Ia cukup berdiri, lalu menyebut nama orang yang dikehendakinya.

Baca Lainnya :

“Luri!”

Perempuan itu keluar dengan kepala sedikit tertunduk.

“Tuan meminta kau datang. Ada tamu dari kota. Rumah harus dibersihkan sebelum tengah hari.”

Luri mengangguk. Ia tidak bertanya mengapa dirinya yang harus pergi, padahal masih ada dua perempuan lain di rumah itu. Ia juga tidak bertanya kapan boleh pulang. Pertanyaan semacam itu tidak pernah mengubah apa pun.

Di belakangnya, Ina, anak perempuannya yang berusia tujuh belas tahun, berdiri di ambang pintu. Rambutnya belum disisir. Di tangannya tergenggam buku tulis dengan sampul biru yang telah mengelupas.

“Bilang kepada Tuan, Ibu sedang sakit,” katanya.

Randa menoleh. “Siapa yang mengajarimu bicara begitu?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu, jangan mulai belajar sekarang.”

Luri menyentuh lengan anaknya. Sentuhan itu ringan, tetapi cukup untuk membuat Ina diam. Ia sudah terlalu sering melihat bagaimana sebuah kalimat dapat berubah menjadi hukuman di rumah itu.

Luri lahir di tanah yang sama tempat ia kini bekerja. Ibunya dahulu mencuci pakaian keluarga Ranggala, ayahnya menjaga kuda, dan neneknya menghabiskan usia di dapur belakang. Orang-orang menyebut keluarga mereka warga bawah, seolah-olah kedudukan manusia dapat ditentukan dari letak rumahnya di sebuah bukit.

Sejak kecil, Luri diajari bahwa keluarganya memiliki kewajiban kepada keluarga Wira. Mereka harus datang ketika dipanggil, bekerja ketika diperintah, dan tidak boleh meninggalkan tanah tanpa izin. Kewajiban itu tidak tertulis di surat mana pun. Namun, semua orang di kampung mengetahui bahwa menolaknya berarti mengundang perkara.

Ketika berusia dua puluh tahun, Luri menikah dengan Danu, seorang lelaki yang juga bekerja di rumah keluarga Ranggala. Mereka tinggal di sebuah bangunan kecil di belakang kandang. Danu meninggal sepuluh tahun kemudian setelah jatuh dari pohon lontar ketika memperbaiki atap gudang. Tidak ada surat kematian yang diberikan kepada Luri. Tidak ada pula orang yang datang menanyakan apakah ia membutuhkan bantuan.

Yang tersisa hanya Ina, seorang anak perempuan yang sejak kecil lebih banyak mengenal halaman belakang rumah orang lain daripada halaman rumahnya sendiri.

“Bu, mengapa kita tidak tinggal di tempat lain?” tanya Ina suatu malam.

Mereka sedang duduk di lantai, mengupas jagung untuk persediaan esok hari. Lampu minyak membuat bayangan tangan mereka bergerak-gerak di dinding.

“Karena kita tidak punya rumah lain.”

“Kita bisa menyewa.”

“Dengan uang apa?”

“Aku bisa bekerja.”

Luri menghentikan tangannya. Ia memandang anaknya, lalu kembali mengupas jagung.

“Dunia tidak semudah yang kau baca di buku.”

Ina membuka buku tulisnya. Pada halaman pertama, ada tulisan besar yang dibuat dengan pensil: Cita-citaku menjadi guru.

Luri mengusap butiran jagung yang menempel di telapak tangan. Ia ingin mengatakan bahwa cita-cita bukan barang yang bisa disimpan di lemari, menunggu hari ketika keadaan menjadi baik. Namun, ia juga ingin mengatakan bahwa suatu hari Ina harus pergi, sejauh mungkin dari rumah-rumah yang menganggap hidup orang lain sebagai milik mereka.

Kedua kalimat itu saling bertabrakan di tenggorokannya.

Pada hari ketika tamu dari kota datang, Luri bekerja sejak matahari belum tinggi. Ia menyapu lantai, mengelap lemari, mencuci gelas, dan menyiapkan hidangan. Di ruang depan, Tuan Wira duduk bersama dua lelaki berpakaian rapi. Mereka berbicara tentang harga tanah, upacara adat, dan hubungan keluarga. Sesekali tawa mereka terdengar sampai dapur.

Luri meletakkan nampan berisi kopi di atas meja.

“Siapa namamu?” tanya salah seorang tamu.

Luri sempat mengangkat wajah.

“Luri, Tuan.”

“Nama lengkap?”

Ia terdiam. Sejak kecil, ia tidak pernah merasa memiliki nama keluarga. Orang-orang hanya memanggilnya Luri, atau menyebutnya sebagai anak dari perempuan yang bekerja di dapur.

Tuan Wira tertawa kecil. “Dia bagian dari keluarga kami. Sudah lama mengabdi di sini.”

Kata mengabdi melayang di ruangan itu, terdengar seperti penghargaan. Luri menunduk, mengambil gelas kosong, lalu mundur ke dapur.

Di sana, ia mendapati Ina sedang berdiri dekat pintu belakang. Anak itu membawa selembar kertas.

“Bu, aku diterima di sekolah pelatihan guru di kota.”

Luri menatap kertas itu. Ada cap dan tanda tangan di bagian bawahnya. Ia membacanya perlahan, memastikan nama anaknya benar-benar tertulis di sana.

“Dari mana kau dapat ini?”

“Aku mengirim berkas diam-diam. Bu Guru membantu.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Aku takut Ibu melarang.”

Luri duduk di bangku pendek. Dari ruang depan, suara tawa para lelaki kembali terdengar. Ia membaca surat penerimaan itu sekali lagi. Untuk sesaat, dapur yang pengap terasa memiliki jendela.

“Kapan kau harus berangkat?”

“Bulan depan.”

Luri mengembalikan kertas itu. Tangannya gemetar sedikit.

“Jangan bilang siapa-siapa dulu.”

Ina menatapnya. “Ibu mau aku pergi?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi Luri merasa seperti sedang diminta memilih bagian tubuh mana yang harus diamputasi. Ia ingin anaknya pergi. Ia juga takut pada apa yang mungkin terjadi setelah anak itu benar-benar melangkah keluar.

“Biar Ibu pikirkan,” jawabnya.

Ina melipat kertas itu dengan hati-hati dan menyelipkannya ke dalam buku tulis.

Tiga hari kemudian, Randa datang lagi. Kali ini ia membawa kabar bahwa Tuan Wira membutuhkan Ina untuk membantu di rumah utama. Seorang kerabat akan tinggal beberapa minggu, dan mereka membutuhkan tambahan tenaga.

“Anak itu sudah cukup besar,” katanya. “Sudah waktunya belajar bekerja.”

Luri berdiri di depan pintu. Di belakangnya, Ina sedang menulis sesuatu di buku tulis.

“Dia masih sekolah.”

“Sekolah tidak membuat orang kenyang.”

“Dia sudah diterima di sekolah pelatihan.”

Randa mengerutkan dahi. “Siapa yang memberi izin?”

Luri tidak menjawab.

“Jangan membuat masalah, Luri. Kalian tinggal di tanah keluarga ini. Makan dari hasil keluarga ini. Jangan sampai lupa diri.”

Setelah Randa pergi, Luri menutup pintu. Ia mendapati Ina telah berdiri di belakangnya.

“Kalau aku tidak mau datang, apa yang akan mereka lakukan?”

Luri merapikan ujung kain di pinggangnya. “Jangan menantang mereka.”

“Kalau kita terus menuruti mereka, kapan hidup kita berubah?”

Luri menatap anaknya. Ia melihat wajah Danu pada garis rahang Ina, juga mata ibunya pada cara anak itu menahan marah. Ia pernah memiliki keberanian seperti itu, sebelum bertahun-tahun bekerja membuatnya percaya bahwa diam adalah cara paling aman untuk bertahan hidup.

Malam itu, Luri tidak tidur. Ia duduk di depan pintu sambil memandangi langit. Bintang-bintang bertaburan di atas bukit, tidak peduli siapa yang memiliki tanah di bawahnya. Dari kandang terdengar suara kuda menggesekkan kaki ke tanah. Sesekali angin membawa bau kotoran ternak dan asap kayu bakar.

Ia teringat ibunya yang pernah berkata bahwa perempuan dari keluarga mereka harus tahu diri. Kalimat itu diwariskan seperti resep masakan, disampaikan dari mulut ke mulut tanpa pernah diperiksa apakah masih layak dipercaya.

Luri baru menyadari bahwa selama ini ia telah meneruskan sesuatu yang sama kepada Ina.

Pada hari keberangkatan, matahari belum terbit ketika Luri memasukkan dua potong pakaian ke dalam tas kain. Ia juga menyelipkan buku tulis Ina dan surat penerimaan sekolah. Di luar, ayam jantan berkokok dari halaman tetangga. Tanah masih dingin oleh embun.

Ina berdiri dekat pintu, mengenakan kemeja putih yang disetrika semalam. Ia tidak membawa banyak barang. Hanya sebuah tas, sepasang sandal, dan uang hasil menjual gelang perak peninggalan ayahnya.

“Kalau mereka mencari kita?” tanyanya.

Luri memasukkan sebuah sisir ke dalam tas.

“Kita pergi ke rumah Bu Sari dulu. Dia akan mengantar kita ke terminal.”

“Kalau Tuan Wira datang?”

Luri berhenti sejenak. Ia tidak punya jawaban yang dapat menjamin keselamatan mereka. Ia hanya tahu bahwa jika pagi itu berlalu tanpa keberangkatan, mungkin tidak akan ada pagi lain yang cukup berani untuk mereka gunakan.

Mereka berjalan melewati jalan tanah di belakang kandang. Kabut tipis menggantung di antara semak-semak. Dari kejauhan, rumah utama keluarga Ranggala tampak seperti bayangan besar yang berdiri di atas bukit. Luri tidak menoleh.

Namun, sebelum mencapai persimpangan, suara kuda terdengar dari arah belakang.

Randa muncul bersama seorang lelaki lain. Keduanya berhenti beberapa langkah dari Luri dan Ina.

“Mau ke mana kalian?” tanya Randa.

Luri menggenggam tali tasnya.

“Ke kota.”

“Tanpa izin?”

“Kami punya urusan.”

Randa turun dari kuda. Ia mendekat, lalu memandang Ina.

“Anak ini masih punya kewajiban di rumah Tuan.”

“Dia bukan barang yang bisa disimpan di rumah siapa pun,” kata Luri.

Kalimat itu keluar begitu saja. Luri sendiri terkejut mendengarnya. Selama puluhan tahun, ia tidak pernah berbicara dengan suara setegas itu.

Randa menatapnya lama. Lelaki yang selama ini selalu datang dengan perintah kini tampak kehilangan kalimat berikutnya.

“Jangan lupa siapa yang memberi kalian tempat tinggal.”

Luri memandang rumah-rumah kecil di sepanjang jalan. Ia teringat lantai yang disapunya, piring yang dicucinya, luka di punggung Danu, dan masa kecil Ina yang dihabiskan untuk menunggu panggilan orang lain.

“Tempat tinggal bukan alasan untuk mengambil hidup seseorang,” katanya.

Lelaki yang bersama Randa bergerak maju. Namun, dari arah persimpangan, Bu Sari muncul dengan sebuah sepeda motor tua. Di belakangnya, dua orang tetangga berjalan membawa keranjang. Mereka berhenti ketika melihat ketegangan di jalan.

Tak seorang pun berteriak. Tidak ada perkelahian. Hanya beberapa pasang mata yang saling bertemu, seakan-akan masing-masing sedang menghitung sesuatu yang selama ini mereka pura-pura tidak lihat.

Randa akhirnya mundur. Ia naik kembali ke kudanya dan pergi tanpa mengucapkan apa-apa.

Luri baru menyadari telapak tangannya basah ketika Ina menyentuhnya.

Perjalanan ke kota memakan waktu hampir tiga jam. Jalanan berkelok melewati padang rumput dan bukit berbatu. Di beberapa tempat, pohon-pohon berdiri jarang, seperti orang-orang yang terlalu lama hidup sendirian. Ina duduk di belakang Bu Sari, sementara Luri menumpang kendaraan seorang tetangga.

Mereka tiba ketika pasar mulai ramai. Bau ikan kering, minyak kelapa, dan buah-buahan bercampur di udara. Para pedagang menggelar barang dagangan di atas tikar. Seorang perempuan menawarkan kain tenun, sementara anak-anak berlarian mengejar layang-layang.

Di kantor kecil dekat terminal, seorang petugas meminta identitas mereka. Luri menyerahkan kartu penduduk yang sudutnya telah rusak.

“Hubungan keluarga?” tanya petugas itu.

“Ibu dan anak,” jawab Luri.

“Pekerjaan?”

Luri terdiam.

Selama hidupnya, ia telah melakukan begitu banyak pekerjaan: memasak, mencuci, membersihkan rumah, menjaga ternak, mengangkat air, merawat orang sakit. Namun, ketika diminta menyebutkan pekerjaannya, ia tidak tahu harus memilih kata yang mana. Semua yang pernah dilakukannya seperti tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

“Pekerja rumah tangga,” jawabnya akhirnya.

Petugas mencatat. Pena bergerak di atas kertas, membuat dua nama muncul di antara baris-baris formulir.

Luri memperhatikan tulisan itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat namanya tercatat tanpa embel-embel keluarga siapa pun.

Di luar kantor, Ina duduk di bangku semen. Buku tulis birunya terbuka di pangkuan. Ia sedang menulis sesuatu dengan pensil pendek.

“Apa yang kau tulis?” tanya Luri.

“Alamat sekolah.”

Luri duduk di sebelahnya. Mereka tidak tahu berapa lama akan tinggal di kota itu, bagaimana membayar kamar, atau apakah keluarga Ranggala akan mencari mereka. Mereka juga belum tahu apakah laporan yang dibuat petugas tadi akan mengubah keadaan atau hanya menambah selembar kertas di lemari kantor.

Angin membawa suara kendaraan dari jalan utama. Di seberang terminal, seorang anak kecil menangis karena terlepas dari genggaman ibunya. Perempuan itu segera berlari, memeluknya, lalu mengusap rambutnya berkali-kali.

Luri memandang mereka cukup lama.

Ia teringat ibunya. Perempuan itu tidak pernah meninggalkan kampung, tidak pernah memiliki dokumen yang mencatat seluruh pekerjaan yang dilakukannya, dan mungkin telah meninggal dengan keyakinan bahwa hidup mereka memang harus berjalan seperti itu. Luri tidak tahu apakah ibunya pernah menginginkan kehidupan lain. Ia hanya ingat tangan perempuan itu yang selalu berbau sabun dan asap kayu.

“Bu,” kata Ina, “kalau nanti aku menjadi guru, aku ingin mengajar anak-anak membaca.”

Luri mengangguk.

“Termasuk membaca nama mereka sendiri,” lanjut Ina.

Luri memandang buku tulis di pangkuan anaknya. Di halaman terakhir, Ina menulis sebuah kalimat dengan huruf besar-besar: Tidak seorang pun dilahirkan untuk menjadi milik orang lain.

Luri membaca kalimat itu tanpa menyentuhnya.

Sebuah bus berhenti di depan terminal. Pintu terbuka, penumpang turun dengan wajah lelah. Sopir berteriak menyebut tujuan berikutnya. Ina menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas.

Luri berdiri. Ia tidak tahu apakah perjalanan mereka akan membawa kebebasan atau hanya memindahkan ketakutan ke tempat yang berbeda. Namun, ketika Ina meraih tangannya, ia tidak lagi merasa sedang menggiring seorang anak menjauh dari rumah.

Mereka sedang berjalan menuju sesuatu yang belum mereka kenal.

Di belakang mereka, bukit-bukit Watu Lemba perlahan tertutup kabut. Di depan, jalan raya memanjang melewati kota-kota yang namanya belum pernah Luri dengar. Ia menggenggam tangan Ina lebih erat, lalu melangkah naik ke bus.

Untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang memanggil namanya untuk menyuruhnya bekerja.

Dan justru karena itu, Luri belum tahu harus menjawab siapa ketika seseorang kelak bertanya: siapa dirinya sebenarnya? (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment