- Filantropi Islam dan Masa Depan Pangan
- Peluit yang Tak Menyudahi Malam
- IZI Sumut Gelar Layanan Spiritual Pasien
- Santri Harus Berkompetensi Digital
- Perlindungan 42 Ribu Pesantren Diperkuat
- Ini Beasiswa UAW untuk Anak Desa
- Segera Hadir Beasiswa Lintas Negara
- Piagam Umat Moderat Digagas di Istanbul
- Revisi UU Zakat Makin Menguat
- Data Mustahik Nasional Diintegrasikan
Peluit yang Tak Menyudahi Malam
Oleh: Raeihan Ramadhan

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI
Peluit terakhir terdengar ketika langit di atas Stadion Sagara mulai kehilangan warna. Di tribun timur, ribuan orang berdiri serentak. Bendera-bendera merah dan putih berkibar, sebagian diikat pada bambu, sebagian lagi hanya digenggam dengan tangan yang mulai lelah. Suara mereka mengguncang atap seng, menumpahkan kegembiraan ke jalan-jalan di luar stadion.
Arga tidak ikut melompat. Ia berdiri di antara dua lelaki yang saling merangkul, menatap papan skor yang menunjukkan kemenangan satu gol bagi Laskar Rengganis. Di saku celananya, ponsel bergetar. Pesan dari ibunya muncul di layar.
Jangan pulang terlalu malam. Adikmu belum tidur.
Baca Lainnya :
- Nama yang Tak Tercatat0
- Rumah yang Menyimpan Suara0
- Kota yang Berenda Senja 0
- Bahasa yang Menyimpan Luka0
- Napas untuk Hari Esok0
Arga mengetik, Sebentar lagi, Bu.
Ia tidak mengirimkannya. Di lapangan, para pemain berlari menuju tribun, mengangkat tangan, mencium lambang di dada. Arga ikut bertepuk tangan. Di sebelahnya, Bima, teman sejak sekolah menengah, menyanyikan lagu klub dengan suara serak.
“Kalau menang begini, rasanya semua masalah hilang,” kata Bima.
Arga tersenyum. Ia tahu Bima sedang memikirkan cicilan sepeda motornya, pekerjaan sebagai kurir yang tidak menentu, dan ayahnya yang sudah dua bulan tidak bisa berjalan jauh setelah terserang stroke. Di stadion, mereka tidak perlu menjelaskan apa pun. Mereka cukup mengenakan warna yang sama dan menyebut nama klub dengan suara lantang.
Malam itu, Arga belum tahu bahwa ia akan pulang membawa sesuatu yang tidak dapat diletakkan di meja makan.
Di luar stadion, pedagang jagung bakar mulai menutup gerobak. Asapnya mengambang di antara kendaraan yang merayap. Anak-anak kecil berlari sambil mengibarkan bendera, sementara beberapa suporter berfoto di depan gerbang. Jalan menuju terminal dipenuhi klakson, nyanyian, dan teriakan yang belum sepenuhnya surut.
Arga berjalan bersama Bima. Mereka hendak menuju halte angkutan kota ketika melihat sekelompok suporter dari klub lawan berdiri di dekat kios kosong. Sebagian masih mengenakan syal biru. Wajah mereka muram, tetapi tidak ada yang tampak mencari perkara.
“Lewat jalan belakang saja,” kata Bima.
“Kenapa?”
“Biar cepat.”
Arga mengangkat bahu. Ia mengikuti Bima menyusuri gang di samping pagar stadion. Lampu jalan di sana hanya menyala satu dari tiga. Genangan air memantulkan cahaya yang pecah-pecah, dan bau tanah basah bercampur dengan aroma sampah yang belum diangkut.
Di ujung gang, beberapa orang berteriak. Arga tidak tahu siapa yang memulai. Suara-suara itu saling bertumpuk, berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi menyerupai percakapan. Bima menarik lengannya.
“Jangan berhenti.”
Mereka berlari beberapa langkah. Dari belakang, terdengar bunyi benda jatuh, lalu teriakan yang lebih keras. Arga menoleh sekilas. Ia melihat seseorang terhuyung di dekat pagar, tetapi kerumunan menutup pandangannya.
Ketika mereka sampai di jalan besar, Bima berhenti untuk mengatur napas.
“Sudah,” katanya. “Ayo.”
Arga mengangguk. Ia tidak bertanya apa yang terjadi di belakang mereka. Malam itu, ia hanya ingin sampai rumah, mandi, lalu tidur dengan suara kemenangan masih tersisa di telinganya.
Pagi berikutnya, kota Rengganis bangun dengan berita yang bergerak lebih cepat daripada kendaraan di jalan raya. Seorang suporter meninggal setelah pertandingan. Namanya Damar. Usianya baru dua puluh tahun.
Arga membaca kabar itu di layar ponsel sambil duduk di meja makan. Ibunya sedang menggoreng tempe. Minyak mendesis di wajan, tetapi Arga tidak mendengar apa-apa selain kalimat yang terus berulang di kepalanya.
Seorang suporter meninggal.
Ia membuka berita lain. Ada foto pagar stadion, ambulans, dan kerumunan orang yang berdiri di bawah lampu sorot. Kolom komentar dipenuhi kemarahan. Ada yang menyalahkan suporter lawan, ada yang menuduh aparat, ada yang menyebut panitia tidak becus. Sebagian mengunggah potongan video tanpa keterangan yang jelas.
“Kenapa, Ga?” tanya ibunya.
Arga meletakkan ponsel telungkup.
“Tidak apa-apa.”
Ibunya menatapnya sebentar. “Kalau tidak apa-apa, makan dulu.”
Arga mengambil sepotong tempe, tetapi tidak segera menggigitnya. Ia teringat orang yang terhuyung di dekat pagar. Ia tidak tahu apakah itu Damar. Ia juga tidak tahu apakah orang itu jatuh karena dorongan, karena tersandung, atau karena sesuatu yang lain. Ingatannya hanya menyimpan potongan-potongan: lampu yang redup, suara teriakan, tangan Bima yang menarik lengannya.
“Bima sudah menghubungi?” tanya ibunya.
“Belum.”
“Biasanya dia mengirim pesan kalau sudah sampai rumah.”
Arga memandang layar ponselnya. Tidak ada pesan baru.
Dua hari setelah kejadian, keluarga Damar mengadakan doa bersama di rumah mereka di Kampung Cempaka. Rumah itu berdiri di antara bengkel motor dan warung kelontong. Di teras, sandal-sandal bertumpuk. Beberapa orang duduk di tikar, sementara seorang perempuan tua menyeduh teh dalam gelas-gelas kecil.
Arga datang bersama Bima. Mereka membawa sekantong beras dan gula. Di depan pintu, Bima merapikan kerah kausnya, lalu mengusap telapak tangan pada celana.
“Masuk,” kata Arga.
Bima mengangguk, tetapi tidak bergerak.
“Kalau keluarganya tanya, kita bilang apa?”
Arga tidak menjawab. Ia sendiri belum menemukan kalimat yang bisa berdiri tanpa menyembunyikan sesuatu.
Di ruang tengah, ibu Damar duduk dengan punggung bersandar pada dinding. Matanya bengkak, tetapi ia menyambut tamu dengan suara pelan. Di sampingnya, sebuah foto Damar diletakkan di atas meja. Dalam foto itu, Damar mengenakan jersey biru dan tersenyum lebar, seolah-olah seseorang baru saja mengatakan sesuatu yang lucu.
Arga duduk di lantai. Ia memandangi foto itu terlalu lama.
“Anak saya suka bola sejak kecil,” kata ibu Damar kepada seorang tamu. “Kalau ada pertandingan, dia selalu menabung untuk membeli tiket. Katanya, di stadion dia merasa punya banyak saudara.”
Perempuan itu berhenti. Ia mengusap ujung kerudungnya.
“Sekarang saya tidak tahu harus menyuruh siapa pulang.”
Bima menunduk. Jari-jarinya bergerak-gerak di atas lutut. Arga merasakan sesuatu menekan dadanya, tetapi ia tidak menangis. Ia hanya memandangi foto Damar, mencoba mengingat apakah pernah melihat pemuda itu di tribun.
Mungkin mereka pernah berdiri berdekatan. Mungkin pernah menyanyikan lagu yang sama. Mungkin Damar pernah mengangkat tangan ketika bola melewati garis gawang.
Di luar, suara sepeda motor lewat, lalu menjauh. Rumah itu kembali hening.
Sepekan kemudian, pemerintah kota mengadakan pertemuan di aula kecamatan. Wali kota, pengurus klub, panitia pertandingan, aparat keamanan, dan perwakilan suporter hadir. Kursi-kursi disusun dalam barisan panjang. Di atas meja, botol air mineral berjejer rapi, sementara kipas angin berputar tanpa banyak membantu mengusir panas.
Arga datang karena diminta Bima. Ia duduk di barisan belakang, membawa buku catatan kecil yang biasanya digunakan untuk mencatat pesanan di tempat kerjanya.
Seorang pejabat membacakan pernyataan belasungkawa. Ia mengatakan bahwa pemerintah akan mengevaluasi penyelenggaraan pertandingan dan meminta semua pihak menahan diri. Kalimat-kalimat itu terdengar tertib, seperti barisan kursi di aula.
Namun, ketika sesi pertanyaan dibuka, seorang perempuan berdiri. Ia mengenakan baju hitam dan menggenggam foto Damar.
“Anak saya tidak pulang,” katanya. “Saya tidak ingin hanya mendengar kata evaluasi. Saya ingin tahu siapa yang akan memastikan anak-anak lain pulang dengan selamat.”
Tidak ada yang segera menjawab.
Arga memandang pejabat di depan. Lelaki itu membuka berkas, lalu menutupnya kembali. Ia mengusap kening dengan saputangan.
“Pemerintah akan bekerja sama dengan semua pihak,” katanya akhirnya.
Perempuan itu tetap berdiri. “Semua pihak itu siapa?”
Pertanyaan tersebut menggantung di aula. Beberapa orang menunduk. Seorang pengurus klub menggeser kursinya. Di luar, suara kendaraan terdengar seperti ombak yang terus datang tanpa pernah benar-benar membawa jawaban.
Arga membuka buku catatannya. Ia menulis satu kalimat: Jangan biarkan kata-kata menjadi pagar baru.
Ia tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.
Malamnya, Arga kembali menonton rekaman pertandingan. Ia memutar bagian ketika para pemain merayakan kemenangan. Di layar, wajah-wajah mereka tampak bercahaya. Tribun berguncang oleh sorak-sorai. Bendera berkibar seperti api yang tidak membakar apa pun.
Ia menghentikan video.
Di ruang tengah, ibunya sedang melipat pakaian. Adiknya tertidur di sofa dengan buku sekolah terbuka di dada.
“Sudah selesai menonton?” tanya ibunya.
“Sudah.”
“Besok kerja?”
Arga mengangguk.
Ibunya meletakkan pakaian yang telah dilipat. “Kamu tahu, dulu ayahmu suka menonton pertandingan di radio. Kalau timnya kalah, dia diam sepanjang malam. Kalau menang, dia mengajak kami membeli martabak.”
Arga tersenyum tipis.
“Dia tidak pernah memukul orang karena bola,” lanjut ibunya. “Dia tahu pertandingan akan selesai. Yang tidak selesai itu hidup orang-orang.”
Arga memandang jendela. Di luar, hujan turun perlahan. Air menetes dari talang, memukul ember plastik di halaman dengan bunyi yang teratur.
Ia teringat Bima, yang sejak doa bersama tidak lagi mengirim lagu-lagu suporter ke grup percakapan. Ia teringat ibu Damar, yang masih harus bangun setiap pagi, menyapu halaman, dan menyiapkan teh untuk tamu yang datang membawa belasungkawa. Ia teringat dirinya sendiri, yang berlari meninggalkan gang tanpa menoleh lagi.
“Bu,” katanya, “kalau aku melihat sesuatu malam itu, tapi tidak tahu apa yang harus kulakukan, apakah itu berarti aku ikut bersalah?”
Ibunya berhenti melipat pakaian.
“Kadang-kadang kita baru tahu apa yang seharusnya dilakukan setelah semuanya terjadi,” katanya. “Tapi setelah tahu, kita tidak boleh terus berpura-pura tidak melihat.”
Arga menunduk. Ia mengeluarkan buku catatan dari saku dan membukanya pada halaman yang berisi kalimat tentang pagar. Ia menambahkan satu baris di bawahnya.
Besok, aku harus mulai dari sesuatu yang kecil.
Beberapa minggu kemudian, pertandingan kembali digelar di Stadion Sagara. Kali ini, gerbang dibuka lebih awal. Petugas memeriksa tiket dengan lebih teliti. Di beberapa sudut, poster berisi imbauan untuk menjaga ketertiban ditempel pada pagar.
Arga datang tanpa jersey. Ia mengenakan kemeja abu-abu yang biasa dipakai bekerja. Di tangannya ada sebotol air mineral dan selembar kertas berisi nomor telepon petugas medis.
Bima menyusul dari belakang. Mereka berdiri di luar stadion, tidak segera masuk.
“Masih mau menonton?” tanya Bima.
Arga memandang gerbang. Di baliknya, suara penonton mulai tumbuh. Ia mendengar nyanyian yang dulu membuatnya merasa tidak sendirian. Namun, kali ini suara itu terdengar berbeda. Bukan lebih lemah, hanya lebih berat.
“Aku belum tahu,” jawabnya.
Bima mengangguk. Mereka berjalan menuju pos pemeriksaan. Di sana, seorang petugas sedang menjelaskan jalur keluar kepada sekelompok anak muda. Arga berhenti, mendengarkan, lalu membantu menunjukkan arah kepada seorang lelaki tua yang mencari pintu masuk.
Ketika ia akhirnya duduk di tribun, pertandingan belum dimulai. Rumput lapangan tampak hijau di bawah cahaya lampu. Para pemain melakukan pemanasan. Di tempat duduk sebelahnya, seorang anak kecil mengibarkan bendera yang terlalu besar untuk tubuhnya.
Arga menatap bendera itu. Ia membayangkan Damar, yang mungkin pernah berdiri di tempat yang sama, mengangkat warna klub dengan tangan penuh semangat. Ia membayangkan ibu Damar di rumah, menunggu suara kunci di pintu.
Peluit pembuka terdengar.
Seluruh stadion berdiri. Arga ikut berdiri, tetapi tidak langsung bernyanyi. Ia menatap pintu keluar di ujung tribun, memastikan jalurnya tidak tertutup. Di tangannya, kertas kecil itu terlipat menjadi empat.
Ia belum tahu apakah kehadirannya malam itu berarti sesuatu. Ia juga belum tahu apakah perubahan akan bertahan setelah poster-poster dilepas dan berita kembali tenggelam oleh kabar lain.
Namun, ketika sorak-sorai mulai naik, Arga menyadari bahwa ia tidak lagi mendengarnya sebagai suara yang harus mengalahkan suara lain.
Ia mendengarnya sebagai banyak orang yang sedang berharap pulang.
Dan di antara harapan-harapan itu, ada satu nama yang tidak ikut bersorak.
Nama yang terus ia bawa, bahkan ketika peluit telah menyudahi pertandingan. (*)












.png)
.png)