- DD Traktir Anak Yatim Beli Alat Sekolah
- IHH Bantu 3,3 Juta Warga di 66 Negara
- JPZIS Mushala Nurul Hidayah Salurkan ZIS untuk Warga Bogor
- Dari Zakat Konsumtif ke Pemberdayaan Umat
- NU Care–LAZISNU Kirim Bantuan ke Palestina
- Amalan Syawal untuk Jaga Iman Pasca Lebaran
- Wakaf Al-Quran Sinar Mas Perluas Akses Umat
- Seteguk Kopi Filantropi
- Universitas Muhammadiyah Jakarta Santuni 500 Yatim Dhuafa
- Menguatkan Kolaborasi Media untuk Dakwah Zakat
Seteguk Kopi Filantropi
Oleh: Daffa Atha

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi AI
Di dunia yang gemar memisahkan orang-orang tanpa aba-aba, pertemuan kembali sering kali terasa seperti lelucon yang ditunda. Dan lelucon, sebagaimana kita tahu, akan selalu menemukan cara untuk meledak di saat yang tidak terduga.
Aku tidak pernah menyangka akan
bertemu Raka lagi. Bukan karena aku tidak ingin, tapi karena dunia terasa
terlalu luas untuk mempertemukan dua orang yang pernah saling tahu bau keringat
masing-masing sejak SD.
Raka itu dulu sahabatku. Kami
tumbuh dari masa di mana pulang sekolah berarti adu lari, bukan adu nasib. Kami
pernah sepakat untuk menjadi apa saja astronaut, presiden, atau minimal penjaga
warung mi instan asal tetap bersama. Kesepakatan itu, seperti kebanyakan janji
masa kecil, menguap tanpa pamit.
Baca Lainnya :
- Dua Hati Dua Rasa0
- Tangki Air Rahmat0
- Kepak Perahu Bersayap Malaikat0
- Oli Filantropi Bengkel Surgawi0
- Senyum yang Berhembus Menyeberangi Laut0
Ia pindah saat kami kelas dua
SMP. Katanya ikut orang tuanya. Katanya akan sering pulang. Katanya banyak
sekali. Tapi “katanya” adalah kata paling rapuh yang pernah diciptakan manusia.
Sejak itu, hidup berjalan seperti
biasa yang artinya tidak benar-benar biasa, hanya terbiasa saja.
Bertahun-tahun kemudian, aku
memutuskan menjadi relawan di sebuah organisasi filantropi. Bukan karena
tiba-tiba aku jadi orang baik, tapi karena aku sedang butuh merasa berguna.
Dunia dewasa kadang membuat kita merasa seperti kertas bekas: pernah penting,
sekarang hanya dilipat-lipat tanpa tujuan.
Hari itu, aku datang ke lokasi
kegiatan kemanusiaan dengan rompi kebesaran yang warnanya terlalu cerah untuk
suasana hatiku. Di dada kiri, ada logo organisasi. Di dada kanan, namaku yang
dicetak miring seolah-olah bahkan namaku pun tidak ingin berdiri tegak.
“Mas, bagian logistik ya? Angkut
ini ke sana, ya.”
Aku mengangguk. Di dunia relawan,
kita sering tidak benar-benar tahu apa yang kita kerjakan. Kita hanya bergerak
agar tidak terlihat bingung.
Aku memanggul satu kardus berisi
sembako, melangkah hati-hati melewati genangan air dan manusia yang sama-sama
berusaha terlihat kuat. Di tengah langkah itu, seseorang menepuk pundakku.
“Eh, hati-hati, itu berat.”
Suara itu seperti sesuatu yang
pernah aku simpan, lalu lupa di mana menaruhnya.
Aku menoleh.
Dan dunia, yang biasanya luas
itu, tiba-tiba menyempit.
“...Raka?”
Ia menatapku sebentar, lalu
matanya membesar seperti menemukan jawaban dari soal lama yang dulu ia
tinggalkan kosong.
“Lah, kamu... hidup?”
Aku tertawa. “Iya. Masih. Kamu
juga, ya?”
Kami saling menatap beberapa
detik yang terasa seperti membuka kembali album foto yang berdebu. Tidak ada
musik latar. Tidak ada pelukan dramatis. Hanya dua orang yang sama-sama kikuk
menghadapi masa lalu yang tiba-tiba hadir tanpa izin.
“Ngapain kamu di sini?” tanyaku.
“Relawan. Divisi medis.” Ia
menunjuk rompinya. Baru kusadari, rompinya sama, hanya beda tulisan kecil di
bawah logo.
Aku mengangguk pelan. “Aku
logistik. Jadi... kita satu organisasi.”
“Beda nasib, tapi satu rompi,”
katanya, lalu tertawa kecil.
Dan entah kenapa, tawa itu masih
terdengar sama.
Kami tidak langsung membicarakan
masa lalu. Dunia di sekitar kami terlalu sibuk untuk memberi ruang pada
nostalgia. Ada orang-orang yang butuh bantuan, ada anak-anak yang menangis, ada
ibu-ibu yang mencoba tegar sambil memegang kantong bantuan seolah itu pegangan
hidup terakhir.
Di sela-sela kesibukan itu, kami
saling mencuri waktu.
“Masih suka ngopi dan makan mi instan
mentah?” tanyanya tiba-tiba.
“Masih. Kamu masih suka ngutang
di warung?”
“Sekarang aku yang punya utang.
Bedanya, lebih mahal.”
Kami tertawa. Dan untuk pertama
kalinya hari itu, aku merasa ringan.
Ada sesuatu yang aneh dari
pertemuan kembali. Kita tidak benar-benar melanjutkan dari titik terakhir, tapi
juga tidak memulai dari nol. Kita berdiri di antara seperti dua orang yang
sama-sama tahu jalan pulang, tapi lupa di mana terakhir kali berpisah.
Menjelang sore, kegiatan mulai mereda. Langit berubah warna, seperti lukisan yang kelelahan.
Kami duduk di pinggir lapangan,
masing-masing memegang botol air mineral yang rasanya lebih seperti hadiah
daripada kebutuhan.
“Gila, ya,” kataku. “Dari sekian
banyak tempat di dunia, kita ketemu di sini.”
Raka mengangguk. “Dulu kita janji
mau jadi apa saja, asal bareng.”
Aku tersenyum. “Sekarang kita
jadi apa saja, dan ternyata tetap bisa ketemu.”
Ia diam sebentar, lalu berkata
pelan, “Mungkin kita nggak pernah benar-benar berpisah. Cuma... muter jalannya
aja beda.”
Aku tidak menjawab. Karena untuk
beberapa hal, jawaban justru akan merusak maknanya.
Angin sore berembus pelan.
Orang-orang mulai berkemas. Dunia kembali berjalan seperti biasa atau
setidaknya, seperti yang kita sebut biasa.
“Besok kamu ke sini lagi?”
tanyanya.
“Iya.”
“Yaudah. Jangan hilang lagi, ya.”
Aku menatapnya, lalu tersenyum
tipis. “Kamu juga. Dunia ini udah cukup luas. Jangan kita tambah repot.”
Kami berdiri, merapikan rompi
yang sama-sama lusuh, lalu berjalan ke arah yang berbeda sementara untuk kali
ini.
Karena tidak semua perpisahan
berarti selesai. Dan tidak semua pertemuan berarti kebetulan.
Kadang, hidup hanya sedang menyiapkan punchline yang tepat.









.jpg)
.png)
.png)