- Mustahik Sleman Terima THR dari Rumah Yatim
- Rumah Yatim Berbagi Parcel Lebaran di Kalsel
- Dua Hati Dua Rasa
- Pesepeda Tebar Takjil di Sudirman
- Ramadan di Masjid Fathullah: Iftar, Tarawih, hingga Iktikaf
- Tangki Air Rahmat
- RZ dan LAZ PLN Tebar Kado Lebaran untuk Yatim
- Amalan Sunah di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
- BAZNAS dan Blibli Hadirkan Program Paket Ramadan Bahagia
- Kepak Perahu Bersayap Malaikat
Dua Hati Dua Rasa
Oleh: Daffa Atha

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT
Langit Sulawesi pagi itu masih menyimpan sisa kabut tipis ketika Kai menurunkan beberapa kardus berisi alat kebersihan dari mobil bak terbuka. Di halaman masjid tua yang berdiri di tepi kampung itu, para relawan sudah mulai berdatangan. Ada yang membawa sapu, ember, kain pel, hingga tangga kecil untuk membersihkan bagian langit-langit masjid.
Kai adalah salah satu relawan
dari sebuah organisasi filantropi yang sedang mengadakan program bersih-bersih
masjid di daerah pelosok Sulawesi. Bagi Kai, kegiatan seperti ini sudah biasa.
Ia lebih nyaman bekerja di lapangan daripada duduk di balik meja kantor.
Tangannya sudah terbiasa memegang sapu besar atau ember berisi air sabun.
Saat sedang mengangkat karpet
masjid bersama beberapa relawan lain, pandangannya tiba-tiba tertuju pada
sekelompok relawan baru yang baru saja datang. Mereka mengenakan rompi
organisasi yang berbeda dari timnya.
Baca Lainnya :
- Tangki Air Rahmat0
- Kepak Perahu Bersayap Malaikat0
- Oli Filantropi Bengkel Surgawi0
- Senyum yang Berhembus Menyeberangi Laut0
- Kardus-Kardus Asa 0
Di antara mereka, ada seorang
perempuan yang terlihat sangat sibuk membagi tugas kepada teman-temannya.
Suaranya terdengar jelas, penuh semangat, dan sesekali diselingi tawa kecil.
Kai sempat memicingkan mata.
Ada sesuatu yang terasa familiar.
Perempuan itu menoleh sebentar,
menyibakkan jilbab yang tertiup angin, lalu kembali berbicara dengan relawan
lain. Gerak-geriknya lincah, ekspresinya cerah, dan entah kenapa… Kai merasa
seperti pernah melihat wajah itu di suatu tempat yang jauh di masa lalu.
Tidak lama kemudian, koordinator
kegiatan memanggil semua relawan untuk berkumpul di halaman masjid.
“Teman-teman, hari ini kita
berkolaborasi dengan relawan dari organisasi lain yang kebetulan sedang
melakukan program serupa di wilayah ini,” ujar sang koordinator. “Semoga kita
bisa bekerja sama dengan baik.”
Kai berdiri di barisan
relawannya, sementara kelompok relawan dari organisasi lain berdiri di sisi
seberang.
Dan di situlah akhirnya mata
mereka benar-benar bertemu.
Perempuan itu tampak terdiam
sejenak.
Lalu matanya membesar sedikit.
“...Kai?”
Kai juga membeku beberapa detik
sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Iza?”
Beberapa relawan di sekitar
mereka terlihat kebingungan. Tidak ada yang menyangka bahwa dua orang dari
organisasi berbeda yang baru saja bertemu di kegiatan sosial di pelosok
Sulawesi ternyata saling mengenal dari masa lalu.
Iza tertawa kecil, sedikit tidak
percaya.
“Serius? Kamu Kai?”
Kai mengangguk pelan.
“Iya… ternyata kamu juga relawan
sekarang.”
Iza menyilangkan tangan sambil
mengamati Kai dari ujung kepala sampai kaki.
“Dulu kamu pemalas banget,”
katanya sambil tersenyum. “Sekarang malah ikut bersih-bersih masjid sampai ke
Sulawesi.”
Kai mengangkat bahu.
“Orang bisa berubah.”
Iza tertawa lagi.
Dan untuk pertama kalinya setelah
sekian lama, Kai merasa ada sesuatu yang hangat kembali muncul di dalam dirinya,
perasaan yang dulu pernah ia kubur begitu dalam.
Mungkin… kebetulan seperti ini
bukan sekadar kebetulan.
Matahari Sulawesi mulai naik
tinggi ketika kegiatan bersih-bersih masjid benar-benar dimulai. Suara sapu
yang menggesek lantai, ember yang digeser, serta tawa para relawan bercampur
menjadi suasana yang hidup.
Kai sedang berdiri di atas tangga
kecil, mengelap bagian ventilasi kayu yang mulai berdebu, ketika tiba-tiba
seseorang dari bawah menyerahkan kain lap baru.
“Pakai yang ini saja. Yang di
tanganmu sudah hitam.”
Kai menoleh.
Iza.
Perempuan itu berdiri sambil
membawa ember kecil berisi air sabun. Wajahnya sedikit berkeringat, tetapi
senyumnya tetap sama seperti yang diingat Kai, cerah dan mudah menular.
“Terima kasih,” kata Kai sambil
menerima kain itu.
Iza menatapnya beberapa detik,
seolah masih mencoba memastikan sesuatu.
“Aku masih nggak percaya bisa
ketemu kamu di sini,” katanya.
Kai turun dari tangga dengan
hati-hati.
“Dunia ternyata kecil juga,”
jawabnya ringan.
Iza tertawa kecil. “Atau mungkin
memang kita ditakdirkan ketemu lagi.”
Kai tidak langsung menjawab. Ia
hanya tersenyum tipis, sesuatu yang jarang ia lakukan pada orang lain.
Sepanjang hari itu mereka bekerja
di area yang sama. Kadang mengangkat karpet bersama, kadang menyapu halaman,
kadang duduk sebentar di teras masjid sambil minum air mineral yang mulai
hangat karena matahari.
Obrolan mereka mengalir pelan,
seperti dua orang yang sedang membuka kembali buku lama yang sempat lama
tertutup.
Iza bercerita tentang kegiatannya
sebagai relawan di berbagai daerah.
Kai bercerita tentang
pekerjaannya di organisasi filantropi yang membuatnya sering berpindah kota.
“Aku nggak nyangka kamu bakal
masuk dunia sosial,” kata Iza suatu saat, sambil memeras kain pel.
“Kenapa?”
“Dulu kamu kelihatannya lebih
suka tidur daripada membantu orang.”
Kai tertawa pelan.
“Itu dulu.”
Iza menatapnya lagi, kali ini
sedikit lebih lembut.
“Aku senang kamu berubah.”
Menjelang sore, kegiatan hampir
selesai. Karpet masjid sudah bersih, lantai mengkilap, dan halaman kembali
rapi.
Para relawan duduk beristirahat
di bawah pohon besar di samping masjid. Angin dari arah laut membawa udara yang
sejuk.
Kai duduk di tangga masjid ketika
Iza tiba-tiba duduk di sampingnya.
Beberapa detik mereka hanya diam,
menikmati angin sore.
“Aneh ya,” kata Iza tiba-tiba.
“Apa?”
“Kita nggak ketemu
bertahun-tahun… terus tiba-tiba ketemu lagi di tempat seperti ini.”
Kai mengangguk pelan.
“Iya.”
Iza menoleh kepadanya.
“Tapi aku senang.”
Kai sedikit terkejut mendengar
itu.
“Senang?”
Iza tersenyum.
“Iya. Senang karena ternyata kamu
baik-baik saja.”
Untuk beberapa saat, Kai tidak
berkata apa-apa.
Angin sore berhembus pelan,
menggerakkan daun-daun di halaman masjid.
Lalu akhirnya Kai berkata dengan
suara pelan,
“Aku juga senang bisa ketemu kamu
lagi, Iza.”
Iza menatapnya sebentar, lalu
tersenyum-senyum yang hangat, seperti rumah yang lama tidak ditempati tetapi
tetap terasa akrab.
Dan di momen sederhana itu, tanpa
disadari oleh keduanya, sesuatu yang dulu pernah ada di antara mereka perlahan
mulai hidup kembali.
Malam di desa itu datang lebih
cepat dari yang Kai bayangkan.
Setelah kegiatan bersih-bersih
masjid selesai, para relawan memutuskan untuk menginap di rumah warga dan
sebagian di serambi masjid. Lampu-lampu kecil di halaman masjid menyala redup,
cukup untuk menerangi teras tempat beberapa relawan masih duduk santai.
Sebagian dari mereka masih
mengobrol, sebagian lagi sudah tertidur karena lelah seharian bekerja.
Kai duduk di anak tangga masjid
sambil memandangi halaman yang mulai sepi. Udara malam di Sulawesi terasa
lembut, membawa aroma tanah yang masih basah setelah disiram air tadi sore.
Tidak lama kemudian, seseorang
datang membawa dua gelas teh hangat.
“Ini,” kata suara yang sudah
sangat ia kenal.
Kai menoleh.
Iza duduk di sampingnya sambil
menyerahkan satu gelas.
“Terima kasih,” ujar Kai.
Mereka berdua duduk berdampingan,
menghadap halaman masjid yang kini hampir kosong. Hanya terdengar suara
jangkrik dari kebun di belakang rumah warga.
Iza meniup pelan teh di
tangannya.
“Capek juga ya hari ini,”
katanya.
Kai mengangguk.
“Tapi menyenangkan.”
Iza tersenyum kecil. Jilbabnya
bergerak pelan tertiup angin malam.
Beberapa detik mereka hanya diam.
“Dulu aku nggak pernah nyangka
kita bakal ketemu lagi,” kata Iza tiba-tiba.
Kai memandang lurus ke depan.
“Aku juga.”
“Apalagi ketemunya di kegiatan
seperti ini.”
Kai tersenyum tipis. “Lumayan
kan, ketemunya bukan di antrean rumah sakit.”
Iza tertawa pelan.
Tawa itu membuat suasana yang
tadinya sunyi terasa hangat.
Kai menatap Iza sekilas. Di bawah
cahaya lampu masjid yang lembut, wajah Iza terlihat tenang. Matanya masih sama
seperti dulu, penuh kehidupan.
Ada sesuatu yang tiba-tiba terasa
berat di dada Kai.
Sebuah perasaan lama yang dulu
pernah ia simpan.
Kai menarik napas pelan.
“Aku sebenarnya…” katanya pelan.
Iza menoleh.
“Hm?”
Kai sempat terdiam.
Kalimat yang ingin ia katakan
terasa seperti tertahan di tenggorokan.
Ia mengingat banyak hal dalam
satu waktu, masa kecil mereka, hari-hari ketika Iza selalu memaksanya keluar
rumah, dan bagaimana dulu ia tidak pernah berani mengatakan apa yang sebenarnya
ia rasakan.
Iza masih menatapnya, menunggu.
“Aku sebenarnya…” Kai mengulang
pelan.
Namun tiba-tiba dari halaman
terdengar suara seorang relawan memanggil.
“Iza! Kai! Ayo sini! Kita lagi
main tebak-tebakan!”
Beberapa relawan lain ikut
bersorak.
Iza tertawa kecil.
“Sepertinya kita dipanggil,”
katanya.
Kai menghela napas pendek, lalu
tersenyum tipis.
“Iya.”
Iza berdiri lebih dulu, lalu
menoleh kepadanya.
“Kamu tadi mau bilang apa?”
Kai menatapnya beberapa detik.
Lalu ia menggeleng pelan.
“Nggak apa-apa.”
Iza menyipitkan mata sedikit,
seolah tidak sepenuhnya percaya.
“Tadi kelihatannya penting.”
Kai berdiri dari tangga masjid.
“Mungkin nanti.”
Iza tersenyum.
“Baiklah. Aku pegang
kata-katamu.”
Lalu mereka berjalan bersama
menuju halaman masjid, tempat para relawan lain sudah berkumpul sambil tertawa.
Kai berjalan di samping Iza,
tetapi pikirannya masih tertinggal di tangga masjid tadi.
Untuk pertama kalinya setelah
sekian lama, ia hampir mengatakan sesuatu yang dulu tidak pernah berani ia
ucapkan.
Dan entah kenapa, kali ini ia
merasa… mungkin kesempatan itu belum benar-benar hilang.
Subuh di desa itu datang dengan
tenang.
Langit masih berwarna biru gelap
ketika suara azan pertama berkumandang dari pengeras suara masjid yang kemarin
mereka bersihkan bersama. Udara pagi terasa sejuk, bahkan sedikit dingin,
membuat embun tipis menempel di rumput halaman.
Kai sudah terbangun lebih dulu.
Ia duduk di serambi masjid sambil
memandang halaman yang masih sepi. Hari ini adalah hari terakhir kegiatan
mereka di desa itu. Siang nanti para relawan dari berbagai organisasi akan
kembali ke kota masing-masing.
Entah kenapa, sejak bangun tadi,
dada Kai terasa sedikit berat.
Seperti ada sesuatu yang harus ia
selesaikan sebelum pergi.
Tidak lama kemudian, pintu kecil
di samping masjid terbuka pelan.
Iza keluar sambil merapikan
jilbabnya. Ia tampak sedikit terkejut melihat Kai sudah duduk di serambi.
“Wah, kamu bangun lebih dulu,”
katanya pelan agar tidak membangunkan relawan lain yang masih tidur.
Kai mengangguk.
“Nggak bisa tidur lagi.”
Iza berjalan mendekat lalu duduk
di sampingnya.
Beberapa saat mereka hanya diam,
mendengarkan gema azan yang perlahan menghilang di udara pagi.
Langit di ufuk timur mulai
berubah warna.
“Cepat juga ya,” kata Iza pelan.
“Apa?”
“Kegiatannya. Rasanya baru
kemarin kita ketemu lagi.”
Kai tersenyum tipis.
“Iya.”
Iza memandang halaman masjid yang
masih kosong.
“Nanti siang kita sudah pulang
lagi ke kota masing-masing.”
Kai mengangguk pelan.
Ada jeda hening beberapa detik.
Angin subuh berhembus lembut,
membuat suasana terasa semakin tenang.
Kai menarik napas pelan.
“Aku ingat sesuatu,” katanya.
Iza menoleh sedikit.
“Apa?”
Kai menatap lurus ke halaman
masjid, seolah mencari keberanian di antara garis-garis cahaya subuh yang mulai
muncul.
“Dulu… aku pernah hampir bilang
sesuatu ke kamu.”
Iza terlihat berpikir sejenak.
“Dulu yang mana?”
“Waktu kita masih sekolah.”
Iza memandangnya lebih serius
sekarang.
Kai tersenyum kecil, sedikit
canggung.
“Tapi waktu itu aku nggak pernah
jadi ngomong.”
Iza tidak memotong. Ia hanya
mendengarkan.
Kai menghela napas pelan.
“Aku cuma mau bilang… sebenarnya
dulu aku suka sama kamu.”
Kalimat itu akhirnya keluar
begitu saja, sederhana, tanpa dramatis.
Iza terdiam.
Tidak ada ekspresi kaget yang
berlebihan. Ia hanya menatap Kai beberapa detik, seperti sedang memahami
sesuatu yang sebenarnya sudah lama ia rasakan.
“Dulu?” tanya Iza pelan.
Kai mengangguk.
“Iya. Dulu.”
Iza menunduk sebentar, lalu
tersenyum kecil.
“Aku sebenarnya sempat curiga.”
Kai menoleh cepat.
“Serius?”
Iza tertawa pelan.
“Kamu kira aku nggak peka?”
Kai ikut tertawa kecil.
Suasana terasa ringan, tidak
canggung seperti yang ia bayangkan.
“Terus kenapa kamu nggak bilang
waktu itu?” tanya Iza.
Kai mengangkat bahu.
“Mungkin aku terlalu pengecut.”
Iza menggeleng pelan.
“Atau mungkin waktunya memang
belum pas.”
Kai tidak langsung menjawab.
Langit kini sudah berubah menjadi
jingga lembut.
Para relawan mulai terdengar
bergerak di dalam masjid, bersiap untuk salat Subuh.
Iza berdiri lebih dulu.
“Ayo, salat dulu,” katanya.
Kai ikut berdiri.
Sebelum berjalan masuk ke dalam
masjid, Iza tiba-tiba berhenti sebentar.
Ia menoleh kepada Kai.
“Terima kasih ya,” katanya.
“Untuk apa?”
“Sudah jujur.”
Kai tersenyum kecil.
Mereka lalu berjalan masuk ke
dalam masjid bersama para relawan lain yang mulai berdatangan.
Pagi itu terasa berbeda bagi Kai.
Bukan karena pengakuannya
mengubah segalanya.
Tetapi karena akhirnya ada satu
hal dari masa lalu yang tidak lagi ia bawa sebagai penyesalan.
Dan di halaman masjid yang kini diterangi matahari pagi, ia merasa hatinya sedikit lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya.








.jpg)
.png)
.png)