Dua Hati Dua Rasa
Oleh: Daffa Atha

By Revolusioner 16 Mar 2026, 07:47:47 WIB Cerpen
Dua Hati Dua Rasa

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT


Langit Sulawesi pagi itu masih menyimpan sisa kabut tipis ketika Kai menurunkan beberapa kardus berisi alat kebersihan dari mobil bak terbuka. Di halaman masjid tua yang berdiri di tepi kampung itu, para relawan sudah mulai berdatangan. Ada yang membawa sapu, ember, kain pel, hingga tangga kecil untuk membersihkan bagian langit-langit masjid.

Kai adalah salah satu relawan dari sebuah organisasi filantropi yang sedang mengadakan program bersih-bersih masjid di daerah pelosok Sulawesi. Bagi Kai, kegiatan seperti ini sudah biasa. Ia lebih nyaman bekerja di lapangan daripada duduk di balik meja kantor. Tangannya sudah terbiasa memegang sapu besar atau ember berisi air sabun.

Saat sedang mengangkat karpet masjid bersama beberapa relawan lain, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sekelompok relawan baru yang baru saja datang. Mereka mengenakan rompi organisasi yang berbeda dari timnya.

Baca Lainnya :

Di antara mereka, ada seorang perempuan yang terlihat sangat sibuk membagi tugas kepada teman-temannya. Suaranya terdengar jelas, penuh semangat, dan sesekali diselingi tawa kecil.

Kai sempat memicingkan mata.

Ada sesuatu yang terasa familiar.

Perempuan itu menoleh sebentar, menyibakkan jilbab yang tertiup angin, lalu kembali berbicara dengan relawan lain. Gerak-geriknya lincah, ekspresinya cerah, dan entah kenapa… Kai merasa seperti pernah melihat wajah itu di suatu tempat yang jauh di masa lalu.

Tidak lama kemudian, koordinator kegiatan memanggil semua relawan untuk berkumpul di halaman masjid.

“Teman-teman, hari ini kita berkolaborasi dengan relawan dari organisasi lain yang kebetulan sedang melakukan program serupa di wilayah ini,” ujar sang koordinator. “Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.”

Kai berdiri di barisan relawannya, sementara kelompok relawan dari organisasi lain berdiri di sisi seberang.

Dan di situlah akhirnya mata mereka benar-benar bertemu.

Perempuan itu tampak terdiam sejenak.

Lalu matanya membesar sedikit.

“...Kai?”

Kai juga membeku beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Iza?”

Beberapa relawan di sekitar mereka terlihat kebingungan. Tidak ada yang menyangka bahwa dua orang dari organisasi berbeda yang baru saja bertemu di kegiatan sosial di pelosok Sulawesi ternyata saling mengenal dari masa lalu.

Iza tertawa kecil, sedikit tidak percaya.

“Serius? Kamu Kai?”

Kai mengangguk pelan.

“Iya… ternyata kamu juga relawan sekarang.”

Iza menyilangkan tangan sambil mengamati Kai dari ujung kepala sampai kaki.

“Dulu kamu pemalas banget,” katanya sambil tersenyum. “Sekarang malah ikut bersih-bersih masjid sampai ke Sulawesi.”

Kai mengangkat bahu.

“Orang bisa berubah.”

Iza tertawa lagi.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kai merasa ada sesuatu yang hangat kembali muncul di dalam dirinya, perasaan yang dulu pernah ia kubur begitu dalam.

Mungkin… kebetulan seperti ini bukan sekadar kebetulan.

 

Matahari Sulawesi mulai naik tinggi ketika kegiatan bersih-bersih masjid benar-benar dimulai. Suara sapu yang menggesek lantai, ember yang digeser, serta tawa para relawan bercampur menjadi suasana yang hidup.

Kai sedang berdiri di atas tangga kecil, mengelap bagian ventilasi kayu yang mulai berdebu, ketika tiba-tiba seseorang dari bawah menyerahkan kain lap baru.

“Pakai yang ini saja. Yang di tanganmu sudah hitam.”

Kai menoleh.

Iza.

Perempuan itu berdiri sambil membawa ember kecil berisi air sabun. Wajahnya sedikit berkeringat, tetapi senyumnya tetap sama seperti yang diingat Kai, cerah dan mudah menular.

“Terima kasih,” kata Kai sambil menerima kain itu.

Iza menatapnya beberapa detik, seolah masih mencoba memastikan sesuatu.

“Aku masih nggak percaya bisa ketemu kamu di sini,” katanya.

Kai turun dari tangga dengan hati-hati.

“Dunia ternyata kecil juga,” jawabnya ringan.

Iza tertawa kecil. “Atau mungkin memang kita ditakdirkan ketemu lagi.”

Kai tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, sesuatu yang jarang ia lakukan pada orang lain.

Sepanjang hari itu mereka bekerja di area yang sama. Kadang mengangkat karpet bersama, kadang menyapu halaman, kadang duduk sebentar di teras masjid sambil minum air mineral yang mulai hangat karena matahari.

Obrolan mereka mengalir pelan, seperti dua orang yang sedang membuka kembali buku lama yang sempat lama tertutup.

Iza bercerita tentang kegiatannya sebagai relawan di berbagai daerah.

Kai bercerita tentang pekerjaannya di organisasi filantropi yang membuatnya sering berpindah kota.

“Aku nggak nyangka kamu bakal masuk dunia sosial,” kata Iza suatu saat, sambil memeras kain pel.

“Kenapa?”

“Dulu kamu kelihatannya lebih suka tidur daripada membantu orang.”

Kai tertawa pelan.

“Itu dulu.”

Iza menatapnya lagi, kali ini sedikit lebih lembut.

“Aku senang kamu berubah.”

Menjelang sore, kegiatan hampir selesai. Karpet masjid sudah bersih, lantai mengkilap, dan halaman kembali rapi.

Para relawan duduk beristirahat di bawah pohon besar di samping masjid. Angin dari arah laut membawa udara yang sejuk.

Kai duduk di tangga masjid ketika Iza tiba-tiba duduk di sampingnya.

Beberapa detik mereka hanya diam, menikmati angin sore.

“Aneh ya,” kata Iza tiba-tiba.

“Apa?”

“Kita nggak ketemu bertahun-tahun… terus tiba-tiba ketemu lagi di tempat seperti ini.”

Kai mengangguk pelan.

“Iya.”

Iza menoleh kepadanya.

“Tapi aku senang.”

Kai sedikit terkejut mendengar itu.

“Senang?”

Iza tersenyum.

“Iya. Senang karena ternyata kamu baik-baik saja.”

Untuk beberapa saat, Kai tidak berkata apa-apa.

Angin sore berhembus pelan, menggerakkan daun-daun di halaman masjid.

Lalu akhirnya Kai berkata dengan suara pelan,

“Aku juga senang bisa ketemu kamu lagi, Iza.”

Iza menatapnya sebentar, lalu tersenyum-senyum yang hangat, seperti rumah yang lama tidak ditempati tetapi tetap terasa akrab.

Dan di momen sederhana itu, tanpa disadari oleh keduanya, sesuatu yang dulu pernah ada di antara mereka perlahan mulai hidup kembali.

 

Malam di desa itu datang lebih cepat dari yang Kai bayangkan.

Setelah kegiatan bersih-bersih masjid selesai, para relawan memutuskan untuk menginap di rumah warga dan sebagian di serambi masjid. Lampu-lampu kecil di halaman masjid menyala redup, cukup untuk menerangi teras tempat beberapa relawan masih duduk santai.

Sebagian dari mereka masih mengobrol, sebagian lagi sudah tertidur karena lelah seharian bekerja.

Kai duduk di anak tangga masjid sambil memandangi halaman yang mulai sepi. Udara malam di Sulawesi terasa lembut, membawa aroma tanah yang masih basah setelah disiram air tadi sore.

Tidak lama kemudian, seseorang datang membawa dua gelas teh hangat.

“Ini,” kata suara yang sudah sangat ia kenal.

Kai menoleh.

Iza duduk di sampingnya sambil menyerahkan satu gelas.

“Terima kasih,” ujar Kai.

Mereka berdua duduk berdampingan, menghadap halaman masjid yang kini hampir kosong. Hanya terdengar suara jangkrik dari kebun di belakang rumah warga.

Iza meniup pelan teh di tangannya.

“Capek juga ya hari ini,” katanya.

Kai mengangguk.

“Tapi menyenangkan.”

Iza tersenyum kecil. Jilbabnya bergerak pelan tertiup angin malam.

Beberapa detik mereka hanya diam.

“Dulu aku nggak pernah nyangka kita bakal ketemu lagi,” kata Iza tiba-tiba.

Kai memandang lurus ke depan.

“Aku juga.”

“Apalagi ketemunya di kegiatan seperti ini.”

Kai tersenyum tipis. “Lumayan kan, ketemunya bukan di antrean rumah sakit.”

Iza tertawa pelan.

Tawa itu membuat suasana yang tadinya sunyi terasa hangat.

Kai menatap Iza sekilas. Di bawah cahaya lampu masjid yang lembut, wajah Iza terlihat tenang. Matanya masih sama seperti dulu, penuh kehidupan.

Ada sesuatu yang tiba-tiba terasa berat di dada Kai.

Sebuah perasaan lama yang dulu pernah ia simpan.

Kai menarik napas pelan.

“Aku sebenarnya…” katanya pelan.

Iza menoleh.

“Hm?”

Kai sempat terdiam.

Kalimat yang ingin ia katakan terasa seperti tertahan di tenggorokan.

Ia mengingat banyak hal dalam satu waktu, masa kecil mereka, hari-hari ketika Iza selalu memaksanya keluar rumah, dan bagaimana dulu ia tidak pernah berani mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Iza masih menatapnya, menunggu.

“Aku sebenarnya…” Kai mengulang pelan.

Namun tiba-tiba dari halaman terdengar suara seorang relawan memanggil.

“Iza! Kai! Ayo sini! Kita lagi main tebak-tebakan!”

Beberapa relawan lain ikut bersorak.

Iza tertawa kecil.

“Sepertinya kita dipanggil,” katanya.

Kai menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis.

“Iya.”

Iza berdiri lebih dulu, lalu menoleh kepadanya.

“Kamu tadi mau bilang apa?”

Kai menatapnya beberapa detik.

Lalu ia menggeleng pelan.

“Nggak apa-apa.”

Iza menyipitkan mata sedikit, seolah tidak sepenuhnya percaya.

“Tadi kelihatannya penting.”

Kai berdiri dari tangga masjid.

“Mungkin nanti.”

Iza tersenyum.

“Baiklah. Aku pegang kata-katamu.”

Lalu mereka berjalan bersama menuju halaman masjid, tempat para relawan lain sudah berkumpul sambil tertawa.

Kai berjalan di samping Iza, tetapi pikirannya masih tertinggal di tangga masjid tadi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia hampir mengatakan sesuatu yang dulu tidak pernah berani ia ucapkan.

Dan entah kenapa, kali ini ia merasa… mungkin kesempatan itu belum benar-benar hilang.

 

Subuh di desa itu datang dengan tenang.

Langit masih berwarna biru gelap ketika suara azan pertama berkumandang dari pengeras suara masjid yang kemarin mereka bersihkan bersama. Udara pagi terasa sejuk, bahkan sedikit dingin, membuat embun tipis menempel di rumput halaman.

Kai sudah terbangun lebih dulu.

Ia duduk di serambi masjid sambil memandang halaman yang masih sepi. Hari ini adalah hari terakhir kegiatan mereka di desa itu. Siang nanti para relawan dari berbagai organisasi akan kembali ke kota masing-masing.

Entah kenapa, sejak bangun tadi, dada Kai terasa sedikit berat.

Seperti ada sesuatu yang harus ia selesaikan sebelum pergi.

Tidak lama kemudian, pintu kecil di samping masjid terbuka pelan.

Iza keluar sambil merapikan jilbabnya. Ia tampak sedikit terkejut melihat Kai sudah duduk di serambi.

“Wah, kamu bangun lebih dulu,” katanya pelan agar tidak membangunkan relawan lain yang masih tidur.

Kai mengangguk.

“Nggak bisa tidur lagi.”

Iza berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.

Beberapa saat mereka hanya diam, mendengarkan gema azan yang perlahan menghilang di udara pagi.

Langit di ufuk timur mulai berubah warna.

“Cepat juga ya,” kata Iza pelan.

“Apa?”

“Kegiatannya. Rasanya baru kemarin kita ketemu lagi.”

Kai tersenyum tipis.

“Iya.”

Iza memandang halaman masjid yang masih kosong.

“Nanti siang kita sudah pulang lagi ke kota masing-masing.”

Kai mengangguk pelan.

Ada jeda hening beberapa detik.

Angin subuh berhembus lembut, membuat suasana terasa semakin tenang.

Kai menarik napas pelan.

“Aku ingat sesuatu,” katanya.

Iza menoleh sedikit.

“Apa?”

Kai menatap lurus ke halaman masjid, seolah mencari keberanian di antara garis-garis cahaya subuh yang mulai muncul.

“Dulu… aku pernah hampir bilang sesuatu ke kamu.”

Iza terlihat berpikir sejenak.

“Dulu yang mana?”

“Waktu kita masih sekolah.”

Iza memandangnya lebih serius sekarang.

Kai tersenyum kecil, sedikit canggung.

“Tapi waktu itu aku nggak pernah jadi ngomong.”

Iza tidak memotong. Ia hanya mendengarkan.

Kai menghela napas pelan.

“Aku cuma mau bilang… sebenarnya dulu aku suka sama kamu.”

Kalimat itu akhirnya keluar begitu saja, sederhana, tanpa dramatis.

Iza terdiam.

Tidak ada ekspresi kaget yang berlebihan. Ia hanya menatap Kai beberapa detik, seperti sedang memahami sesuatu yang sebenarnya sudah lama ia rasakan.

“Dulu?” tanya Iza pelan.

Kai mengangguk.

“Iya. Dulu.”

Iza menunduk sebentar, lalu tersenyum kecil.

“Aku sebenarnya sempat curiga.”

Kai menoleh cepat.

“Serius?”

Iza tertawa pelan.

“Kamu kira aku nggak peka?”

Kai ikut tertawa kecil.

Suasana terasa ringan, tidak canggung seperti yang ia bayangkan.

“Terus kenapa kamu nggak bilang waktu itu?” tanya Iza.

Kai mengangkat bahu.

“Mungkin aku terlalu pengecut.”

Iza menggeleng pelan.

“Atau mungkin waktunya memang belum pas.”

Kai tidak langsung menjawab.

Langit kini sudah berubah menjadi jingga lembut.

Para relawan mulai terdengar bergerak di dalam masjid, bersiap untuk salat Subuh.

Iza berdiri lebih dulu.

“Ayo, salat dulu,” katanya.

Kai ikut berdiri.

Sebelum berjalan masuk ke dalam masjid, Iza tiba-tiba berhenti sebentar.

Ia menoleh kepada Kai.

“Terima kasih ya,” katanya.

“Untuk apa?”

“Sudah jujur.”

Kai tersenyum kecil.

Mereka lalu berjalan masuk ke dalam masjid bersama para relawan lain yang mulai berdatangan.

Pagi itu terasa berbeda bagi Kai.

Bukan karena pengakuannya mengubah segalanya.

Tetapi karena akhirnya ada satu hal dari masa lalu yang tidak lagi ia bawa sebagai penyesalan.

Dan di halaman masjid yang kini diterangi matahari pagi, ia merasa hatinya sedikit lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment