Tangki Air Rahmat
Oleh: Daffa Atha

By Revolusioner 13 Mar 2026, 10:43:22 WIB Cerpen
Tangki Air Rahmat

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT


Rahmat menatap kalender dinding dengan kacamata yang agak turun dari batang hidungnya. Tanggal-tanggal di bulan Ramadan itu terlihat seperti sedang berbaris rapi, menunggu seseorang untuk bergerak. Dan seseorang itu, tentu saja, adalah Rahmat.

Di usianya yang tidak lagi bisa disebut muda bahkan oleh orang yang sangat dermawan sekalipun, Rahmat masih saja sibuk menjadi aktivis filantropi. Teman-temannya sering bercanda bahwa Rahmat sudah seperti mobil tua, kadang berderit, tapi kalau sudah jalan, sulit dihentikan.

“Mas Rahmat, jadwalnya padat lagi,” kata seorang relawan muda sambil menyerahkan selembar daftar kegiatan.

Baca Lainnya :

Rahmat membaca sambil mengangguk-angguk seperti dosen yang pura-pura paham skripsi mahasiswanya.

Hari itu ia ikut dalam penyaluran bantuan program Solidaritas Ramadan yang digagas NU Care-LAZISNU bersama Shopee Barokah. Bantuan berupa 40 tangki air bersih dan ratusan paket perlengkapan sekolah akan disalurkan ke wilayah yang terdampak bencana di Aceh dan Jawa Tengah.

Rahmat menghela napas kecil.

“Empat puluh tangki air,” gumamnya. “Kalau semuanya diisi kopi, mungkin saya bisa lembur tiga hari.”

Relawan di sebelahnya tertawa. Rahmat memang punya kebiasaan bercanda di saat orang lain sedang serius. Katanya, kalau kerja sosial terlalu tegang, nanti yang butuh ditolong malah ikut stres.

Perjalanan menuju lokasi penyaluran tidak selalu mudah. Rahmat pernah merasakan naik mobil bak terbuka yang suspensinya seolah diciptakan khusus untuk menguji ketabahan manusia. Pernah juga berjalan kaki melewati jalan becek yang membuat sepatunya berubah warna menjadi cokelat permanen.

Namun Rahmat selalu punya alasan sederhana untuk tetap datang.

“Kalau bukan kita yang datang, siapa lagi?” katanya suatu kali.

Bantuan yang mereka bawa akhirnya sampai juga di Aceh Tamiang. Tangki-tangki air berdiri berjajar seperti prajurit yang baru selesai apel pagi. Anak-anak mulai berdatangan dengan wajah penasaran.

Di salah satu sudut, seorang anak bernama Aji menerima paket perlengkapan sekolah. Buku tulisnya masih bau kertas baru.

“Iya, senang. Senang banget,” kata Aji sambil tersenyum lebar.

Rahmat memperhatikan anak itu seperti seseorang yang baru saja menemukan alasan kenapa punggungnya masih rela pegal.

“Iya, buat sekolah. Terima kasih LAZISNU dan Shopee untuk buku-bukunya yang baru,” tambah Aji.

Rahmat mendekat lalu berjongkok. Gerakan itu sedikit lambat karena lututnya kadang suka berdiskusi sendiri.

“Belajar yang rajin ya,” kata Rahmat.

Aji mengangguk dengan kesungguhan yang hanya dimiliki anak-anak kelas enam.

Sementara itu, di sekitar masjid desa, Rahmat juga sempat melihat anak-anak yang belajar mengaji di TPQ. Bangunannya sederhana, bahkan tikarnya terlihat seperti sudah melewati banyak musim Ramadan.

Tapi suara mereka membaca Al-Qur’an terdengar sangat semangat.

Rahmat tersenyum.

“Mas Rahmat, capek?” tanya seorang relawan.

Rahmat mengangkat bahu.

“Capek itu biasa,” jawabnya. “Yang luar biasa itu kalau kita berhenti peduli.”

Ia lalu berdiri pelan-pelan, menepuk-nepuk lututnya yang sedikit protes.

Tangki air sudah terpasang. Anak-anak sudah membawa pulang buku baru. Dan Rahmat, dengan usia yang mulai akrab dengan obat gosok, masih berjalan dari satu titik ke titik lain.

Kadang pelan.

Kadang sambil bercanda.

Tapi selalu dengan semangat yang, anehnya, tidak pernah terlihat tua, dia tetap awet muda.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment