Bahasa yang Menyimpan Luka
Oleh: Raeihan Ramadhan

By Revolusioner 28 Okt 2026, 02:26:54 WIB Cerpen
Bahasa yang Menyimpan Luka

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI


Di Kota Ranujaya, hujan selalu datang bersama bau tanah yang bercampur asap kendaraan. Air mengalir di sela batu trotoar, membawa puntung rokok, daun kering, dan potongan kertas dari warung nasi. Di salah satu gang dekat pasar tua, sebuah papan nama bertuliskan Pusat Bahasa dan Naskah Al-Mizan tergantung miring di atas pintu kayu yang catnya mulai mengelupas.

Di situlah Naila bekerja, di antara kamus Arab yang punggungnya retak, kitab-kitab bersampul kain, dan komputer yang kipasnya mendengung seperti orang tua yang menahan batuk.

Pekerjaannya sederhana, setidaknya menurut orang-orang yang belum pernah melakukannya: membersihkan naskah digital, memeriksa terjemahan, dan memastikan kata-kata Arab tidak kehilangan makna ketika berpindah ke bahasa Indonesia. Namun, bagi Naila, satu kata kadang-kadang lebih keras kepala daripada seorang pejabat. Ia bisa duduk berjam-jam hanya untuk menentukan apakah rahmah sebaiknya diterjemahkan sebagai kasih sayang, belas kasih, atau sesuatu yang lebih luas daripada keduanya.

Baca Lainnya :

Ayahnya, almarhum seorang guru madrasah, pernah berkata bahwa bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan maksud. Bahasa adalah rumah tempat pikiran berlindung. Jika rumah itu dibangun dengan tergesa-gesa, orang yang tinggal di dalamnya akan belajar memahami dunia melalui dinding yang miring.

Naila mengingat kalimat itu setiap kali membuka proyek terbarunya: sebuah model kecerdasan buatan yang dirancang untuk memahami bahasa Islam, mengenali istilah keagamaan, dan menjawab pertanyaan masyarakat tanpa tercerabut dari konteksnya. Proyek itu dinamai Nalar, singkatan yang dibuat tim pengembangnya dengan sedikit kebanggaan dan banyak harapan.

Mereka ingin membangun sesuatu yang berbeda dari mesin penerjemah biasa. Mesin itu tidak hanya mengenali susunan kata, tetapi juga hubungan antarkata, ragam penggunaan, dan jejak pemikiran yang menyertainya. Sebuah kata dalam kitab fikih, misalnya, tidak selalu membawa beban yang sama ketika muncul dalam puisi sufi atau percakapan seorang ibu dengan anaknya.

“Kalau berhasil,” kata Damar, pemimpin tim, dalam rapat pertama, “orang bisa bertanya tentang Islam dalam bahasa sehari-hari. Sistem akan membantu mereka menemukan penjelasan yang lebih terarah, dengan rujukan yang dapat diperiksa.”

Di layar, bagan-bagan berwarna membentuk cabang seperti pohon yang baru tumbuh. Para pengembang berbicara tentang korpus data, pemrosesan bahasa alami, dan representasi makna. Naila mendengarkan sambil mencatat kata-kata yang belum sepenuhnya ia percayai.

“Dan kalau sistem salah memahami pertanyaan?” tanyanya.

Damar tersenyum, bukan karena menganggap pertanyaan itu remeh, melainkan karena ia sudah menyiapkan jawabannya.

“Kita perbaiki datanya.”

Naila memandang layar. Ia ingin mengatakan bahwa manusia pun sering salah memahami, bahkan setelah bertahun-tahun hidup bersama. Namun, rapat telah beralih ke persoalan anggaran dan jadwal peluncuran. Ia menyimpan kalimat itu di buku catatannya, di antara daftar istilah yang harus diperiksa.

Beberapa bulan kemudian, Nalar mulai diuji oleh mahasiswa, guru, pengurus masjid, dan masyarakat umum. Pertanyaan datang dari berbagai arah. Ada yang menanyakan perbedaan zakat dan sedekah, ada yang meminta penjelasan tentang istilah dalam hadis, ada pula yang sekadar ingin mengetahui arti sebuah doa yang diwariskan neneknya.

Pada awalnya, Naila merasa seperti menyaksikan sebuah jembatan dibangun di atas sungai yang lama memisahkan dua kampung. Orang-orang yang dahulu enggan membuka kitab karena takut tidak mengerti kini bisa memulai dari pertanyaan sederhana. Mereka tidak perlu menyembunyikan ketidaktahuan di balik anggukan.

Suatu sore, seorang pedagang sayur bernama Bu Marni datang ke kantor dengan sandal yang masih basah. Perempuan itu membawa telepon genggam murah dan selembar kertas berisi tulisan Arab yang disalin dari buku doa milik ibunya.

“Katanya mesin ini bisa membaca tulisan agama,” ujarnya. “Saya mau tahu artinya. Ibu saya membaca ini setiap malam sebelum tidur.”

Naila mempersilakannya duduk. Bu Marni mengeluarkan telepon genggam, membuka aplikasi, lalu mengetik kalimat yang sudah ia salin dengan susah payah. Jawaban muncul dalam hitungan detik. Terjemahan itu cukup baik, lengkap dengan keterangan singkat tentang doa dan penggunaannya.

Bu Marni membaca perlahan. Bibirnya bergerak mengikuti kata-kata di layar, seolah sedang menguji apakah suara ibunya masih tersimpan di sana.

“Benar begitu artinya?” tanyanya.

“Secara umum, iya, Bu. Tapi saya perlu melihat sumber lengkapnya untuk memastikan konteksnya.”

Bu Marni mengangguk. Ia melipat kembali kertas itu, lalu menyimpannya di dompet yang sudah usang.

“Kalau begitu, nanti saya bawa bukunya.”

Setelah perempuan itu pergi, Naila menatap kursi kosong di hadapannya. Mesin telah memberikan jawaban. Tetapi yang dicari Bu Marni barangkali bukan hanya arti doa. Ia ingin memastikan bahwa sesuatu yang diwariskan ibunya tidak berubah menjadi bunyi asing ketika dibaca oleh generasi berikutnya.

Naila menuliskan kejadian itu dalam laporan pengujian. Ia menyebutnya sebagai contoh kebutuhan pengguna terhadap verifikasi sumber. Kalimat tersebut terdengar rapi dan profesional. Tidak ada satu kata pun yang mengungkapkan bahwa ia teringat ayahnya, yang dulu selalu meminta murid-muridnya membaca doa dengan suara pelan, bukan agar mereka segera hafal, melainkan agar mereka tahu kepada siapa kata-kata itu ditujukan.

Masalah pertama muncul pada suatu Senin pagi.

Seorang mahasiswa mengirim tangkapan layar jawaban Nalar tentang sebuah istilah dalam teks keagamaan. Jawaban itu tampak meyakinkan, disertai uraian yang tertata dan beberapa rujukan. Namun, setelah diperiksa, Naila menemukan bahwa sistem telah menggabungkan penjelasan dari dua konteks yang berbeda. Kata-katanya benar, sumbernya nyata, tetapi hubungan di antara keduanya keliru.

Kesalahan itu segera menyebar di media sosial. Orang-orang berdebat tentang apakah mesin tersebut layak dipercaya. Sebagian menyebutnya kemajuan, sebagian lain menganggapnya ancaman. Ada yang menuntut proyek dihentikan. Ada pula yang membela sistem dengan mengatakan bahwa manusia pun bisa salah.

Damar memanggil Naila ke ruang rapat.

“Kita perlu memperbaiki jawaban itu sebelum besok,” katanya. “Tim komunikasi sudah menyiapkan penjelasan.”

Naila membaca draf yang disodorkan kepadanya. Di dalamnya, kesalahan disebut sebagai ketidaktepatan teknis yang sedang ditangani. Tidak ada penjelasan tentang bagaimana sistem sampai pada jawaban tersebut, juga tidak ada keterangan mengenai keterbatasan data yang digunakan.

“Ini belum cukup,” kata Naila.

“Untuk apa? Kita sudah mengakui ada kesalahan.”

“Kita belum menjelaskan mengapa orang seharusnya tetap percaya kepada prosesnya.”

Damar menyandarkan punggung. Dari jendela, terlihat seorang kurir menurunkan dua kardus di depan kantor. Kendaraan di jalan merayap di bawah langit yang menggantung rendah.

“Kalau kita membuka semua kelemahan sekarang, orang bisa menganggap proyek ini gagal.”

Naila merapikan kertas di depannya. “Kalau kita menyembunyikannya, mereka bisa mengira kita sedang mengajari mesin untuk berpura-pura tahu.”

Damar tidak langsung menjawab.

Di layar ruang rapat, jawaban Nalar masih terpampang. Susunan katanya begitu lancar sehingga kesalahan di dalamnya tampak seperti kebenaran yang mengenakan pakaian terbaiknya. Naila membayangkan seorang anak sekolah membaca jawaban itu untuk tugas agama, atau seorang ibu meneruskannya ke grup keluarga tanpa sempat memeriksa sumber. Sebuah kekeliruan kecil dapat berjalan jauh apabila disampaikan dengan suara yang mantap.

“Mesin ini tidak punya niat menipu,” ujar Damar akhirnya.

“Memang,” kata Naila. “Tapi orang yang membacanya bisa tetap tersesat.”

Ia tahu kalimat itu akan terdengar tidak menyenangkan. Ia juga tahu dirinya tidak sepenuhnya benar. Mesin itu telah membantu banyak orang menemukan penjelasan yang sebelumnya sulit mereka jangkau. Menutup proyek bukan jawaban yang otomatis bijaksana. Namun, membiarkannya berjalan tanpa pagar hanya karena manfaatnya besar terasa seperti menyerahkan kunci perpustakaan kepada seseorang yang belum tahu bahwa beberapa buku saling membantah.

Malam itu, Naila kembali ke ruang kerja setelah sebagian besar pegawai pulang. Lampu lorong menyisakan warna kuning di lantai. Dari masjid di ujung jalan terdengar suara orang mengaji, terputus-putus oleh bunyi kendaraan yang melintas.

Ia membuka arsip data yang menjadi dasar pelatihan Nalar. Ada kitab-kitab digital, terjemahan lama, artikel, fatwa, catatan kuliah, dan ribuan halaman teks yang dikumpulkan selama berbulan-bulan. Sebagian telah diberi penanda sumber. Sebagian lain hanya menyimpan judul dan nama berkas yang tidak lagi jelas asal-usulnya.

Naila menelusuri satu demi satu. Pada sebuah dokumen, ia menemukan terjemahan yang disalin dari sumber sekunder tanpa keterangan lengkap. Pada dokumen lain, paragraf yang sama muncul dua kali dengan susunan berbeda. Beberapa istilah penting telah diratakan menjadi padanan tunggal, seakan makna selalu bersedia duduk diam di satu kursi.

Ia teringat pekerjaan ayahnya di madrasah. Setiap kali menemukan halaman kitab yang sobek, lelaki itu tidak langsung membuangnya. Ia mencari salinan lain, bertanya kepada guru yang lebih tua, atau menandai bagian yang belum dapat dipastikan. Bagi ayahnya, mengakui bahwa sebuah kalimat belum dipahami bukanlah kekalahan. Itu justru awal dari membaca dengan sungguh-sungguh.

Naila menutup dokumen di layar dan membuka catatan baru. Ia menuliskan usulan untuk tim: sumber harus dapat dilacak, perbedaan pendapat perlu ditampilkan ketika relevan, dan jawaban yang tidak memiliki dasar cukup kuat harus menyatakan keterbatasannya. Sistem juga harus menyediakan jalan bagi pengguna untuk memeriksa rujukan, bukan meminta mereka menerima jawaban hanya karena kalimatnya terdengar cerdas.

Di bagian paling bawah, ia mengetik satu kalimat: Kemampuan menjawab tidak sama dengan kewenangan menentukan kebenaran.

Ia membaca kalimat itu dua kali, lalu menyimpannya.

Pada pekan berikutnya, tim mengadakan diskusi terbuka di aula kecil kampus. Kursi-kursi plastik disusun melingkar. Di meja depan, teko teh mengepulkan uap, sementara kipas angin berputar tanpa banyak mengusir panas. Hadir dosen bahasa, ahli teknologi, pengajar pesantren, mahasiswa, dan beberapa warga yang selama ini mencoba Nalar melalui telepon mereka.

Seorang mahasiswa bertanya apakah kecerdasan buatan dapat memahami agama.

Seorang pengembang menjelaskan bagaimana sistem memproses pola bahasa dan hubungan makna. Seorang dosen mengingatkan bahwa pemahaman tidak hanya berkaitan dengan susunan kalimat, tetapi juga sejarah, tradisi penafsiran, dan tanggung jawab orang yang menyampaikan pengetahuan. Seorang ustaz dari pesantren kecil di pinggir kota menambahkan bahwa jawaban yang benar sekalipun dapat menjadi tidak tepat jika disampaikan tanpa mempertimbangkan keadaan orang yang bertanya.

Tidak ada yang sepenuhnya membantah yang lain. Mereka hanya meletakkan sudut pandang masing-masing di atas meja, seperti orang-orang yang sedang mencari bentuk peta dari potongan kertas berbeda.

Bu Marni juga datang. Ia duduk dekat pintu, membawa buku doa milik ibunya dalam kantong kain. Ketika diberi kesempatan berbicara, ia mengangkat buku itu dengan kedua tangan.

“Saya senang ada alat yang bisa membantu,” katanya. “Saya tidak sekolah tinggi. Kadang-kadang saya malu bertanya karena takut dianggap tidak tahu. Tapi kalau alat ini menjawab, saya tetap ingin tahu dari mana jawabannya berasal.”

Ia membuka buku itu dan menunjukkan halaman yang ujungnya menguning.

“Buku ini sudah lama di rumah. Tulisan ibu saya ada di pinggirnya. Saya tidak mau kalau suatu hari nanti saya cuma punya terjemahan, tetapi tidak tahu mengapa ibu saya menandai bagian ini.”

Aula mendadak lebih sunyi. Dari luar, terdengar pedagang bakso memukul mangkuknya tiga kali. Suara itu masuk melalui jendela, begitu biasa hingga tak seorang pun menoleh.

Naila memandang buku di tangan Bu Marni. Pada tepi halaman, ada tulisan tangan yang tipis dan miring, sebagian memudar karena sering disentuh. Mesin mungkin dapat mengenali huruf-hurufnya, menyusun padanan katanya, bahkan menemukan kemiripannya dengan ratusan teks lain. Namun, tulisan di pinggir halaman itu juga menyimpan waktu: malam-malam ketika seseorang duduk setelah bekerja, doa yang dibaca sebelum tidur, dan tangan yang berhenti sebentar untuk memberi tanda pada sesuatu yang dianggap penting.

“Kalau begitu,” ujar Naila, “mungkin tugas kami bukan membuat mesin menggantikan orang yang mengajarkan makna. Tugas kami memastikan mesin tidak menutup jalan menuju mereka.”

Ia tidak tahu apakah kalimat itu akan masuk ke laporan akhir proyek. Damar yang duduk di barisan depan hanya menunduk, mencatat sesuatu pada kertasnya. Diskusi berlanjut. Orang-orang berbicara tentang pendidikan, bahasa daerah, naskah lama, dan kemungkinan teknologi membantu menyelamatkan pengetahuan yang nyaris hilang. Tidak ada kesepakatan yang menutup seluruh pertanyaan.

Ketika acara selesai, hujan turun lagi. Para peserta menunggu di teras, sebagian membuka payung, sebagian menelepon keluarga. Bu Marni mendekati Naila dan menyerahkan buku itu.

“Bisa dibantu periksa tulisan ibu saya?”

Naila menerima buku tersebut dengan hati-hati. Ia tidak menjanjikan akan selesai hari itu. Mereka duduk di bangku dekat jendela, membuka halaman yang ditunjuk Bu Marni, lalu membandingkan tulisan tangan itu dengan teks cetak di sebelahnya.

Di layar telepon, Nalar masih terbuka. Sebuah kolom kosong menunggu pertanyaan berikutnya.

Naila menatap tulisan yang hampir pudar, kemudian mengetik beberapa kata untuk mencari padanannya. Sistem mulai bekerja, menampilkan kemungkinan-kemungkinan yang tersusun rapi. Di luar, air hujan mengalir di sepanjang talang dan jatuh ke ember plastik dengan bunyi berulang.

Bu Marni menunjuk sebuah kata.

“Kalau yang ini, artinya apa?”

Naila belum menjawab. Ia memperbesar gambar, memiringkan buku ke arah cahaya, lalu membaca sekali lagi. Kata itu tampak sederhana, tetapi huruf terakhirnya tertutup noda kecokelatan.

Ia bisa meminta mesin menyusun dugaan. Ia bisa memilih jawaban yang paling mungkin, menuliskannya, lalu melanjutkan pekerjaan. Namun, untuk sesaat, ia membiarkan layar tetap menyala tanpa menyentuhnya.

Di antara bunyi hujan dan dengung kipas, Naila mendengar suara ayahnya seolah datang dari ruang kelas yang telah lama kosong: jangan tergesa-gesa mengucapkan sesuatu yang belum selesai kau pahami.

Ia menarik napas, lalu mengambil pensil.

“Sebentar, Bu,” katanya. “Kita cari tahu bersama-sama.”

Dan di layar, kolom jawaban itu masih menunggu. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment