- IZI Jateng Latih Santri ESQ
- Banpres Rp200 M untuk Karhutla Sumsel
- Magang Nasional Batch 3 Dibuka
- Danantara Salur Rp1,66 T untuk Filantropi
- Pemuda Masjid Dunia Perkuat Kemitraan
- MUI: Pengawas Syariah Wajib Sertifikasi
- Fun Run Muhammadiyah Bantu Flores
- Dana Umat dan Taruhan Keadilan Iklim
- Napas untuk Hari Esok
- Zafis Bukan Ziswaf: Mengubah Mindset, Membidik Rp1.200 T
Napas untuk Hari Esok
Oleh: Raeihan Ramadhan

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI
Pukul lima pagi, sebelum azan subuh selesai berkumandang, Mira sudah menghitung uang di atas meja makan.
Dua lembar dua puluh ribuan, tiga lembar sepuluh ribuan, empat lembar lima ribuan, dan beberapa keping uang logam yang berbau besi. Ia menyusunnya berdasarkan nilai, lalu menggeser setiap kelompok ke sudut meja, seolah-olah uang itu akan bertambah jika diberi ruang untuk bernapas.
Di luar, hujan semalam meninggalkan genangan di jalan sempit Kampung Cempaka. Sebuah sepeda motor melintas, memercikkan air ke dinding rumah kontrakan. Dari dapur tetangga, tercium aroma bawang putih yang ditumis. Perut Mira berbunyi pelan.
Baca Lainnya :
- Lumbung yang Menunggu Hujan0
- Abu yang Mengingat Nama0
- Di Antara Asap dan Nama yang Hilang0
- Kota yang Menitipkan Doa0
- Yang Tertinggal di Lereng0
Ia membuka aplikasi perbankan di telepon genggamnya. Saldo rekening masih menyisakan angka yang cukup untuk membuatnya berharap, tetapi tidak cukup untuk membayar seluruh tagihan yang jatuh tempo hari itu. Uang sekolah Dimas belum lunas. Tagihan listrik akan jatuh tempo tiga hari lagi. Sewa kontrakan harus dibayar sebelum akhir pekan.
Mira menutup aplikasi itu.
Di samping uang tunai, selembar kertas bertuliskan daftar belanja tergeletak dengan beberapa kata dicoret. Minyak goreng. Telur. Beras. Sabun cuci. Susu.
Kata terakhir itu ia lingkari sejak kemarin, lalu ia hapus dengan penghapus pensil sampai kertasnya menipis.
Dimas muncul dari kamar dengan seragam putih-merah yang sudah disetrika malam sebelumnya. Anak itu duduk di kursi, mengikat tali sepatu, kemudian melirik meja.
“Bu, hari ini ada iuran kelas.”
“Berapa?”
“Dua puluh ribu.”
Mira memasukkan uang ke dompetnya. “Nanti Ibu usahakan.”
Dimas mengangguk tanpa bertanya lagi. Ia sudah belajar bahwa kata usahakan bukan janji, melainkan semacam jembatan yang dibangun ibunya di atas jurang yang tidak terlihat.
Setelah anak itu berangkat, Mira mengenakan jaket tipis dan mengeluarkan sepeda motor dari gang. Ia bekerja di sebuah toko perlengkapan rumah tangga di pusat kota, dengan gaji bulanan yang hampir selalu habis sebelum tanggal dua puluh. Dulu, ketika pertama kali diterima, ia menganggap pekerjaan itu sebagai pijakan menuju kehidupan yang lebih lapang. Ia akan menabung, memperbaiki rumah ibunya di kampung, dan menyekolahkan Dimas tanpa harus menghitung harga setiap barang.
Tujuh tahun berlalu. Rumah ibunya masih beratap bocor. Tabungan Mira tinggal nama yang sesekali muncul di lembar mutasi rekening. Dan setiap kali ia menerima kenaikan gaji, harga kebutuhan pokok seperti mengetahui kabar itu lebih dahulu.
Di lampu merah, ia berhenti di antara pengemudi ojek daring dan sebuah mobil hitam yang kacanya tertutup rapat. Seorang pedagang bubur mendorong gerobaknya di trotoar. Asap dari panci mengepul, bercampur debu kendaraan dan bau selokan. Mira memandang tulisan di papan kecil gerobak itu: Bubur ayam, sepuluh ribu.
Ia menghitung kembali uang dalam dompet, lalu meneruskan perjalanan.
Sarapan bisa menunggu.
Di toko, mesin pemindai berbunyi nyaring setiap kali barang melewati meja kasir. Mira berdiri dengan senyum yang sudah dihafalnya, menyapa pelanggan, membungkus panci, mencetak struk, dan menjelaskan perbedaan dua jenis lampu yang bagi dirinya sama-sama hanya menghasilkan cahaya.
Menjelang siang, manajernya memanggil Mira ke ruang belakang.
“Kita harus mengurangi jam lembur,” katanya sambil memeriksa lembar absensi. “Penjualan bulan ini turun.”
Mira duduk di hadapannya. Di dinding, kalender promosi masih menampilkan gambar dapur luas dengan meja marmer dan lemari-lemari putih. Ruangan dalam gambar itu begitu bersih hingga Mira merasa tak seorang pun pernah memasak di sana.
“Kalau jam lembur dihapus semua, penghasilan saya berkurang cukup banyak, Pak.”
Manajernya mengangguk. “Saya mengerti. Tapi saya juga harus mengikuti keputusan kantor pusat.”
Mira menunggu kalimat berikutnya, barangkali ada pengecualian untuk pegawai yang sudah lama bekerja atau yang memiliki tanggungan anak. Namun, lelaki itu hanya menggeser lembar absensi ke sisi meja.
“Coba cari tambahan di luar. Banyak orang sekarang begitu.”
Mira mengucapkan terima kasih sebelum keluar. Ia tidak tahu kepada siapa rasa terima kasih itu harus ditujukan.
Pada jam istirahat, ia duduk di tangga darurat sambil membuka telepon genggam. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak disimpan.
Pinjaman cepat. Cair dalam hitungan menit. Tanpa jaminan.
Ia menghapus pesan itu.
Pesan lain muncul dari aplikasi belanja: Promo akhir bulan, diskon hingga tujuh puluh persen. Mira memandang gambar sebuah tas sekolah berwarna biru. Resleting tas Dimas rusak minggu lalu, dan ia telah menjahitnya dengan benang hitam yang mencolok.
Jarinya berhenti di atas layar.
Ia menambahkan tas itu ke keranjang, lalu mengeluarkannya kembali.
Sore harinya, ketika toko mulai sepi, seorang pelanggan datang membawa kipas angin yang baru dibeli tiga hari sebelumnya. Barang itu tidak berfungsi. Lelaki tersebut berbicara keras, menuduh toko menjual barang rusak, dan meminta pengembalian uang.
Mira memeriksa nota, nomor seri, dan kartu garansi. Ia tahu prosedur yang harus dijalankan, tetapi pelanggan itu terus meninggikan suara.
“Kalau saya punya uang lebih, saya beli yang mahal sekalian!” katanya. “Saya membeli ini karena memang cuma sanggup yang ini.”
Kalimat itu membuat Mira berhenti mengetik.
Ia melihat tangan lelaki itu menggenggam pegangan kipas angin. Buku-buku jarinya memutih. Di balik kemarahannya, ada sesuatu yang dikenali Mira: rasa malu karena telah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang ternyata tidak dapat diandalkan.
Ia menjelaskan prosedur penukaran barang dengan suara pelan, lalu membantu mengisi formulir. Lelaki itu akhirnya pergi dengan tanda terima dan janji bahwa barang pengganti akan tersedia dalam beberapa hari.
Sebelum meninggalkan toko, ia menoleh.
“Maaf tadi saya marah-marah.”
Mira mengangguk. “Tidak apa-apa, Pak.”
Setelah lelaki itu pergi, Mira memandang layar komputer yang kembali menampilkan angka penjualan. Ia teringat uang di atas meja rumahnya, daftar belanja yang penuh coretan, dan kalimat manajernya tentang mencari tambahan.
Di kota ini, pikirnya, setiap orang tampaknya sedang berusaha menyelamatkan sesuatu. Ada yang menyelamatkan penghasilan, ada yang menyelamatkan harga diri, ada pula yang sekadar menyelamatkan sisa uang agar cukup sampai hari berikutnya.
Mereka bertemu di meja kasir, di lampu merah, di antrean pembayaran, lalu berpisah tanpa pernah benar-benar mengetahui apa yang dibawa masing-masing ke rumah.
Pada Jumat malam, Mira menerima telepon dari adiknya di kampung.
“Ibu jatuh di kamar mandi,” kata Rani. “Tidak parah, tetapi kakinya bengkak. Dokter menyarankan rontgen.”
Mira memejamkan mata. Di sekelilingnya, penumpang bus kota berdiri berdesakan, sebagian memegang pegangan besi, sebagian lagi menunduk menatap layar. Hujan kembali turun. Air merembes dari ujung atap halte dan jatuh berulang-ulang ke genangan di trotoar.
“Biayanya berapa?”
“Belum tahu. Tadi Ibu belum mau ke rumah sakit. Katanya bisa diurut saja.”
Mira tahu ibunya. Perempuan itu bisa menahan sakit berhari-hari asalkan tidak perlu meminta uang kepada anak-anaknya.
“Bawa saja ke dokter. Nanti Kakak kirim uang.”
Setelah telepon ditutup, Mira membuka aplikasi perbankan. Ia menghitung saldo, menyisakan uang untuk ongkos kerja dan belanja dua hari, lalu mentransfer sejumlah yang bisa ia berikan. Ia menatap bukti transaksi sampai layar telepon meredup.
Di rumah, Dimas sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Lampu ruang tengah berkedip sekali sebelum kembali menyala. Mira meletakkan tas, membuka lemari es, dan menemukan setengah ikat kangkung, dua butir telur, serta semangkuk nasi sisa pagi.
“Besok kita makan apa, Bu?” tanya Dimas.
Mira menoleh. Anak itu tidak mengeluh. Ia hanya mengajukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
“Nanti Ibu pikirkan.”
Dimas kembali menulis.
Mira memasak nasi goreng dengan satu telur yang dibagi dua. Ia menambahkan kecap sedikit lebih banyak agar warnanya tampak pekat, lalu menyajikannya dalam dua piring. Saat makan, ia memperhatikan Dimas menyisihkan bagian telur yang lebih besar ke pinggir piring.
“Kenapa tidak dimakan?”
“Buat Ibu.”
“Telurnya sudah dibagi rata.”
“Punyaku lebih besar sedikit.”
Mira mengambil sendok dan memindahkan potongan telur itu ke mulutnya sendiri. Ia mengunyah perlahan, menahan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokan.
Malam itu, setelah Dimas tidur, ia membuka kembali pesan pinjaman cepat yang sempat dihapus. Ia mencari nama perusahaan, membaca syarat, kemudian menemukan sejumlah komentar dari orang-orang yang mengeluhkan bunga dan penagihan. Ia menutup halaman itu, tetapi beberapa menit kemudian membukanya lagi.
Ada satu kalimat dalam iklan yang terus terngiang: Dana tersedia saat Anda membutuhkan.
Mira membayangkan biaya pemeriksaan ibunya, uang sekolah Dimas, dan tagihan listrik. Ia membayangkan dirinya duduk di meja makan, menyusun lembaran uang seperti pagi tadi. Seandainya ada seseorang yang bersedia meminjamkan uang tanpa banyak pertanyaan, mungkin ia bisa melewati minggu ini.
Namun, ia juga tahu bahwa kebutuhan tidak selalu selesai ketika uang datang. Ada uang yang membawa kewajiban baru, seperti tamu yang masuk ke rumah dan kemudian enggan pulang.
Ia meletakkan telepon genggam di laci, lalu mematikan lampu.
Hari Minggu, Mira membawa Dimas ke pasar loak di dekat terminal. Ia hendak mencari tas sekolah bekas yang masih layak pakai. Pasar itu berbau plastik, debu, dan gorengan. Pedagang memajang pakaian di atas terpal, sementara penjual barang elektronik menguji radio dengan suara yang pecah-pecah.
Di sebuah lapak, Dimas menemukan tas biru dengan gambar roket. Warnanya sudah pudar, tetapi resletingnya masih bagus. Ia memeriksa setiap kantong, kemudian memandang ibunya.
“Ini cukup, Bu.”
Mira menanyakan harga. Pedagang menyebut angka yang masih bisa ditawar. Setelah berunding sebentar, mereka sepakat pada harga yang lebih rendah.
Dalam perjalanan pulang, mereka melewati sebuah restoran yang sedang ramai. Dari balik kaca, orang-orang duduk di meja panjang, berbagi hidangan yang mengepulkan uap. Dimas memperlambat langkah untuk melihat sebuah kue berlapis krim di etalase.
Mira mengikuti arah pandangnya.
“Mau?”
Dimas menggeleng. “Tidak usah.”
Mereka berjalan lagi. Di ujung trotoar, seorang perempuan tua duduk menjajakan kue basah dalam wadah plastik. Kue-kue itu tersusun rapi, meski sebagian mulai mengering di bagian pinggir. Mira berhenti dan membeli dua potong.
Mereka memakannya di bangku halte.
Dimas menggigit kuenya, lalu tersenyum kecil. “Enak.”
Mira mengangguk. Ia tidak tahu apakah anaknya benar-benar menyukai kue itu atau sedang berusaha membuat ibunya merasa bahwa pilihan mereka tidak selalu merupakan pilihan kedua.
Sore harinya, Mira duduk di depan rumah kontrakan. Di gang, seorang tetangga menjajakan pakaian melalui siaran langsung dari telepon genggam. Suaranya terdengar bersemangat, menawarkan potongan harga kepada orang-orang yang tidak terlihat. Di rumah seberang, seorang lelaki mengemas makanan untuk pesanan daring. Anak-anak bermain sepeda di antara jemuran.
Kampung itu dipenuhi orang-orang yang sedang mencari cara untuk menambah penghasilan. Ada yang berjualan setelah pulang kerja, ada yang mengambil pesanan pada malam hari, ada yang menggadaikan barang untuk membayar kebutuhan yang tak bisa ditunda.
Mira memandang tas baru Dimas yang tergantung di paku dinding. Ia teringat nasihat manajernya, lalu membuka aplikasi pencari kerja. Beberapa lowongan menawarkan pekerjaan paruh waktu. Sebagian meminta pengalaman yang tidak dimilikinya, sebagian lain menjanjikan pendapatan besar dengan syarat yang tidak dijelaskan secara terang.
Ia menelusuri semuanya sampai malam.
Pada akhirnya, ia menemukan lowongan untuk membantu sebuah usaha katering mengemas pesanan pada akhir pekan. Upahnya tidak banyak, tetapi pekerjaannya jelas. Ia mengirim pesan kepada pemilik usaha dan menerima balasan singkat bahwa ia bisa datang untuk percobaan pada Sabtu berikutnya.
Mira tersenyum sebentar. Bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia menemukan sesuatu yang dapat dikerjakan tanpa harus menukar ketenangan dengan janji yang mencurigakan.
Senin pagi, ia kembali menghitung uang.
Jumlahnya tidak jauh berbeda dari pekan sebelumnya. Tagihan masih menunggu, gaji belum masuk, dan kebutuhan Dimas terus bertambah seiring pertumbuhannya. Di atas meja, daftar belanja baru tergeletak di samping struk pembelian tas bekas.
Mira menulis beras, telur, minyak goreng, dan sabun. Kali ini ia tidak mencoret susu. Ia hanya memberi tanda tanya kecil di sebelahnya.
Dimas keluar dari kamar dengan tas biru di punggung. Sebelum berangkat, ia berhenti di dekat meja dan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari saku celananya.
“Ini uang kembalian waktu beli buku, Bu.”
Mira menatap uang itu.
“Simpan saja untuk jajan.”
“Aku masih punya uang.”
Ia tidak tahu apakah Dimas benar-benar masih punya uang atau telah belajar menyisihkan sedikit dari pemberian ibunya. Ia ingin menolak, tetapi anak itu sudah meletakkan uang tersebut di samping daftar belanja.
Setelah Dimas pergi, Mira mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam dompet.
Di luar, matahari mulai meninggi. Seorang pedagang sayur mendorong gerobak melewati gang, memanggil pembeli dengan suara serak. Tetangga menyalakan mesin cuci. Dari kejauhan terdengar klakson yang panjang dan tidak sabar.
Kota itu kembali bergerak, seakan tidak pernah memberi siapa pun waktu untuk berhenti dan bertanya mengapa hidup terasa semakin mahal.
Mira mengenakan jaketnya, mengambil kunci sepeda motor, lalu berhenti sejenak di ambang pintu. Ia memandang meja yang kini kosong, kecuali selembar daftar belanja dan sebuah pensil pendek.
Nanti malam, ia akan mencoba pekerjaan tambahan. Mungkin ia akan terlalu lelah untuk memasak. Mungkin uang yang diterimanya tidak akan cukup untuk mengubah banyak hal. Ibunya masih harus diperiksa, tagihan tetap harus dibayar, dan harga kebutuhan pokok tidak akan turun hanya karena ia bekerja lebih keras.
Namun, sebelum menutup pintu, Mira mengambil pensil dan menambahkan satu baris di bawah daftar belanja:
Sisihkan sedikit, kalau bisa.
Ia tidak menulis jumlah. Belum ada angka yang berani dijanjikannya.
Di ujung gang, matahari memantul pada genangan air yang belum kering. Mira menyalakan sepeda motornya, lalu melaju menuju jalan besar, bergabung dengan orang-orang yang membawa tas, kotak makan, helm, dan kecemasan masing-masing.
Lampu lalu lintas berubah merah. Kendaraan berhenti. Di sebelahnya, seorang pengemudi ojek daring memeriksa telepon genggam, sementara seorang ibu muda menggendong anak yang tertidur di bahunya.
Mira menatap angka hitung mundur pada lampu penyeberangan.
Dua puluh tujuh detik.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak menghitung uang. Ia hanya menunggu lampu berubah hijau, sambil bertanya-tanya berapa banyak orang di sekelilingnya yang juga sedang berusaha bertahan agar tetap mampu bernapas sampai hari esok. (*)












.png)
.png)