Rumah yang Menyimpan Suara
Oleh: Raeihan Ramadhan

By Revolusioner 30 Okt 2026, 01:15:29 WIB Cerpen
Rumah yang Menyimpan Suara

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI


Malam menjelang Kongres Pemuda Kedua, sebuah kota kolonial di pesisir Jawa diguyur hujan. Di sebuah rumah sewaan yang dindingnya menyimpan bau kapur, seorang pemuda bernama Darma harus memilih antara menyelamatkan masa depannya sendiri atau mempertaruhkan sesuatu yang bahkan belum memiliki nama pasti: persatuan.

Hujan menebalkan bayang-bayang pohon asam di sepanjang jalan. Dari kejauhan, roda delman menggilas genangan, meninggalkan bunyi kecipak yang segera ditelan deru kereta listrik. Di rumah itu, beberapa pemuda berkumpul mengelilingi meja panjang. Ada yang masih mengenakan pakaian dari perjalanan jauh, ada yang menyembunyikan telapak tangannya yang kapalan di bawah meja, ada pula yang sesekali menoleh ke jendela, seolah-olah polisi pemerintah dapat muncul dari balik tirai hujan.

Darma duduk paling dekat dengan pintu. Ia baru berusia dua puluh tiga tahun, anak seorang pedagang kain dari kota kecil di pesisir Sumatra. Ayahnya mengirim uang secukupnya untuk menyelesaikan pendidikan di sekolah hukum. Dalam surat terakhir, lelaki itu menulis bahwa adik Darma akan segera menikah dan bahwa usaha keluarga sedang kesulitan. Darma diminta pulang selepas ujian, mencari pekerjaan yang pantas, lalu berhenti menghabiskan waktu bersama orang-orang yang gemar membicarakan negeri yang belum tentu ada.

Baca Lainnya :

Surat itu terlipat empat di dalam saku jasnya.

“Kalau kita terus berbicara tentang perbedaan,” kata seorang pemuda berwajah tirus di ujung meja, “kapan kita akan mulai membicarakan apa yang bisa kita perjuangkan bersama?”

Namanya Mahesa, mahasiswa hukum yang berasal dari pedalaman Jawa. Ia bicara dengan suara rendah, tetapi setiap kalimatnya seolah-olah meletakkan batu di tengah ruangan.

Pemuda di sebelahnya, seorang lelaki Ambon bernama Latu, mengangkat kepala. “Bersama dalam hal apa? Di tempatku, orang-orang masih lebih percaya kepada nama keluarga daripada kepada cita-cita yang kalian tulis di surat kabar. Di sini pun, setiap perkumpulan punya cara sendiri menyebut tanah air.”

“Barangkali justru itu persoalannya,” sahut Mahesa. “Kita sibuk mencari nama yang tepat, sampai lupa bahwa orang-orang di luar sana bahkan tidak diberi kesempatan menentukan nasibnya sendiri.”

Darma menunduk. Di atas meja, sebuah peta kepulauan terbentang, ujung-ujungnya ditahan cangkir kopi dan tumpukan buku. Garis-garis pada peta itu tampak begitu rapi. Tidak ada garis yang menunjukkan siapa yang pernah kehilangan sawah karena pajak, siapa yang ditolak masuk sekolah, atau siapa yang harus menunduk ketika seorang pejabat kolonial melintas.

Ia mengenali bentuk pulau tempat ia dilahirkan. Selama ini, pulau itu selalu disebut sebagai tempat pulang. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya apakah sebuah tempat bisa menjadi rumah bagi orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal.

Pagi berikutnya, Darma membantu menata kursi di gedung pertemuan yang disewa untuk kongres pemuda. Udara berbau kayu lembap dan minyak rambut. Di halaman, pedagang kacang rebus menawarkan dagangannya kepada peserta yang datang dari berbagai kota. Percakapan terdengar bertumpuk-tumpuk: bahasa Jawa yang mengalun, Melayu yang cepat, logat dari pulau-pulau timur, serta bahasa Belanda yang sesekali menyelinap seperti tamu tak diundang.

Darma menyukai keramaian itu, tetapi juga merasa asing di dalamnya.

Di sekolah, ia terbiasa menyebut dirinya anak Sumatra. Di rumah, ia dikenal sebagai putra sulung keluarga Siregar—nama yang diwariskan bersama tuntutan untuk menjaga martabat keluarga. Di kota tempat ia belajar, ia bergaul dengan pemuda dari berbagai daerah, tetapi mereka kerap kembali ke perkumpulan masing-masing setelah rapat selesai. Mereka saling menghormati, saling meminjam buku, saling berdebat. Namun, ketika pembicaraan menyentuh soal bahasa dan identitas, percakapan dapat berubah menjadi dinding.

Seorang perempuan muda berdiri di dekat jendela, merapikan berkas-berkas di atas meja. Namanya Ratih, guru sekolah rakyat yang datang sebagai utusan sebuah perkumpulan pendidikan. Rambutnya disanggul sederhana. Ujung lengan kebayanya sedikit basah karena ia tadi berlari menembus hujan.

“Bisa bantu saya?” tanyanya kepada Darma.

Darma mengambil tumpukan kertas yang disodorkannya.

“Ini daftar pembicara. Ada yang belum mengirimkan bahan. Kalau terlambat, urutan acara bisa berantakan.”

Darma mengangguk. Ia membaca beberapa nama yang ditulis dengan ejaan berbeda. Ada yang menggunakan gelar kebangsawanan, ada yang menuliskan nama organisasi di belakang nama pribadi, ada yang bahkan tidak mencantumkan nama keluarga.

“Sulit menyatukan orang-orang yang sejak awal diajari berdiri di barisan berbeda,” kata Ratih, seolah membaca pikirannya.

“Lalu bagaimana caranya?”

Ratih memandang halaman, tempat seorang anak kecil sedang mengumpulkan kulit kacang yang tercecer. “Mungkin kita tidak perlu membuat semua orang berdiri dengan cara yang sama. Kita hanya perlu memastikan mereka tahu ke mana harus berjalan.”

Darma tidak segera menjawab. Ia memikirkan ayahnya, yang selalu mengatakan bahwa manusia harus tahu tempatnya sendiri. Menurut lelaki itu, hidup menjadi mudah bila seseorang tidak berusaha melampaui batas yang sudah ditentukan. Darma tidak pernah membantah. Ia hanya diam, seperti kebanyakan anak yang tumbuh dengan utang budi lebih besar daripada keberaniannya.

Pada jeda sidang, Darma menemukan sebuah buku catatan di bawah kursi. Sampulnya kusam, sudut-sudutnya melengkung karena terlalu sering dibuka. Ia membawanya ke meja panitia dan mendapati beberapa halaman berisi kalimat-kalimat tentang bahasa, pendidikan, dan kemerdekaan.

Di halaman terakhir, seseorang menulis dengan tinta yang hampir habis: Bagaimana mungkin kita berharap dipahami dunia jika kita sendiri tidak mau mendengarkan sesama?

Darma membaca kalimat itu berulang kali.

Ia teringat ibunya yang menawar harga beras dalam bahasa daerah mereka, lalu berbicara dalam bahasa Melayu dengan pedagang dari seberang. Ketika seorang tetangga sakit, ibunya datang membawa bubur tanpa bertanya apa suku atau perkumpulan keluarganya. Hal-hal itu berlangsung begitu biasa, sampai Darma tak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang patut dipikirkan.

Di gedung ini, orang-orang berdebat untuk menemukan bentuk persatuan. Di rumahnya, ibunya menjalankan persatuan tanpa pernah menyebut namanya.

Menjelang sore, seorang pemuda berwajah bulat menghampirinya. Ia memperkenalkan diri sebagai Jatmika, mahasiswa kedokteran dari kota di bagian timur. Ia berbicara sambil terus menggulung ujung lengan kemejanya.

“Kau berasal dari Sumatra, bukan?”

Darma mengangguk.

“Di tempatku, orang sering menganggap pemuda dari daerah lain hanya datang untuk mengatur kami. Kadang-kadang aku pun berpikir begitu. Kita terlalu sering mendengar kata persatuan dari orang yang ingin menjadi pemimpin.”

Darma menatapnya. Ia tidak tahu apakah Jatmika sedang mengeluh atau mengujinya.

“Kalau begitu, mengapa kau datang?”

Jatmika tersenyum tipis. “Karena aku ingin tahu apakah masih ada orang yang mau duduk satu meja tanpa lebih dahulu menghitung keuntungan.”

Mereka tertawa kecil. Untuk pertama kalinya hari itu, Darma merasa bahwa perbedaan tidak selalu harus diselesaikan melalui pidato panjang. Kadang-kadang, ia cukup dibiarkan hadir di antara dua orang yang bersedia tidak segera pergi.

Namun, ketika malam turun dan sidang dilanjutkan, perdebatan kembali memanas. Seorang peserta keberatan terhadap usul penggunaan satu bahasa persatuan. Ia takut bahasa daerah akan kehilangan tempat, bahwa anak-anak kelak akan malu menyebut nama kampungnya sendiri.

“Bahasa bukan sekadar alat,” katanya. “Di dalamnya ada ibu kita, doa kita, dan cara kita mengingat orang-orang yang telah meninggal.”

Beberapa orang mengangguk. Darma pun merasakan sesuatu bergerak di dadanya. Ia membayangkan suara ibunya memanggil dari dapur, menyebut namanya dengan logat yang tidak akan pernah ditemukan di buku sekolah.

Mahesa berdiri, menunggu sampai ruangan tenang.

“Tidak seorang pun meminta kita membuang bahasa ibu,” katanya. “Tetapi kita harus punya bahasa yang memungkinkan seorang anak dari pulau jauh berbicara kepada anak lain tanpa merasa bahwa salah satunya lebih tinggi. Kita tidak sedang memilih bahasa yang paling mulia. Kita sedang mencari jalan agar suara kita tidak berhenti di batas daerah masing-masing.”

Kata-kata itu tidak menghapus semua keraguan. Beberapa peserta masih menggeleng. Namun, tidak ada yang meninggalkan ruangan.

Darma menyadari bahwa persatuan bukanlah keadaan ketika semua orang berhenti berbeda pendapat. Persatuan mungkin justru dimulai saat orang-orang yang berbeda tetap memilih duduk bersama, meski kursi mereka terasa tidak nyaman.

Pada malam terakhir, hujan berhenti. Udara kota menjadi dingin, dan bau tanah basah masuk melalui kisi-kisi jendela. Para peserta berkumpul untuk menyelesaikan rumusan yang telah mereka perdebatkan selama berhari-hari.

Darma berdiri di belakang, dekat lemari yang pintunya tidak bisa tertutup rapat. Di tangannya, surat ayahnya mulai lemas oleh keringat. Ia belum membalasnya. Ia tahu keluarganya membutuhkan uang, dan pendidikan yang ia jalani bukan perkara murah. Ia juga tahu bahwa setelah kongres, ia mungkin harus kembali ke kota asal dan bekerja di kantor dagang milik seorang kenalan ayahnya.

Tak ada yang salah dengan pulang. Tak ada yang hina dalam mencari nafkah. Yang mengusiknya adalah kemungkinan bahwa ia akan menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk menjaga agar segala sesuatu tetap seperti semula, sementara orang-orang lain mencoba membuka pintu yang selama ini dikunci dari luar.

Di depan ruangan, seorang pemuda berkacamata membacakan rumusan yang telah disusun. Setiap kalimat diucapkan dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang berjalan di atas jembatan rapuh. Beberapa peserta saling berpandangan. Seorang lelaki tua yang bertugas menjaga gedung duduk di dekat pintu, diam-diam mendengarkan sambil menggenggam topinya.

Ketika pembacaan selesai, tidak ada ledakan sorak yang seketika mengubah dunia. Yang terdengar mula-mula justru keheningan. Lalu kursi-kursi bergeser, seseorang mengembuskan napas panjang, dan tepuk tangan muncul dari sudut ruangan. Suaranya menyebar perlahan, menyentuh dinding, langit-langit, lalu kembali kepada orang-orang yang berdiri di sana.

Darma tidak bertepuk tangan. Ia memandang surat di tangannya, lalu melipatnya kembali.

Ia belum tahu apa yang akan ia katakan kepada ayahnya. Ia belum tahu apakah kata-kata yang baru saja disepakati itu akan sampai ke kampungnya, atau hanya tinggal sebagai tulisan yang dibaca dalam upacara bertahun-tahun kemudian. Ia bahkan belum yakin dirinya cukup berani untuk menjalani hidup sesuai dengan apa yang baru saja ia dengar.

Namun, ketika seorang lelaki mengeluarkan biola dari kotaknya, Darma mengangkat kepala.

Lelaki itu bernama Sagara, seorang pemusik yang sehari-hari bekerja sebagai wartawan lepas. Ia telah membawa biola itu sejak siang, tetapi baru sekarang berani mengeluarkannya. Ia berdiri di tengah ruangan, mengusap kayu instrumen tersebut dengan saputangan, lalu memandang ketua sidang. Setelah mendapat anggukan, ia meletakkan biola di bawah dagu.

Nada pertama meluncur pelan.

Suara itu tidak megah. Tidak pula terdengar seperti musik yang biasa dimainkan di gedung-gedung besar milik orang Eropa. Ada sesuatu yang getir di dalamnya, seolah-olah nada-nada itu membawa perjalanan panjang melewati pelabuhan, kebun tebu, stasiun, dan rumah-rumah kecil yang lampunya dipadamkan lebih awal karena minyak tanah mahal.

Darma teringat ibunya lagi. Ia membayangkan perempuan itu sedang melipat kain dagangan di bawah lampu, tidak mengetahui bahwa di sebuah kota yang jauh, anaknya sedang mendengarkan musik yang membuat banyak orang merasa memiliki sesuatu yang sama.

Ketika lagu berakhir, beberapa orang masih diam. Sagara menurunkan biolanya. Di luar, suara pedagang malam terdengar samar, menawarkan makanan kepada orang-orang yang belum pulang.

Darma melangkah ke jendela. Jalanan tampak lengang, tetapi kota itu tidak benar-benar tidur. Di kejauhan, sebuah kereta melintas, membawa penumpang yang mungkin tidak pernah mendengar tentang kongres, tidak mengenal nama para pemuda di dalam gedung, dan tidak tahu bahwa malam itu mereka sedang berusaha menyusun masa depan dengan kata-kata.

Ratih berdiri di sampingnya.

“Besok kau pulang?” tanyanya.

“Mungkin.”

“Dan setelah itu?”

Darma mengeluarkan surat dari saku, membuka lipatannya, lalu menatap tulisan ayahnya yang mulai kabur. Ia ingin mengatakan bahwa ia akan tinggal, bergabung dengan gerakan, dan mengabdikan hidupnya bagi sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Ia ingin menjanjikan bahwa ia tidak akan gentar jika suatu hari harus berhadapan dengan kekuasaan yang selama ini mengatur hidup mereka.

Namun, kata-kata itu terasa terlalu besar untuk seseorang yang bahkan belum berani membalas surat keluarganya.

“Aku belum tahu,” jawabnya.

Ratih tidak mendesak. Ia hanya mengangguk, seolah-olah jawaban itu pun layak mendapat tempat.

Pagi harinya, Darma berjalan menuju stasiun dengan sebuah tas kain di bahu. Kota mulai ramai. Penjual bubur membuka tutup pancinya, tukang becak mengayuh melewati genangan, dan seorang anak berlari mengejar layang-layang yang tersangkut di kabel. Di dekat pintu stasiun, dua orang kuli mengangkat peti kayu sambil berdebat dalam bahasa yang tidak dipahami Darma.

Ia berhenti sejenak.

Dulu, ia mungkin hanya akan melewati mereka. Sekarang, ia mendengarkan. Bukan karena ia tiba-tiba mengerti seluruh bahasa di dunia, melainkan karena ia mulai menyadari bahwa setiap suara membawa kehidupan yang tidak dapat diringkas menjadi nama daerah atau asal-usul.

Kereta belum datang. Darma duduk di bangku panjang, mengeluarkan kertas kosong, dan mulai menulis surat untuk ayahnya. Ia menulis tentang kongres, tentang orang-orang yang datang dari jauh, tentang perdebatan yang tidak selalu selesai, dan tentang lagu yang dimainkan seorang pemuda dengan biola tua. Ia tidak menulis janji besar. Ia hanya mengatakan bahwa ia ingin tinggal sedikit lebih lama di kota itu, mencari pekerjaan sambil membantu sebuah perkumpulan pendidikan.

Di ujung surat, ia berhenti cukup lama sebelum menulis satu kalimat: Ayah, mungkin ada hal-hal yang tidak bisa diwariskan, tetapi harus dipelajari bersama.

Ia membaca kalimat itu sekali lagi, lalu melipat surat tersebut.

Peluit kereta terdengar dari kejauhan. Darma memasukkan surat ke dalam tas, tetapi tidak segera berdiri. Di seberang peron, seorang anak perempuan menggenggam tangan ibunya. Anak itu berbicara dalam bahasa yang asing bagi Darma, sementara ibunya menjawab dengan bahasa yang berbeda. Mereka tertawa karena sesuatu yang tidak ia pahami.

Darma memperhatikan mereka sampai kereta berhenti.

Di antara kepulan asap dan suara langkah orang-orang, ia tiba-tiba mengerti bahwa sebuah negeri tidak selalu lahir dari tanah yang ditemukan atau garis yang ditarik pada peta. Barangkali ia lahir setiap kali seseorang bersedia mendengarkan orang lain, bahkan ketika ia belum memahami kata-katanya.

Ia berdiri, mengangkat tas, lalu melangkah menuju pintu gerbong. Surat untuk ayahnya masih tersimpan di dalamnya. Ia belum tahu apakah akan mengirimkannya hari itu atau menunggu sampai keberaniannya tumbuh sedikit lebih besar.

Kereta bergerak perlahan, meninggalkan stasiun dan kota yang baru saja memberinya sebuah pertanyaan.

Di luar jendela, rumah-rumah bergeser menjadi garis-garis pendek. Darma menempelkan telapak tangannya pada kaca yang dingin. Di kejauhan, matahari muncul di balik awan, menerangi atap-atap seng dan jalanan yang belum kering.

Ia tidak tahu seperti apa negeri yang sedang mereka bayangkan. Ia hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya, ketika memikirkan kata pulang, ia tidak lagi melihat satu rumah saja. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment