- Di Antara Asap dan Nama yang Hilang
- Kota yang Menitipkan Doa
- Zakat Saham di Tengah Perang Bursa
- Kedermawanan Elon Musk dan Ketimpangan yang Tetap Bertahan
- Muhammadiyah Perluas Akses Beasiswa
- UI Perpanjang Beasiswa via Hibah Rp70 M
- 170 Keluarga Cirebon Terima Air Bersih
- Rumah Zakat Bentuk Destana Huta Godang
- Rumah Syaamil Gandeng DT Peduli Bantu NTT
- Muslimat NU Perkuat Layanan Bantuan Hukum
Kota yang Menitipkan Doa
Oleh: Barokah Meilany Putri

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Ilustrasi AI
Hujan turun di Paris seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan tangis.
Di sepanjang Boulevard Saint-Germain, air menggenang di sela-sela batu trotoar, memantulkan lampu toko roti dan jendela kafe yang berembun. Bau kopi bercampur dengan aroma wol basah dari mantel orang-orang yang bergegas. Di depan sebuah gedung pemerintahan, ribuan orang berkumpul membawa bendera Palestina, poster-poster tulisan tangan, dan foto anak-anak yang wajahnya telah menjadi terlalu tua untuk usia mereka.
Mara Delcourt berdiri di antara mereka, menggenggam selembar kertas yang ujungnya mulai lunak terkena hujan.
Baca Lainnya :
- Yang Tertinggal di Lereng0
- Debu Reruntuhan Zura0
- Api yang Membakar Pagi0
- Rumah yang Hilang Dari Peta0
- Nus & Ron0
Jangan biarkan laut menjadi kuburan.
Kalimat itu ditulis adiknya, Sami, sebelum berangkat menjadi relawan medis bersama sebuah kapal bantuan yang hendak membawa obat-obatan ke pesisir selatan Laut Tengah. Sejak tiga hari lalu, kabar tentang kapal itu berhenti. Telepon Sami tidak aktif. Pesan-pesan Mara hanya berakhir dengan dua tanda centang kelabu yang tak pernah berubah menjadi biru.
Di balik mantelnya, ia menyimpan sebuah foto kecil: dirinya dan Sami di tepi Sungai Seine, bertahun-tahun silam, ketika mereka masih percaya bahwa semua pintu yang terkunci hanya membutuhkan kunci yang tepat.
“Kalau kau terus menatap telepon, ia tidak akan tiba lebih cepat.”
Mara menoleh. Seorang perempuan tua berkerudung merah berdiri di sampingnya. Namanya Samira Haddad, pemilik toko bunga kecil di Rue Mouffetard. Mara mengenalnya sejak masih kanak-kanak; perempuan itu kerap memberi mereka bunga yang hampir layu untuk dibawa pulang.
“Aku tidak sedang menunggu telepon,” jawab Mara.
Samira memandang layar yang menyala di tangan Mara.
“Lalu?”
Mara melipat kertasnya. “Aku sedang menunggu dunia mengakui bahwa ada sesuatu yang salah.”
Perempuan tua itu tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sepasang sarung tangan dari tas belanjanya dan menyerahkannya kepada Mara.
Di depan mereka, massa mulai bergerak. Suara pengeras bergetar di udara. Seseorang meneriakkan nama Gaza, disusul ribuan suara yang menjawab seperti ombak menghantam dinding pelabuhan. Di kejauhan, barisan polisi berdiri dengan tameng transparan, wajah mereka pucat di balik helm.
Mara mengangkat poster. Tangannya gemetar, bukan karena dingin.
Sejak Sami memutuskan berangkat, mereka bertengkar hampir setiap malam. Sami menyebut keberangkatannya sebagai kewajiban moral. Mara menyebutnya kesombongan yang mengenakan seragam kemanusiaan.
“Orang-orang di sana tidak membutuhkan kita untuk merasa menjadi manusia baik,” katanya waktu itu.
Sami memasukkan perban dan obat-obatan ke dalam tas. “Mereka membutuhkan obat.”
“Dan kalau kau tidak kembali?”
Sami berhenti sejenak. Di luar jendela, sebuah ambulans melintas, sirenenya merobek malam.
“Kalau semua orang tinggal karena takut kehilangan seseorang,” katanya, “siapa yang akan pergi?”
Mara membenci kalimat itu karena ia tidak menemukan jawaban yang cukup kuat untuk membantahnya.
Kini, di tengah demonstrasi, kalimat tersebut kembali dengan ketajaman yang sama.
Menjelang sore, barisan massa mencapai sebuah persimpangan. Jalanan dipenuhi payung hitam dan bendera yang berkibar tertiup angin. Seorang mahasiswa membagikan selebaran dalam bahasa Prancis dan Arab. Seorang lelaki tua memainkan rebana kecil. Di dekat halte, dua anak perempuan duduk di atas bahu ayah mereka, mengibarkan bendera yang ukurannya hampir sebesar tubuh mereka sendiri.
Lalu terdengar bunyi seperti petasan.
Orang-orang menoleh. Di ujung jalan, beberapa demonstran berlari. Gas air mata menyebar, mula-mula seperti kabut tipis, kemudian menjadi dinding putih yang menggigit mata dan tenggorokan. Seseorang terbatuk. Seorang perempuan jatuh. Barisan manusia yang semula bergerak teratur pecah menjadi arus yang saling mendesak.
Mara terseret beberapa langkah sebelum berhasil mencengkeram tiang rambu. Matanya perih. Di antara jeritan dan bunyi sepatu yang menghantam aspal, ia melihat seorang anak laki-laki terpisah dari ibunya. Usianya mungkin delapan tahun. Ia berdiri kaku, memeluk sebuah boneka kelinci yang salah satu telinganya koyak.
Mara berlari ke arahnya.
“Namamu siapa?”
Anak itu tidak menjawab. Air matanya mengalir, bercampur dengan hujan.
“Lihat aku,” kata Mara, berjongkok. “Kita cari ibumu bersama-sama.”
Sebuah botol plastik melayang dari belakang, menghantam tameng polisi. Suara benturan itu disusul teriakan. Seorang pemuda bertudung hitam berlari ke arah barisan aparat, mengangkat tongkat yang entah dari mana ia dapatkan.
“Jangan!” teriak Mara.
Pemuda itu tidak mendengar, atau memilih untuk tidak mendengar. Sebuah tameng terangkat. Barisan polisi bergerak maju.
Mara menarik anak itu ke balik halte. Ia merasakan tangan kecilnya mencengkeram lengan mantel begitu kuat hingga kuku-kukunya menembus kain.
Di seberang jalan, Samira membantu seorang perempuan yang terjatuh. Darah mengalir dari pelipis perempuan itu, tipis seperti garis merah pada kertas putih. Mara ingin menghampiri mereka, tetapi anak di sampingnya mulai menggigil.
Ia teringat Sami. Terbayang tangan adiknya yang selalu hangat, caranya mengikat tali sepatu sebelum berlari, kebiasaannya menyelipkan permen mint di saku kemeja. Ia teringat betapa mudahnya mereka menganggap keberanian sebagai gerakan menuju sesuatu, seolah-olah diam selalu berarti menyerah.
“Jangan tinggalkan aku,” bisik anak itu.
Mara menelan sesuatu yang terasa seperti batu.
“Aku di sini.”
Untuk pertama kalinya sore itu, ia tidak memikirkan kapal, perbatasan, pemerintah, atau pidato yang disiarkan televisi. Ia hanya memikirkan satu tangan kecil yang tak boleh terlepas dari tangannya.
Ketika keadaan sedikit mereda, mereka membawa anak itu ke sebuah kafe yang pintunya dibiarkan terbuka bagi para demonstran yang membutuhkan air dan pertolongan. Pemiliknya, seorang lelaki berperut buncit bernama Étienne, membagikan gelas-gelas air sambil terus menggerutu tentang meja yang patah dan kaca jendela yang retak.
“Setiap kali ada demonstrasi, aku kehilangan satu atau dua kursi,” katanya.
Mara menatapnya, tak yakin apakah ia sedang bercanda.
Étienne mengangkat bahu. “Aku juga kehilangan kesabaran. Tetapi kalau pintu ini kututup, ke mana mereka harus pergi?”
Anak itu akhirnya menyebut namanya: Noé. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah kawasan apartemen di pinggiran kota. Mereka datang untuk demonstrasi karena ibunya ingin menunjukkan bahwa penderitaan orang-orang di Gaza tidak boleh menjadi berita yang berlalu di antara ramalan cuaca dan iklan mobil.
“Aku ingin membawa gambar buatanku,” kata Noé. Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan selembar kertas yang kusut. Di sana ada gambar rumah dengan atap merah, pohon zaitun, dan sebuah matahari kuning yang terlalu besar.
“Ini rumah siapa?” tanya Mara.
“Rumah yang belum pernah kulihat.”
Mara memandangi gambar itu. Ada sesuatu yang menyakitkan dalam jawaban tersebut: seorang anak menggambar rumah bagi orang-orang yang tidak pernah ia kenal, sementara ia sendiri baru saja kehilangan jalan pulang di tengah kota yang dikenalnya sejak lahir.
Samira datang beberapa menit kemudian, mengusap wajah dengan saputangan. Ia berhasil menemukan ibu Noé melalui petugas medis di dekat persimpangan. Ketika perempuan itu tiba, ia memeluk anaknya tanpa berkata apa-apa. Bahunya berguncang. Noé menyembunyikan wajah di dadanya.
Mara memalingkan muka.
Di layar televisi yang tergantung di sudut kafe, seorang pembawa berita berbicara tentang kapal bantuan kemanusiaan yang belum memperoleh kepastian akses menuju wilayah konflik. Gambar kapal muncul sesaat: lambung putih, bendera kecil yang berkibar, garis laut yang tampak tenang dari udara.
Mara berdiri begitu cepat hingga kursinya berderit.
“Apakah mereka sudah tahu sesuatu?” tanyanya kepada Étienne.
Lelaki itu menggeleng.
Ia mengambil telepon, membuka pesan terakhir dari Sami, lalu membacanya sekali lagi.
Kalau nanti aku pulang, jangan marah karena aku pergi.
Mara menutup mata. Ia ingin membalas pesan itu, meskipun tahu tak ada balasan yang akan sampai. Ia ingin mengatakan bahwa ia masih marah. Bahwa ia tidak pernah menyetujui keberangkatan itu. Bahwa keberanian Sami telah meletakkan beban yang tak pernah ia minta di pundaknya.
Namun, di seberang ruangan, Noé sedang menunjukkan gambar rumahnya kepada ibunya. Dengan telunjuk mungil, ia menunjuk pohon zaitun yang digambarnya, lalu matahari kuning yang memenuhi langit kertas.
Mara duduk kembali.
Mungkin, pikirnya, keberanian bukanlah keadaan ketika seseorang tidak takut kehilangan. Mungkin keberanian adalah kesediaan untuk tetap merawat sesuatu, bahkan ketika kita tahu tak semua yang kita rawat dapat diselamatkan.
Malam turun di Paris. Demonstrasi telah bubar, menyisakan selebaran basah, pita pengaman, dan bekas langkah di trotoar. Di stasiun, orang-orang berdesakan menunggu kereta terakhir. Aroma roti panggang dari kios kecil bercampur dengan bau logam rel yang lembap.
Mara berjalan bersama Samira menuju halte. Perempuan tua itu membawa sekuntum anyelir putih yang batangnya patah. Ia menemukannya terinjak di jalan.
“Untuk siapa bunga itu?” tanya Mara.
Samira merapikan kelopak yang kusut. “Belum tahu.”
Mereka berhenti di bawah papan pengumuman. Di sana, seseorang menempelkan poster berisi nama-nama relawan yang belum diketahui keberadaannya. Kertasnya mulai mengelupas di sudut, digerus udara malam dan hujan yang tak kunjung selesai.
Mara mencari nama Sami.
Ia tidak menemukannya.
Ada kelegaan yang datang begitu kecil hingga nyaris tak terasa, tetapi rasa takut segera menelannya kembali. Ia tahu ketiadaan nama bukan berarti kabar baik. Itu hanya berarti belum ada yang dapat dipastikan.
Sebelum berpisah, Samira menyelipkan anyelir putih ke tangan Mara.
“Bawalah,” katanya.
“Untuk Sami?”
“Untuk siapa pun yang masih menunggu.”
Mara menggenggam bunga itu. Kelopaknya dingin, batangnya kasar. Ia memasukkannya ke dalam saku mantel, berdampingan dengan kertas bertuliskan kalimat adiknya.
Di kejauhan, sirene kembali terdengar. Paris melanjutkan malamnya: lampu-lampu menyala, pintu-pintu dikunci, kereta bergerak membawa orang-orang pulang. Kota itu tidak berubah hanya karena ribuan orang turun ke jalan. Besok pagi, toko roti akan kembali membuka pintunya. Kafe akan menyusun kursi-kursi baru. Surat kabar akan mengganti halaman depannya.
Tetapi Mara tahu, sesuatu dalam dirinya telah bergeser.
Ia tidak lagi menunggu dunia mengakui bahwa ada sesuatu yang salah. Ia hanya belum tahu apa yang harus dilakukan setelah pengakuan itu.
Di peron, ia mengeluarkan telepon dan mengetik pesan untuk Sami.
Aku masih marah. Aku juga masih menunggumu.
Ia berhenti, lalu menambahkan satu kalimat lagi.
Kalau kau pulang, kita akan bertengkar lagi.
Pesan itu terkirim. Tidak ada tanda bahwa seseorang telah membacanya.
Kereta datang dengan suara panjang seperti napas yang dilepaskan dari dada raksasa. Mara naik, berdiri di dekat pintu, dan memandang pantulan wajahnya pada kaca. Di luar, lampu-lampu kota berlari mundur, satu demi satu, seperti bintang yang kehilangan tempatnya di langit.
Ia menyentuh saku tempat bunga dan kertas itu disimpan.
Untuk pertama kalinya sejak kabar tentang kapal terputus, Mara tidak meminta agar Sami segera pulang. Ia hanya berharap laut masih menyisakan jalan bagi siapa pun yang sedang berusaha menyeberanginya dan bahwa, di suatu tempat yang tak dapat dijangkau suara demonstrasi, ada seseorang yang masih memegang tali kehidupan dengan kedua tangannya. (*)












.png)
.png)