- Nus & Ron
- Mengubah Kekeringan Menjadi Gerakan Kebaikan
- Menag Godok Badan Pemberdayaan Dana Umat
- Mentan Amran Berbagi Beasiswa Palestina
- Beasiswa KJMU Tahap II 2026 Dibuka
- Wakaf RS Mata DD Juara FESyar 2026
- RZ Buka Pos Segar di Lokasi Karhutla
- Menlu Tegaskan Dukungan RI untuk Palestina
- Spider Man: Mencegah Budaya Mati di Museum
- Menjadikan Sepak Bola Mesin Ekonomi Umat
Nus & Ron
Oleh: Bang Zaki

Saat tirai senja jatuh perlahan di atas kota yang tak pernah benar-benar tidur, Nus berdiri di tepi jendela gedung perpustakaan tua.
Di tangannya sebuah buku telah
terbuka sejak setengah jam yang lalu, tetapi tak satu pun halaman benar-benar
dibacanya.
Di luar, hujan menggantung
seperti kelambu.
Di dalam, kenangan mengetuk-ngetuk
pintu masa lalu.
Baca Lainnya :
- Yang Karam di Ujung September0
- Air Mata Himalaya 0
- Hujan di Qusra0
- Di Bawah Langit Sudan0
- Lentera Pos Ronda0
Dan dari semua nama yang pernah
singgah dalam hidupnya, ada satu nama yang selalu kembali seperti gema dari
lorong panjang: Ron.
Nus mengenalnya ketika mereka
masih muda.
Mereka bertemu di sebuah kampus
yang dibangun di atas bukit, tempat para mahasiswa dan mahasiswi berbicara
tentang keadilan dengan mata menyala dan dompet yang hampir selalu kosong.
Di sanalah mereka menjadi
sahabat.
Mereka duduk dalam lingkaran yang
sama, menyusuri gang-gang sempit selepas diskusi malam, berdebat tentang
negara, rakyat, agama, demokrasi, dan masa depan.
Mereka adalah anak-anak muda dari
sebuah pergerakan bernama Perhimpunan Mahasiswa Cahaya Bangsa.
Mereka belum memiliki jabatan.
Belum memiliki mobil.
Belum memiliki pengawal.
Yang mereka miliki hanyalah
buku-buku lusuh, kopi murah, dan keyakinan bahwa dunia dapat dibuat sedikit
lebih adil.
Ron adalah api.
Nus adalah cahaya.
Anehnya, mereka saling
membutuhkan.
Dalam mitologi yang kemudian
dibaca Nus bertahun-tahun setelah persahabatan itu tumbuh. Nus atau Nusku
adalah dewa cahaya dan api, penjaga manusia ketika malam dipenuhi
bayang-bayang.
Sementara Ron atau Ronove, dalam
kitab-kitab tua yang lebih menyeramkan, adalah bangsawan agung dari kerajaan
kegelapan, pemanen jiwa manusia yang telah tua.
Nus sering tertawa ketika
mengingatnya.
"Lucu sekali," katanya
suatu malam kepada Ron. "Namamu kelak menjadi pemanen jiwa, sedangkan
namaku menjadi penjaga cahaya."
Ron tersenyum.
"Kalau begitu, kau harus
menjagaku agar aku tidak tersesat."
Nus menatapnya lama.
"Dan kau harus
mengingatkanku bahwa cahaya pun dapat membakar."
Mereka tertawa.
Mereka belum tahu bahwa kalimat
itu kelak akan terasa seperti doa yang terlambat.
Tahun-tahun berlalu.
Kampus menjadi kenangan.
Jakarta menjadi labirin.
Pergerakan mahasiswa berubah
menjadi pengalaman hidup.
Sebagian kawan memilih jalan
akademik.
Sebagian masuk birokrasi.
Sebagian menjadi wartawan.
Sebagian menjadi pengusaha.
Dan sebagian lagi masuk ke dalam
dunia kekuasaan, tempat kata "pengabdian" sering berjalan
berdampingan dengan kata "kepentingan".
Nus memilih jalan ilmu.
Ia meneruskan langkahnya ke
sebuah universitas tua di kota pelabuhan, memasuki program doktor administrasi
publik.
Ia percaya bahwa negara yang baik
bukanlah yang memiliki gedung paling tinggi, melainkan negeri yang mampu
membuat manusia kecil tidur tanpa ketakutan.
Ron memilih jalan yang berbeda.
Ia masuk ke jantung kekuasaan.
Mula-mula sebagai aktivis.
Kemudian sebagai anggota
parlemen.
Lalu sebagai pejabat tinggi.
Dan akhirnya, ia dipercaya
memimpin sebuah kementerian yang mengurusi petak-petak bumi, ruang, rumah, dan
batas-batas kepemilikan manusia.
Mereka tetap bersahabat.
Tetapi persahabatan mereka tak
lagi seperti dahulu.
Ada jarak yang perlahan tumbuh.
Bukan jarak kilometer.
Melainkan jarak yang tercipta
ketika seseorang mulai memiliki terlalu banyak pintu yang harus dijaga.
Nus pernah berkata kepada dirinya
sendiri:
"Barangkali kekuasaan tidak
mengubah manusia. Barangkali kekuasaan hanya memperlihatkan manusia yang selama
ini tersembunyi."
Ia mengenal Ron cukup lama untuk
mengetahui bahwa sahabatnya adalah manusia yang cerdas.
Licin dalam percakapan.
Cepat membaca keadaan.
Dan tahu bagaimana menyelamatkan
dirinya dari badai yang datang.
Karena itu, ketika nama Ron mulai
berulang kali muncul dalam berbagai pusaran perkara, Nus tidak segera percaya.
Ia hanya diam.
Sebab seorang sahabat tidak boleh
menjadi hakim hanya karena pernah duduk di bangku yang sama.
Perkara pertama datang seperti
angin.
Nama Ron disebut oleh seorang
politikus muda dalam sebuah perkara pembagian amplop menjelang pemilihan umum.
Politikus itu mengatakan bahwa
pernah ada permintaan untuk menyiapkan ratusan ribu amplop.
Nama Ron terseret ke dalam cerita
itu.
Ron membantah.
Lembaga pemberantas korupsi
berkata akan menelaah.
Waktu berjalan.
Tak ada pemeriksaan.
Tak ada babak baru.
Nama itu perlahan tenggelam.
Kemudian muncul perkara kedua.
Kali ini tentang pembagian kuota
perjalanan ibadah.
Di ruang persidangan, seorang
saksi berbicara tentang sejumlah besar uang asing yang disebut-sebut mengalir
melalui seorang perantara kepada seseorang yang dikenal dekat dengan Ron.
Nama Ron kembali muncul.
Lembaga pemberantas korupsi
mengatakan fakta persidangan akan dipelajari.
Nus membaca berita itu pada
sebuah malam.
Ia menutup layar.
Memandang hujan.
Dan bertanya kepada dirinya
sendiri:
"Berapa kali sebuah nama
dapat disebut sebelum manusia mulai kehilangan kepercayaan kepada bayangannya
sendiri?"
Belum sempat pertanyaan itu
menemukan jawaban, datang perkara ketiga.
Seorang kepala daerah dari
wilayah utara tersangkut perkara pelepasan kawasan hutan dan program ranah reforma.
Nama Ron kembali disebut.
Kali ini tidak lebih dari kabut.
Tidak ada bukti yang cukup untuk
menariknya ke dalam pusaran.
Namun kabut tetaplah kabut.
Ia tidak membunuh.
Tetapi ia membuat manusia sulit
melihat jalan.
Kemudian datang perkara yang
lebih dekat.
Sebuah izin pemanfaatan tanah.
Sejumlah perusahaan.
Pejabat-pejabat tinggi.
Uang yang jumlahnya membuat
manusia biasa sulit membayangkan bagaimana seseorang dapat tidur setelah
menghitungnya.
Dan sekali lagi, nama Ron berdiri
di ambang pintu perkara.
Nus teringat masa muda mereka.
Ia teringat ketika Ron pernah
bercerita tentang betapa buruknya hubungan antara sebagian pegawai pajak,
pengusaha, dan politisi.
Saat itu Nus masih muda.
Ia hampir memilih bekerja di
lembaga perpajakan.
Tetapi cerita Ron membuatnya
berpikir ulang.
Ia akhirnya memilih jalan
perbendaharaan.
Bukan karena merasa dirinya lebih
suci.
Melainkan karena ia takut
kehilangan dirinya sendiri.
"Jangan pernah memilih
tempat hanya karena area itu dekat dengan uang," kata Ron dahulu.
Nus masih mengingat kalimat itu.
Betapa ironisnya manusia.
Kadang-kadang nasihat yang paling
baik justru keluar dari mulut orang yang suatu hari harus diuji oleh petuahnya
sendiri.
***
Pada suatu malam, Nus menemui Ron.
Mereka duduk di sebuah restoran
kecil yang dahulu sering mereka datangi ketika masih mahasiswa.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada kamera.
Tidak ada mikrofon.
Hanya dua orang tua yang pernah
menjadi dua anak muda.
Ron memandangi gelasnya.
"Apakah kau percaya
kepadaku?" tanyanya.
Nus tidak langsung menjawab.
"Aku percaya kepada kenangan
kita," katanya kemudian.
Ron tersenyum pahit.
"Itu bukan jawaban."
"Karena pertanyaanmu juga
bukan pertanyaan yang sederhana."
Mereka terdiam.
Di luar, lampu kendaraan bergerak
seperti kunang-kunang.
"Aku tidak melakukan semua
yang mereka katakan," ujar Ron.
"Aku tahu."
"Kau percaya?"
"Aku percaya bahwa kebenaran
tidak boleh ditentukan oleh persahabatan."
Ron menatap Nus.
Untuk pertama kalinya malam itu,
wajahnya tidak lagi menyerupai seorang pejabat.
Ia tampak seperti mahasiswa yang
dahulu duduk di lantai kampus, meminjam uang untuk membeli nasi.
"Kalau ternyata orang-orang
di sekelilingku melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku?"
Nus menghela napas.
"Maka kau harus bertanya
mengapa mereka merasa dapat melakukannya."
Ron terdiam.
"Dan kalau mereka
menggunakan namaku?"
"Lebih berat lagi."
"Kenapa?"
"Karena kalau seseorang
menggunakan namamu untuk melakukan kejahatan, berarti namamu telah menjadi
pintu yang terlalu mudah dibuka."
Kata-kata itu jatuh di antara
mereka.
Pelan.
Tetapi tajam.
Beberapa minggu kemudian,
penyidik mulai membongkar apa yang disebut media sebagai "jaringan
bayangan".
Orang-orang yang bukan pegawai
kementerian ternyata memiliki akses ke ruangan-ruangan penting.
Mereka mengenal pejabat.
Mereka mengenal pengusaha.
Mereka mengenal nomor telepon
yang tidak dimiliki masyarakat biasa.
Mereka datang dan pergi seperti
angin.
Tidak terlihat.
Tetapi terasa.
Sejumlah pejabat ditetapkan
sebagai tersangka.
Sebagian disebut sebagai orang
dekat Ron.
Publik bertanya:
Apakah Ron tahu?
Apakah ia memerintahkan?
Apakah ia menerima?
Ataukah orang-orang itu hanya
meminjam bayangan seorang pejabat untuk melindungi kepentingan mereka sendiri?
Tak ada yang boleh menjawab
sebelum bukti berbicara.
Sebab tuduhan adalah suara.
Sedangkan kebenaran membutuhkan
bukti.
Nus memahami itu.
Tetapi ia juga memahami sesuatu
yang lain.
Seorang pemimpin tidak hanya
bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.
Ia juga bertanggung jawab atas
sistem yang ia bangun.
Sistem yang sehat seharusnya
mampu mendengar bisikan korupsi sebelum ia berubah menjadi jeritan.
Sistem yang baik seharusnya mampu
melihat lengan yang mengambil sebelum tangan itu menjadi kepalan.
Sistem yang kuat tidak menunggu
lembaga lain datang mengetuk pintunya.
Ia membuka pintu lebih dahulu.
Suatu pagi, Nus membaca sebuah
laporan panjang.
Tak ada pemeriksaan terhadap Ron.
Belum ada.
Penyidik mengatakan mereka masih
menunggu kebutuhan penyidikan.
Nus meletakkan laporan itu.
Ia membuka buku catatannya.
Di halaman pertama ia menulis:
"Tempus delicti."
Waktu terjadinya peristiwa.
Sebab waktu sering kali adalah
saksi yang tidak dapat disuap.
Jika sebuah kebusukan terjadi
sebelum seorang pemimpin datang, jangan salahkan pemimpin baru atas bau yang
ditinggalkan pendahulunya.
Tetapi jika kebusukan tumbuh
ketika seorang pemimpin telah berada di dalam rumah itu, maka ia harus
bertanya:
Mengapa aku tidak mencium baunya?
Mengapa pintunya tidak kututup?
Mengapa penjagaanku gagal?
Pertanyaan itu bukan vonis.
Ia adalah cermin.
Dan tidak semua orang sanggup
memandang wajahnya sendiri di dalam cermin.
Ron akhirnya bertanya kepada Nus:
"Menurutmu, apakah aku harus
mundur?"
Nus menatap sahabatnya.
"Jika kau bertanya sebagai
sahabat, aku akan mengatakan: selamatkan dirimu."
"Bagaimana?"
"Dengan kebenaran."
"Kalau aku tidak
bersalah?"
"Hadapi pemeriksaan."
"Kalau aku benar?"
"Kebenaran tak takut
diperiksa."
Ron menunduk.
"Dan kalau aku tidak tahu
apa yang dilakukan orang-orangku?"
Nus menjawab perlahan:
"Belajarlah menjadi pemimpin
yang lebih tahu."
"Bagaimana jika aku
gagal?"
Nus tersenyum sedih.
"Semua pemimpin pernah
gagal. Yang membedakan mereka adalah apa yang mereka lakukan setelah mengetahui
kegagalannya."
Ron diam.
Untuk beberapa saat, mereka tidak
berbicara.
Dua sahabat tua itu hanya
mendengar detak jam.
Tik.
Tik.
Tik.
Seolah waktu sendiri sedang
mengingatkan mereka bahwa kekuasaan tidak pernah abadi.
***
Malam itu Nus pulang seorang
diri.
Ia berjalan di bawah lampu temaram.
Ia tiba-tiba teringat mitologi
yang pernah mereka tertawakan ketika masih muda.
Nus adalah cahaya.
Ron adalah pemanen jiwa.
Dahulu, itu hanya permainan nama.
Tetapi malam ini, ia menemukan
makna lain.
Barangkali manusia tak takut pada
kematian.
Yang paling digentarinya adalah
ketika ia masih hidup tetapi telah kehilangan cahaya di dalam dirinya.
Kekuasaan dapat memberi seseorang
ribuan ruangan.
Tetapi tidak satu pun kamar-kamar
itu dapat menyelamatkan hati bagi yang kehilangan kejujuran.
Jabatan dapat memberikan
pengawal.
Tetapi tak ada pengawal yang
mampu menjaga manusia dari suara hati nuraninya sendiri.
Uang dapat membeli rumah.
Tetapi tidak dapat membayar
kembali satu malam yang telah rusak oleh penyesalan.
Dan nama besar dapat membuat
seseorang dikenang.
Tetapi sejarah memiliki cara
sendiri untuk bertanya:
"Untuk apa engkau
dikenang?"
Bertahun-tahun kemudian, ketika
rambut Nus telah memutih dan Ron mulai jarang muncul di hadapan publik,
keduanya kembali bertemu.
Tak ada podium.
Tak ada bendera.
Tak ada tepuk tangan.
Mereka duduk di sebuah taman tua.
Ron membawa dua cangkir kopi.
Nus mendekap sebuah buku.
"Masih menulis?" tanya
Ron.
"Masih."
"Untuk siapa?"
Nus memandang anak-anak yang
berlarian di taman.
"Untuk mereka yang belum
lahir."
Ron tertawa kecil.
"Apa yang kau tulis?"
Nus menutup bukunya.
"Tentang kita."
"Untuk apa?"
"Agar mereka tahu bahwa
persahabatan bukan berarti membenarkan kesalahan teman."
Ron terdiam.
Nus melanjutkan:
"Persahabatan adalah
keberanian untuk mengatakan kebenaran ketika semua orang memilih diam."
Angin bergerak perlahan.
Daun-daun jatuh satu per satu.
Ron menatap sahabatnya.
"Apakah kau masih percaya
kepadaku?"
Nus menggenggam cangkirnya.
"Aku percaya bahwa setiap
manusia masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik."
"Termasuk aku?"
"Terutama engkau."
Ron tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya setelah
sekian lama, senyum itu bukan milik seorang pejabat.
Ia adalah senyum seorang anak
muda yang dahulu pernah percaya bahwa dunia dapat diperbaiki.
***
Matahari mulai tenggelam.
Bayangan dua lelaki tua memanjang
di atas tanah.
Nus bangkit.
Ron ikut berdiri.
Mereka berjalan perlahan
meninggalkan taman.
Tak ada yang tahu siapa di antara
mereka yang akan pergi lebih dahulu.
Sebab manusia selalu berjalan
menuju pintu yang sama.
Hanya garis waktu yang berbeda.
Nus berhenti di gerbang.
Ia menoleh.
"Ron."
"Ya?"
"Kalau suatu hari namamu
benar-benar menjadi sejarah, aku berharap bukan karena berapa banyak kekuasaan
yang pernah kau miliki."
Ron menunggu.
"Melainkan karena berapa
banyak manusia yang menjadi lebih baik setelah mengenalmu."
Ron menundukkan kepala.
Matanya berkaca-kaca.
"Dan jika aku gagal?"
Nus menjawab:
"Setidaknya jangan gagal
untuk meminta maaf."
Kemudian mereka berpisah.
Tidak dengan pelukan.
Tidak dengan kata-kata besar.
Hanya dengan tatapan panjang dua
sahabat yang tahu bahwa kehidupan lebih singkat daripada yang pernah mereka
kira.
Pada malam itu, Nus kembali
membuka buku catatannya.
Ia menulis satu kalimat terakhir:
"Manusia tidak kehilangan
nyawanya ketika jantungnya berhenti berdetak; manusia kehilangan ruhnya ketika
ia tidak lagi berani mengatakan bahwa dirinya salah."
Ia menutup buku.
Lampu kamar padam.
Tetapi satu cahaya kecil masih
menyala di meja.
Dan barangkali itulah seluruh
makna persahabatan Nus dan Ron:
bahwa seorang sahabat bukanlah
orang yang selalu berdiri di samping kita ketika dunia bertepuk tangan.
Seorang sahabat adalah orang yang
tetap berdiri di hadapan kita ketika dunia menuntut pertanggungjawaban.
Ia tidak membawa kita menjauh
dari kebenaran.
Ia membawa kita menuju kebenaran,
meskipun jalan itu penuh duri.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan
selesai.
Kekuasaan akan berpulang.
Gedung-gedung akan berganti nama.
Foto-foto akan menguning.
Berita-berita akan dilupakan.
Dan nama manusia akan perlahan
turun dari dinding sejarah.
Yang tersisa hanyalah satu
pertanyaan yang sangat sederhana:
Ketika cahaya terakhir dalam
hidupmu hampir padam, apakah engkau masih memiliki keberanian untuk melihat
wajahmu sendiri?
Jika jawabannya ya, mungkin masih
ada jalan pulang.
Jika jawabannya tidak, maka bahkan seribu nyawa pun tidak akan cukup untuk menyelamatkanmu dari dirimu sendiri. (*)












.png)
.png)