- Keadilan Sosial, Ketika Revolusi Prancis Menampar Dunia
- Yang Tertinggal di Lereng
- Debu Reruntuhan Zura
- Memutus Lingkaran Setan Konglomerasi Kekayaan dan Jerat Kemiskinan
- UIN Jambi Sediakan Beasiswa Internasional
- Ini Dia Aplikasi Satu Beasiswa Berbasis AI
- Ada Beasiswa Agrinas untuk Pemuda Papua
- BI Luncurkan 3 Program Unggulan ISEF
- Zakat Terhambat Fatwa Belum Jadi PMA
- Ada Beasiswa Sandiaga untuk Wirausaha
Yang Tertinggal di Lereng
Oleh: Yaritsha Nafhanindri
.png)
Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI
Pagi itu, kabut turun begitu rendah hingga rumah-rumah di Dusun Wanasetra tampak seperti benda-benda yang lupa cara berdiri. Dari dapur, aroma kopi tubruk bercampur dengan bau kayu basah. Di halaman, sandal-sandal berjajar menghadap pintu, sementara seekor ayam mengais tanah di bawah jemuran yang belum kering sejak kemarin.
Arga sedang memperbaiki tali sandalnya ketika telepon genggamnya bergetar di atas meja.
Pesan itu pendek. Hanya tiga kalimat, dikirim oleh seseorang yang nomornya tidak tersimpan dalam daftar kontak.
Baca Lainnya :
- Debu Reruntuhan Zura0
- Api yang Membakar Pagi0
- Rumah yang Hilang Dari Peta0
- Nus & Ron0
- Yang Karam di Ujung September0
Pak Darma dibawa turun. Kondisinya belum diketahui. Segera ke balai dusun.
Arga membaca pesan itu dua kali. Pada bacaan kedua, kata belum diketahui terasa seperti sebuah pintu yang sengaja dibiarkan terbuka, supaya siapa pun bisa membayangkan apa yang paling ditakutinya.
Di luar, ibunya sedang menampi beras. Gerak tangannya terhenti ketika Arga menyebut nama bapaknya.
“Ke mana?” tanya perempuan itu.
“Balai dusun.”
Ibunya menaruh tampah di lantai. Beberapa butir beras terlempar ke sela-sela papan.
“Kalau ketemu bapakmu, suruh dia pulang.”
Arga mengangguk, meskipun ia tahu ibunya tidak sedang memberinya pesan untuk disampaikan. Perempuan itu hanya membutuhkan seseorang yang bisa disuruh pulang, sebab selama bertahun-tahun tak pernah ada yang berhasil menyuruh Darma berhenti pergi.
Di Wanasetra, orang-orang seperti Darma disebut wong gunung. Mereka mengenal perubahan angin dari gerak pucuk cemara, mengetahui kapan embun akan bertahan sampai siang, dan bisa membedakan bunyi ranting patah oleh musang dengan ranting patah oleh kaki manusia. Mereka bukan penjaga resmi kawasan, bukan pula orang-orang yang namanya tercetak pada papan informasi wisata. Mereka sekadar penduduk yang tinggal cukup lama untuk mengerti bahwa bukit dapat menyimpan bahaya di balik pemandangan yang dijual kepada orang kota.
Darma menjadi sukarelawan pemadam kebakaran hutan sejak kebakaran besar pertama menghanguskan sebagian lereng sebelas tahun silam. Sejak itu, setiap musim kemarau, ia menyimpan karung basah, sekop, dan jeriken di belakang rumah. Kadang-kadang ia pulang hanya untuk mengganti baju, meneguk teh, lalu berangkat lagi sebelum nasi di piringnya habis dingin.
Arga membenci kebiasaan itu dengan cara yang tak pernah benar-benar ia akui.
Baginya, pengabdian bapaknya menyerupai sumur tanpa dasar. Orang-orang terus menimba darinya, sementara rumah mereka sendiri kerap kekurangan air.
Di balai dusun, beberapa lelaki duduk di bangku panjang. Wajah mereka disaput debu, mata mereka merah, dan pakaian mereka berbau asap. Di sudut ruangan, seorang perempuan menangis tanpa suara sambil meremas ujung kerudungnya. Di luar, sepeda motor berdatangan, meninggalkan bercak lumpur di halaman.
Arga mencari bapaknya di antara orang-orang yang baru turun dari gunung. Ia menemukan sepatu bot Darma di dekat pintu, sepasang sepatu hitam dengan sol yang menganga di bagian tumit. Di sampingnya ada sarung tangan kulit yang gosong pada ujung-ujung jari.
“Bapak di mana?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Seorang lelaki berjaket lapangan menghampirinya. Namanya Seno, kepala regu sukarelawan yang sudah lama mengenal Darma. Ia memegang helm dengan kedua tangan, seolah benda itu lebih berat daripada kelihatannya.
“Api merambat cepat,” katanya. “Angin berubah arah. Kami terpisah waktu mencoba menahan jalurnya.”
“Terus bapak saya?”
Seno menunduk. Arga memperhatikan setitik abu yang menempel di kerah jaket lelaki itu.
“Masih dicari.”
Kalimat itu mengisi ruangan lebih penuh daripada teriakan. Orang-orang kembali menunduk. Seseorang mematikan televisi yang sejak tadi menayangkan berita tentang kemacetan di jalan raya.
Di luar, matahari muncul dengan warna pucat. Tidak ada yang tampak ganjil dari langit, seakan-akan malam sebelumnya bukit tidak sedang terbakar, seakan-akan asap yang membubung telah dihapus oleh tangan tak terlihat.
Arga mengambil sepatu bot bapaknya dan duduk di tangga. Pada bagian dalam salah satu sepatu, ada selembar daun kering yang terselip. Ia mengeluarkannya perlahan. Daun itu rapuh, urat-uratnya menghitam, tetapi bentuknya masih utuh.
Ia teringat masa kecilnya, ketika Darma mengajaknya berjalan menyusuri jalan setapak di belakang dusun. Bapaknya pernah menunjuk sebatang pohon yang tumbuh miring di tepi jurang.
“Pohon itu bertahan bukan karena batangnya keras,” kata Darma waktu itu. “Akarnya tahu ke mana harus berpegang.”
Arga, yang saat itu berusia sembilan tahun, bertanya apakah pohon bisa merasa takut.
“Kalau bisa, mungkin ia tetap tumbuh meski takut.”
Bertahun-tahun kemudian, Arga meninggalkan Wanasetra untuk bekerja di kota kabupaten. Ia menjadi teknisi di sebuah bengkel pendingin, menyewa kamar sempit di belakang pasar, dan pulang hanya pada hari raya atau ketika ibunya mengeluh sakit pinggang. Setiap kali Darma menelepon, percakapan mereka hampir selalu berakhir dengan pertanyaan yang sama.
“Kapan pulang?”
“Nanti, Pak.”
Kata nanti adalah tempat persembunyian yang nyaman. Di dalamnya, Arga bisa menunda segala hal tanpa harus mengaku sedang menghindar.
Tiga hari sebelum kebakaran, Darma meneleponnya lagi. Arga sedang membongkar kompresor sebuah lemari pendingin ketika layar telepon menyala. Ia membiarkannya bergetar sampai berhenti. Malamnya, ia melihat pesan suara dari bapaknya, berdurasi dua puluh tiga detik.
Ia belum mendengarkannya.
Sekarang, sambil memandangi sepatu bot yang menghitam, ia membuka pesan itu.
Suara Darma terdengar berdesis, diselingi bunyi angin dan gesekan benda.
“Ga, kalau sempat pulanglah. Ibumu menanyakanmu. Pohon jambu di belakang rumah itu akhirnya berbuah lagi. Buahnya kecil-kecil, tapi manis. Nanti kalau,”
Rekaman berhenti.
Arga menekan tombol putar sekali lagi. Kalimat yang sama muncul, pohon jambu yang sama, jeda yang sama. Ia menunggu kelanjutannya, seakan-akan pada pemutaran berikutnya bapaknya akan menyelesaikan kalimat itu.
Namun telepon hanya mengembalikan desis angin.
Menjelang sore, kabar datang melalui pengeras suara masjid. Empat orang telah ditemukan meninggal dunia di lereng, termasuk beberapa anggota regu yang sejak pagi berusaha memutus jalur api. Dua orang lainnya mengalami luka bakar dan dibawa ke rumah sakit. Nama-nama korban belum seluruhnya diumumkan. Polisi meminta keterangan dari orang-orang yang selamat, sementara petugas lain masih menyisir kawasan yang tertutup asap.
Nama Darma belum disebut.
Arga pulang dengan langkah yang terasa lebih panjang daripada biasanya. Di sepanjang jalan, warga duduk di teras masing-masing. Seorang lelaki tua mematikan mesin pompa air ketika melihatnya lewat. Dua anak kecil yang biasanya berlarian di dekat warung berdiri diam di balik tiang listrik.
Di rumah, ibunya sedang memasak nasi. Api tungku mengecil, menyisakan bara merah di antara kayu-kayu yang menghitam.
“Sudah ketemu?” tanyanya.
Arga menggeleng.
Ibunya tidak bertanya lagi. Ia mengambil panci, menuangkan air ke dalamnya, lalu menggosok dasar panci dengan sabut kelapa. Gerakannya teratur, tetapi terlalu lama untuk sebuah pekerjaan sederhana.
Malam itu, mereka makan tanpa menyalakan televisi. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan melintas menuju kawasan wisata, meskipun akses pendakian telah ditutup sementara. Di atas meja, piring Darma tetap terbalik di atas rak. Ibunya tidak pernah menyisihkan piring itu untuk tamu, tetapi juga tidak pernah mengembalikannya ke tumpukan piring lain.
Setelah makan, Arga keluar ke halaman.
Pohon jambu yang disebut bapaknya dalam pesan suara berdiri di dekat sumur. Beberapa buah menggantung rendah, berwarna hijau pucat dengan bercak kecokelatan. Arga memetik satu, membelahnya menggunakan kuku, lalu menggigit bagian yang terbuka. Rasanya masam. Ia mengunyah perlahan, mencoba menemukan manis yang dijanjikan bapaknya, tetapi lidahnya hanya menangkap rasa getir di dekat biji.
Di balik rumah, gunung itu tampak seperti punggung raksasa yang tidur dengan luka terbuka. Asap masih bergerak di antara pepohonan. Sesekali, angin membawa aroma hangus sampai ke halaman, membuat Arga teringat rambut bapaknya yang selalu berbau matahari dan tembakau.
Ia akhirnya membuka percakapan mereka yang lama. Di antara pesan-pesan pendek tentang kabar ibu, harga pupuk, dan atap kandang yang bocor, ada satu pesan yang dikirim Arga enam bulan sebelumnya.
Pak, jangan terus-terusan naik kalau keadaan berbahaya. Bapak juga punya keluarga.
Darma hanya menjawab dengan gambar seekor burung kecil bertengger di ranting.
Arga dulu menganggap jawaban itu sebagai cara bapaknya menghindari pembicaraan. Kini ia bertanya-tanya apakah Darma memang tidak punya kata-kata yang cukup untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan belum selesai dipahaminya sendiri.
Pagi berikutnya, Arga kembali ke balai dusun. Beberapa petugas memasang garis pembatas di dekat kendaraan operasional. Di meja depan, seorang anggota kepolisian mencatat keterangan saksi. Pertanyaan-pertanyaan dilontarkan dengan suara datar: pukul berapa rombongan berangkat, dari jalur mana mereka mendekat, siapa yang memberi aba-aba, dan kapan angin mulai berubah.
Arga mendengarkan dari kejauhan.
Ia tahu pertanyaan-pertanyaan itu penting. Orang yang meninggal tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi, dan mereka yang pulang harus membantu menyusun kembali kejadian dari potongan ingatan yang tersisa. Namun, ketika seorang wartawan bertanya apakah para sukarelawan telah mengikuti prosedur keselamatan, Arga merasakan sesuatu bergerak di dadanya.
Bukan kemarahan yang utuh. Lebih menyerupai rasa malu karena ia sendiri pernah berharap bapaknya berhenti menjadi orang yang selalu bersedia dipanggil.
“Bapak saya memang sukarelawan,” katanya ketika wartawan itu mendekat. “Tapi saya tidak tahu apakah semua orang yang pergi ke sana punya perlengkapan yang cukup. Saya juga tidak tahu siapa yang memutuskan mereka harus masuk.”
Wartawan itu mengangkat alat perekam.
“Jadi, menurut Anda, ada kelalaian?”
Arga memandangi sepatu bot bapaknya yang dibawanya dalam kantong plastik. Solnya terlepas di satu sisi. Lumpur mengering di sela-sela tapak.
“Saya tidak tahu,” katanya. “Saya hanya tahu mereka pergi untuk memadamkan api.”
Ia menolak menjawab pertanyaan berikutnya.
Beberapa hari kemudian, kabar tentang empat orang yang meninggal itu mulai tenggelam di antara berita lain. Wajah-wajah mereka sempat muncul di layar televisi warung, disertai ucapan belasungkawa dan janji penyelidikan. Di media sosial, orang-orang membagikan foto padang rumput yang terbakar, menuliskan doa, lalu kembali mengunggah makanan, perjalanan, dan potongan kehidupan mereka sendiri.
Arga tidak menyalahkan siapa pun. Ia juga tidak tahu harus menyalahkan siapa.
Ia kembali bekerja di kota selama beberapa hari, tetapi setiap kali mesin pendingin mengeluarkan bunyi mendesis, ia teringat suara angin dalam pesan terakhir bapaknya. Pada malam hari, ia membuka percakapan itu lagi. Rekaman berdurasi dua puluh tiga detik tersebut kini menjadi satu-satunya tempat ia bisa mendengar Darma tanpa harus membayangkan wajahnya.
Pada akhir pekan, ia pulang ke Wanasetra. Ibunya sedang menjemur pakaian ketika Arga mengambil cangkul dari gudang.
“Mau ke mana?” tanya perempuan itu.
“Ke belakang.”
Ia membersihkan rumput di sekitar pohon jambu, mengumpulkan ranting-ranting kering, lalu menggali tanah di dekat akar. Pekerjaan itu membuat telapak tangannya lecet. Ia berhenti beberapa kali untuk mengusap keringat, meskipun udara pagi cukup dingin.
Di antara akar yang mencuat, ia menemukan potongan tali rafia yang sudah rapuh dan sebuah paku berkarat. Ia tidak tahu apakah benda-benda itu milik bapaknya. Ia memasukkannya ke dalam saku, lalu melanjutkan pekerjaan sampai tanah di sekeliling batang tampak lebih lapang.
Ketika selesai, matahari telah naik melewati atap rumah.
Arga duduk bersandar pada batang pohon. Dari tempat itu, ia bisa melihat jalan yang menanjak menuju lereng. Di sana, beberapa petugas masih bekerja, mengamati tanah dan sisa-sisa vegetasi yang menghitam. Sesekali, kepulan asap tipis muncul dari balik punggung bukit, begitu kecil hingga mudah disangka kabut.
Ia teringat perkataan Darma tentang akar yang tahu ke mana harus berpegang. Selama ini ia mengira bapaknya sedang mengajarinya cara bertahan. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia mempertimbangkan kemungkinan lain: mungkin Darma sendiri sedang mencari tempat untuk berpijak, dan gunung adalah satu-satunya tempat yang membuatnya merasa dibutuhkan.
Pikiran itu tidak membuat kehilangan menjadi lebih ringan.
Dari dapur, ibunya memanggil agar ia masuk. Air untuk kopi telah mendidih. Arga berdiri, menepuk tanah dari celananya, lalu memandang pohon jambu sekali lagi. Pada salah satu cabang, seekor burung kecil hinggap sebentar sebelum terbang ke arah lereng.
Ia tidak tahu apakah besok akan kembali ke kota, apakah penyelidikan akan menemukan jawaban, atau apakah suatu hari ia akan sanggup mendengar pesan suara bapaknya tanpa menunggu kalimat yang terputus itu selesai.
Di dalam rumah, telepon genggamnya bergetar.
Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan pesan singkat. Hanya satu kalimat: Ada sesuatu yang perlu Anda ketahui tentang hari itu.
Arga membaca pesan tersebut sambil berdiri di ambang pintu. Dari dapur, aroma kopi merayap ke ruang tengah. Di luar, angin menggoyangkan daun-daun jambu, menjatuhkan satu buah kecil ke tanah.
Ia belum membalas pesan itu ketika ibunya meletakkan dua cangkir di meja.
“Siapa?” tanyanya.
Arga mengunci layar telepon.
“Belum tahu, Bu.”
Ia duduk, meraih cangkir yang masih mengepulkan uap, dan membiarkan ponselnya tergeletak di antara mereka. Di luar, gunung berdiri dalam cahaya pagi, diam seperti seseorang yang menyimpan kesaksian tetapi belum memutuskan kepada siapa ia akan bercerita.
Dan untuk pertama kalinya, Arga tidak buru-buru meminta siapa pun pulang. (*)












.png)
.png)