- Di Antara Asap dan Nama yang Hilang
- Kota yang Menitipkan Doa
- Zakat Saham di Tengah Perang Bursa
- Kedermawanan Elon Musk dan Ketimpangan yang Tetap Bertahan
- Muhammadiyah Perluas Akses Beasiswa
- UI Perpanjang Beasiswa via Hibah Rp70 M
- 170 Keluarga Cirebon Terima Air Bersih
- Rumah Zakat Bentuk Destana Huta Godang
- Rumah Syaamil Gandeng DT Peduli Bantu NTT
- Muslimat NU Perkuat Layanan Bantuan Hukum
Di Antara Asap dan Nama yang Hilang
Oleh: Najwa Nur Fajriah

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI
Hujan turun di Paris sejak pagi, tipis seperti benang-benang kelabu yang dijahitkan langit pada atap-atap seng. Di sepanjang Boulevard Voltaire, air menggenang di sela batu jalan, memantulkan wajah-wajah yang berkerumun di balik mantel basah. Bau kopi dari kedai-kedai kecil bercampur dengan aroma rokok, wol lembap, dan sesuatu yang lebih tajam: gas air mata yang belum ditembakkan, tetapi sudah terasa dalam kecemasan orang-orang.
Luc Moreau berdiri di depan sebuah toko roti yang telah menurunkan separuh pintu besinya. Di tangan kirinya tergenggam kamera, sedangkan tangan kanannya meremas kartu pers yang menggantung di leher. Ia telah meliput demonstrasi selama sebelas tahun. Ia mengenali bunyi sepatu bot yang bergerak serentak, suara botol kaca pecah, dan jeda ganjil yang muncul sesaat sebelum kerumunan berubah menjadi amuk.
Namun, pagi itu, ada sesuatu yang tidak dapat ia kenali.
Baca Lainnya :
- Kota yang Menitipkan Doa0
- Yang Tertinggal di Lereng0
- Debu Reruntuhan Zura0
- Api yang Membakar Pagi0
- Rumah yang Hilang Dari Peta0
Di hadapannya, ribuan orang berbaris menentang kebijakan pemerintah yang memangkas tunjangan pekerja dan menaikkan usia pensiun. Para buruh mengibarkan bendera serikat. Mahasiswa mengangkat poster buatan tangan. Seorang perempuan tua membagikan potongan baguette dari keranjang belanja, sementara seorang pemuda dengan syal merah meneriakkan semboyan yang tenggelam oleh deru sirene.
Di antara mereka, lima wartawan dari media independen Le Phare telah berkumpul sejak pukul delapan. Mereka datang untuk meliput demonstrasi yang diperkirakan menjadi aksi terbesar dalam satu dekade terakhir.
Luc mengenal mereka semua.
Émile, fotografer yang selalu membawa dua kamera dan tak pernah mau memotret tanpa mengetahui nama orang yang diabadikannya. Jeanne, reporter muda yang gemar mencatat percakapan di belakang halaman buku. Samir, juru kamera keturunan Aljazair yang memiliki kebiasaan bersenandung saat gugup. Claire, editor lapangan yang selalu mengenakan sarung tangan hijau. Dan Thomas, wartawan senior yang rambutnya memutih lebih cepat daripada usianya, tetapi masih berlari paling depan ketika sesuatu terjadi.
Mereka berlima berangkat menuju Place de la République menjelang tengah hari. Luc seharusnya ikut bersama mereka. Ia bahkan sudah memasukkan baterai cadangan ke dalam tasnya.
Namun, tepat sebelum berangkat, teleponnya berdering.
Nama ibunya muncul di layar.
“Kau sudah makan?” tanya perempuan itu tanpa salam.
Luc menatap sebungkus sandwich yang belum dibuka. “Nanti, Maman.”
“Jangan bilang nanti. Kau selalu bilang nanti.”
Di ujung telepon terdengar suara sendok beradu dengan cangkir. Ibunya tinggal sendirian di sebuah apartemen kecil di Lyon, sejak ayah Luc meninggal dua tahun sebelumnya. Sejak kematian itu, setiap percakapan mereka selalu berakhir dengan pertanyaan sederhana yang tak pernah berhasil dijawab Luc dengan jujur.
“Kau akan pulang akhir pekan ini?” tanya ibunya.
Luc memandang kelima rekannya yang mulai menjauh.
“Aku usahakan.”
Ia menutup telepon, lalu memilih mengikuti rombongan demonstran yang bergerak ke arah lain. Sebuah tugas kecil dari redaktur meminta wawancara dengan pedagang yang tokonya terdampak penutupan jalan. Pekerjaan itu semestinya selesai dalam dua puluh menit.
Dua puluh menit kemudian, kota berubah menjadi sesuatu yang lain.
Pukul dua siang, bentrokan pecah di persimpangan Rue du Faubourg. Mula-mula hanya dorong-mendorong. Kemudian, sebuah botol melayang ke arah barisan polisi antihuru-hara. Gas air mata menyembur, memaksa orang-orang berlari ke gang-gang sempit. Dari pengeras suara, polisi memperingatkan massa agar membubarkan diri.
Luc mengangkat kamera.
Di layar bidik, seorang pemuda jatuh berlutut. Darah mengalir dari pelipisnya, membasahi kerah jaket. Dua orang berusaha menariknya ke tempat aman, tetapi barisan polisi bergerak maju, memukul tameng dengan tongkat. Suara benturannya terdengar seperti pintu-pintu besi yang dibanting dari dalam.
Luc merekam semuanya.
Ia melihat seorang perempuan mengangkat kedua tangan, memperlihatkan telapak kosongnya kepada petugas. Ia melihat seorang lelaki tua terjepit pagar pembatas. Ia melihat seorang polisi muda yang helmnya bergeser, menyeka mata dengan lengan seragamnya sendiri.
Kemudian, di antara asap, ia melihat Jeanne.
Reporter itu berlari ke arahnya dengan napas tersengal. Rambutnya terlepas dari ikatan, dan kamera kecil tergantung miring di dadanya.
“Luc!”
“Ada apa?”
“Émile dan yang lain. Mereka dibawa ke arah bawah.”
“Ke bawah mana?”
Jeanne menunjuk ke sebuah lorong servis di samping stasiun metro. Dua petugas berseragam gelap terlihat mengawal beberapa orang ke balik pintu logam. Luc hanya sempat melihat punggung Thomas sebelum pintu itu tertutup.
“Mereka ditangkap?” tanyanya.
“Aku tidak tahu.” Jeanne mencengkeram lengan Luc. “Mereka memakai rompi pers. Aku melihatnya sendiri.”
Sebuah ledakan kecil terdengar di belakang mereka. Kerumunan kembali berlarian.
Luc menatap pintu logam itu. Naluri jurnalistiknya menyuruhnya mendekat. Naluri lain yang lebih tua, lebih purba menyuruhnya mencari perlindungan. Ia tahu apa yang dapat terjadi ketika seorang wartawan menghalangi petugas yang sedang bergerak dalam situasi kacau.
Ia juga tahu bagaimana sebuah kejadian menghilang ketika tidak ada yang merekamnya.
“Rekam pintunya,” katanya kepada Jeanne.
“Aku sudah.”
“Ambil gambar petugasnya. Nomor identitas mereka.”
Jeanne mengangkat kamera, tetapi tangannya gemetar. Sebelum ia sempat menekan tombol, seorang polisi mendorongnya menjauh. Luc bergerak maju, mengangkat kartu persnya tinggi-tinggi.
“Kami wartawan! Mereka rekan kami!”
Petugas itu tidak menjawab. Ia hanya mengarahkan tameng, memaksa Luc mundur hingga punggungnya membentur dinding.
Saat itulah kamera Luc jatuh.
Bunyi benda itu menghantam batu jalan terdengar kecil, nyaris tak berarti di tengah kekacauan. Namun, ketika ia memungutnya, layar kameranya retak dan lensa depannya pecah.
Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, Luc tidak memiliki gambar.
Menjelang petang, kabar tentang hilangnya lima wartawan mulai menyebar. Redaksi Le Phare menelepon rumah sakit, kantor polisi, dan pos pertolongan darurat. Tidak ada yang mengakui mengetahui keberadaan mereka.
Seorang juru bicara kepolisian menyatakan bahwa aparat telah mengamankan sejumlah orang yang diduga mengganggu ketertiban umum. Namun, ia tidak memberikan nama. Ketika ditanya tentang lima wartawan, ia menjawab bahwa semua penahanan dilakukan sesuai prosedur.
Kalimat itu kemudian muncul di berbagai portal berita, disalin tanpa perubahan. Di media sosial, orang-orang membagikan foto lima wartawan tersebut, disertai tanda pagar yang mendesak pembebasan mereka. Sebagian menuduh pemerintah membungkam pers. Sebagian lain mengatakan para wartawan sengaja menghilang untuk mencari sensasi.
Luc membaca komentar-komentar itu di layar teleponnya. Ibu jarinya berhenti pada sebuah unggahan yang menyebut Thomas sebagai penghasut kerusuhan.
Ia ingin membalas. Ia ingin menulis bahwa Thomas selalu berdiri paling dekat dengan orang yang terluka, bahwa lelaki itu pernah menghabiskan tiga malam di rumah sakit demi menjaga seorang buruh migran yang tidak memiliki keluarga. Namun, Luc menghapus kalimat yang baru setengah ditulisnya.
Ia sadar, kemarahan bukanlah bukti.
Di ruang redaksi, lampu-lampu menyala terang. Kursi-kursi kosong di sekeliling meja rapat membuat ruangan itu terasa lebih luas daripada biasanya. Pemimpin redaksi, Madeleine, berdiri di depan layar besar yang menampilkan peta penahanan. Titik-titik merah menandai tempat orang-orang terakhir kali terlihat.
“Polisi meminta kita tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” katanya.
“Lalu kita harus menunggu?” Luc bertanya.
“Kita harus memastikan apa yang kita ketahui.”
“Lima orang hilang, Madeleine.”
“Aku tahu.”
“Kalau mereka dibawa ke suatu tempat dan tidak tercatat, apa yang harus kita lakukan? Menunggu mereka muncul sendiri?”
Madeleine meletakkan pena. Wajahnya tampak letih, tetapi suaranya tetap tenang.
“Kalau kita menerbitkan tuduhan tanpa bukti, mereka bisa mengatakan seluruh laporan kita palsu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Luc menunduk. Di saku mantelnya, kartu persnya terlipat pada bagian sudut. Ia teringat wajah Jeanne ketika pintu logam tertutup. Seandainya ia mengikuti mereka sejak awal, mungkin ia juga berada di dalam sana. Mungkin ia dapat mengetahui ke mana mereka dibawa. Mungkin ia dapat mencegah sesuatu.
Pikiran-pikiran itu tumbuh seperti jamur di tempat gelap, saling menutupi, tanpa satu pun menghasilkan jawaban.
Pukul sembilan malam, Madeleine memanggilnya ke meja kerjanya.
“Ada seorang saksi,” katanya. “Seorang petugas kebersihan stasiun. Dia mengaku melihat lima orang dibawa ke terowongan servis yang sudah tidak digunakan. Dia tidak mau memberikan pernyataan terbuka.”
“Di mana dia?”
“Dia akan menghubungimu.”
Madeleine menyerahkan secarik kertas berisi nomor telepon.
“Luc, jangan datang sendirian.”
Luc mengangguk, tetapi ia tahu dirinya akan pergi sendirian.
Saksi itu menemuinya pukul sebelas malam di sebuah kafe kecil di dekat Canal Saint-Martin. Hujan telah berhenti. Di luar, lampu jalan memantul di permukaan kanal, pecah setiap kali angin menggerakkan air.
Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai Marcel. Ia mengenakan jaket kerja berwarna biru tua, dengan noda pemutih pada kedua lengan. Di hadapannya, secangkir teh dibiarkan dingin.
“Saya tidak melihat wajah mereka dengan jelas,” katanya. “Tapi saya melihat rompi pers. Lima orang. Mereka dibawa melewati pintu pemeliharaan di belakang stasiun.”
“Apakah mereka masih hidup ketika dibawa?”
Marcel mengangguk pelan.
“Salah seorang dari mereka terus berteriak bahwa mereka wartawan.”
“Apakah Anda melihat siapa yang membawa mereka?”
“Tidak. Saya takut.”
Luc tidak menghakiminya. Ia pernah menyaksikan orang-orang yang bersedia mempertaruhkan segalanya demi orang asing, tetapi ia juga pernah melihat ketakutan membuat seseorang tak mampu mengangkat sebelah tangan pun. Keberanian, pikirnya, barangkali bukan sifat yang menetap dalam diri seseorang. Ia datang dan pergi, seperti cahaya yang terselip di antara gedung-gedung.
Marcel merogoh saku jaketnya, mengeluarkan selembar kertas kusut.
“Saya menggambar jalannya.”
Garis-garis pada kertas itu menunjukkan sebuah lorong, tangga turun, dan ruangan persegi panjang di bawah tanah. Pada bagian tepinya terdapat tulisan yang nyaris terhapus.
Luc memotret gambar itu menggunakan telepon.
“Kenapa Anda mau memberi tahu saya?”
Marcel memandangi jendela. Di seberang jalan, seorang perempuan sedang menarik penutup toko. Bunyi rantainya bergesekan dengan logam terdengar sampai ke dalam kafe.
“Anak saya ikut demonstrasi hari ini,” katanya. “Dia berumur sembilan belas tahun. Saya tidak tahu di mana dia sekarang.”
Luc terdiam.
“Kalau saya diam,” lanjut Marcel, “mungkin suatu hari nanti seseorang akan melakukan hal yang sama kepada anak orang lain. Dan orang itu juga akan diam.”
Sebelum Luc sempat bertanya lebih jauh, lelaki itu bangkit. Ia meninggalkan uang di atas meja, lalu berjalan keluar tanpa menoleh.
Luc menyimpan kertas tersebut di saku bagian dalam mantelnya.
Di jalan, ia berhenti sejenak. Ia bisa membawa informasi itu ke redaksi, memverifikasinya, dan menunggu sampai pagi. Itu langkah yang benar. Namun, jika lima rekannya memang berada di bawah tanah, setiap menit terasa seperti pintu yang perlahan menutup.
Ia menelepon Madeleine.
“Aku punya petunjuk tentang lokasi mereka.”
“Jangan bergerak dulu. Aku akan menghubungi pengacara dan organisasi kebebasan pers.”
“Aku hanya ingin memastikan tempatnya.”
“Luc, dengarkan aku. Kita tidak tahu apa yang ada di sana.”
Luc menatap mulut lorong metro yang gelap di ujung jalan.
“Aku tahu,” jawabnya. “Itulah masalahnya.”
Ia mematikan telepon.
Terowongan itu berada di bawah sebuah bangunan utilitas tua di pinggir arondisemen kedua belas. Pagar besinya berkarat. Di dinding, poster-poster demonstrasi telah mengelupas, meninggalkan potongan wajah dan slogan yang tak lagi utuh.
Luc menemukan pintu yang digambarkan Marcel. Kuncinya menggantung pada rantai, tetapi gemboknya terbuka. Ia mendorong pintu itu perlahan.
Udara lembap menyambutnya. Bau besi, debu, dan air tergenang memenuhi lorong. Lampu darurat berwarna kuning menyala setiap beberapa meter, menerangi dinding beton yang dipenuhi retakan. Dari kejauhan terdengar suara tetesan air, teratur seperti jam yang tidak memiliki jarum.
Ia menyalakan lampu telepon.
Di anak tangga ketiga, ia menemukan sebuah kartu pers. Namanya tercetak pada permukaan yang kotor: Émile Laurent.
Luc memungutnya. Ada noda gelap di bagian belakang, mungkin lumpur, mungkin darah. Ia tidak tahu, dan ia tidak ingin menebak.
“Émile?” panggilnya.
Suaranya memantul, kembali kepadanya dalam bentuk yang lebih lemah.
Ia terus turun.
Di ujung lorong terdapat ruangan dengan pintu setengah terbuka. Di dalamnya ada lima kursi plastik, sebuah meja lipat, dan botol-botol air yang belum dibuka. Pada dinding, seseorang telah menulis sesuatu menggunakan spidol hitam.
Nous sommes encore là.
Kami masih di sini.
Luc menyentuh tulisan itu dengan ujung jarinya. Tinta telah mengering. Ia mencoba mendengar suara di balik dinding, tetapi yang terdengar hanya dengung listrik dan tetesan air.
Kemudian, dari lorong sebelah kanan, terdengar tiga ketukan.
Jeda.
Dua ketukan lagi.
Luc membeku.
“Thomas?”
Tak ada jawaban.
Ia bergerak menuju sumber suara. Lorong itu bercabang dua, satu berakhir pada pintu baja, satu lagi menurun menuju kegelapan. Di lantai dekat pintu baja, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti: sarung tangan hijau milik Claire.
Ia memungutnya. Kainnya basah dan dingin.
Teleponnya bergetar. Madeleine menelepon lagi.
“Di mana kau?” Suara perempuan itu terdengar nyaris pecah. “Polisi baru saja mengumumkan mereka tidak memiliki catatan penahanan atas nama lima wartawan itu.”
Luc memandangi pintu baja.
“Kalau begitu, mereka tidak pernah ada di sana,” katanya.
“Jangan membuat kesimpulan.”
“Aku tidak membuat kesimpulan.”
“Luc, keluar dari sana. Sekarang. Pengacara sedang menuju lokasi.”
Tiga ketukan kembali terdengar.
Kali ini lebih lemah.
Luc mengangkat telepon, mengaktifkan perekam suara, lalu mendekati pintu. Pada permukaannya terdapat goresan-goresan tipis, seperti bekas benda tajam yang berulang kali digesekkan dari sisi lain.
Ia menempelkan telinga.
Seseorang menarik napas.
Seseorang, di balik baja yang dingin, masih hidup.
Luc mengangkat tangan untuk mengetuk balik, tetapi gerakannya terhenti ketika cahaya senter menyapu dinding di belakangnya. Dari arah tangga terdengar langkah-langkah berat, lebih dari satu orang.
“Siapa di sana?” sebuah suara memanggil.
Luc menatap teleponnya. Rekaman berjalan. Di layar, angka-angka terus bertambah, mencatat detik demi detik yang tak mungkin ia ulang.
Ia dapat berlari menuju lorong gelap. Ia mungkin bisa lolos, membawa rekaman itu ke redaksi, dan menjadikannya bukti bahwa kelima wartawan tersebut tidak sekadar menghilang. Atau ia bisa tetap berdiri di depan pintu, mengetuknya, membiarkan siapa pun di baliknya tahu bahwa seseorang telah datang.
Di luar, Paris mungkin sedang bersiap menyambut pagi. Para pedagang akan membuka toko, kereta metro kembali mengangkut penumpang, dan orang-orang akan mengeluhkan harga kopi sambil membaca berita di telepon mereka. Kota akan melanjutkan hidupnya dengan kelancaran yang hampir kejam.
Luc menempelkan telapak tangannya pada pintu baja.
“Dengar,” bisiknya. “Ada orang di sini.”
Langkah-langkah itu semakin dekat.
Ia mengetuk tiga kali.
Jeda.
Dua kali lagi.
Dari balik pintu, terdengar balasan yang begitu pelan hingga nyaris tak dapat dibedakan dari tetesan air.
Luc menutup mata.
Untuk sesaat, ia tidak memikirkan berita utama, karier, ataupun namanya sendiri yang mungkin akan muncul di halaman depan esok hari. Ia hanya memikirkan lima orang yang berangkat bekerja pagi tadi, membawa kamera dan buku catatan, dengan keyakinan sederhana bahwa apa yang terjadi di hadapan mereka pantas diketahui orang lain.
Lampu senter berhenti tepat di punggungnya.
“Jangan bergerak!”
Luc tidak berbalik. Ia menekan tombol kirim pada teleponnya, mengirimkan rekaman yang belum selesai kepada Madeleine. Layar menampilkan tanda pemuatan yang berputar-putar, lambat, seolah-olah bahkan mesin pun sedang mempertimbangkan apakah kebenaran layak diselamatkan.
Kemudian, lampu telepon padam.
Dalam gelap, Luc mendengar pintu baja bergetar dari sisi lain.
Entah siapa yang mendorongnya.
Entah siapa yang menahannya.
Dan ketika suara langkah-langkah itu akhirnya berhenti, tidak seorang pun di lorong tersebut dapat memastikan apakah yang terdengar berikutnya adalah bunyi pintu yang terbuka, atau hanya angin yang melewati celah-celah beton, membawa pergi nama-nama yang belum sempat ditemukan.
Di atas sana, hujan kembali turun di Paris.
Kali ini, tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang sedang berusaha mengetuk dari dalam. (*)












.png)
.png)