- UU Wakaf, 5 Poin Penguat Ekonomi
- Amil Lazismu Dilatih Jurnalisme Filantropi
- Ini Beasiswa Rp130 Juta Mahasiswa Sudan
- YMC-IZI Banten Bentuk Unit Layanan Zakat
- JNE-IZI Berdayakan UMKM Palembang
- Lapak Berkah Dorong Sanusi Jadi Muzaki
- Hari Santri, PBNU Kampanye Save Palestina
- Mujahadah Palestina di Hari Santri
- MUI Sosialisasi Empat Fatwa Baru
- Baznas Renov 700 Madrasah
Amil Lazismu Dilatih Jurnalisme Filantropi

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Lazismu.org
Kecepatan publikasi bukan alasan bagi jurnalis untuk mengabaikan akurasi informasi. Setiap berita harus melalui proses verifikasi dengan menguji sumber dan memastikan objektivitasnya. Prinsip ini sejalan dengan pemikiran Bill Kovach dalam buku 9 Elemen Jurnalisme, yang menekankan pentingnya disiplin verifikasi dalam praktik jurnalistik.
Perkembangan teknologi informasi boleh mengubah cara media bekerja, tetapi prinsip dasar jurnalisme tetap harus dijaga. Di tengah derasnya arus informasi media sosial, jurnalis dituntut menyajikan berita yang akurat, berimbang (cover both sides), dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Guru Besar Sigit Hermawan menyoroti perubahan cepat dalam dinamika informasi serta pentingnya peran media lembaga. Menurut dia, media Lazismu tidak semestinya hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi, pelayanan, dan pertanggungjawaban publik.
Baca Lainnya :
- Muhammadiyah Perluas Akses Beasiswa0
- UI Perpanjang Beasiswa via Hibah Rp70 M0
- RSB Jabar Latih Pelajar Kesehatan Mental0
- Santri Karawang Berkarya via Komik0
- Baznas Bekasi Salur Beasiswa Rp1,028 M 0
Hal tersebut disampaikan Sigit dalam kegiatan Kopdar Media dan Workshop Jurnalistik Filantropi di Cafe Limasan, Sidodadi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, belum lama ini. Dikutip dari laman resmi Lazismu Jawa Timur, dia menilai pengelolaan media yang terstruktur dapat memperluas jangkauan dakwah sekaligus meningkatkan kepercayaan muzaki.
Sebanyak 45 peserta dari berbagai perwakilan Lazismu daerah di Jawa Timur mengikuti kegiatan yang digelar di kedai kopi bernuansa tradisional tersebut. Mereka membahas strategi penghimpunan dan pendayagunaan Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Keagamaan Lainnya (ZISKA) melalui pengelolaan media digital.
Sigit, yang juga menjabat sebagai Ketua Lazismu Jawa Timur, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan mempertemukan kembali para amil yang aktif mengelola media Lazismu di daerah. Melalui forum ini, kompetensi tim media diharapkan meningkat sehingga informasi mengenai program lembaga dapat tersampaikan secara efektif kepada masyarakat.
Dalam workshop tersebut, dia juga mengingatkan para amil agar senantiasa mematuhi etika publikasi filantropi Islam. Verifikasi informasi, perlindungan data pribadi sesuai peraturan yang berlaku, serta penghormatan terhadap martabat penerima manfaat menjadi prinsip penting yang harus diterapkan dalam pemberitaan.
“Prinsip tabayun (verifikasi), perlindungan data pribadi sesuai regulasi, dan larangan merendahkan martabat penerima manfaat adalah loyalitas reporter pada pedoman etika jurnalistik,” ujar dia.
Selain membahas etika jurnalistik, Sigit mendorong penguatan kepedulian publik terhadap berbagai krisis kemanusiaan dan lingkungan, termasuk kekeringan di Bojonegoro serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Dia menekankan pentingnya pemanfaatan platform digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan memudahkan masyarakat mengakses informasi.
Pada sesi berikutnya, Redaktur Pelaksana Tagar.co, Mohammad Nurfatoni, menyampaikan materi teknis penulisan berita. Dia memperkenalkan jurnalisme solusi sebagai pendekatan yang dapat diterapkan oleh media Lazismu untuk menyajikan informasi yang tidak hanya melaporkan persoalan, tetapi juga mengangkat upaya penyelesaiannya.
Nurfatoni menegaskan bahwa pemberitaan mengenai program perlu memuat unsur pemecahan masalah, bukti capaian yang nyata, serta kejujuran dalam mengungkap keterbatasan di lapangan. Dia juga mengingatkan agar judul berita disusun secara lugas dan berdasarkan fakta konkret, tanpa menggunakan narasi berlebihan.
Materi berikutnya disampaikan Founder Ruang Karya Media, Bayu Firdaus, yang membahas strategi penggalangan dana digital (digital fundraising). Dia menyoroti laporan kegiatan seremonial yang cenderung kaku dan kurang menggugah perhatian publik. Menurut dia, pengelola media sosial Lazismu perlu menghasilkan konten yang mengedepankan sisi kemanusiaan melalui narasi yang terstruktur.
“Sajikan laporan yang mengisahkan peristiwa dengan solusi kemanusiaan yang menyentuh sisi emosional audiens. Libatkan anak muda dalam pengelolaan, optimasi, hingga buka ruang diskusi karena merekalah yang menguasai medan digital saat ini,” tandas dia.
Melalui pelatihan tersebut, peserta juga memperoleh panduan untuk menyusun kalender konten mingguan, menyunting video pendek, serta merancang indikator keberhasilan media sosial. Pembekalan ini diharapkan dapat memperkuat jangkauan dakwah digital Muhammadiyah di berbagai wilayah Jawa Timur.
Dikutip dari laman Tagar.co, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida) turut berpartisipasi dalam Kopdar Media dan Workshop Jurnalistik Filantropi tersebut. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari forum yang mempertemukan tim media Lazismu dari berbagai daerah untuk membahas penguatan publikasi lembaga, strategi komunikasi, serta penerapan praktik jurnalistik yang akurat dan humanis.












.png)
.png)