Mujahadah Palestina di Hari Santri

By Revolusioner 23 Okt 2026, 04:14:13 WIB Z-Spirit
Mujahadah Palestina di Hari Santri

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Nu.or.id


Sejarah tidak pernah benar-benar berhenti pada satu titik. Ia terus bergerak, mengalir bersama waktu, dan menemukan bentuknya yang baru di setiap generasi. Begitulah yang tampak pada Gedung Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) di Jalan Bubutan VI/2, Surabaya. Gedung tua itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Di depan gedung yang kini menjadi Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya itu, berdiri monumen Resolusi Jihad. Sebuah pengingat bahwa pada Oktober 1945, dari tempat ini, para ulama merumuskan seruan suci untuk mempertahankan kemerdekaan. Darah para santri mengalir dalam perjuangan itu. Doa dan zikir mereka menyertai setiap langkah perlawanan.

Kini, delapan dekade kemudian, gedung yang sama kembali menjadi saksi. Bukan untuk perang melawan penjajah, tetapi untuk menyuarakan kepedulian terhadap saudara-saudara di Palestina. Pada Kamis malam, 22 Oktober 2026, Gedung HBNO menjadi tempat penyelenggaraan resepsi Hari Santri yang dipadukan dengan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina. Sebuah perpaduan yang tidak dibuat-buat, karena memang akar sejarahnya sama: perjuangan melawan kezaliman dan pembelaan terhadap kaum tertindas.

Baca Lainnya :

Ketua PCNU Kota Surabaya, H. Masduki Thoha, memastikan bahwa persiapan telah dilakukan sejak jauh hari. "Insyaallah, Gedung HBNO sudah siap digelar Resepsi Hari Santri dan Mujahadah untuk Palestina," tegasnya. Pemilihan lokasi bukan tanpa alasan. Nilai historis gedung tersebut menjadi alasan utama PBNU kembali memilih tempat itu sebagai lokasi rangkaian peringatan Hari Santri.

Namun, ada yang lebih dalam dari sekadar alasan historis. Ada kesinambungan makna antara Resolusi Jihad 1945 dan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina 2026. Keduanya adalah bentuk kepedulian terhadap nasib bangsa yang tertindas. Keduanya adalah wujud nyata dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin—Islam yang hadir untuk membebaskan, bukan untuk menindas.

Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, mengingatkan bahwa kepedulian Nahdlatul Ulama terhadap Palestina memiliki akar sejarah panjang. Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, telah menyuarakan dukungan terhadap rakyat Palestina bahkan sebelum Indonesia meraih kemerdekaan. Komitmen itu terus dipertahankan hingga hari ini, salah satunya melalui pembacaan Qunut Nazilah di Pesantren Tebuireng.

"Ini perjalanan dan hubungan yang sangat panjang antara Indonesia dengan Palestina," kata Gus Kikin. Sebuah pernyataan yang sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Bahwa solidaritas bukanlah sikap yang muncul tiba-tiba, melainkan buah dari kesadaran sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober bukanlah sekadar momentum seremonial. Ia adalah pengingat bahwa santri memiliki tanggung jawab sosial yang tidak bisa dilepaskan dari realitas bangsa dan dunia. Resolusi Jihad 1945 mengajarkan bahwa santri tidak boleh diam ketika kezaliman merajalela. Kini, ketika rakyat Palestina masih berjuang untuk kemerdekaannya, semangat itu kembali digaungkan melalui mujahadah.

PBNU memasukkan solidaritas kemanusiaan bagi rakyat Palestina sebagai salah satu agenda dalam rangkaian Hari Santri 2026. Seluruh tingkatan kepengurusan NU diinstruksikan menggelar Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina melalui beragam kegiatan keagamaan—majelis istighotsah, pembacaan shalawat, zikir berjamaah, serta berbagai majelis doa lainnya. Ini bukan sekadar ritual tanpa makna. Ini adalah bentuk perlawanan spiritual, sebuah cara untuk menunjukkan bahwa doa dan tindakan harus berjalan seiring.

Dalam tradisi NU, mujahadah bukanlah kata yang ringan. Ia mengandung makna kesungguhan, perjuangan, dan pengorbanan. Ketika kata itu disandingkan dengan "kemanusiaan untuk Palestina", maka yang dimaksud bukanlah sekadar doa tanpa tindakan. Mujahadah adalah ikhtiar lahir dan batin—mengangkat tangan untuk berdoa, sekaligus menghulurkan tangan untuk membantu.

Zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan melalui lembaga-lembaga kemanusiaan adalah bagian dari mujahadah itu. Sebab, doa orang yang berpuasa dan berzikir tidak akan pernah lepas dari tanggung jawab sosialnya. Islam mengajarkan bahwa iman yang benar adalah iman yang melahirkan kepedulian. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka."

Gedung HBNO yang berdiri kokoh di Bubutan menjadi simbol bahwa sejarah tidak pernah mati. Ia terus hidup dalam setiap generasi yang mau belajar dari masa lalu untuk menghadapi masa depan. Resolusi Jihad 1945 mengajarkan bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan. Mujahadah Palestina 2026 mengajarkan bahwa kemerdekaan bangsa lain juga harus didukung.

Maka, di malam itu, ketika suara istighotsah dan shalawat bergema di Gedung HBNO, ada getaran yang sama dengan getaran yang dirasakan para santri delapan dekade silam. Getaran itu bernama kepedulian. Getaran itu bernama keberanian untuk membela kebenaran. Getaran itu bernama iman.

Hari Santri bukan hanya milik santri. Ia milik semua yang percaya bahwa agama harus menjadi kekuatan pembebas, bukan sekadar ritual yang kosong. Dan di Gedung HBNO, di bawah monumen Resolusi Jihad, doa untuk Palestina dipanjatkan. Sebuah doa yang lahir dari kesadaran sejarah, yang diiringi dengan tindakan nyata. Karena pada akhirnya, mujahadah yang sejati adalah ketika hati, lisan, dan tangan bergerak bersama untuk membela kemanusiaan.

Penulis: Raeihan 

Editor: MAS 

Sumber: www.nu.or.id 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment