Abu yang Mengingat Nama
Oleh: Raeihan Ramadhan

By Revolusioner 25 Okt 2026, 04:06:29 WIB Cerpen
Abu yang Mengingat Nama

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI


Pagi itu, abu turun bersama embun.

Mula-mula hanya serbuk tipis di atas daun singkong, pagar bambu, dan jok sepeda motor yang diparkir di bawah pohon jambu. Menjelang pukul tujuh, ketika suara azan terakhir dari musala kecil di ujung kampung telah lama tenggelam oleh deru mesin penggiling padi, abu itu menebal. Ia melekat di jemuran, masuk ke gelas-gelas yang dibiarkan terbalik di rak, bahkan menyusup ke dalam nasi yang baru saja diangkat dari tungku.

Di beranda rumahnya, Laras mengusap permukaan meja dengan kain basah. Sekali usap, kain itu menjadi kelabu.

Baca Lainnya :

Ibunya keluar membawa dua cangkir kopi. Ia memandang halaman yang memutih, lalu menggeleng pelan.

“Kalau hujan turun, mungkin habis semua,” katanya.

Laras tidak menjawab. Di kejauhan, di balik kebun karet dan bukit yang biasanya hijau, langit menggantung merah kecokelatan. Matahari tampak seperti lampu yang ditutup kain tipis.

Sudah sebelas hari kebakaran melahap hutan di perbukitan Wana Lembayung. Api merambat dari lahan gambut yang mengering, menyusuri semak belukar, kemudian melompat ke petak-petak kebun warga. Pada siang hari, asap membuat jarak seratus meter terasa seperti ujung lorong. Pada malam hari, cahaya jingga di punggung bukit menyerupai kampung lain yang terbakar, kampung yang tak seorang pun tahu jalan pulangnya.

Ayah Laras pernah berkata bahwa hutan adalah tempat air menyimpan ingatan. Mata air di belakang dusun mereka tidak pernah kering, bahkan ketika kemarau membuat sumur-sumur tetangga tinggal menyisakan lumpur. Anak-anak mandi di sana sepulang sekolah. Perempuan mencuci pakaian sambil bertukar kabar. Lelaki-lelaki memasang bubu di aliran kecil yang berkelok di antara akar.

Kini air itu berbau asap.

Ayahnya sendiri sudah meninggal empat tahun lalu, ketika sebuah pohon tumbang menimpa tubuhnya di kebun. Sejak itu, Laras lebih sering tinggal di kota kabupaten, bekerja sebagai petugas administrasi sebuah klinik. Ia pulang hanya pada hari libur, membawa obat untuk ibunya dan beberapa bungkus roti yang dibeli di minimarket.

Adiknya, Jati, memilih tinggal.

“Kalau semua pergi ke kota, siapa yang menjaga kampung?” begitu jawabnya setiap kali Laras menyuruhnya mencari pekerjaan yang lebih aman.

Jati berumur dua puluh enam tahun. Ia bukan petugas pemadam kebakaran, bukan pula anggota lembaga penyelamat. Sehari-hari ia menyadap karet, membantu memperbaiki mesin perahu, dan sesekali mengangkut hasil kebun dengan sepeda motor tua. Namun ketika api pertama muncul di batas hutan, ia termasuk orang yang berangkat membawa pompa air, cangkul, dan karung goni.

Mula-mula hanya enam orang. Kemudian belasan. Mereka membentuk kelompok relawan yang oleh warga disebut Penjaga Bukit, meskipun tak seorang pun pernah meresmikan nama itu. Mereka bekerja bersama petugas pemadam, menyekat jalur api, membasahi tanah, dan mengevakuasi warga yang rumahnya terancam.

Jati selalu pulang menjelang subuh, dengan kaus berbau asap dan garis-garis hitam di pipi. Ia tidur dua atau tiga jam, lalu pergi lagi.

Pada hari kesembilan, Laras menemukannya duduk di dapur, mengiris bawang dengan mata setengah terpejam. Jari telunjuknya dibalut kain kasa.

“Berhenti dulu,” kata Laras.

Jati terus mengiris.

“Orang lain bisa menggantikanmu.”

“Bisa.”

“Lalu kenapa harus kamu?”

Pisau itu berhenti sesaat. Jati menatap bawang yang terbelah, seolah di dalamnya ada sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Karena aku tahu jalan ke mata air,” katanya.

Jawaban itu membuat Laras marah. Bukan karena tidak masuk akal, melainkan karena ia mengerti maksudnya. Jati hafal jalur-jalur kecil yang tidak tercantum di peta. Ia tahu tanah mana yang dapat dipijak dan mana yang menyimpan bara di bawah lapisan daun kering. Ia tahu pohon mana yang sudah keropos, sungai mana yang masih menyisakan air, dan rumah siapa yang harus diketuk lebih dahulu jika angin berubah arah.

Pengetahuan itu tumbuh dari puluhan tahun hidup di tempat yang sama. Dan justru karena itulah pengetahuan itu berbahaya: seseorang bisa mengira dirinya lebih kuat daripada bencana hanya karena ia mengenal setiap tikungan tanah kelahirannya.

“Bapak juga tahu jalan ke kebun,” ujar Laras. “Tetapi dia tetap tidak pulang.”

Jati meletakkan pisau.

Dari ruang depan terdengar batuk ibu mereka. Tak ada yang berbicara lagi. Di atas meja, bawang yang belum selesai diiris mulai mengeluarkan bau tajam, seperti sesuatu yang dipaksa membuka diri.

Menjelang sore, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan balai dusun. Dua lelaki turun membawa jeriken kosong. Seorang perempuan berkerudung hijau membagikan masker kain kepada warga yang berkumpul di bawah atap seng. Masker itu tipis, beberapa bahkan sudah berlubang di bagian jahitan.

Laras membantu membagikan air minum. Ia melihat tangan-tangan yang menerima botol itu: tangan seorang petani dengan kuku hitam, tangan anak sekolah yang masih menggenggam buku tulis, tangan seorang nenek yang gemetar ketika membuka tutup botol.

Di dinding balai dusun, seseorang menempelkan selembar kertas berisi nama-nama relawan dari kampung tetangga yang belum kembali. Tiga nama diberi lingkaran merah. Di bawahnya, dengan tulisan tangan yang tergesa-gesa, tertera kalimat: Mohon keluarga menunggu kabar dari posko.

Laras membaca kalimat itu dua kali.

“Sudah ada kabar tentang Jati?” tanyanya kepada seorang lelaki yang baru datang dari arah bukit.

Lelaki itu menggeleng. Ia mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya, memeriksa layar, kemudian memasukkannya kembali. Gerakan sederhana itu terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Malamnya, Laras duduk di dekat jendela. Ibunya telah tidur, meski sesekali batuknya terdengar menembus dinding kamar. Di luar, jangkrik tidak berbunyi. Barangkali mereka telah pindah ke tempat yang lebih aman, atau barangkali suara mereka kalah oleh gemuruh angin yang membawa asap dari bukit.

Telepon genggam Laras bergetar pukul sebelas lewat empat puluh menit.

Pesan itu berasal dari Ranu, teman Jati sesama relawan.

Las, kami sedang mencari Jati. Tadi dia bersama rombongan di jalur utara. Angin berubah mendadak. Kami terpisah.

Laras mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.

Bagaimana keadaannya?

Pesan itu terkirim. Dua centang muncul, tetapi tak segera berubah warna.

Ia membuka percakapan lama dengan adiknya. Ada foto ikan gabus yang mereka dapatkan dari sungai dua bulan sebelumnya. Ada pesan Jati yang menanyakan harga obat ibu. Ada foto sepasang sandal jepit yang putus, disertai keluhan bahwa Laras membeli barang terlalu murah.

Di antara semuanya, ada pesan suara berdurasi tujuh belas detik yang belum pernah didengarnya.

Laras menekan tombol putar.

Suara Jati terdengar berisik, diselingi bunyi angin dan gesekan sesuatu pada mikrofon.

“Las, kalau besok pulang, belikan baterai untuk senter Ibu. Yang kemarin sudah habis. Jangan lupa juga bawakan kopi yang biasa kau beli itu. Ibu bilang kopi kampung sekarang rasanya terlalu pahit.”

Lalu terdengar tawa pendek.

Rekaman berakhir.

Laras memutarnya sekali lagi, bukan karena ada sesuatu yang belum dipahaminya, melainkan karena suara manusia yang masih hidup terkadang terasa seperti tempat berlindung.

Pencarian dimulai sebelum matahari terbit.

Laras ikut bersama beberapa warga sampai ke batas kebun karet. Petugas meminta mereka tidak melewati garis pengaman. Tanah di sana menghitam, mengeluarkan asap dari celah-celah kecil. Di bawah lapisan abu, bara masih menyala seperti mata yang menolak terpejam.

Seorang petugas mengenakan helm dan masker pelindung mendatangi Laras. Ia menjelaskan bahwa pencarian dilakukan bertahap. Angin yang berubah-ubah membuat jalur menuju lereng utara belum aman.

“Kalau ada kabar, kami sampaikan,” katanya.

Laras mengangguk. Ia memperhatikan sepatu petugas itu yang dipenuhi lumpur kering, lalu pandangannya beralih ke sandal jepit yang dikenakannya sendiri.

Di dekat posko, ia melihat seorang lelaki tua duduk memegang termos. Namanya Pak Samin. Usianya hampir tujuh puluh, tetapi selama tiga hari terakhir ia ikut mengangkut air ke titik pemadaman. Sekarang ia hanya duduk, memandangi jalan yang menanjak.

“Bapak tidak ikut mencari?” tanya Laras.

Pak Samin mengangkat termosnya sedikit, seakan benda itu merupakan jawaban.

“Kaki saya sudah tidak kuat.”

Ia menuangkan kopi ke tutup termos, kemudian menatap bukit.

“Dulu saya yang mengajari anak-anak itu mencari jalan di hutan. Saya tahu tempat yang aman, tempat yang harus dihindari. Tetapi kemarin saya tidak ikut. Saya pikir mereka sudah cukup besar untuk tahu kapan harus pulang.”

Ia berhenti. Tutup termos itu kembali dipasangnya dengan hati-hati.

“Barangkali saya terlalu lama menganggap hutan ini masih seperti dulu.”

Laras tidak tahu harus menjawab apa. Di hadapannya, seorang lelaki tua sedang berbicara tentang kesalahan yang tak bisa diperbaiki hanya dengan penyesalan. Namun ia juga tahu, seandainya Pak Samin ikut ke bukit kemarin, mungkin hari ini akan ada satu nama lagi yang ditunggu keluarganya.

Menjelang siang, pengeras suara dari balai dusun mengumumkan bahwa warga diminta menghemat air bersih. Sebagian mata air telah tercemar abu, sementara sumur-sumur dangkal mulai menyusut. Di pasar, harga sayuran naik. Anak-anak sekolah diliburkan karena asap membuat mereka sulit bernapas. Di kota kabupaten, kendaraan melaju dengan lampu menyala meski hari masih terang.

Kehidupan tidak benar-benar berhenti. Ia hanya berjalan pincang.

Seorang pedagang tetap menggoreng pisang. Tukang cukur membuka kiosnya selama dua jam. Dari pengeras suara masjid, pengumuman tentang penggalangan bantuan diselingi suara orang batuk. Seseorang membicarakan kemungkinan membuka kembali lahan yang terbakar setelah musim hujan. Seseorang yang lain berkata bahwa api itu mungkin berasal dari pembukaan kebun.

Tidak ada yang benar-benar tahu. Namun setiap orang mempunyai dugaan, dan setiap dugaan menemukan orang yang bersedia mempercayainya.

Pada hari kedua pencarian, Ranu pulang dengan lengan dibalut perban. Ia datang ke rumah Laras menjelang magrib, ketika langit mulai berwarna tembaga.

Jati belum ditemukan.

Ranu duduk di kursi kayu, menundukkan kepala. Ibu Laras meletakkan secangkir teh di depannya. Tak seorang pun bertanya bagaimana Jati terakhir terlihat. Mereka menunggu sampai Ranu sendiri mulai berbicara.

“Kami seharusnya mundur,” katanya. “Angin membawa api ke arah kami. Jati menyuruh semua orang turun lebih dahulu.”

“Kenapa dia tidak ikut?” tanya Laras.

Ranu meremas ujung perban.

“Ada seorang petugas yang tertinggal di dekat jalur air. Jati kembali untuk mencarinya.”

“Lalu?”

Ranu menggeleng. “Saya tidak melihat lagi.”

Di luar, azan magrib berkumandang. Ibu Laras menutup mata, tetapi bibirnya tidak bergerak. Di atas meja, teh yang disediakan untuk Ranu perlahan kehilangan uap.

Laras ingin memarahi lelaki itu. Ia ingin bertanya mengapa Jati harus selalu menjadi orang yang kembali, mengapa tak ada yang menahannya, mengapa keberanian begitu sering dipuji setelah tak ada lagi kesempatan untuk menggunakannya dengan bijaksana.

Namun Ranu duduk di hadapannya dengan bahu yang merosot dan tangan yang terus meremas perban. Laras melihat abu masih terselip di lipatan kukunya.

Ia tidak jadi bertanya.

Pada hari kelima, pencarian dihentikan sementara karena lereng belum aman. Tidak ada kepastian yang bisa dibawa pulang selain permintaan untuk menunggu.

Laras kembali ke kota sehari kemudian. Klinik tempatnya bekerja mengirim pesan bahwa ia harus masuk kembali pada Senin. Ia membaca pesan itu sambil berdiri di halte, dengan tas berisi pakaian dan sekantong kopi untuk ibunya.

Di terminal, sebuah televisi menyiarkan berita tentang kebakaran hutan di berbagai daerah. Seorang pembawa berita berdiri di depan gambar hamparan tanah hitam. Di bawah layar, tulisan berjalan menyebutkan jumlah petugas dan relawan yang meninggal dalam berbagai operasi pemadaman.

Laras memandang layar itu tanpa berkedip.

Angka-angka tersebut muncul, berganti, lalu menghilang. Di belakangnya, penumpang membeli tiket, pedagang menawarkan air mineral, dan seorang anak menangis karena balonnya terlepas. Tak seorang pun di terminal itu mengenal Jati. Bagi mereka, bencana adalah kabar yang lewat di antara jadwal keberangkatan dan harga makanan.

Laras mengeluarkan telepon genggamnya. Ia membuka pesan suara Jati sekali lagi.

Kali ini, setelah suara tawa itu berakhir, ia tidak segera menekan tombol putar ulang.

Di kota, ia kembali bekerja. Ia memeriksa kartu pasien, mencatat nomor antrean, dan mengisi formulir. Seorang lelaki datang dengan mata merah karena asap. Seorang anak perempuan mengeluh sesak napas. Laras mengarahkan mereka ke ruang pemeriksaan, kemudian mencuci tangannya lebih lama daripada biasanya.

Pada malam hari, ia membeli baterai untuk senter ibunya melalui sebuah toko daring. Ia juga membeli kopi yang biasa dibawa pulang. Paket itu tiba tiga hari kemudian, dibungkus plastik bening dengan sudut penyok.

Ia menelepon ibunya.

“Baterainya sudah datang,” katanya.

“Iya.”

“Kopinya juga.”

Di seberang, ibunya terdiam cukup lama.

“Kalau Jati pulang, suruh dia pasang sendiri,” ujarnya akhirnya. “Ibu tidak tahu cara membukanya.”

Laras memandang jendela apartemennya. Di luar, lampu-lampu kendaraan membentuk garis panjang yang bergerak tanpa suara. Ia ingin mengatakan bahwa Jati pasti pulang. Kalimat itu telah berulang kali disusunnya di kepala, tetapi setiap kali hendak diucapkan, ia teringat jalan yang menghitam dan bukit yang masih mengembuskan asap.

“Ya, Bu,” jawabnya.

Beberapa minggu kemudian, hujan turun di Wana Lembayung. Air mengalir dari atap-atap seng, membawa abu ke selokan dan menyisakan garis-garis hitam pada dinding rumah. Di beberapa tempat, tanah mulai mengeluarkan tunas hijau. Mata air di belakang dusun belum kembali jernih, tetapi anak-anak sudah berdiri di tepinya, melemparkan ranting ke arus kecil.

Jati belum ditemukan.

Di balai dusun, selembar kertas baru ditempelkan pada papan pengumuman. Pemerintah desa menjadwalkan pertemuan untuk membicarakan pemulihan hutan, bantuan keluarga terdampak, dan perlengkapan keselamatan bagi relawan. Di bawah jadwal itu, seseorang menuliskan nama-nama orang yang belum pulang.

Laras datang pada hari pertemuan, membawa baterai senter dan kopi yang belum dibuka. Ia meletakkan keduanya di meja dekat jendela, kemudian berjalan ke tepi halaman.

Dari sana, bukit tampak lebih rendah daripada yang diingatnya. Pohon-pohon yang tersisa berdiri seperti tiang rumah yang kehilangan atap. Di antara batang-batang hangus, tunas muda muncul tanpa suara.

Laras tahu hutan itu tidak akan kembali seperti semula dalam waktu dekat. Ia juga tahu, jika kelak orang-orang kembali membuka kebun, menanam karet, atau membangun rumah di dekat mata air, mereka mungkin akan mengingat kebakaran itu sebagai musim buruk yang akhirnya lewat.

Barangkali suatu hari nama Jati hanya tinggal di dalam percakapan keluarga. Barangkali orang-orang akan menyebutnya pemberani, lalu melanjutkan pekerjaan masing-masing. Atau barangkali namanya akan tetap tertulis di papan pengumuman, menunggu sebuah kabar yang tak kunjung tiba.

Sore itu, sebelum pulang, Laras menyalakan senter yang dibawanya dari kota. Cahayanya menyapu tanah, berhenti pada sebatang tunas kecil yang tumbuh di antara abu.

Ia berjongkok, membersihkan daun itu dengan ujung jari.

Dari kejauhan terdengar suara mesin pompa air. Beberapa orang sedang mencoba mengalirkannya ke parit yang mengering. Tak lama kemudian, suara itu berhenti, disusul percakapan yang tak dapat ditangkap Laras.

Ia berdiri dan memandang bukit sekali lagi.

Di tangannya, senter masih menyala. Ia belum tahu apakah cahaya kecil itu cukup untuk menerangi jalan pulang seseorang, atau hanya akan memperlihatkan betapa luasnya tempat yang harus dicari.

Hujan mulai turun lagi, perlahan-lahan menghapus abu dari daun-daun muda. Laras tetap berdiri di sana, membiarkan air membasahi rambut dan bahunya, sementara dari dalam tasnya terdengar getaran telepon genggam.

Ia tidak segera mengambilnya.

Untuk beberapa saat, ia ingin percaya bahwa setiap bunyi adalah kabar, setiap langkah di jalan adalah kepulangan, dan setiap nama yang ditulis manusia masih memiliki kesempatan untuk dipanggil sekali lagi. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment