- Persis Peduli Evakuasi Korban Longsor Cisarua
- Relawan Muhammadiyah Hadirkan Sekolah Darurat di Aceh
- Lazismu Pekanbaru Salurkan School Kit
- Zakat dan Pendayagunaan Sektor Pendidikan
- Beasiswa Filantropi: Jalan Strategis Pemberdayaan dan Keadilan Pendidikan
- Fadhilah Zakat dan Sedekah pada Ramadhan 2026
- Filantropi Islam dan Tantangan Keberlanjutan Sosial
- Lazismu Riau Kirim Bantuan ke Aceh Tamiang
- PT Telkom dan LAZ Harfa Tanggulangi Stunting di Tiga Provinsi
- Rumah Zakat Pulihkan Fasilitas Sekolah di Kalsel
Zakat untuk Ketahanan Sosial
Oleh: Wilsa Dara Sholihati (mahasiswi UIN Walisongo Semarang)

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Pribadi Wilsa
Ketahanan
sosial menjadi isu yang semakin relevan di tengah dinamika kehidupan masyarakat
saat ini. Tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, hingga bencana alam kerap
menguji kemampuan masyarakat untuk bertahan dan bangkit dari keterpurukan.
Dalam
kondisi tersebut, ketahanan sosial tidak dapat hanya bergantung pada peran
negara, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat melalui penguatan
solidaritas dan kepedulian sosial. Salah satu instrumen sosial-keagamaan yang
memiliki peran strategis dalam konteks ini adalah zakat.
Namun
sayang, zakat masih kerap dipahami sebatas kewajiban individual umat Islam yang
bersifat ritual. Padahal, zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat
sebagai mekanisme perlindungan bagi kelompok rentan. Melalui pengelolaan zakat
yang tepat, masyarakat diajak untuk saling berbagi dan menopang satu sama lain,
sehingga kesenjangan sosial dapat ditekan dan stabilitas sosial tetap terjaga.
Penulis berpandangan bahwa zakat seharusnya ditempatkan sebagai instrumen
sosial yang strategis, bukan sekadar kewajiban personal.
Baca Lainnya :
- Solusi Alternatif, Makan Gratis Berbasis ZIS0
- Filantropi Dunia: Menggeser Bantuan dari Karitatif ke Strategis0
- Filantropi Islam Indonesia untuk Rekonstruksi Gaza 0
- Pintu Sempit Akses Beasiswa: Saatnya Pemerintah, Swasta, dan Filantropi Bergerak Bersama0
- Keterbatasan Kuota Beasiswa: Jalan Terjal Mahasiswa Tidak Mampu Menuju Perguruan Tinggi0
Dalam perspektif ketahanan sosial, zakat berfungsi sebagai social safety net berbasis masyarakat. Kelompok mustahik yang mengalami kesulitan ekonomi, kehilangan mata pencaharian, atau terdampak bencana membutuhkan dukungan cepat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Bantuan zakat dapat menjadi penyangga awal agar mereka tidak semakin terpuruk dan mampu mempertahankan keberlangsungan hidup. Tanpa mekanisme ini, kerentanan sosial berpotensi meluas dan menimbulkan masalah sosial yang lebih kompleks.
Lebih jauh, zakat tidak seharusnya berhenti pada bantuan yang bersifat konsumtif. Zakat memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan sosial melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan. Zakat produktif, misalnya, dapat mendorong mustahik mengembangkan usaha, meningkatkan keterampilan, dan membangun kemandirian ekonomi.
Ketika mustahik mampu bangkit dan mandiri, ketergantungan terhadap bantuan akan berkurang, sekaligus memutus mata rantai kemiskinan. Inilah bentuk ketahanan sosial yang sesungguhnya, yaitu masyarakat yang mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.
Selain
berdampak pada aspek ekonomi, zakat juga berperan penting dalam memperkuat
kohesi sosial. Praktik berzakat menumbuhkan kesadaran bahwa kesejahteraan bukan
hanya tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama. Nilai empati
dan solidaritas yang terkandung dalam zakat menjadi fondasi penting dalam
menjaga harmoni sosial. Masyarakat yang memiliki rasa kebersamaan yang kuat
cenderung lebih siap menghadapi krisis, karena didukung oleh jejaring sosial
yang saling menguatkan.
Di tengah
perubahan zaman dan kompleksitas persoalan sosial, peran zakat menjadi semakin
penting. Digitalisasi dan inovasi dalam pengelolaan zakat membuka peluang besar
untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan secara lebih cepat dan tepat.
Namun, kemajuan ini perlu diiringi dengan peningkatan kesadaran kolektif bahwa
zakat merupakan instrumen ketahanan sosial, bukan semata kewajiban ritual.
Tanpa kesadaran tersebut, potensi besar zakat berisiko tidak dimanfaatkan
secara optimal.
Ketahanan
sosial tidak dibangun dalam waktu singkat, melainkan melalui proses panjang
yang membutuhkan konsistensi dan kolaborasi berbagai pihak. Zakat, dengan nilai
keadilan dan kepeduliannya, menawarkan pendekatan yang berkelanjutan dalam
membangun masyarakat yang lebih tangguh. Oleh karena itu, pengelolaan zakat
yang amanah dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama agar zakat
benar-benar berfungsi sebagai pilar stabilitas sosial.
Pada akhirnya, zakat bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang membangun harapan dan masa depan bersama. Dengan menjadikan zakat sebagai bagian dari solusi atas persoalan sosial, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu bertahan di tengah krisis, tetapi juga tumbuh menjadi komunitas yang lebih adil, mandiri, dan berdaya.

1.png)







.jpg)
.png)
.png)