Zakat untuk Ketahanan Sosial
Oleh: Wilsa Dara Sholihati (mahasiswi UIN Walisongo Semarang)

By Revolusioner 09 Jan 2026, 14:22:26 WIB Opini
Zakat untuk Ketahanan Sosial

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Pribadi Wilsa


Ketahanan sosial menjadi isu yang semakin relevan di tengah dinamika kehidupan masyarakat saat ini. Tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, hingga bencana alam kerap menguji kemampuan masyarakat untuk bertahan dan bangkit dari keterpurukan.

Dalam kondisi tersebut, ketahanan sosial tidak dapat hanya bergantung pada peran negara, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat melalui penguatan solidaritas dan kepedulian sosial. Salah satu instrumen sosial-keagamaan yang memiliki peran strategis dalam konteks ini adalah zakat.

Namun sayang, zakat masih kerap dipahami sebatas kewajiban individual umat Islam yang bersifat ritual. Padahal, zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat sebagai mekanisme perlindungan bagi kelompok rentan. Melalui pengelolaan zakat yang tepat, masyarakat diajak untuk saling berbagi dan menopang satu sama lain, sehingga kesenjangan sosial dapat ditekan dan stabilitas sosial tetap terjaga. Penulis berpandangan bahwa zakat seharusnya ditempatkan sebagai instrumen sosial yang strategis, bukan sekadar kewajiban personal.

Baca Lainnya :

Dalam perspektif ketahanan sosial, zakat berfungsi sebagai social safety net berbasis masyarakat. Kelompok mustahik yang mengalami kesulitan ekonomi, kehilangan mata pencaharian, atau terdampak bencana membutuhkan dukungan cepat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Bantuan zakat dapat menjadi penyangga awal agar mereka tidak semakin terpuruk dan mampu mempertahankan keberlangsungan hidup. Tanpa mekanisme ini, kerentanan sosial berpotensi meluas dan menimbulkan masalah sosial yang lebih kompleks.

Lebih jauh, zakat tidak seharusnya berhenti pada bantuan yang bersifat konsumtif. Zakat memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan sosial melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan. Zakat produktif, misalnya, dapat mendorong mustahik mengembangkan usaha, meningkatkan keterampilan, dan membangun kemandirian ekonomi.

Ketika mustahik mampu bangkit dan mandiri, ketergantungan terhadap bantuan akan berkurang, sekaligus memutus mata rantai kemiskinan. Inilah bentuk ketahanan sosial yang sesungguhnya, yaitu masyarakat yang mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.

Selain berdampak pada aspek ekonomi, zakat juga berperan penting dalam memperkuat kohesi sosial. Praktik berzakat menumbuhkan kesadaran bahwa kesejahteraan bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama. Nilai empati dan solidaritas yang terkandung dalam zakat menjadi fondasi penting dalam menjaga harmoni sosial. Masyarakat yang memiliki rasa kebersamaan yang kuat cenderung lebih siap menghadapi krisis, karena didukung oleh jejaring sosial yang saling menguatkan.

Di tengah perubahan zaman dan kompleksitas persoalan sosial, peran zakat menjadi semakin penting. Digitalisasi dan inovasi dalam pengelolaan zakat membuka peluang besar untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan secara lebih cepat dan tepat. Namun, kemajuan ini perlu diiringi dengan peningkatan kesadaran kolektif bahwa zakat merupakan instrumen ketahanan sosial, bukan semata kewajiban ritual. Tanpa kesadaran tersebut, potensi besar zakat berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.

Ketahanan sosial tidak dibangun dalam waktu singkat, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan konsistensi dan kolaborasi berbagai pihak. Zakat, dengan nilai keadilan dan kepeduliannya, menawarkan pendekatan yang berkelanjutan dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh. Oleh karena itu, pengelolaan zakat yang amanah dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama agar zakat benar-benar berfungsi sebagai pilar stabilitas sosial.

Pada akhirnya, zakat bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang membangun harapan dan masa depan bersama. Dengan menjadikan zakat sebagai bagian dari solusi atas persoalan sosial, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu bertahan di tengah krisis, tetapi juga tumbuh menjadi komunitas yang lebih adil, mandiri, dan berdaya. 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment