- Hujan di Qusra
- Di Bawah Langit Sudan
- BEI Perluas Wakaf Saham melalui SOTS
- Baznas Sukoharjo Bantu 200 Mustahik
- Investasi Wakaf Produktif atasi Krisis Pangan dan Energi
- HUT RI, Baznas Pacitan Tebar Zakat ke Tukang Becak
- BI Buka Beasiswa Kebanksentralan
- UI dan Baznas Bangun Ekosistem Zakat Seniman
- Sawahlunto, 866 Mustahik Dizakati Rp676 Juta
- Kemenag Bentuk Tim Pangawas Baznas
Lentera Pos Ronda
Oleh: Siddiq

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI
Lewat surat terbuka ini, saya ingin menyampaikan pengakuan sekaligus meluruskan desas-desus yang bikin geger pos ronda sejak kemarin sore. Ya, memang benar saya yang menuduh Kang Parlan mencuri tabung gas tiga kilo di dapur saya. Dan ya, memang benar juga tadi pagi saya secara resmi mencabut tuduhan itu di depan warga. Tapi tolong jangan anggap saya sudah gila atau pikun di usia yang belum berkepala empat ini. Ada logika yang masuk akal di balik semua keributan ini—atau setidaknya, logika yang menurut saya pribadi sangat masuk akal.
Masalah ini bermula ketika istri saya, Nining, berteriak dari dapur bahwa gas habis saat air kopi saya baru hangat-hangat kuku. Saya keluar rumah dengan berang. Di gang depan, saya melihat Kang Parlan sedang memikul tabung gas hijau melintas dengan tergesa-gesa.
Tanpa berpikir panjang, saya langsung menunjuk mukanya dan berteriak, "Pencuri!" Seluruh tetangga keluar. Kang Parlan gemetar, mukanya pucat pasi. Dia bersumpah demi langit dan bumi bahwa itu tabung gas miliknya yang baru dibeli dari warung Pak Haji. Tapi saya tidak peduli. Bagi saya saat itu, barang bukti sudah ada di depan mata.
Baca Lainnya :
- Doa Ayah0
- Pintu Langit di Ujung Gang Sempit0
- Perisai Dhuafa0
- Kebaikan yang Mengguncang Arsy0
- Tangan Kecil Pembawa Harapan0
Hari Kesembilan
Saya membawa masalah ini ke meja hijau kecil di teras rumah saya. Kang Parlan duduk tertunduk sambil memegangi tabung gas itu seperti memeluk anak kandungnya. Nining berdiri di samping saya sambil bersedekap, matanya melototgalak. Saya memandangi Kang Parlan yang bajunya compang-camping dan baunya seperti oli bekas.
"Parlan," kata saya dengan nada berat ala hakim agung. "Jujur saja. Kamu ambil gas saya karena tidak punya uang untuk masak, kan?"
"Sumpah, Mas! Ini saya beli pakai uang hasil markir!" jerit Parlan, suaranya hampir pecah.
"Jangan bohong!" sergah saya. "Maling di mana-mana tidak ada yang mau mengaku. Kalau mengaku, penjara penuh! Tapi kamu harus paham, Lan. Di dunia yang makin edan ini, kejahatan itu bukan cuma milik pencuri. Kamu mencuri gas saya itu salah, tapi kesalahan terbesarmu adalah kenapa kamu mencuri barang yang harganya cuma seratus ribuan? Kenapa tidak sekalian korupsi dana bantuan sosial? Kalau kamu korupsi miliaran, orang-orang akan sungkem dan panggil kamu Pak Pejabat. Tapi karena kamu cuma sanggup mencuri gas tiga kilo, kamu digelandang warga!"
Nining menepuk bahu saya keras-keras. "Mas! Ini soal gas kita yang hilang, kenapa malah ngomongin korupsi?!"
"Ini filsafat, Ning!" teriak saya tak mau kalah. "Parlan ini korban sistem! Dia tidak salah sepenuhnya. Yang salah itu keadaan yang bikin dia cuma sanggup jadi maling eceran. Jadi, secara moral, yang salah itu bukan Parlan, tapi kita semua yang membiarkan dia tetap miskin sampai harus nyuri gas!"
Parlan mendongak, matanya yang basah menatap saya dengan bingung. "Jadi... saya boleh pulang, Mas? Saya tidak salah?"
"Tentu saja kamu salah!" bentak saya lagi. "Kamu salah karena tertangkap! Dan kamu salah karena bikin kopi saya gagal mendidih!"
Saat suasana teras makin panas dan tetangga di luar pagar mulai berbisik-bisik soal keadilan sosial, Nining tiba-tiba berjalan ke dalam rumah. Tak sampai dua menit, dia keluar lagi sambil membawa sebuah benda. Tabung gas hijau milik kami. Masih berada di pojok dapur, hanya saja tertutup tumpukan baju kotor yang belum sempat dicuci.
Saya tertegun. Suasana teras mendadak hening seketika.
Nining menatap saya tanpa kedip, lalu meletakkan tabung gas itu di lantai dengan bunyi klang yang lumayan keras. "Gas kita tidak hilang, Mas. Mas sendiri yang kemarin menumpuk baju kotor di atasnya waktu pulang futsal."
Parlan melotot. Tetangga di luar pagar mulai tertawa kecil. Saya merasa leher saya mendadak kaku dan suhu udara naik sepuluh derajat. Tapi sebagai laki-laki yang memegang teguh martabat dan integritas pikiran, saya menolak untuk terlihat bodoh
Saya berdeham keras, menatap Parlan dengan pandangan yang lebih tajam dari sebelumnya. "Nah! Kamu lihat itu, Lan? Ini bukti sahih!"
"Bukti apa, Mas?" tanya Parlan ketakutan.
"Bukti bahwa teori saya tadi seratus persen benar!" tegas saya sambil menunjuk tabung gas di lantai. "Benda ini tidak hilang! Artinya, kamu memang tidak mencuri gas saya. Tapi kenapa tadi kamu ketakutan waktu saya tuduh? Kenapa kamu tidak langsung bilang kalau gas kamu memang beli di warung Pak Haji? Itu artinya secara mental kamu sudah siap jadi pencuri! Kamu membiarkan diri kamu dituduh karena kamu merasa pantas dituduh! Ini pelajaran buat kamu, Lan. Jangan pernah merasa rendah diri sampai-sampai dituduh nyuri saja kamu pasrah!"
Parlan makin melongo. Dia memandangi saya seperti sedang melihat makhluk aneh dari planet lain. Nining hanya menepuk jidatnya sendiri lalu masuk ke dalam rumah sambil menggebrak pintu kamar.
Pagi ini, saat saya memberikan uang ganti rugi lima puluh ribu rupiah kepada Parlan sebagai 'uang pembinaan mental', Parlan menolaknya. Dia malah menyerahkan sebuah amplop lusuh kepada saya.
"Apa ini?" tanya saya.
"Uang saya yang dulu pernah saya ambil diam-diam dari laci warung kelontong Mas dua tahun lalu," kata Parlan perlahan. "Waktu itu anak saya sakit sakaratul maut dan saya tidak punya uang. Saya ambil lima puluh ribu. Selama dua tahun ini saya takut setengah mati mau ngaku. Tapi gara-gara kemarin Mas bilang kalau kesalahan terbesar manusia adalah tidak jujur pada keadaan, dan Mas bahkan mau minta maaf atas tuduhan palsu itu... saya jadi malu sendiri."
Parlan meletakkan amplop itu di meja, lalu berjalan pergi meninggalkan teras saya dengan langkah yang jauh lebih ringan.
Pak RT yang terhormat, lewat surat ini saya cuma mau bilang: tuduhan saya kemarin memang keliru secara fakta, tapi ternyata sangat berhasil secara moral. Jadi tolong jelaskan pada warga di pos ronda nanti malam, bahwa saya tidak sedang linglung. Saya cuma sedang menerapkan metode pendidikan karakter yang sedikit ekstrem seperti lentera pos ronda yang mematikan laron-laron di musim hujan. (*)










.png)
.png)