Air Mata Himalaya
Oleh: Nahata Purwa Devayanti

By Revolusioner 03 Sep 2026, 10:55:56 WIB Cerpen
Air Mata Himalaya

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI


Senja di Lembah Trishuli tidak pernah benar-benar merah. Di bawah naungan pegunungan Himalaya yang angkuh dan dingin, senja hanyalah perpindahan singkat dari kelabu yang suram menuju hitam yang menggigil.

Mario menyulut sebatang rokok, tetapi angin mematikannya sebelum api sempat menyapa tembakau. Ia membuang napas, menghasilkan segumpal uap putih yang langsung buyar disapu badai. Di sampingnya, Niki sedang memeriksa tali dynamic 9.8 mm yang sudah bersabut di beberapa bagian. Tali itu tua, seperti kenangan mereka.

"Kau ingat K2?" tanya Niki tanpa menatap Mario. Jemarinya yang kasar—bekas kapalan puluhan tebing terjal di Jawa hingga Lombok—begitu sigap mengikat figure-eight loop.

Baca Lainnya :

"Tahun 2018. Ketika kau hampir jatuh karena ice screw milikmu terlepas," jawab Mario. Matanya menatap jauh ke arah mulut terowongan Pembangkit Listrik Tenaga Air Trishuli-3A yang menganga bak tenggorokan raksasa yang kehausan. "Kini kita tidak memanjat untuk piala atau tepuk tangan, Nik. Rompi hijau Zakat Indonesia ini terasa jauh lebih berat dari keranjang beban di tebing mana pun."

Niki tersenyum tipis, sebuah senyuman pudar yang tertutup masker debu. "Senyap dan duka, Mario. Senyap dan duka selalu punya cara untuk melipat jarak."

Rabu, 2 September 2026. Dunia di sekitar perbatasan negeri atap dunia: Nepal, dan Tibet telah lumat. Semenjak pagi hingga senja, langit seperti menangis di Himalaya. Bumi menumpahkan air mata. Seminggu lalu, sebuah gletser purba di perbatasan China runtuh—sebuah kepakan sayap raksasa yang menghempaskan air bah, batu, dan lumpur, menyapu lembah, menghancurkan kota-kota, dan merenggut lebih dari 1.200 nyawa. Lebih dari 4.200 orang melayang dalam ketidakpastian: hilang, atau mungkin mati tanpa nama.

Di antara puing-puing, di Nuwakot, seorang perempuan bernama Shanta Sunar berdiri terpaku memandangi celana anaknya yang hanyut terikat di ranting pohon. "Kami beruntung masih bernapas," bisiknya pada angin, "tapi kami kehilangan segala yang menjadikan kami manusia." Di sudut lain, anak-anak menjerit setiap kali mendengar gemuruh air; trauma membakar ingatan mereka tentang bus sekolah yang tersapu arus deras di hadapan mata mereka sendiri.

Namun di Trishuli-3A, harapan bersembunyi dalam gelap.

Di dalam terowongan granit yang runtuh itu, dugaannya ada sekitar 90 pekerja yang terperangkap. Amshu Kiran Shahi, pejabat Otoritas Listrik Nepal, telah mengonfirmasi bahwa ada ruang komunikasi dan tempat istirahat yang memiliki persediaan air, makanan, serta kantong udara. Tetapi waktu adalah racun yang merayap lambat. Oksigen menipis. Tim internasional dari India, China, hingga Amerika Serikat bertahan di luar, terhalang oleh tebing yang tidak stabil dan akumulasi lumpur tebal yang rapuh.

Tetapi Mario dan Niki bukan sekadar tim relawan kemanusiaan biasa. Mereka adalah mantan atlet panjat tebing nasional yang dipanggil oleh panggilan yang lebih sunyi: menyalurkan zakat, kemanusiaan, dan napas kehidupan dari rakyat Indonesia untuk mereka yang terlupakan di celah bumi.

"Seperti film Vertical Limit yang dulu kita tonton di basecamp," gumam Mario, memasang headlamp di helmnya. "Ingat ketika Montgomery Wick memotong talinya sendiri di celah es demi menyambung hidup yang lain? Bedanya, di sini kita tidak membawa tabung nitrogliserin yang bisa meledak kapan saja. Kita membawa selang oksigen dan harapan."

"Jangan bicara tentang memotong tali, Mar," potong Niki keras. "Tidak ada yang mati hari ini. Tidak di bawah pengawasanku."

Rencana itu gila. Jalur utama terowongan tertutup total oleh batuan granit sebesar rumah. Satu-satunya akses adalah menyusuri celah ventilasi atas—sebuah celah vertikal sejauh 70 meter yang licin, basah oleh rembesan air gletser yang membekukan darah, dan rawan runtuh setiap kali ada gempa susulan.

Tim penyelamat asing ragu. Too unstable, kata mereka. Namun time-sensitive: udara di dalam diperkirakan hanya bertahan beberapa jam lagi.

"Kami yang turun," ujar Mario tegas dalam bahasa Inggris yang patah-patah kepada komandan tim penyelamat lokal.

Mario dan Niki mengenakan peralatan panjat mereka. Tali diulur. Bau tanah basah, besi berkarat, dan keputusasaan menyengat hidung saat mereka mulai melakukan rappelling ke dalam kegelapan abadi.

Metrik demi metrik. Dinding batu itu dingin menyengat. Tangan Niki yang tak bersarung tangan—demi mencengkeram celah batu secara presisi—mulai mati rasa.

Krek.

Sebuah batu berukuran helm lepas dari atas. "Awas!" teriak Mario.

Batu itu menghantam bahu kiri Niki. Niki menjerit pendek, tubuhnya terhempas dan tergantung pada tali safety. Suara derak tulang terdengar memilu di dalam terowongan yang bergema.

"Niki!" Mario menahan bebannya, merayap mendekati sahabatnya yang tergantung lemas. Darah segar menetes dari bahu Niki, berwarna hitam dalam remang cahaya headlamp.

"Pergelangan bahuku... lepas," rintih Niki, napasnya memburu, peluh dingin bercampur air gletser membasahi wajahnya. "Aku... aku tidak bisa memanjat naik lagi, Mar."

"Kita balik. Aku akan menarikmu naik!"

"Tidak!" Niki mencengkeram rompi hijau Mario dengan tangan kanannya yang tersisa. Matanya menatap tajam, membara di tengah kegelapan yang pekat. "Dengar, Mario! Ada 90 nyawa di bawah sana. Anak-anak di Nuwakot sudah kehilangan bus sekolah mereka... orang-orang di luar sana kehilangan keluarganya. Kita datang dari Indonesia bukan untuk menyerah di kedalaman 40 meter! Sambungkan selang oksigen itu ke bawah. Lakukan!"

Airmata Mario menetes, hangat di pipinya yang membeku. Seno Gumira Ajidarma pernah menulis bahwa betapa indahnya kematian jika itu demi kehidupan yang lain. Namun Mario menolak membiarkan sahabatnya menjadi martir.

Dengan keahlian rescue climbing yang terpatri di memorinya, Mario dengan cepat memasang sistem pulley sederhana (hauling system 3:1) menggunakan karabiner dan prusik di selongsong besi ventilasi yang kokoh. Ia mengamankan posisi Niki di sebuah celah batu kecil (ledge) agar sahabatnya tidak tergantung bebas.

"Tunggu di sini, Nik. Jangan berani-berani mati," bisik Mario.

Mario melanjutkan turun sendirian. Mengabaikan rasa sakit di jemarinya, mengabaikan gemuruh gletser yang terus mengancam di atas sana. Ia membawa ujung pipa selang oksigen fleksibel dan kabel komunikasi.

Di kedalaman 68 meter, ia menembus celah runtuhan terakhir. Dan di sana, di balik lubang sempit yang tertutup bongkahan beton... ia mendengar suara.

Ketukan. Thump. Thump. Thump.

"Hallo?! Is anyone there?!" teriak Mario, suaranya parau menahan serakan debu.

"Kami di sini! Tolong! Udara... kami sulit bernapas!" sebuah suara samar dari dalam menyahut dalam bahasa Nepali.

Mario menjerit lega, sebuah teriakan liar yang mengalahkan keputusasaan Himalaya. Dengan cepat ia mendorong ujung selang oksigen masuk melalui celah terkecil yang bisa ditembus, menyalakan kompresor mini yang terhubung ke atas. Udara segar mengalir. Kehidupan berhembus kembali ke dalam makam beton itu.

Tiga puluh jam kemudian.

Ekskavator berat milik tim bantuan China dan peralatan pengeruk India akhirnya berhasil menjebol dinding samping terowongan berkat koordinasi posisi yang diberikan Mario dari dalam.

Satu per satu, 89 pekerja yang lemas namun bernapas merayap keluar menuju cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Satu orang dilaporkan meninggal karena trauma kepala sepekan lalu, namun 89 jiwa lainnya... selamat. Balendra Shah, Perdana Menteri Nepal, berdiri di antara kerumunan dengan mata berkaca-kaca saat menyaksikan para pekerja itu dipeluk oleh keluarga mereka yang menangis histeris.

Di sudut area evakuasi, ambulans menyalakan sirinenya.

Niki terbaring di atas tandu dengan bahu terlilit perban tebal, wajahnya pucat tetapi bibirnya mengukir senyum paling lebar yang pernah dilihat Mario. Di sampingnya, Mario duduk bersandarkan dinding batu, memegang dua cangkir teh masala hangat yang berasap.

"Aku bilang apa, Mar," bisik Niki pelan, menerima cangkir teh dengan tangan kanannya. "Tidak ada yang memotong tali hari ini."

Mario menatap ke arah puncak-puncak Himalaya yang menjulang putih di kejauhan. Di bawah sana, di antara duka 1.200 korban yang telah pergi dan puing-puing peradaban yang hancur, ada kehidupan yang berhasil direbut kembali dari cengkeraman maut.

Sebab bukankah alangkah indahnya hidup, ketika di tempat paling dingin dan gelap di bumi, manusia masih memilih untuk saling menghangatkan?

Mario menyesap tehnya. Manis. Dan untuk pertama kalinya dalam sepekan, senja di Himalaya tak lagi terasa terlalu dingin. Hawa yang sejuk membekukan air mata.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment