Di Bawah Langit Sudan
Oleh: Ahmad Fadhlan

By Revolusioner 13 Agu 2026, 08:54:52 WIB Cerpen
Di Bawah Langit Sudan

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI


Pada suatu sore yang berdebu, ketika matahari Sudan menggantung seperti bara di atas tanah yang retak, Aksa menemukan seorang anak perempuan berdiri sendirian di depan reruntuhan sebuah rumah.

Anak itu berusia kira-kira delapan tahun. Tubuhnya kurus. Bibirnya pecah-pecah. Ia memeluk sebuah mangkuk logam kosong dengan kedua tangannya.

Aksa berhenti.

Di belakangnya, Laila masih sibuk menurunkan kardus-kardus makanan dari sebuah truk bantuan.

Baca Lainnya :

“Kenapa berhenti?” tanya Laila.

Aksa tidak menjawab.

Ia hanya menunjuk anak itu.

Laila mengikuti arah telunjuknya. Sesaat kemudian, perempuan Indonesia itu terdiam.

Mereka datang dari Indonesia bukan sebagai tentara, bukan sebagai wartawan, apalagi sebagai orang yang ingin menjadi pahlawan.

Mereka hanya dua relawan kemanusiaan.

Aksa, lelaki dua puluh delapan tahun yang meninggalkan pekerjaannya di Jakarta. Dan Laila, perempuan dua puluh enam tahun yang rela menunda kuliahnya demi bergabung dalam misi kemanusiaan.

Mereka datang ketika dunia sedang sibuk memperdebatkan perang-perang besar. Nama-nama negara besar memenuhi layar televisi. Rudal, tank, diplomasi, embargo, minyak, dan kepentingan politik menjadi bahan pembicaraan setiap hari.

Sementara itu, jauh dari sorotan kamera, Sudan terus berdarah.

Perang saudara telah memasuki tahun keempat. Jutaan manusia kehilangan rumah. Rumah sakit runtuh. Sekolah berubah menjadi tempat pengungsian. Jalan-jalan yang dahulu dipenuhi pedagang kini dipenuhi puing-puing.

Dan yang paling mengerikan bukan suara tembakan.

Melainkan suara perut yang kosong.

Aksa berjalan mendekati anak perempuan itu.

“Namamu siapa?”

Anak itu diam.

Laila berjongkok dan memberikan sebotol air.

“Minum dulu.”

Anak itu memandang botol tersebut cukup lama, seakan-akan tidak percaya bahwa benda sederhana itu benar-benar miliknya.

Ia kemudian meminumnya perlahan.

“Namaku Mariam,” katanya lirih.

“Mariam tinggal dengan siapa?”

Anak itu menunduk.

“Ibu.”

“Di mana ibu?”

Mariam menunjuk reruntuhan di belakangnya.

“Ibu tidur di sana.”

Aksa menatap bangunan yang hampir rata dengan tanah.

“Tidur?”

Mariam mengangguk.

“Sejak tiga hari lalu.”

Laila menahan napas.

Ia mengerti.

Anak itu tidak mengatakan ibunya meninggal.

Barangkali, bagi seorang anak, kata “meninggal” terlalu berat untuk diucapkan.

Mariam hanya tahu ibunya tidak pernah bangun lagi.


Hari-hari berikutnya berjalan seperti mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir.

Aksa dan Laila bersama tim relawan membagikan makanan dari satu kamp pengungsian ke kamp lainnya.

Beras.

Tepung.

Kacang-kacangan.

Air bersih.

Obat-obatan.

Jumlahnya tidak pernah cukup.

Setiap kali truk mereka tiba, ratusan orang berlari mendekat.

Ada ibu yang menggendong bayi.

Ada lelaki tua yang berjalan dengan tongkat.

Ada anak-anak yang tidak menangis lagi karena terlalu lemah untuk menangis.

Aksa pernah bertanya kepada salah seorang pengungsi,

“Kenapa anak-anak di sini diam sekali?”

Lelaki itu menjawab,

“Mereka sudah terlalu sering melihat kematian.”

Jawaban itu terus terngiang di kepala Aksa.

Ia teringat film yang pernah ditontonnya bertahun-tahun lalu, tentang seorang manusia yang datang ke tanah asing, lalu perlahan menyadari bahwa orang-orang yang selama ini dianggap sebagai “yang lain” ternyata memiliki keluarga, cinta, rumah, dan harapan seperti dirinya.

Aksa mulai memahami sesuatu.

Penderitaan manusia tidak memiliki kewarganegaraan.

Lapar tidak mengenal agama.

Air mata tidak mengenal warna kulit.

Dan seorang ibu yang kehilangan anaknya di Sudan menangis dengan kesedihan yang sama seperti seorang ibu di Indonesia.


Suatu malam, Laila menemukan Aksa duduk sendirian di belakang tenda.

Di tangannya terdapat sebuah gelang kecil dari benang.

“Mariam memberikan itu kepadamu?” tanya Laila.

Aksa mengangguk.

“Katanya ini punya ibunya.”

Laila duduk di sampingnya.

“Kenapa dia kasih ke kamu?”

“Katanya supaya aku tidak lupa pulang.”

Laila tersenyum tipis.

“Padahal dia yang tidak punya rumah.”

Aksa menunduk.

“Kadang aku malu, Lai.”

“Kenapa?”

“Kita datang membawa makanan. Tapi setelah makanan habis, mereka tetap lapar.”

Laila diam.

“Kita kasih obat,” lanjut Aksa, “tapi perang tetap berjalan. Kita bangun tenda, tapi rumah mereka tetap hancur. Kita kasih air, tapi besok mereka akan haus lagi.”

Ia mengusap wajahnya.

“Terus sebenarnya kita ini menolong siapa?”

Laila menatap langit.

“Orang yang lapar tidak butuh kita menjadi penyelamat, Aksa.”

“Lalu?”

“Mereka hanya butuh seseorang yang tidak pergi ketika semua orang memilih pergi.”

Aksa menatap Laila.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum.


Beberapa minggu kemudian, keadaan semakin buruk.

Distribusi bantuan dihentikan sementara.

Jalan utama menuju kamp mereka dikuasai kelompok bersenjata.

Persediaan makanan tinggal sedikit.

Air bersih semakin sulit diperoleh.

Di tenda medis, anak-anak mulai jatuh sakit karena kekurangan gizi.

Mariam termasuk salah satunya.

Tubuhnya semakin kurus.

Laila merawatnya setiap hari.

“Makan sedikit, Mariam.”

Anak itu menggeleng.

“Tidak lapar.”

Laila tahu itu bukan karena Mariam tidak lapar.

Ia terlalu lapar.

Tubuhnya hanya sudah terlalu lemah untuk meminta makanan.

Laila menggenggam tangannya.

“Kamu harus kuat.”

“Untuk apa?”

Laila terdiam.

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada suara tembakan.

“Untuk sekolah,” jawab Laila akhirnya.

Mariam menggeleng.

“Sekolahku sudah tidak ada.”

“Kalau begitu kita cari sekolah baru.”

“Rumahku juga tidak ada.”

“Kita cari rumah baru.”

“Ibuku juga tidak ada.”

Laila menunduk.

Untuk pertanyaan terakhir itu, ia tidak punya jawaban.


Malam itu terdengar suara ledakan dari kejauhan.

Tanah bergetar.

Lampu-lampu padam.

Orang-orang berlarian.

Aksa keluar dari tenda.

“Laila!”

“Aksa!”

Mereka saling mencari di tengah kegelapan.

Sebuah ledakan terdengar lebih dekat.

Kemudian disusul teriakan.

“Semua masuk tenda!”

Namun Aksa melihat sesuatu.

Mariam.

Anak itu berdiri di luar tenda, kebingungan.

Aksa berlari.

“Mariam!”

Sebuah dentuman kembali terdengar.

Aksa memeluk tubuh kecil itu dan menjatuhkan diri ke tanah.

Laila berteriak dari kejauhan.

“AKSA!”

Debu memenuhi udara.

Beberapa detik kemudian, semuanya sunyi.

Aksa membuka mata.

Ia masih memeluk Mariam.

“Mariam?”

Tidak ada jawaban.

“Mariam!”

Ia mengguncang tubuh kecil itu.

Anak itu membuka mata perlahan.

“Aku di sini.”

Aksa menghela napas lega.

Namun kemudian ia merasakan sesuatu yang hangat di telapak tangannya.

Darah.

Bukan darah Mariam.

Aksa melihat dadanya sendiri.

Sebuah serpihan logam menancap di tubuhnya.

Laila berlari mendekat.

“Ya Allah…”

Aksa mencoba berdiri.

“Jangan panik.”

“Kamu terluka!”

“Aku masih bisa jalan.”

“Kita harus bawa kamu ke tenda medis.”

Aksa menggeleng.

“Bawa Mariam dulu.”

“Aksa!”

“Laila…”

Untuk pertama kalinya, suara Aksa terdengar sangat lemah.

“Bawa dia.”


Malam itu, Aksa kehilangan terlalu banyak darah.

Tenda medis tidak memiliki cukup persediaan.

Dokter hanya mampu melakukan apa yang bisa dilakukan dengan alat seadanya.

Laila duduk di sampingnya.

“Jangan tidur.”

“Aku tidak tidur.”

“Bohong.”

Aksa tersenyum.

“Laila.”

“Iya?”

“Kalau besok truk bantuan datang…”

“Kenapa?”

“Pastikan Mariam dapat makanan.”

Laila menggigit bibir.

“Kamu sendiri yang kasih.”

Aksa diam.

“Besok kamu sendiri yang kasih,” ulang Laila.

Aksa menatapnya lama.

Kemudian ia berkata pelan,

“Kalau aku tidak sempat?”

Laila langsung menggeleng.

“Jangan bicara begitu.”

“Aku cuma tanya.”

“Kamu akan sembuh.”

Aksa tersenyum.

“Kamu selalu bohong kalau sedang takut.”

Air mata Laila jatuh.

Ia menggenggam tangan Aksa erat-erat.

“Aku takut kehilangan kamu.”

Aksa menatap langit-langit tenda.

“Aku juga.”

Malam semakin larut.

Suara tembakan terdengar jauh di luar.

Lalu semakin jauh.

Kemudian sunyi.

Laila masih menggenggam tangan Aksa ketika napas lelaki itu perlahan berhenti.

Tidak ada pidato.

Tidak ada musik.

Tidak ada kamera.

Tidak ada dunia yang menyaksikan.

Hanya seorang perempuan Indonesia yang menangis dalam sebuah tenda kecil di Sudan.

Dan seorang relawan yang mati karena berusaha menyelamatkan seorang anak yang bahkan tidak dikenalnya beberapa bulan sebelumnya.


Pagi datang dengan matahari yang sama.

Panas.

Kering.

Tidak peduli.

Truk bantuan akhirnya tiba.

Laila berdiri di samping pintunya.

Matanya sembap.

Tangannya masih menggenggam gelang benang milik ibu Mariam.

Mariam berjalan mendekat.

“Mana Aksa?”

Laila tidak langsung menjawab.

Ia berlutut di depan Mariam.

“Aksa sudah pergi.”

“Pergi ke mana?”

Laila menangis.

“Pulang.”

Mariam menatapnya.

“Ke Indonesia?”

Laila menggeleng.

“Ke tempat yang lebih jauh.”

Mariam terdiam.

Kemudian ia bertanya,

“Dia akan kembali?”

Laila memeluknya.

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, Mariam menangis.

Bukan karena lapar.

Bukan karena rumahnya hancur.

Bukan karena perang.

Ia menangis karena seseorang yang datang dari negeri yang sangat jauh telah membuatnya percaya bahwa dirinya masih berharga.


Bertahun-tahun kemudian, perang Sudan belum sepenuhnya menjadi cerita masa lalu.

Tetapi di sebuah sekolah kecil yang dibangun di dekat kamp pengungsian, ada seorang guru perempuan bernama Mariam.

Di dinding kelasnya tergantung sebuah foto.

Seorang lelaki Indonesia tersenyum sambil membawa kardus makanan.

Di sebelahnya berdiri seorang perempuan dengan wajah lelah tetapi mata yang penuh harapan.

Di bawah foto itu tertulis satu kalimat:

“Dunia mungkin tidak melihat kami, tetapi mereka pernah datang.”

Mariam kini sudah dewasa.

Ia mengajar anak-anak membaca.

Ia mengajari mereka menulis.

Dan setiap kali ada anak yang bertanya mengapa ia menjadi guru, Mariam selalu memberikan jawaban yang sama.

“Karena dulu ada dua orang yang datang dari negeri yang sangat jauh ketika semua orang mengira kami sudah dilupakan.”

Anak-anak biasanya bertanya,

“Siapa mereka?”

Mariam tersenyum.

“Namanya Aksa dan Laila.”

“Apakah mereka pahlawan?”

Mariam menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu siapa?”

Mariam menatap foto di dinding.

“Mereka manusia.”

Ia berhenti sebentar.

“Manusia yang memilih untuk tetap peduli.”

Di luar kelas, angin gurun berembus pelan.

Membawa debu melewati tanah yang pernah menjadi medan perang.

Membawa suara anak-anak yang sedang belajar.

Dan entah bagaimana, di antara suara mereka, seolah terdengar sebuah pesan yang tak pernah sampai kepada dunia:

Bahwa di Sudan, jutaan manusia bukan sekadar angka.

Mereka punya nama.

Mereka punya ibu.

Mereka punya anak.

Mereka punya mimpi.

Dan mereka hanya ingin hidup.

Sebab perang mungkin mampu menghancurkan rumah.

Mungkin mampu merobohkan sekolah.

Mungkin mampu memisahkan keluarga.

Tetapi selama masih ada manusia yang bersedia berdiri di samping mereka yang terlupakan, harapan belum benar-benar mati.

Dan di bawah langit Sudan yang luas, Mariam akhirnya mengerti mengapa Aksa pernah berkata kepadanya:

“Jangan takut bermimpi, Mariam. Suatu hari nanti, dunia harus tahu bahwa kamu pernah bertahan.”

Hari itu mungkin belum tiba.

Tetapi Mariam tetap mengajar.

Tetap tersenyum.

Tetap hidup.

Karena terkadang, cara paling sunyi untuk melawan perang adalah dengan memilih untuk tetap hidup.

Dan cara paling sederhana untuk melawan dunia yang lupa adalah dengan tidak ikut melupakan. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment