Menag Kampanye Kemanusiaan di Italia

By Revolusioner 30 Okt 2026, 00:33:58 WIB Internasional
Menag Kampanye Kemanusiaan di Italia

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Bimasislam.kemenag.go.id


Gagasan Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, tentang pentingnya aksi kemanusiaan konkret mendapat dukungan dari sejumlah pemimpin agama dunia. Gagasan tersebut disampaikan dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant'Egidio yang berlangsung di Assisi, Italia.

Dalam sidang pembukaan tingkat tinggi bertajuk "Opening Assembly–Unarmed and Disarming Peace", Nasaruddin mendorong perubahan paradigma diplomasi global. Dia menekankan pentingnya menerjemahkan hubungan antarumat beragama menjadi tindakan nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai tokoh agama internasional yang menghadiri forum itu.

Dalam forum yang diikuti ratusan delegasi dari berbagai negara, Nasaruddin menyoroti keterbatasan pertemuan lintas agama yang selama ini dinilai masih berkutat pada simbol dan seremoni. Dia menegaskan bahwa keharmonisan global memerlukan langkah konkret yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Baca Lainnya :

"Dialog antaragama tidak boleh berhenti pada deklarasi bersama formal, tanda tangan, atau perjanjian di atas kertas. Perdamaian sejati menuntut dialog untuk secara aktif ditransformasikan menjadi aksi nyata dan gerakan pelestarian lingkungan yang langsung meringankan beban masyarakat di akar rumput,” tegas Nasaruddin Umar di Assisi, baru-baru ini.

Nasaruddin juga mendorong para pemimpin dunia untuk menjadikan pendekatan keagamaan sebagai salah satu instrumen penting dalam hubungan internasional. Dia menilai nilai-nilai spiritual berpotensi meredakan permusuhan yang telah mengakar ketika pendekatan politik dan militer konvensional tidak mampu menemukan jalan keluar.

Sebagai contoh, Nasaruddin mengangkat model pluralisme dan harmoni kehidupan (living harmony) di Indonesia. Menurut dia, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa keberagaman dapat dikelola untuk menjaga stabilitas serta kerukunan dalam kehidupan sehari-hari. Gagasan tersebut sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam mendorong moderasi beragama (Wasatiyyah Islam) dan kerukunan lintas negara.

Gagasan diplomasi berbasis aksi nyata itu mendapat dukungan dari sejumlah pemimpin agama dunia. Kardinal Matteo Zuppi, Ketua Konferensi Waligereja Italia, mendukung pandangan mengenai pentingnya mengatasi pola pikir kaku, agresif, dan sarat konflik. Dia juga menekankan perlunya lembaga keagamaan berperan aktif meredakan permusuhan lintas batas demi menjaga martabat manusia.

Dukungan serupa disampaikan Rabi Kepala Haim Korsia, Rabi Agung Prancis. Dia menyoroti pentingnya melampaui kegiatan seremonial melalui kolaborasi nyata. Menurut dia, kerja sama tokoh agama dalam menjalankan proyek kemanusiaan di tingkat lokal dapat membangun fondasi perdamaian yang lebih kuat dibandingkan sekadar kesepakatan politik.

Perwakilan Kristen Ortodoks Timur dan gerakan ekumenis turut menyambut model pluralisme Indonesia. Mereka menunjuk Deklarasi Istiqlal 2024, yang ditandatangani Nasaruddin bersama Paus Fransiskus di Jakarta, sebagai contoh bahwa perbedaan teologis tidak harus berakhir dengan pertentangan.

Sidang pembukaan tersebut ditutup dengan komitmen para panelis untuk meneruskan semangat Assisi 1986. Forum itu mendorong agar dialog antaragama dikembangkan menjadi instrumen diplomasi internasional yang berorientasi pada aksi kemanusiaan, pelestarian lingkungan, dan upaya menjaga perdamaian dunia secara berkelanjutan.

Kontributor: Raeihan
Editor: MAS



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment