- Beasiswa S2-S3 Pertanian SEARCA Dibuka
- Usaha Mustahik Meranti Dibantu Rp219 Juta
- Zakat 2025 Jangkau 43,7 Juta Mustahik
- Beasiswa Amil Dievaluasi Agar Berdampak
- Gubernur Papua: Perluas Manfaat Zakat
- Palestina, Dari Kepedulian Menuju Donasi dan Diplomasi Kemanusiaan
- AI Muse dan Transformasi Digital Filantropi Islam Indonesia
- Kota Ziswaf Digital: Membangkitkan Raksasa Filantropi
- Bun Wid, Dermawan Rumah Dhuafa dari Madura
- Lembaga Keagamaan Cilegon Dapat Hibah
Beasiswa Amil Dievaluasi Agar Berdampak

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Baznas.go.id
Program Beasiswa BAZNAS konsentrasi filantropi Islam untuk amil dievaluasi untuk memastikan investasi pendidikan amil berdampak pada pengelolaan zakat nasional.
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI melakukan monitoring dan evaluasi (monev) Program Beasiswa BAZNAS konsentrasi filantropi Islam jenjang S1 dan S2 di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Monev tersebut menjadi bagian dari upaya BAZNAS memastikan program pendidikan tidak berhenti pada pemberian beasiswa, tetapi menghasilkan SDM pengelola zakat yang semakin profesional, berilmu, dan mampu melahirkan inovasi filantropi.
Baca Lainnya :
- Beasiswa KIP Bidik 220 Ribu Mahasiswa0
- ZSF Nigeria Tebar Zakat ke 2.916 Mustahik0
- Dana Pendidikan Siap Ditambah Rp16,5 T0
- Kemenag: 236 KUA Berdayakan Umat 0
- Dermawan Nigeria Bantu Ribuan Dhuafa0
Program ini bekerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan 112 penerima beasiswa yang tersebar di 19 provinsi.
Wakil Ketua BAZNAS RI, Zainut Tauhid Sa'adi, mengatakan peningkatan kapasitas amil menjadi bagian penting untuk memperkuat dampak pengelolaan zakat.
"Jadi untuk ke depan, memang kami (BAZNAS) berharap melalui program beasiswa pendidikan S2 dan S3 ini, zakat itu bisa berkembang dengan baik, yang dikelola oleh tangan-tangan yang terampil, yang profesional. Ini bagian dari investasi jangka panjang," ujar Zainut.
Menurut dia, penguatan kapasitas juga dilakukan melalui sertifikasi kompetensi, standardisasi tata kelola, dan pendidikan formal. Profesionalisme amil dinilai penting untuk menjaga kepercayaan muzaki.
Wajah Zakat Nasional
Zainut menilai penerima beasiswa saat ini berpotensi menjadi bagian penting dalam menentukan arah pengelolaan zakat nasional pada masa mendatang.
"Ketika amanah itu kita kembalikan kepada umat dalam bentuk ilmu dan manusia, sesungguhnya kita sedang menanam untuk jangka panjang. Amil BAZNAS dan LAZ yang saat ini sebagai penerima manfaat beasiswa ke depan adalah wajah pengelolaan zakat nasional sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan," ujar Zainut.
Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Prof. Dr. Zulkifli, M.A., mengapresiasi program tersebut dan berharap keberlanjutannya dapat memperkuat kapasitas amil.
Zulkifli menjelaskan, penerima beasiswa menjalani sejumlah tahapan akademik, termasuk publikasi karya ilmiah pada jurnal terindeks Sinta maupun Scopus serta kolokium atau konferensi internasional.
"Tahapan tersebut menjadi bentuk uji publik untuk mengukur kemampuan dan kompetensi peserta, dengan penilaian yang dilakukan oleh reviewer dan pengelola jurnal maupun forum akademik terkait. Alhamdulillah, sejauh ini, menurut pemantauan kami, secara umum berjalan baik dan berjalan lancar," ujar dia.
Salah satu penerima beasiswa, Arif Budiman, amil BAZNAS, mengatakan pendidikan S2 memberinya ruang untuk memperdalam ilmu sekaligus melihat pengelolaan filantropi secara lebih luas.
"Alhamdulillah, saya merasa sekolah pascasarjana ini adalah sarana belajar yang baik, dan bagi saya ini merupakan privilege yang diberikan kepada saya untuk belajar. Ini merupakan lingkungan yang sangat tepat untuk belajar. Dengan segala fasilitas belajar yang sangat memadai dan juga lingkungannya, dosen-dosennya juga sangat support," ujar Arif.
Dia berharap program tersebut terus dikembangkan agar semakin banyak amil memperoleh kesempatan pendidikan dan mampu melahirkan inovasi yang membuat lembaga filantropi semakin maju serta dipercaya umat.
Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.inilah.com










.png)
.png)