Doa Ayah
Oleh: Muhamad Bagus Siddiq Pamungkas

By Revolusioner 04 Agu 2026, 14:13:35 WIB Cerpen
Doa Ayah

Keterangan Gambar : Foto: Doc.pribadi Muhamad Bagus Siddiq Pamungkas


Jakarta Barat tidak pernah tidur, ia hanya pingsan sebentar oleh polusi dan kelelahan, sebelum mendadak terbangun oleh raungan klakson truk kontainer.

Di teras sebuah minimarket di kawasan Grogol Petamburan—di bawah pendar neon putih 24 jam yang dingin dan kejam—Muhamamad Awang (42) merapikan lipatan tikar pandan yang kusam. Di sampingnya, Gilang Ramadhan (6) meringkuk bagai anak kucing yang pasrah pada nasib. Neon toko itu terus berkedip, seolah menandai detik demi detik kemelaratan yang dilegalkan oleh ibu kota.

"Walau kenyataan bahwa keadilan sosial ada, sering kali hanyalah fiksi yang ditulis oleh orang-orang berjas rapi," bisik Awang pada malam, atau mungkin pada bayangannya sendiri.

Baca Lainnya :

Dua tahun lalu, ketika gilasan perceraian menendangnya keluar dari rumah kontrakan, dan uluran tangan saudara ternyata hanya sebatas formalitas basa-basi, seorang driver ojek online menemukannya terlunta-lunta. Tiga tahun lamanya teras minimarket ini menjadi 'istana' bagi Awang dan Gilang. Rp60.000 sehari dari mengais recehan parkir. Rp60.000 untuk menyambung nyawa, membeli segelas kopi sachet, roti murah, dan mempertahankan sisa-sisa martabat seorang ayah.

Tiba-tiba, lampu sorot mobil melintas, memotong kegelapan. Sebuah langkah kaki bersepatu kets mendekat. Pria itu memakai jaket rompi bertuliskan sebuah nama lembaga zakat. Namanya Arya.

Arya menghentikan langkahnya tepat di tepi tikar Awang. Matanya menatap Awang, lalu beralih pada Gilang yang tertidur lelap dengan napas yang teratur di atas lantai semen yang dingin.

"Pak Awang?" tanya Arya pelan.

Awang mendongak. Tangannya refleks menggegam erat peluit plastik di lehernya—senjata utamanya untuk bertahan hidup. "Iya, Mas. Mau parkir? Toko sudah agak sepi, tapi..."

"Saya tidak mau parkir, Pak," potong Arya lembut. Ia berlutut, menyatukan tingginya dengan tinggi Awang yang duduk terlentak. "Saya mencari Pak Awang. Ada yang bercerita tentang tempat tinggal Bapak di sini."

Awang tersenyum tipis, sebuah senyuman satire yang getir. "Oh, cerita tentang orang idiot yang ketagihan tidur di ubin minimarket? Atau cerita tentang orang tua gila yang mimpi ingin anaknya sekolah setinggi langit tapi cuma punya uang seribu rupiah di kantong?"

Arya terdiam sejenak. Kota di sekeliling mereka terasa makin bising, namun di antara pendar neon dan bau asap knalpot itu, ada sesuatu yang merayap: sebuah ketelanjangan rasa kemanusiaan.

"Bukan, Pak," kata Arya tegas namun hangat. "Saya ke sini membawa amanah. Uang zakat dari orang-orang yang sadar bahwa di dalam harta mereka, ada hak Bapak dan Gilang yang terampas oleh ketidakadilan keadaan."

Awang tertawa pelan, air mata menetes begitu saja melewati garis-garis pipinya yang makin kempot. "Zakat? Mas, saya ini sudah biasa diberi nasi bungkus hari Jumat. 'Jumat Berkah', katanya. Mereka melempar nasi kotak dari kaca mobil yang terbuka sedikit, lalu merasa sudah membeli kunci surga. Besoknya? Saya kembali jadi sampah jalanan."

"Ini bukan sekadar nasi kotak, Pak Awang," Arya merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah map tebal. "Kami tidak sedang membuang sisa makanan. Filantropi Islam dalam meyakini hak Bapak bukanlah hadiah kasihan, melainkan kewajiban yang menagih janji. Ini dokumen kontrakan kecil yang sudah kami bayarkan untuk satu tahun ke depan, dan surat pendaftaran sekolah untuk Gilang. Besok, Gilang masuk sekolah."

Kata sekolah menggema di telinga Awang bagai guntur di tengah kemarau panjang. Matanya membelalak. Dadanya naik turun menahan gumpalan emosi yang pecah seketika.

"Anak saya... bisa sekolah?" suara Awang bergetar hebat. Ia menatap wajah anaknya yang lelap. "Saya tidak mau dia seperti saya, Mas. Tekad saya... saya cuma mau mendidik dia. Saya mau dia jadi manusia."

"Dia akan jadi manusia, Pak. Dan Bapak adalah seorang ayah yang menang melawan kerasnya Jakarta," balas Arya, menepuk bahu Awang dengan rasa hormat yang tulus.

Malam itu, di bawah neon minimarket yang satir—tempat kapitalisme dan kemelaratan berpelukan setiap hari—sebuah keajaiban kecil terjadi. Bukan karena takdir yang mendadak ramah, melainkan karena ada sekelompok orang yang mengingat bahwa zakat bukanlah sekadar ritual angka, melainkan jembatan yang menyeberangkan manusia dari jurang kehampaan menuju martabatnya kembali.

Awang memeluk Gilang erat-erat. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, air mata yang menetes di pipinya bukan lagi air mata keputusasaan, melainkan air mata kemenangan. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment