- Menguatkan Kolaborasi Media untuk Dakwah Zakat
- Memperkuat Ketahanan Sosial Lewat Zakat Perusahaan
- Budaya Mudik: Membangun Totalitas Menjadi Pelayan Ibnu Sabil
- Sinergi Filantropi dan Negara Menggerakkan Ekonomi Masyarakat lewat Tradisi Mudik
- PT SGPJB dan LAZ Harfa Berbagi 2.700 Paket Sembako
- Presiden, Wapres dan Kabinet Berzakat Lewat BAZNAS
- SeaBank dan DD Salurkan Bantuan untuk Yatim
- RZ dan Kemenko PMK Resmikan 103 Huntara Korban Banjir Aceh
- Mustahik Sleman Terima THR dari Rumah Yatim
- Rumah Yatim Berbagi Parcel Lebaran di Kalsel
Mimpi yang Menyala di Hari Sarjana
Khesya Putri Pratama Dhavira

Keterangan Gambar : Foto: Asisten AI
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota, ada seorang pemuda bernama Ahmad. Ia anak dari seorang penjual gorengan di pasar, dan sehari-hari membantu ibunya berjualan setelah pulang sekolah. Meskipun hidup sederhana, Ahmad menyimpan mimpi besar: menjadi sarjana pertama di keluarganya.
Namun, jalan menuju mimpi itu tidak mudah. Setelah lulus SMA, Ahmad hampir saja menyerah karena orang tuanya tidak mampu membiayai kuliah. Ia bahkan sempat berpikir untuk berhenti sekolah dan fokus bekerja membantu orang tuanya.
Hingga suatu hari, kabar gembira datang. Ahmad terpilih sebagai penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS. Dengan bantuan itu, ia bisa melanjutkan kuliah di universitas negeri ternama. Beasiswa tersebut bukan hanya menutup biaya kuliah, tetapi juga memberikan pelatihan pengembangan diri agar para penerima bisa tumbuh menjadi pemimpin masa depan.
Baca Lainnya :
- Samudera Pahala Penerang Bahtera0
- Cahaya Maulid di Kampung Nelayan0
- Aqeela, Aksara Tanpa Kata0
- Denyut Kemanusiaan dari Detak Jantung Kebajikan0
- Padi untuk Negeri0
Empat tahun kemudian, di Hari Sarjana Nasional, Ahmad berdiri di panggung wisuda dengan toga kebanggaan. Air matanya jatuh saat mengingat bagaimana filantropi Islam melalui zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan umat lewat BAZNAS telah menjadi jalan pembuka mimpinya.
Setelah menerima ijazah, Ahmad tidak lupa kembali ke desanya. Ia mengajar anak-anak kampung secara gratis di sore hari, sekaligus mengajak mereka bercita-cita lebih tinggi. Ia ingin agar generasi setelahnya tidak lagi ragu bermimpi besar meski berasal dari keluarga sederhana.
Dalam pidatonya di acara Hari Sarjana Nasional yang digelar oleh kampusnya, Ahmad berkata:
“Menjadi sarjana bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang tanggung jawab. Saya berdiri di sini karena ada banyak orang yang berzakat dan peduli, sehingga saya bisa melanjutkan pendidikan. Kini giliran saya untuk mengembalikan cahaya itu kepada masyarakat.”
Sorak tepuk tangan menggema. Bagi Ahmad, Hari Sarjana Nasional bukan hanya hari kebanggaan, tetapi juga hari pengingat bahwa ilmu sejati harus disertai pengabdian.









.jpg)
.png)
.png)