Menguatkan Kolaborasi Media untuk Dakwah Zakat
Oleh: Hana Salwa Nurrasyid (Mahasiswi Universitas Nasional Jakarta)

By Revolusioner 17 Mar 2026, 15:51:32 WIB Opini
Menguatkan Kolaborasi Media untuk Dakwah Zakat

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Pribadi


Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mengajak media nasional untuk terus berkolaborasi dalam menyiarkan dakwah zakat kepada masyarakat sebagai upaya membangun kesadaran publik terhadap pentingnya zakat dalam meningkatkan kesejahteraan umat.

Hal tersebut mengemuka dalam acara Z-Talk yang digelar di Gedung BAZNAS RI, Jakarta, Senin (16/3/2026). Hadir sebagai narasumber Ketua BAZNAS RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., Pimpinan BAZNAS RI Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., dan H. Ending Syarifuddin, M.E., Plt Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah, Adita Irawati, Tenaga Ahli Utama Bidang Komunikasi Pemerintah RI, Hariqo Satria, Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Bidang Kebijakan Publik dan Komunikasi, Tsamara Amany, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin dan Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin.

Ketua BAZNAS RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., mengatakan, peran media sangat strategis dalam memperluas pemahaman masyarakat tentang zakat sekaligus mendorong partisipasi publik dalam menunaikan kewajiban melalui lembaga resmi.

Baca Lainnya :

Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil survei terhadap muzaki, alasan utama masyarakat menyalurkan zakat melalui BAZNAS adalah faktor kepercayaan terhadap lembaga. Kepercayaan tersebut muncul dari program yang dijalankan, kredibilitas pimpinan, hingga dukungan regulasi.

“Alhamdulillah, mayoritas karena trust kepada lembaga. Ini menjadi capaian penting bahwa BAZNAS sebagai lembaga pemerintah bisa dipercaya,” ujar Sodik.

Kepercayaan itu, lanjutnya, harus terus dijaga dan diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk media.

“Nah, ini yang terus kita lakukan. Kami mohon dukungan dari teman-teman media dan juga pemerintah, agar gerakan zakat benar-benar menjadi solusi. Seperti yang disampaikan, zakat bukan hanya kewajiban, tetapi memiliki dampak sosial yang sangat besar,” tambahnya.

Senada dengan itu, Pimpinan BAZNAS RI Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM, menegaskan kepercayaan publik merupakan modal utama dalam meningkatkan penghimpunan zakat nasional. Karena itu, sinergi dengan media perlu terus diperkuat secara berkelanjutan.

“Kepercayaan ini adalah capaian penting. Kami mohon dukungan dari teman-teman media dan juga pemerintah agar gerakan zakat benar-benar menjadi solusi,” jelas Rizaludin.

Sementara itu, Pimpinan BAZNAS RI H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., menekankan pentingnya peran media dalam membesarkan lembaga. Ia mengatakan, eksistensi dan kinerja BAZNAS tidak akan diketahui publik tanpa pemberitaan yang masif.

“BAZNAS ada karena BAZNAS diberitakan. Kalau kita berbuat banyak, tetapi tidak diberitakan, seolah-olah kita tidak melakukan apa-apa. Karena itu, penting bagi media untuk terus bersinergi dalam memasifkan pemberitaan program-program BAZNAS,” ujar Idy.

Sementara itu, Pimpinan BAZNAS RI H. Ending Syarifuddin, M.E., turut menyoroti pentingnya memperkuat hubungan timbal balik antara BAZNAS dan media, termasuk dalam dukungan terhadap profesionalisme dan kesejahteraan insan pers.

Menurutnya, kerja sama tidak hanya sebatas publikasi, tetapi juga perlu mencakup upaya bersama dalam memperhatikan kesejahteraan wartawan. “Kerja sama dengan media harus lebih dikuatkan. Tidak hanya media berkontribusi, tetapi kita juga perlu memastikan teman-teman wartawan secara profesional perlu kita dukung. Karena kita tahu, tidak sedikit teman wartawan masuk dalam kategori mustahik,” ujar Ending.

Artikel ini membahas peran BAZNAS dalam memutar ekonomi masyarakat saat mudik melalui pengumpulan dan penyaluran zakat, dengan gaya akademik yang didasarkan pada referensi dari acara Z-Talk BAZNAS RI (16/3/2026) serta studi terkait seperti Beik (2013) tentang dampak zakat pada inklusi keuangan dan Qardhawi (2000) mengenai potensi zakat sebagai instrumen ekonomi Islam.

Zakat sebagai rukun Islam kedua memiliki dimensi sosial-ekonomi yang krusial, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 60. Di Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI berperan sentral sebagai lembaga resmi pengelola zakat berdasarkan UU No. 23/2011. Saat mudik Lebaran, mobilitas masyarakat mencapai puncak, memicu kebutuhan ekonomi di kampung halaman melalui konsumsi, transportasi, dan bantuan sosial. Acara Z-Talk BAZNAS (16/3/2026) menyoroti kolaborasi dengan media untuk dakwah zakat, yang memperkuat kepercayaan publik—faktor utama muzaki memilih BAZNAS (Sodik Mudjahid, 2026). Opini ini menganalisis bagaimana BAZNAS memutar roda ekonomi mudik melalui zakat, dengan dasar referensi ilmiah.

Kepercayaan publik terhadap BAZNAS, sebagaimana diungkap survei muzaki oleh Ketua BAZNAS Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., didasari kredibilitas program, pimpinan, dan regulasi (Sodik, 2026; cf. Beik & Arsyianti, 2015). Saat mudik, dana zakat disalurkan sebagai modal usaha mikro (KUR zakat) bagi mustahik di desa, meningkatkan produksi takjil dan transportasi lokal—mirip model zakat produktif dalam penelitian Arifin (2017) yang menunjukkan peningkatan PDRB hingga 2,5%. Pimpinan BAZNAS Dr. H. Rizaludin Kurniawan menekankan sinergi media berkelanjutan untuk optimalisasi penghimpunan, yang esensial mengingat potensi zakat nasional Rp 327 triliun per tahun (BAZNAS, 2023).

H. Idy Muzayyad menyoroti pemberitaan masif sebagai penguat eksistensi BAZNAS, karena tanpa media, program penyaluran zakat mudik seperti bantuan logistik kampung tak tergapai (Idy, 2026). Studi Kahf (2003) membuktikan distribusi zakat tepat sasaran memicu multiplier effect ekonomi, di mana Rp 1 zakat menghasilkan Rp 3-5 pertumbuhan lokal via konsumsi mustahik. Sementara H. Ending Syarifuddin mengusulkan timbal balik dengan media, termasuk dukungan kesejahteraan wartawan mustahik, memperluas jaringan distribusi zakat ke daerah mudik (Ending, 2026).

Kolaborasi ini selaras dengan teori ekonomi Islam Qardhawi (2000), di mana zakat berfungsi sebagai stabilisator saat fluktuasi mudik, mengurangi kemiskinan struktural hingga 10% (BPS, 2025). Namun, tantangan transparansi tetap perlu diatasi untuk maksimalkan dampak.

Secara keseluruhan, BAZNAS melalui Z-Talk membuktikan strategi dakwah zakat berbasis kepercayaan dan media mampu memutar ekonomi mudik. Kesimpulannya, peran BAZNAS esensial sebagai katalisator inklusi finansial, dengan rekomendasi penguatan regulasi dan literasi digital untuk potensi optimal (Beik, 2013). Gerakan ini bukan sekadar ibadah, melainkan solusi empiris kesejahteraan umat.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment