Kisah Aldi Bangkit Dari Keterbatasan

By Revolusioner 02 Sep 2026, 14:14:42 WIB Mustahik
Kisah Aldi Bangkit Dari Keterbatasan

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Dtpeduli.org


Sebelum matahari terbit, Aldi Permana telah memulai aktivitasnya di tengah dinginnya udara Cibungbulang, Bogor, Jabar. Sekitar pukul tiga dini hari, ia mengayuh perjuangan dengan membawa gerobak bubur dari kawasan Kebon Kelapa hingga Cibodas untuk mencari penghasilan. Aktivitas berdagang tersebut biasanya berlangsung hingga menjelang siang sebelum ia melanjutkan pekerjaan lainnya.

Aldi merupakan mahasiswa semester akhir Jurusan Ekonomi Syariah IUQI Bogor. Setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai pedagang bubur, ia menjalankan tanggung jawab lain sebagai guru Bahasa Inggris di SMP dan SMK Matla’ul Anwar. Di sekolah tersebut, Aldi mengajar hingga sore hari sebelum kembali melanjutkan rutinitas berikutnya.

Selepas mengajar, waktu istirahat kembali harus ia sisihkan. Bersama adiknya, Aldi menuju ladang menggunakan sepeda motor untuk mencari rumput atau ngarit sebagai pakan ternak. Aktivitas tersebut dilakukan di tengah kondisi musim kemarau yang cukup terik. Setelah seluruh pekerjaan selesai dan malam tiba, Aldi masih menyempatkan diri mengikuti pengajian warga sebelum mengerjakan revisi skripsinya di depan laptop.

Baca Lainnya :

Perjalanan Aldi tidak terlepas dari berbagai ujian yang pernah mengguncang kehidupannya. Pandemi membuatnya kehilangan pekerjaan, sementara kepergian sang ayah terjadi ketika ia baru memasuki masa perkuliahan. Di sisi lain, Aldi juga harus mendampingi ibunya yang tengah menghadapi penyakit diabetes. Situasi ekonomi keluarga sempat membuatnya mempertimbangkan untuk berhenti kuliah.

Namun, dukungan doa dari sang ibu dan pesan ayahnya agar tetap menjaga keluarga menjadi kekuatan bagi Aldi untuk bertahan. Meski ibunya tidak mampu memberikan dukungan dalam bentuk finansial, Aldi merasakan doa dan dukungan moral yang terus diberikan sebagai sumber semangat dalam menjalani berbagai kesulitan.

"Umi memang tidak bisa mendukung secara finansial, tetapi secara doa sangat mendukung," kenang Aldi. 

Beasiswa Menjadi Penguat Langkah

Harapan mulai terbuka ketika Aldi mendapatkan kesempatan menjadi penerima program Peduli Beasiswa Mahasiswa DT Peduli. Dukungan pendidikan tersebut membantunya mempertahankan keberlangsungan kuliah ketika kondisi ekonomi keluarga berada dalam keadaan sulit. Bagi Aldi, keberadaan beasiswa tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membuatnya mampu terus menyelesaikan pendidikan.

"Kalau saya tidak mendapatkan beasiswa, mungkin saya sudah tidak melanjutkan kuliah," aku Aldi jujur.

Selain memperoleh dukungan pendidikan, Aldi juga mendapatkan manfaat dari program Peduli Peternak Sejahtera DT Peduli. Berawal dari enam ekor ternak sebagai modal awal, ia mengelolanya dengan tekun hingga berkembang menjadi belasan ekor. Ternak tersebut kemudian menjadi salah satu aset produktif yang membantu menopang perekonomian keluarganya.

Ketekunan yang dijalani Aldi perlahan menunjukkan hasil. Pada 16 Juli 2026, ia berhasil menyelesaikan sidang munaqasyah dan kini bersiap mengikuti wisuda yang dijadwalkan pada September 2026. Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa berbagai keterbatasan tidak menghentikannya untuk menuntaskan pendidikan.

"Sesusah apa pun masalah yang kita lewati, jangan lupakan Allah. Kita tidak pernah tahu amin yang mana yang akan Allah kabulkan," tutur dia.

Bagi Aldi, setiap persoalan yang dihadapi perlu dijalani dengan ikhtiar sekaligus tetap mengandalkan pertolongan Allah. Ia meyakini bahwa doa dan usaha harus terus berjalan bersama karena seseorang tidak pernah mengetahui doa mana yang pada akhirnya akan mendapatkan jawaban dari Allah SWT.

Kini, Aldi tidak hanya ingin menyelesaikan pendidikan dan memperbaiki kondisi kehidupannya. Ia juga menyimpan harapan agar suatu hari dapat beralih dari penerima manfaat menjadi seseorang yang mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Perjalanan panjang yang telah dilaluinya menjadi bekal untuk terus tumbuh dan menghadirkan kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya.

Kontributor: Raeihan

Editor: MAS

Sumber: www.dtpeduli.org 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment