10 Mustahik Pelalawan Jadi Teknisi Smartphone

By Asep Rudiansyah 31 Agu 2026, 10:49:14 WIB Mustahik
10 Mustahik Pelalawan Jadi Teknisi Smartphone

Keterangan Gambar : Dok. RIAUBERNAS


Kemajuan teknologi komunikasi kini tidak hanya dimanfaatkan sebagai kebutuhan konsumsi masyarakat pedesaan. Melalui program “Techno-Zakat”, teknologi dimanfaatkan sebagai sarana pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat mustahik di Kabupaten Pelalawan.

Sebanyak 10 pemuda mustahik binaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pelalawan berhasil menuntaskan pelatihan vokasi teknologi secara intensif. Mereka juga menerima sertifikat kompetensi sebagai teknisi smartphone.

Program pengabdian kepada masyarakat itu merupakan inisiatif dosen Politeknik Negeri Padang (PNP) Kampus Pelalawan, Fadli Fadilillah, S.Kom., M.Kom., melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang memperoleh pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026.

Baca Lainnya :

Puncak kegiatan ditandai dengan penyerahan sertifikat kompetensi serta serah terima aset teknologi tepat guna berupa Smart Repair Workstation dan platform digital manajemen usaha teknisi smartphone. Kegiatan berlangsung di Rumah Program BAZNAS Kabupaten Pelalawan, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Pelaksana Program Pengabdian Fadli Fadilillah, S.Kom., M.Kom., Ketua BAZNAS Kabupaten Pelalawan H. Karmani, S.Pd.I., M.H., serta Koordinator PSDKU PNP Pelalawan.

Sebanyak 10 mustahik dinyatakan lulus dan dipersiapkan untuk mengembangkan usaha secara mandiri. Mereka yakni Warsito, Alwis Azhar, Ardi Firdaus, Darma, Hengki, Bagus, Dede Yusuf, Edi Idrus, Ilyas Mustika, dan Awal.

Dari Pelatihan Vokasi hingga Digitalisasi Usaha

Fadli Fadilillah mengatakan, Techno-Zakat disusun sebagai model pemberdayaan yang memadukan pelatihan keterampilan teknis dengan pengembangan usaha berbasis digital.

Menurut dia, program tersebut memiliki tiga pilar utama, yaitu pelatihan vokasi teknologi, penerapan platform manajemen usaha digital, serta mekanisme keberlanjutan usaha yang berlandaskan prinsip syariah.

“Kami membekali mustahik dengan kurikulum akselerasi intensif selama 200 jam. Materinya dibagi dalam beberapa level kompetensi, mulai dari tingkat basic hingga advanced,” ujar dia.

Pada tingkat dasar, peserta diberikan kemampuan memperbaiki perangkat keras bagian luar serta menangani kerusakan sistem operasi dasar. Sementara pada tingkat lanjutan, peserta memperoleh keterampilan microsoldering hingga perbaikan komponen dan chip dengan tingkat kerumitan yang lebih tinggi.

Pelatihan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Para peserta juga memperoleh sistem digital yang dapat digunakan untuk menunjang pengelolaan usaha.

Platform tersebut diberi nama ZakatTech Platform dan dikembangkan melalui kolaborasi tim dosen pelaksana, di antaranya Dedi Tri Laksono dan Antoni Pribadi, bersama mahasiswa PNP, Hani Putri Pratiwi dan Kumala Sari Tri Wahyuni.

ZakatTech Platform dirancang untuk membantu proses digitalisasi bisnis bengkel servis smartphone. Sejumlah fitur yang tersedia meliputi pelacakan status perbaikan menggunakan QR Code bagi pelanggan serta pemantauan ketersediaan suku cadang melalui fitur stock alert.

BAZNAS Repair Hub Pangkas Jarak Layanan

Ketua BAZNAS Kabupaten Pelalawan H. Karmani menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurut dia, kehadiran teknisi lokal sekaligus pusat layanan perbaikan smartphone dapat membantu mengatasi persoalan keterbatasan akses layanan servis di wilayah pedesaan.

“Selama ini masyarakat di pelosok harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan layanan perbaikan smartphone. Dengan adanya BAZNAS Repair Hub, masyarakat bisa mendapatkan layanan servis di daerah sendiri,” kata Karmani.

BAZNAS Repair Hub yang berlokasi di Rumah Program BAZNAS Pelalawan diharapkan menjadi pusat layanan sekaligus tempat praktik dan pengembangan usaha bagi para teknisi mustahik.

Menurut Karmani, program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tenaga teknisi. Program itu juga ditujukan untuk mendorong mustahik memiliki sumber pendapatan produktif sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kemandirian ekonomi.

Dibangun dengan Skema Keberlanjutan

Program Techno-Zakat dirancang agar tidak berakhir setelah pelatihan dan penyerahan peralatan. Aspek keberlanjutan usaha menjadi bagian penting dalam konsep pemberdayaan tersebut.

BAZNAS Repair Hub menerapkan mekanisme kontribusi bagi hasil sebesar 2,5 persen dari laba bersih operasional harian teknisi mustahik. Dana tersebut akan dikumpulkan dan kemudian diarahkan untuk mendukung program pemberdayaan mustahik berikutnya.

Melalui fitur kalkulator zakat yang tersedia pada ZakatTech Platform, mekanisme tersebut diharapkan dapat membantu pengelolaan dana secara lebih terukur dan transparan.

Dana yang terkumpul selanjutnya direncanakan untuk diputar kembali melalui skema Qardhul Hasan. Skema tersebut akan digunakan untuk mendukung pengadaan paket peralatan atau startup kit bagi calon teknisi dari kelompok mustahik berikutnya.

Dengan pola tersebut, Techno-Zakat berupaya membangun rantai pemberdayaan yang berkelanjutan. Mustahik mendapatkan pelatihan, difasilitasi dengan peralatan, dibantu dalam membangun usaha, kemudian hasil usaha tersebut turut menopang lahirnya mustahik produktif berikutnya.

Didukung Hibah Kemdiktisaintek

Program Techno-Zakat terlaksana melalui dukungan pendanaan hibah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026.

Pendanaan tersebut diperoleh setelah proposal pengabdian kepada masyarakat yang diajukan Fadli Fadilillah, S.Kom., M.Kom., dosen Politeknik Negeri Padang, dinyatakan lolos dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Seluruh aset fisik yang diserahterimakan dalam program tersebut turut dilengkapi penandaan pendanaan Kemdiktisaintek TA 2026. Penyerahan aset juga dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima (BAST) sebagai bagian dari pertanggungjawaban dan keberlanjutan pemanfaatan aset.

Melalui sinergi perguruan tinggi dan BAZNAS tersebut, 10 pemuda mustahik Pelalawan kini tidak hanya memperoleh sertifikat kompetensi. Mereka juga mendapatkan keterampilan, peralatan, serta sistem digital yang diharapkan menjadi modal untuk membangun usaha jasa perbaikan smartphone secara mandiri dan berkelanjutan.


Kontributor: Asep

Editor: MAS

Sumber: RIAUBERNAS





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment