- BAZNAS Mataram Pugar 56 Rumah Mustahik
- Islamic Relief Bantu Korban Banjir Bangladesh
- Belajar Pangkas Gratis di MUI Tangerang
- Mengenal Tradisi Waris Sebelum Kematian
- Filantropi Islam Indonesia Harus Mendunia
- Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Maruf Amin
- RZ Perkuat Ketahanan Pangan Mustahik
- Jurnalisme Filantropi: Revitalisasi Peran Media untuk Visi Kesejahteraan Umat
- Ini Beasiswa Tendik untuk Studi di Inggris
- Muhammadiyah Terima Wakaf Pesantren
Iran Perkuat Militer Hadapi Ancaman Amerika Serikat
Oleh: Yola Rahayu Winanti (Mahasiswi Gunadarma)

Otoritas militer Iran menyatakan siap kembali menghadapi perang melawan Amerika Serikat apabila proses negosiasi kembali mengalami kegagalan. Mereka menegaskan telah melakukan berbagai penyesuaian serta pemulihan kekuatan militer.
Washington sebelumnya memberi sinyal bahwa kesepakatan mengenai Selat Hormuz berpotensi segera tercapai. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pekan ini kembali mendesak agar tercapai sebuah kesepakatan atau "penyerahan diri total".
Meski demikian, Republik Islam Iran menegaskan bahwa pembicaraan yang dimediasi Oman dan sejumlah pihak lain untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih berlangsung. Di saat yang sama, Iran justru semakin meningkatkan kemampuan militernya.
Baca Lainnya :
- SOZECOM, Rujukan Zakat di Nigeria0
- Turki Bantu Lebanon $25,5 Juta0
- Maroko Siapkan Puluhan Beasiswa 0
- Dompet Dhuafa Tampil di Bank Dunia0
- Kelaparan Global Turun, Afrika Masih Terpuruk0
"Kami telah memanfaatkan semaksimal mungkin peluang dari nota kesepahaman (MoU) serta setiap momen gencatan senjata ini," ujar juru bicara militer Mohammad Akraminia kepada televisi pemerintah pada pekan ini.
Dia menjelaskan, MoU yang sebelumnya ditandatangani bersama Amerika Serikat pada Juni kini berada dalam status penangguhan. Menurut dia, Iran terus memasukkan peralatan yang telah dimiliki ke dalam jajaran angkatan bersenjata, mengimpor perlengkapan baru, memperbaiki sistem yang mengalami kerusakan, serta memproduksi sistem persenjataan baru.
Brigadir Jenderal tersebut juga mengungkapkan bahwa pesawat nirawak generasi terbaru telah digunakan dalam pertempuran. Menurut dia, spesifikasi drone tersebut akan diumumkan pada waktu mendatang.
Pada bulan lalu, Penjabat Menteri Pertahanan Iran, Majid Ebn-e Reza, menyatakan produksi rudal dan drone "tidak berhenti satu hari pun". Ujar dia, produksi drone kini telah meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelum perang, meskipun tidak menjelaskan jumlah pastinya.
"Meskipun para komandan tinggi gugur, angkatan bersenjata tidak kehilangan kekompakannya; justru mereka menghadapi musuh dengan berbagai kejutan berkat kecepatan, inisiatif, dan kemampuan taktis yang tinggi," ujar dia.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga menyampaikan pernyataan serupa. Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menyatakan pada akhir bulan lalu bahwa produksi rudal Iran meningkat selama masa gencatan senjata. Ujar dia, tingkat akurasi rudal juga mengalami peningkatan berkat pengalaman yang diperoleh selama pertempuran.
IRGC tidak membeberkan jumlah persediaan senjata maupun tingkat kerusakan terhadap kapasitas produksi persenjataan dan sistem pertahanan udara nasional.
Meningkatkan Produksi dan Kualitas dalam Negeri
Laporan media Amerika Serikat pada Juni menyebut Iran masih memiliki sekitar 70 persen persediaan rudal sebelum perang dan sekitar 40 persen armada drone yang dimilikinya. Kondisi tersebut dinilai menjadi indikasi bahwa Teheran masih mampu bertahan dalam perang asimetris selama beberapa bulan di Selat Hormuz maupun wilayah konflik lainnya.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, pesawat berawak dan nirawak milik Amerika Serikat, Israel, serta sejumlah negara kawasan telah melaksanakan ribuan misi penerbangan di wilayah udara Iran. Sebagian di antaranya dilaporkan berhasil dideteksi atau ditembak jatuh.
Walaupun kemampuan pertahanan udara Iran mengalami pelemahan, IRGC dan angkatan darat mengklaim berhasil menembak jatuh rudal jelajah, drone tempur dan pengintai MQ-9 serta MQ-1, hingga drone sekali pakai "Lucas" milik Angkatan Darat Amerika Serikat di wilayah selatan Iran dalam sebulan terakhir.
Pekan lalu, Reuters melaporkan Iran diperkirakan segera menerima pengiriman pertama hingga 400 peluncur rudal pertahanan udara panggul buatan China yang disebut akan dikirim melalui Pakistan. Namun, China dan Pakistan membantah laporan tersebut, sedangkan Iran belum memberikan tanggapan resmi.
Mantan komandan senior IRGC, Hossein Kanani Moghaddam, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ribuan serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel tidak mampu melemahkan kekuatan Iran.
"Kami terus meningkatkan produksi dan kualitas dalam negeri. Rudal-rudal kami sebelumnya telah disempurnakan dari segi jangkauan dan daya hancur hulu ledak," ujar dia.
"Kami juga memiliki persediaan di 'kota' rudal dan drone bawah tanah kami, yang bagian-bagian barunya secara bertahap mulai masuk ke dalam jajaran operasional," ujar dia.
Tambah dia, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Donald Trump berulang kali membatalkan rencana serangan berskala lebih besar terhadap Iran.
Pada awal bulan ini, pemerintahan Trump kembali mengancam akan melancarkan serangan mendadak terhadap infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik dan perusahaan petrokimia, guna menekan Teheran agar menyepakati perjanjian baru. Namun, Trump kembali membatalkan rencana tersebut dan membuka peluang bagi tercapainya kesepakatan baru. Pola tersebut terus berulang dalam beberapa bulan terakhir.
Penghentian serangan oleh Amerika Serikat memang sempat memberikan dampak positif terhadap harga minyak dunia dan bursa saham Amerika Serikat dalam jangka pendek. Namun, ketegangan di kawasan masih terus berlangsung.
Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran pada hari Selasa menyatakan telah melancarkan serangan drone ke Bandara Najran, Arab Saudi, sebagai respons atas aktivitas drone Saudi di wilayah Saada dan Hajjah, Yaman.
Sementara itu, sebuah kapal kargo berbendera India dihantam perahu bermuatan bahan peledak dan dilaporkan tenggelam di sekitar 13 mil laut atau 24 kilometer di utara Hodeidah, Yaman, di Laut Merah. Pemerintah India menyatakan seluruh 14 awak kapal berhasil diselamatkan.
Ledakan dan kebakaran juga terlihat pada malam hari di Kuwait, dekat perbatasan Irak. Sejumlah laporan menyebut drone Iran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut. Hingga kini, Kuwait, Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command), maupun IRGC belum memberikan pernyataan resmi.
Pada hari Senin, kapal pengangkut muatan curah berbendera Liberia mengalami kerusakan pada ruang mesin setelah terkena proyektil tak dikenal di lokasi sekitar 20 mil laut atau 37 kilometer di timur laut Khasab, Oman.
IRGC dilaporkan semakin sering menghantam atau memutarbalikkan kapal yang melintas di Selat Hormuz sejak nota kesepahaman Juni gagal direalisasikan pada bulan lalu. Meski demikian, sejumlah kapal tetap berhasil melintas.
Iran juga telah mengizinkan beberapa kapal menggunakan jalur utara di wilayah perairannya. Pada hari Selasa, Kementerian Perminyakan Irak mengumumkan bahwa kapal-kapal tanker pengangkut minyak mentah Irak berhasil melintas setelah dilakukan koordinasi dengan Teheran.
Kontributor: Yola
Editor: MAS
Sumber: www.sindonews.com
Foto: Dok. sindonews.com











.png)
.png)