- Pintu Langit di Ujung Gang Sempit
- Baznas Resmikan Kampung Zakat Tenun
- Hj Siti Bangun Rumah Singgah Gratis
- Lazismu Perkuat Ekosistem ZIS dan DSKL
- RZ dan IsDF MUI Perbaiki Gizi Santri
- Insting Bisnis Khadijah yang Bikin Takjub
- Zakat sebagai Pengurang Pajak: Perspektif DSN-MUI untuk Kemaslahatan Bangsa
- CSR Biayai JKN 4.473 Warga Rentan
- Mesir Bela Palestina di Piala Dunia
- Lazismu Tebar Beasiswa ke 127 Pelajar DIY
Insting Bisnis Khadijah yang Bikin Takjub

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Dompetdhuafa.org
Seorang gadis berusia 16 tahun melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya dan duduk di atas hamparan permadani yang lembut. Khuwailid yang sedang memperhatikan peta perdagangan yang digambar di atas kulit kambing menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arah putrinya.
“Bukankah tadi kau sudah berpamitan untuk pergi?” tanya Khuwailid.
“Aku tidak jadi pergi, Ayah!” jawab gadis itu tegas.
Baca Lainnya :
- Zakat: Nyata Sejahterakan Umat0
- Muharam Simpan Sejarah Agung Kenabian0
- Muharram Momentum Hijrah Diri0
- Urgensi Dam Haji ke RI: Analisis Fikih, Sosial dan Pemerataan Gizi0
- Syarat Kurban Sah Idul Adha0
“Mengapa?” tanya Khuwailid.
“Mereka akan menghadiri pesta. Aku tidak suka melihat orang menari dan mabuk-mabukan.”
Mendengar jawaban tersebut, Khuwailid tersenyum lalu menghampiri putrinya.
“Kota Makkah sudah terlalu rusak. Banyak anak muda yang sekarang tergila-gila pada judi dan minuman keras. Tantangan pada masa hidupmu jauh lebih berat dibandingkan masa Ayah dahulu.”
“Menurut Waraqah, akan datang seorang Rasul akhir zaman yang diutus Allah untuk memberikan peringatan kepada umat manusia. Aku berharap Rasul itu diutus di Makkah ini, Ayah,” kata Khadijah.
“Sepupumu, Waraqah, memang memiliki bakat menjadi pendeta. Dia banyak mempelajari Taurat dan Injil,” jawab Khuwailid. “Semoga Rasul itu benar-benar diutus di kota ini.”
“Kakbah berada di kota ini, Ayah, sebagai warisan Nabi Ibrahim. Tahun lalu Allah juga menghancurkan pasukan Abrahah yang hendak meruntuhkan Kakbah. Semoga itu menjadi pertanda akan datangnya utusan Allah seperti yang dikatakan Waraqah,” harap Khadijah.
“Ya, semoga Allah senantiasa menjaga kota ini.”
“Ayah sedang mengerjakan apa? Apakah ada yang bisa aku bantu?” tanya Khadijah dengan penuh semangat.
Khuwailid tertawa melihat antusiasme putrinya.
“Ini urusan bisnis, Khadijah. Apa kau tertarik?”
Khadijah mendekati meja kerja ayahnya dan memperhatikan peta tersebut dengan saksama.
“Bukankah ini peta jalur perdagangan?” tanya Khadijah antusias. “Ini Makkah, ini Syam, dan Konstantinopel. Yang di bagian selatan ini Yaman, bukan?”
Khuwailid tersenyum lebar.
“Benar, anakku. Tahukah kau mengapa kota-kota itu sangat penting bagi kita?”
“Aku hanya tahu Ayah membawa kafilah dagang ke Yaman saat musim dingin dan ke Syam saat musim panas,” jawab Khadijah.
“Yaman merupakan pintu masuk berbagai barang dari Afrika, India, dan Cina. Di sana kita dapat membeli kopi, kemenyan, emas, sutra, serta rempah-rempah dari Sumatera dengan harga yang lebih murah,” jelas Khuwailid.
“Kita membelinya pada musim dingin, kemudian menjualnya ke Syam saat musim panas. Orang-orang Romawi dari Konstantinopel sangat menyukai barang mewah seperti sutra dan rempah-rempah. Sebagai gantinya, kita memperoleh gandum, minyak zaitun, dan anggur kering dari Romawi.”
Khadijah mengangguk sambil memperhatikan jalur perdagangan pada peta.
“Ayah, berapa jumlah unta yang akan dibawa pada musim dagang tahun ini?” tanya Khadijah.
“Dua ratus ekor unta. Mengapa kau menanyakan hal itu, Khadijah?” tanya balik Khuwailid.
“Tambahkan jumlahnya, Ayah. Bawalah dua kali lipat lebih banyak,” jawab Khadijah dengan penuh keyakinan.
“Empat ratus ekor unta? Mengapa kau memiliki gagasan seperti itu?” tanya Khuwailid heran.
“Bukankah hubungan Romawi dan Persia sedang memanas?” tanya Khadijah.
“Benar, lalu apa kaitannya?”
“Jika kondisi itu terus berlanjut, apa dampaknya terhadap jalur perdagangan dari Samarkand menuju Romawi?” tanya Khadijah lagi.
“Jalur perdagangan tersebut akan terganggu. Persia akan membatasi pasokan barang ke Romawi.”
“Kalau begitu, dari mana Romawi akan memperoleh pasokan barang yang mereka perlukan?”
Khuwailid seketika tersadar. Jika jalur perdagangan dari Samarkand terganggu, Romawi hanya dapat memperoleh barang dari jalur selatan melalui Syam. Sementara pemasok barang ke Syam adalah para pedagang Quraisy yang membawa komoditas dari Yaman.
Khuwailid pun tertawa lebar sambil menepuk bahu putrinya.
“Kau benar, Khadijah. Permintaan barang di Syam pasti meningkat dan kita dapat memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut,” ujar dia.
“Masalah kita hanya satu, Ayah. Perampok yang berada di pesisir Laut Merah maupun pedalaman Gurun Najd,” ujar Khadijah.
“Untuk urusan keamanan, kau tidak perlu khawatir. Ayah bisa menyewa pengawal bersenjata dan bergabung dengan kafilah dagang milik keluarga lain. Dengan jumlah rombongan yang lebih besar, keamanan akan lebih terjamin,” jawab Khuwailid.
Khuwailid semakin bersemangat. Dia yakin musim dagang tahun itu akan memberikan keuntungan lebih besar. Keyakinan tersebut muncul berkat ide cerdas yang disampaikan putrinya.
“Khadijah, apakah kau tertarik menjadi seorang saudagar?” tanya Khuwailid sambil memperhatikan putrinya.
“Apakah Ayah keberatan?” tanya balik Khadijah.
“Tentu tidak,” jawab Khuwailid sambil tersenyum. “Kau memiliki bakat, tetapi masih harus banyak belajar. Ini dunia yang keras dan didominasi laki-laki. Kau harus mampu menjaga dirimu.”
“Aku akan mengingat nasihat Ayah,” ujar Khadijah sambil berdiri. “Lanjutkan pekerjaanmu, Ayah. Aku akan menyiapkan makan siang.”
Khuwailid memandangi Khadijah hingga menghilang di balik pintu. Saat itu dia menyadari telah menemukan mutiara berharga di rumahnya sendiri. Selain Hizam dan Awwam, kini dia melihat sosok yang berpotensi menjadi penerus baru bagi bisnis keluarganya.
Kontributor: Azzam Al Hanif
Editor: MAS
Sumber: www.dompetdhuafa.org

.jpg)








.png)
.png)