- Filantropi Opsi Atasi Krisis Iklim
- Filantropi Solusi Kemiskinan Nasional
- Penguatan Zakat Kesehatan Kunci Kesejahteraan
- UMS Kenalkan Flip Learning Era Digital
- IMS Connect 2026 Hadirkan Teknologi Kreatif Terkini
- Beasiswa Zakat Jangkau 300 Mahasiswa
- 40 Tahun Islamic Relief Bina Yatim Dunia
- Filantropi UNICEF-IsDB Bidik Mustahik Anak
- Anak-Anak Darfur di Titik Kritis
- Lentera Kaum Dhuafa
Filantropi Opsi Atasi Krisis Iklim

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Mediaindonesia.com
Indonesia kembali menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim (climate change) dan krisis energi. Selain potensi kekeringan yang diperkirakan terjadi sepanjang 2025 hingga awal 2026, pasokan minyak dan gas bumi (migas) juga terancam terganggu akibat situasi geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino memiliki peluang sebesar 62 persen berkembang menjadi kategori kuat sepanjang 2026. Kondisi tersebut diperkirakan membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan lebih kering hingga awal 2027, dengan puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026.
Fenomena El Nino berpotensi menyebabkan sumur-sumur warga mengering, meningkatkan risiko gagal panen, serta memperburuk kondisi masyarakat miskin yang menjadi kelompok paling rentan menghadapi dampaknya.
Baca Lainnya :
- Pertamina Cilacap Santuni Dhuafa0
- Filantropi Indonesia Hadapi Solidaritas Instan0
- Filantropi Perkuat Kesehatan Ibu Anak0
- BAZNAS Lampung Digitalisasi Kurban Berdayakan Desa0
- Pesantren Eco Filantropi Diluncurkan 0
Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Program MOSAIC, Aldy Permana, menyampaikan bahwa di tengah ancaman krisis air dan cuaca ekstrem, muncul gerakan berbasis nilai-nilai spiritual yang berkembang dari masyarakat.
"Arah strategis gerakan ke depan adalah membangun filantropi Islam yang jauh lebih responsif dan tangguh dalam menghadapi perubahan iklim dan transisi energi yang berkeadilan," ujar dia, Rabu (24/6/2026).
Gerakan tersebut dipelopori oleh MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact), sebuah kolaborasi yang sejak 2021 secara konsisten mengubah nilai-nilai agama menjadi aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Menurut dia, umat Islam di Indonesia mulai menjalankan konsep "Hijrah Ekologis", yaitu mengoptimalkan dana ibadah menjadi solusi konkret menghadapi dampak perubahan iklim. Salah satu implementasinya adalah Program Wakaf Hutan yang mulai dikembangkan sejak 2023 dengan fokus memperbaiki kawasan resapan air yang rusak sebagai upaya mengurangi risiko kekeringan.
MOSAIC juga memperluas pemahaman masyarakat mengenai wakaf yang selama ini identik dengan pembangunan fisik seperti masjid, madrasah, maupun makam. Melalui Wakaf Hutan, dana wakaf dimanfaatkan untuk membeli sekaligus menjaga kawasan hutan agar tetap lestari.
Menurut dia, keberadaan hutan yang terpelihara menjadi faktor penting dalam menjaga cadangan air tanah, terutama ketika musim kemarau ekstrem melanda. Karena itu, menjaga kelestarian lingkungan diposisikan sebagai bagian dari amal jariyah yang memiliki nilai spiritual.
Selain fokus pada pelestarian lingkungan, MOSAIC juga mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan perubahan iklim melalui program Bengkel Hijrah Iklim yang telah berjalan sejak 2022. Program tersebut membekali para pemuda Muslim agar mampu menjadi penyampai pesan perubahan iklim kepada masyarakat.
Para peserta kemudian turun langsung ke komunitas maupun pesantren untuk mengedukasi masyarakat mengenai mitigasi bencana iklim sekaligus mendorong penerapan kurikulum lingkungan.
Gerakan tersebut juga diperluas melalui platform digital Umat Untuk Semesta yang menggunakan pendekatan komunikasi yang dekat dengan generasi muda sehingga mampu mengubah kekhawatiran terhadap ancaman El Nino menjadi aksi nyata menjaga lingkungan.
Aktivis muda peduli iklim asal Depok, Jawa Barat, Kholida, menyampaikan bahwa kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup terus meningkat.
"Melalui berbagai gerakan kolaboratif, anak-anak muda kini tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktif mengambil peran sebagai solusi atas berbagai permasalahan ekologis yang terjadi saat ini," ujar dia.
Menurut dia, salah satu hasil nyata dari gerakan tersebut adalah terbentuknya komunitas pemuda peduli lingkungan yang menyelenggarakan Future Green Leaders Camp, sebuah pelatihan lingkungan hidup yang mempertemukan 30 perwakilan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina MOSAIC, Dr. Abdul Gaffar Karim, M.A., menilai bahwa perubahan iklim dan krisis energi merupakan tantangan moral yang harus dijawab dengan tindakan nyata.
"Momen ini menjadi waktu krusial untuk menggeser kepedulian umat dari yang bersifat simbolik menuju tindakan nyata merawat bumi," ungkap dia.
Selain Wakaf Hutan, MOSAIC juga mengembangkan Program Sedekah Energi sebagai solusi menghadapi meningkatnya biaya energi akibat kemarau panjang. Melalui program tersebut, dana sedekah masyarakat dimanfaatkan untuk memasang panel surya di masjid dan pesantren sehingga rumah ibadah mampu menghasilkan energi listrik secara mandiri.
"Sedekah Energi tidak hanya bertujuan menekan emisi, tetapi juga memperkuat fungsi rumah ibadah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat di tengah krisis," imbuh dia.
Saat ini Program Sedekah Energi telah diterapkan di sejumlah wilayah seperti Sembalun, Nusa Tenggara Barat, dan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Program tersebut juga tengah dikembangkan ke Garut, Jawa Barat, serta akan diperluas ke Aceh Tamiang, Cirebon, dan Sumatera Utara melalui kerja sama dengan Yayasan Wakaf Al Azhar dan Kementerian Agama.
Kontributor: Azzam Al Hanif
Editor: MAS
Sumber: www.mediaindonesia.com










.png)
.png)