Ada Kursus Internasional Ulama Perempuan

By Revolusioner 02 Nov 2026, 01:38:18 WIB Internasional
Ada Kursus Internasional Ulama Perempuan

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Kemenag.go.id


Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta akan menyelenggarakan International Short Course 2026 pada 2–9 November 2026 di Jakarta dan Cirebon. Program yang berlangsung selama sepekan ini mengusung tema “Learning Islam through Women Ulama: Knowledge, Justice, and Social Transformation in Indonesia”.

International Short Course 2026 akan membahas kontribusi ulama perempuan dalam pengembangan pengetahuan Islam, keadilan, dan transformasi sosial. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lima lembaga, yaitu Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pusat Kajian dan Masyarakat Universitas (PKMU) Masjid Istiqlal dan Nasaruddin Umar Office, LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, STF UIN Jakarta, serta Peace Research Institute Oslo (PRIO) Norwegia.

Ketua LP2M UIN Jakarta, Prof. Amelia Fauzia, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi akademisi, mahasiswa, peneliti, dan praktisi dari berbagai latar belakang untuk memahami perkembangan pemikiran Islam Indonesia secara langsung. “Melalui pertemuan dengan akademisi, ulama perempuan, pengelola pesantren, dan komunitas masyarakat, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan konseptual, tetapi juga pengalaman mengenai bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam kehidupan sosial,” ujar dia di Jakarta, Ahad (1/11/2026).

Baca Lainnya :

Guru Besar Sejarah dan Aktivis Filantropi ini menambahkan, program tersebut juga bertujuan memperkuat pertukaran akademik, memperluas jejaring internasional, serta mendorong kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi. “Pengalaman Indonesia dalam mengembangkan tradisi keislaman yang berdialog dengan persoalan keadilan, kemanusiaan, dan martabat manusia menjadi salah satu perspektif penting yang diperkenalkan kepada komunitas akademik internasional di forum ini,” papar dia.

Salah satu pembahasan utama dalam International Short Course 2026 adalah perkembangan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Gerakan intelektual dan keagamaan ini memperkuat pengakuan terhadap perempuan sebagai produsen pengetahuan sekaligus pemegang otoritas keagamaan. KUPI menawarkan pendekatan pengembangan pemikiran Islam yang memadukan khazanah keilmuan klasik, pengalaman hidup perempuan, maqasid al-syari‘ah, musyawarah, dan ijtihad kolektif.

Melalui pendekatan tersebut, peserta akan mempelajari proses produksi dan penafsiran pengetahuan keislaman, pihak-pihak yang terlibat dalam pembentukan otoritas keagamaan, serta kontribusi etika Islam dalam menjawab persoalan kontemporer. Topik yang dibahas meliputi keadilan gender, perdamaian, keberlanjutan lingkungan, inklusi sosial, dan transformasi masyarakat.

Hadirkan Akademisi dan Tokoh Keagamaan Terkemuka

Untuk memperluas perspektif pembelajaran, program ini dijadwalkan menghadirkan sejumlah akademisi, ulama, dan tokoh masyarakat. Mereka antara lain Menteri Agama Nasaruddin Umar, Rektor UIN Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar, Ketua LP2M UIN Jakarta Prof. Amelia Fauzia, serta akademisi lainnya, yakni Prof. Kusmana, Dr. Nur Rofiah, Prof. Faqihuddin Abdul Kodir, Kamala Chandrakirana, Prof. Nina Nurmila, Nyai Masriyah Amva, Nyai Toah Ja’far, Dr. Kaja Borchgrevink, Dr. Farid Saenong, KH. Marzuki Wahid, dan Nor Ismah.

Kegiatan dimulai pada 2 November 2026 di Aula VVIP Masjid Istiqlal, Jakarta. Pembukaan akan dipimpin oleh Rektor UIN Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., dengan menghadirkan Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., sebagai pembicara utama melalui kuliah bertajuk “Indonesia as a Laboratory of Living Islam”.

Sesi tersebut akan mengulas Indonesia sebagai ruang pembelajaran tentang keberagaman, pluralisme, dan dinamika kehidupan Islam. Agenda hari pertama juga mencakup kunjungan edukatif ke Masjid Istiqlal serta dialog lintas budaya antarpeserta.

Pada hari kedua dan ketiga, kegiatan pembelajaran dilanjutkan di UIN Jakarta melalui sejumlah sesi yang membahas ulama perempuan dan pengetahuan Islam, sejarah lahirnya KUPI, otoritas keagamaan, serta keadilan gender dalam masyarakat kontemporer. Peserta juga akan mengikuti diskusi panel dan lokakarya penelitian komparatif untuk membandingkan pengalaman Indonesia dengan persoalan keadilan gender di negara atau kawasan asal mereka.

Pesantren Menjadi Ruang Pembelajaran Langsung

Program ini turut menerapkan pendekatan community immersion, yakni pembelajaran melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat. Pada 5–7 November 2026, peserta akan mengikuti kegiatan di Pesantren Kebon Jambu, Cirebon, yang dikenal dengan pengembangan kepemimpinan keagamaan perempuan dan praktik keadilan gender.

Di pesantren tersebut, peserta akan berdialog dengan ulama perempuan, mengikuti kegiatan belajar bersama santri, mengamati tradisi pendidikan pesantren, serta mempelajari praktik kepemimpinan dan pemberdayaan masyarakat. Sesi khusus akan menghadirkan Nyai Masriyah Amva untuk membahas perempuan sebagai pemimpin pesantren dan Nyai Toah Ja’far yang mengangkat pengelolaan sampah serta pengembangan pesantren berwawasan lingkungan atau eco-pesantren.

Pengalaman tinggal dan berinteraksi dengan komunitas pesantren diharapkan memberikan pemahaman langsung bahwa lembaga pendidikan Islam tidak hanya menjadi pusat penyampaian ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan kepemimpinan, etika sosial, kepedulian lingkungan, dan nilai keadilan.

Pembelajaran kemudian berlanjut di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada 6 November 2026. Peserta akan mengikuti orientasi akademik dan diskusi tentang maqasid al-syari‘ah, penalaran etis, metodologi mubadalah, serta ijtihad kolektif dan produksi pengetahuan. Materi tersebut akan disampaikan antara lain oleh KH. Marzuki Wahid, Prof. Faqihuddin Abdul Kodir, Dr. Nur Ismah, dan Wahid Hasyim.

Dalam sesi tersebut, peserta akan mempelajari cara mengidentifikasi persoalan sosial, mempertimbangkan pengalaman perempuan dan keahlian berbagai pihak, serta memahami bagaimana musyawarah dan penalaran keagamaan dapat menghasilkan pandangan yang berorientasi pada keadilan.

Mengenalkan Kekayaan Sejarah dan Budaya Islam Indonesia

Selain kegiatan akademik dan pembelajaran di pesantren, program ini juga memperkenalkan keterkaitan Islam dengan kebudayaan dan kearifan lokal. Pada 8 November 2026, peserta dijadwalkan mengikuti kunjungan budaya di Cirebon, termasuk mempelajari warisan sejarah keraton dan tradisi batik melalui lokakarya Batik Trusmi dengan motif khas Megamendung.

Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman tentang perkembangan tradisi Islam Indonesia melalui dialog dengan kebudayaan lokal. Cirebon menjadi salah satu konteks penting untuk mempelajari hubungan tradisi keagamaan, sejarah, seni, dan kehidupan masyarakat Muslim.

Program akan berakhir pada 9 November 2026 di UIN Jakarta dengan agenda presentasi akhir peserta, pemberian masukan dari ulama perempuan dan akademisi, refleksi pembelajaran, serta evaluasi kegiatan. Ketua LP2M UIN Jakarta Prof. Amelia Fauzia dijadwalkan memimpin penyerahan sertifikat sekaligus prosesi penutupan.

Selama delapan hari, peserta diharapkan mengikuti berbagai bentuk pembelajaran, mulai dari kuliah akademik, seminar, diskusi panel, lokakarya interaktif, kunjungan lapangan, jurnal reflektif, hingga presentasi kelompok. Materi yang dipelajari meliputi Islam Indonesia dalam perspektif global, ulama perempuan dan otoritas keagamaan, keadilan gender dan etika Islam, metodologi mubadalah, ijtihad kolektif, maqasid al-syari‘ah, agama dan transformasi sosial, serta Islam, budaya, dan kearifan lokal.

Melalui International Short Course 2026, Prof. Amelia Fauzia menegaskan bahwa UIN Jakarta diharapkan tidak hanya memperluas jejaring dan kolaborasi akademik internasional, tetapi juga berperan memperkenalkan pengalaman Indonesia sebagai salah satu ruang penting bagi perkembangan pemikiran Islam kontemporer. “Kontribusi ulama perempuan, tradisi pesantren, dan praktik keislaman yang berorientasi pada keadilan menjadi kekayaan intelektual Indonesia yang relevan untuk memperkaya dialog global mengenai Islam dan masa depan masyarakat yang berkeadaban,” ujar dia.

Kontributor: Raeihan

Editor: MAS

Sumber: www.kemenag.go.id  




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment