Wakaf, Solusi Kebencanaan Global

By Revolusioner 21 Apr 2026, 08:35:14 WIB Wakaf
Wakaf, Solusi Kebencanaan Global

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Rri.co.id


Internasionalisasi akademik tidak lagi berhenti pada tataran wacana di lingkungan UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Hal ini tercermin dalam kegiatan Studium Generale yang diselenggarakan oleh Program Studi S1 Ekonomi Islam dan S2 Ekonomi Syariah FEBI pada Senin (20/4/2026), dengan menghadirkan akademisi dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

Mengusung tema Optimizing Waqf Asset Utilization for Community Development in Disaster-Affected Areas, forum yang digelar secara daring melalui Zoom tersebut menyoroti urgensi transformasi wakaf agar mampu beradaptasi dengan dinamika global, khususnya dalam konteks penanggulangan bencana.

Dekan FEBI, Aidil Alfin, dalam sambutannya menegaskan bahwa isu ini tidak bersifat teoretis semata. Ia menempatkan Sumatera Barat sebagai wilayah yang rentan bencana karena berada di jalur Ring of Fire, sehingga membutuhkan solusi konkret berbasis wakaf.

Baca Lainnya :

Ia menilai persoalan utama pengelolaan wakaf di Indonesia terletak pada paradigma yang masih terbatas. Selama ini, wakaf cenderung dimaknai secara simbolik—sebatas pembangunan masjid, mushalla, atau makam—tanpa dikembangkan sebagai instrumen ekonomi produktif.

Menurutnya, tidak sedikit aset wakaf yang belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan berpotensi menjadi beban ketika terjadi bencana. Karena itu, ia mendorong perubahan mendasar agar wakaf dapat berfungsi sebagai aset yang hidup dan produktif dalam mendukung pemulihan ekonomi masyarakat.

Pandangan tersebut diperkuat oleh pemaparan narasumber utama, Azima Abdul Manaf, yang menghadirkan perspektif global terkait pengelolaan wakaf berbasis kebencanaan.

Ia menjelaskan bahwa kompleksitas bencana global menuntut pendekatan yang lebih sistemik dan terintegrasi. Dalam kerangka ini, wakaf dinilai memiliki potensi besar apabila dikelola secara menyeluruh, tidak lagi bersifat parsial.

Ia mencontohkan praktik di sejumlah negara, seperti Turki yang mengembangkan wakaf produktif untuk keberlanjutan pendanaan, Bangladesh yang memanfaatkan wakaf tunai untuk respons cepat, serta Jepang yang unggul dalam kesiapsiagaan berbasis komunitas.

Berdasarkan praktik tersebut, ia menawarkan konsep Integrated Waqf Disaster Resilience Framework (IWDRF), yaitu model yang mengintegrasikan aspek keuangan, infrastruktur sosial, dan tata kelola modern dalam satu sistem terpadu. Pendekatan ini diyakini mampu mempercepat respons bantuan, menstabilkan pemulihan ekonomi, serta memperkuat ketahanan terhadap risiko bencana.

Di penghujung kegiatan, Aidil Alfin kembali menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Ia mendorong agar mahasiswa tidak sekadar menjadi pengamat, tetapi mampu mengimplementasikan konsep menjadi solusi nyata dengan mengintegrasikan wakaf bersama instrumen modern seperti sukuk dan asuransi syariah.

Kegiatan studium generale ini menandai langkah strategis FEBI dalam memperluas peran dari level lokal menuju percaturan global ekonomi syariah, khususnya dalam menjawab tantangan kemanusiaan dan kebencanaan.

Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.rri.co.id




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment