- Penyintas Aceh Rawat Sumur untuk Warga
- Ambulans DD Evakuasi Warga Gaza
- Safar, Momentum Perbanyak Sedekah
- YBM PLN dan Rumah Zakat Tebar Sembako
- Cara Mendidik Anak Islami di Era Digital
- Donasi Rp2,5 M untuk Korban Penyekapan
- Carnival Perluas Donasi Pangan Bahama
- Ini Solusi Dokumen Tanah Wakaf Hilang
- Zakat PHR Bantu 181 Pelajar
- Lazismu Kampanye Zakat dan Kebencanaan
Serangan Israel Hambat Bantuan ke Gaza
.png)
Keterangan Gambar : Foto: Dok. Aktual.com
Warga sipil Palestina di Jalur Gaza dilaporkan terus menjadi sasaran serangan militer Israel. Kondisi tersebut memaksa semakin banyak warga mengungsi, sementara aksi kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di Tepi Barat menjadi penyebab utama banyak warga Palestina mengalami luka-luka, demikian disampaikan badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (16/7).
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan warga Gaza masih menanggung dampak paling besar akibat operasi militer yang terus berlangsung serta pengungsian paksa yang terjadi berulang kali.
Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) pada Rabu (15/7) menyampaikan bahwa warga yang dipaksa mengungsi berisiko kehilangan akses terhadap layanan dasar maupun bantuan kemanusiaan.
Baca Lainnya :
- Kepri Bidik Kerja Sama Bangun Palestina 0
- DD Perkuat Bantuan untuk Palestina0
- Mesir Bela Palestina di Piala Dunia0
- Komunitas Pelari Kampanye Bela Palestina0
- Korea Bantu Palestina 10 Juta Dolar 0
OCHA juga menyebut serangan yang dilakukan pemukim Israel menjadi salah satu penyebab utama warga Palestina mengalami luka-luka di Tepi Barat, dengan menyumbang sekitar 55 persen dari seluruh kasus luka-luka sepanjang 2026.
Menurut OCHA, warga Palestina di Tepi Barat harus mendapatkan perlindungan sesuai ketentuan hukum humaniter internasional.
Pekerja kemanusiaan PBB pada Selasa (14/7) melaporkan adanya peningkatan aktivitas militer Israel yang mengganggu operasi bantuan kemanusiaan di sekitar "Garis Kuning" di Rafah bagian utara, Jalur Gaza.
OCHA menyampaikan bahwa badan tersebut bersama para mitra kemanusiaannya menerima laporan mengenai meningkatnya aktivitas militer di sejumlah lokasi di Rafah utara, termasuk adanya pergerakan tank menuju salah satu kawasan penampungan pengungsi.
“Laporan awal menunjukkan seorang warga Palestina tewas dan tiga lainnya terluka di salah satu lokasi tersebut. Para korban luka dilaporkan telah dipindahkan ke Rumah Sakit Lapangan Komite Palang Merah Internasional untuk mendapatkan perawatan,” kata OCHA.
OCHA juga menyampaikan bahwa pada Senin (13/7), para pekerja kemanusiaan menggelar konsultasi dengan perwakilan masyarakat dari 17 lokasi pengungsian yang dihuni sekitar 3.000 keluarga setelah muncul laporan mengenai pergerakan pasukan Israel dan terganggunya layanan kemanusiaan di wilayah tersebut.
“Para perwakilan masyarakat melaporkan blok-blok kuning yang digunakan untuk menandai garis tersebut telah digeser ke arah utara,” kata OCHA.
“Mereka menyebutkan adanya pergerakan harian tank-tank Israel, pembangunan tanggul pasir, serta penembakan yang terjadi berulang kali. Sejumlah keluarga pengungsi dilaporkan tetap berada di dalam tenda mereka hampir sepanjang hari karena takut terkena tembakan,” ungkap badan kemanusiaan tersebut.
Sejumlah warga menyampaikan kepada para pekerja kemanusiaan bahwa mereka ingin berpindah ke lokasi yang lebih aman. Namun, pilihan yang tersedia sangat terbatas karena minimnya ruang di tempat lain, kurangnya ketersediaan tenda dan kebutuhan dasar lainnya, serta terbatasnya akses terhadap berbagai layanan.
Sebagian warga lainnya memilih tetap bertahan karena khawatir kehilangan rumah, lahan, maupun harta benda yang mereka miliki.
OCHA menyatakan situasi keamanan tersebut telah mengganggu distribusi bantuan kemanusiaan. Bahkan, seorang pengemudi truk pengangkut air bersih dilaporkan mengalami luka akibat tembakan pada 8 Juli lalu.
Di Tepi Barat, OCHA juga melaporkan bahwa pada akhir pekan lalu pemukim Israel menyerang warga Palestina yang sedang bekerja di lahan pertanian di wilayah Kegubernuran Hebron bagian selatan.
Sekitar 30 warga Palestina mengalami luka-luka, termasuk anak-anak, perempuan, dan lanjut usia. Selain itu, sejumlah pohon zaitun serta infrastruktur pertanian dilaporkan mengalami kerusakan.
“Dalam insiden tersebut, pasukan Israel dilaporkan tiba di lokasi kejadian dan menyatakan daerah itu sebagai zona militer tertutup, serta memerintahkan petani Palestina untuk pergi, sementara para pemukim Israel tetap berada di daerah tersebut. Insiden-insiden ini mencerminkan pola kekerasan berulang oleh pemukim yang berdampak pada warga Palestina yang berupaya mengakses dan mengolah lahan pertanian mereka,” kata OCHA.
OCHA menambahkan bahwa para mitra kemanusiaannya terus memberikan bantuan kepada komunitas yang terdampak. Badan tersebut kembali menegaskan bahwa warga sipil harus dilindungi dan seluruh insiden kekerasan harus ditangani sesuai hukum internasional.
Kontributor: Azzam Al Hanif
Editor: MAS
Sumber: www.aktual.com

.jpg)









.png)
.png)