Seabad Gontor: Pancajiwa dan Wakaf Nilai
Oleh: Abd. Rohim Ghazali (Senior Fellow Maarif Institute, Direktur InDesa, Wakil Ketua LHKP PP Muhammadiyah 2022-2027)

By Revolusioner 20 Sep 2026, 06:58:54 WIB Opini
Seabad Gontor: Pancajiwa dan Wakaf Nilai

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Inilah.com


“Di Gontor, apa yang kau cari?” Pertanyaan ini dilontarkan setiap tahun di hadapan ribuan santri pada Khutbatul ‘Arsy, apel tahunan ketika tahun ajaran baru dimulai. Pertanyaan yang tidak pernah benar-benar dijawab di tempat itu. Ia dibawa pulang ke kamar, kelas, lapangan, dapur, dan terutama ke tahun-tahun panjang setelah seseorang meninggalkan pondok.

Saya mendengarnya pertama kali pada 1983 dan meninggalkan Gontor pada 1987. Empat puluh tahun kemudian saya baru menyadari: pertanyaan itu memang dirancang untuk tidak pernah selesai.

Pada 19 September tahun ini, Gontor genap berusia satu abad. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Gontor melanjutkan tradisi presiden-presiden sebelumnya yang semuanya pernah berkunjung ke Gontor. Bahkan di podium, Prabowo meminta untuk diundang kembali dalam suasana yang lebih akrab, tanpa kehadiran wartawan. Apa maksudnya? Wallahu a’lam!

Baca Lainnya :

Yang jelas, sebagaimana diceritakan salah satu pimpinan Pondok Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, dulu Gontor adalah singkatan dari nggon kotor (tempat yang kotor). Semua jenis keburukan seperti mo limo ada di Gontor. Tetapi setelah berdiri pondok Gontor, tempat ini berubah menjadi nggon inspirator.

Sebelum 1926, sudah ada pondok di desa itu, tetapi kemudian meredup hingga nyaris tak bersisa. Tiga bersaudara—Kiai Ahmad Sahal, Kiai Zainuddin Fananie, dan Kiai Imam Zarkasyi—memulai kembali dari puing-puing yang ada. Mereka tidak mewarisi kejayaan. Mereka mewarisi sisa-sisa, lalu memutuskan untuk berjalan.

Man sara ‘ala ad-darbi washala. Siapa berjalan pada jalannya, ia akan sampai.

Sepuluh tahun kemudian, pada 1936, Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) berdiri. Sepuluh tahun adalah waktu yang panjang bagi sebuah perjuangan yang belum diketahui ujungnya. Man shabara zhafira. Siapa bersabar, ia beruntung.

Namun, yang membuat Gontor menarik bukan sekadar usianya. Ada sesuatu yang sejak awal membuatnya berbeda dari banyak pesantren lain. Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren (1982) menggambarkan unsur pokok pesantren melalui pondok, masjid, santri, pengajaran kitab kuning, dan kiai. Gontor memiliki semuanya, tetapi mengambil jalan yang berbeda. Kitab kuning bukan poros utama. Bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa sehari-hari. Dan yang paling penting, kepemimpinan tidak diwariskan melalui garis darah.

Puncaknya terjadi pada 1958. Trimurti mewakafkan Gontor kepada umat Islam. Keputusan ini luar biasa. Tiga orang yang membangun lembaga tersebut selama puluhan tahun, dengan tenaga, pikiran, dan harta mereka sendiri, justru melepaskannya ketika mulai tumbuh. Mereka mengubah Gontor dari milik menjadi amanah.

Max Weber menyebut proses perubahan kewibawaan pribadi menjadi sistem sebagai rutinisasi karisma. Banyak lembaga gagal melewati fase ini karena ketika pendirinya pergi, lembaganya ikut kehilangan arah. Gontor memilih jalan berbeda: kewenangan tertinggi tidak diberikan kepada satu keluarga, melainkan kepada badan yang menjaga amanah. Di situlah makna tindakan Trimurti sesungguhnya terasa.

Panca Jiwa

Indonesia punya Pancasila, Gontor punya Panca Jiwa—keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan—yang bukan sekadar lima slogan, tetapi ditanamkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Keikhlasan dipelajari dari guru-guru muda yang mengajar tanpa banyak menuntut. Kesederhanaan terasa dari kamar, antrean mandi, dan kehidupan bersama tanpa membedakan anak pejabat dan anak petani. Berdikari diajarkan melalui kemampuan pondok menghidupi dirinya sendiri. Ukhuwah tumbuh dari kamar-kamar yang dihuni santri dari berbagai daerah dan bahkan berbagai negara.

Adapun kebebasan bukanlah kebebasan berbuat sesuka hati. Ia adalah kebebasan berpikir dan menentukan masa depan, yang justru tumbuh melalui disiplin.

Motto Gontor merangkum semuanya: berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas. Urutannya penting. Budi ditempatkan lebih dahulu, sebelum kesehatan, pengetahuan, dan kebebasan berpikir.

Tetapi justru di sinilah pertanyaan berikutnya muncul. Mengapa alumni Gontor bisa berjalan ke arah yang begitu beragam? Martin van Bruinessen pernah mencatat adanya jalan-jalan pemikiran yang bercabang di kalangan alumni Gontor. Sebagian bergerak ke arah pembaruan yang terbuka, sebagian lainnya mengambil jalan yang berbeda.

Bukankah ini paradoks? Mungkin tidak. Gontor memang tidak terutama menanamkan keseragaman pemikiran. Ia menanamkan kemampuan: membaca, berbicara, memimpin, mengelola organisasi, dan hidup dalam disiplin. Kemampuan itu dapat digunakan untuk berbagai arah.

Berpikiran bebas memang mengandung konsekuensi. Kebebasan berpikir tidak menjamin keseragaman hasil.

Wakaf Nilai

Seratus tahun Gontor seharusnya bukan sekadar momentum perayaan, melainkan momentum perhitungan. Usia panjang menunjukkan bahwa sebuah lembaga telah melembaga, tetapi tantangan sesungguhnya adalah apakah ia mampu menghadapi zaman yang terus berubah tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

Sebab, setiap lembaga yang berhasil akan menghadapi godaan yang sama: berubah dari gerakan menjadi warisan, dari amanah menjadi milik, dari pengabdian menjadi kedudukan. Godaan itu justru sering datang dari keberhasilan itu sendiri.

Karena itu, wakaf Trimurti pada 1958 bukan sekadar wakaf tanah dan bangunan. Yang sesungguhnya mereka wakafkan adalah nilai. Dan nilai tidak pernah cukup diwariskan melalui akta. Ia hanya akan hidup jika setiap generasi bersedia menanggungnya.

Maka, setelah satu abad, pertanyaan Khutbatul ‘Arsy itu kembali kepada kita yang sudah lama meninggalkan pondok: “Di Gontor, apa yang kau cari?”

Mungkin kini pertanyaan itu harus dibalik. Bukan lagi apa yang kita cari di Gontor, melainkan apa yang masih kita bawa dari Gontor hari ini—dan apa yang telah kita tinggalkan di tengah jalan.

Sumber: www.inilah.com 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment