- MUI: Mualaf Penggerak Kebaikan
- RZ Tebar Masker Abu Krakatau
- 8 Negara Muslim Larang Impor Israel
- APCQP Galang Kolaborasi untuk Palestina
- BWI Bangun Ekosistem Riset Wakaf
- PM Inggris: Setop Derita Palestina
- Ini Dia Beasiswa Madrasah untuk Guru
- Mendikti Perintahkan Kampus Dirikan UPZ
- Baznas Cari Wartawan Hilang di Krakatau
- Wakaf Jadi Solusi Kebencanaan
MUI: Mualaf Penggerak Kebaikan

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Mui.or.id
Menjadi mualaf bukan berarti berakhirnya proses mempelajari Islam. Selain memperoleh pembinaan untuk memperkuat keimanan dan pemahaman agama, para mualaf diharapkan dapat menjadi penggerak yang memberikan manfaat bagi sesama mualaf dan masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Mualaf (LP2M) MUI Pusat melalui Bootcamp Mualaf Muharik.
Program tersebut dirancang agar para mualaf tidak hanya menjadi pribadi yang saleh, tetapi juga mampu menjadi muslih yang dapat memberikan pengaruh positif kepada orang lain.
Baca Lainnya :
- Ini Tolok Ukur Mustahik Menuju Muzaki0
- Baznas Tegal: Rp1,1 M untuk 2.340 Mustahik0
- Ada Beasiswa Kuliah di China untuk HST 0
- Rumah Runtuh, Komarudin Dapat Bantuan0
- Baznas Sleman Modali Usaha Mustahik0
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis, mengatakan pembinaan mualaf perlu dilakukan secara berkelanjutan agar mereka memiliki pemahaman Islam secara utuh sekaligus mampu membantu menguatkan mualaf lainnya.
"Alquran menyebutkan orang-orang yang dikasihani, disayangi hatinya karena mereka baru masuk Islam. Dalam rangka ini, Majelis Ulama Indonesia melalui Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Mualaf menyelenggarakan Bootcamp Mualaf Muharik," kata dia kepada MUI Digital di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Kiai Cholil menjelaskan Mualaf Muharik diarahkan untuk melahirkan para penggerak dari kalangan mualaf. Peserta diharapkan mampu mengajak mualaf lainnya untuk terus mempelajari Islam dan meningkatkan kualitas keislamannya.
"Jadi, mualaf yang akan menjadi penggerak bagaimana mengajak mualaf lain lebih utuh, lebih sempurna, lebih baik di dalam berislam, terus belajar dan belajar," kata dia.
Menurut Kiai Cholil, keberhasilan pembinaan mualaf tidak hanya dilihat dari perubahan pribadi seseorang setelah memeluk Islam. Para mualaf juga diharapkan mampu memberikan manfaat serta menyebarkan kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya.
"Sehingga dia tidak sekadar menjadi orang saleh setelah dia masuk Islam, melainkan dia juga muslih, memberikan kebaikan, memberikan pengaruh baik kepada yang lain," tutur dia.
Konsep tersebut menjadi salah satu pembeda dalam pembinaan Mualaf Muharik. Peserta tidak hanya diarahkan untuk memperkuat pemahaman agama Islam, tetapi juga dipersiapkan agar memiliki keberanian dan kapasitas untuk mengambil peran di tengah masyarakat.
MUI berharap pelaksanaan bootcamp tersebut dapat menjadi sarana untuk memberikan pemahaman Islam secara utuh sekaligus memperkuat kemampuan peserta untuk menjadi dai. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong para mualaf turut membangun negeri menjadi lebih baik.
Selain pembinaan keagamaan, LP2M MUI Pusat juga memasukkan aspek pemberdayaan ekonomi dalam Bootcamp Mualaf Muharik.
Kegiatan yang mengusung tema "Dari Mualaf Menjadi Muharik, Berdaya untuk Kemaslahatan" tersebut akan berlangsung pada 18–20 September 2026 di Villa Bukit Pinus, Kampung Legok Nyenang, Caringin, Bogor, Jawa Barat.
Melalui kegiatan tersebut, para mualaf didorong untuk memiliki kemandirian serta kemampuan berwirausaha. Dengan demikian, mereka dapat mengembangkan potensi ekonomi sekaligus memberikan kontribusi bagi kemaslahatan masyarakat.
Bootcamp Mualaf Muharik terbuka bagi laki-laki dan perempuan berusia 18–50 tahun yang telah berstatus mualaf minimal dua tahun.
Calon peserta juga diharapkan pernah memiliki usaha serta mempunyai kemampuan dan semangat dalam berwirausaha. Peserta diwajibkan mengisi formulir pendaftaran dan memiliki smartphone.
Kontributor: Tia Lestari
Editor: MAS
Sumber: www.mui.or.id











.png)
.png)