Filantropi, Solusi Dampak Disrupsi Teknologi
Oleh: Milani Sheva Andiani (Mahasiswi Telkom University Bandung)

By Revolusioner 28 Sep 2026, 08:43:25 WIB Opini
Filantropi, Solusi Dampak Disrupsi Teknologi

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Pribadi Milani Sheva Andiani


Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh cara manusia menjalani kehidupan, termasuk cara memperoleh informasi, berkomunikasi, bekerja, hingga menjalankan aktivitas sosial dan keagamaan. Perubahan tersebut membawa banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan persoalan baru.

Media cetak yang selama puluhan bahkan ratusan tahun menjadi sumber informasi masyarakat mulai kehilangan pembaca dan pendapatan, sementara kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang dengan kemampuan yang semakin besar. Di sisi lain, ruang digital juga menjadi tempat baru bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan agama dan menjalankan aktivitas dakwah.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi sebenarnya bukan sekadar persoalan alat, melainkan persoalan bagaimana manusia menggunakan dan mengarahkannya. Karena itu, perkembangan teknologi perlu dilihat tidak hanya dari sisi keuntungan dan efisiensi, tetapi juga dari sisi tanggung jawab sosial. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk melihat persoalan tersebut adalah filantropi, yaitu gagasan mengenai tindakan memberikan manfaat bagi orang lain dan berkontribusi terhadap kepentingan sosial.

Baca Lainnya :

Ketika Teknologi Mengubah Ekosistem Informasi

Perubahan media menjadi salah satu contoh nyata bagaimana teknologi dapat mengubah struktur kehidupan masyarakat. Dalam artikel Kabarika berjudul Catatan Menyambut HPN ke-40 Tahun 2025 (4): Sejumlah Media Cetak di Amerika dan Eropa Juga Terjungkal di Era Digital, dijelaskan bahwa sejumlah media cetak besar di Amerika dan Eropa mengalami penurunan pembaca, kesulitan keuangan, hingga penghentian edisi cetak akibat perkembangan internet dan perubahan pola konsumsi informasi. Media sosial dan platform digital juga mengambil sebagian besar perhatian masyarakat sekaligus menggeser pola pemasukan iklan yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan media konvensional.

Masalahnya bukan sekadar apakah koran masih dicetak atau tidak. Di balik hilangnya media cetak terdapat persoalan yang lebih besar, yaitu keberlangsungan informasi yang berkualitas. Ketika media yang memiliki sumber daya untuk melakukan investigasi dan peliputan mendalam semakin berkurang, masyarakat dapat semakin banyak menerima informasi yang cepat tetapi belum tentu memiliki kedalaman dan proses verifikasi yang sama.

Di titik inilah filantropi menjadi relevan. Jika informasi berkualitas memiliki manfaat bagi masyarakat luas, maka mempertahankan keberadaannya tidak semestinya hanya dipandang sebagai urusan bisnis. Media memang membutuhkan pendapatan untuk bertahan, tetapi fungsi sosial media sebagai penyedia informasi publik juga perlu diperhatikan. Filantropi dapat hadir melalui berbagai bentuk dukungan terhadap jurnalisme berkualitas, pendidikan literasi media, beasiswa bagi calon jurnalis, hingga pendanaan terhadap media independen yang menjalankan fungsi sosialnya.

Namun, persoalan teknologi tidak berhenti pada media. Saat manusia mulai beradaptasi dengan dominasi platform digital, AI muncul sebagai perkembangan berikutnya yang membawa peluang sekaligus risiko yang jauh lebih besar.

Dalam artikel detikInet berjudul Peringatan Keras Bill Gates: AI Bisa Bunuh Miliaran Orang, Bill Gates memperingatkan mengenai potensi penyalahgunaan AI dan dampak yang dapat ditimbulkan apabila teknologi tersebut digunakan secara tidak bertanggung jawab. Peringatan tersebut menunjukkan bahwa semakin besar kemampuan sebuah teknologi, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan dan tanggung jawab dalam penggunaannya.

Peringatan tersebut tidak berarti bahwa AI harus dipandang semata-mata sebagai ancaman. Justru, persoalan utamanya terletak pada bagaimana teknologi dengan kemampuan besar tersebut digunakan. Teknologi yang sama dapat digunakan untuk mempercepat pekerjaan, membantu pendidikan, memperluas akses informasi, maupun membantu menyelesaikan persoalan sosial. Akan tetapi, teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk kepentingan yang merugikan masyarakat.

Karena itu, filantropi di era AI seharusnya tidak hanya dipahami sebagai memberikan uang kepada orang yang membutuhkan. Filantropi dapat berkembang menjadi investasi sosial untuk memastikan teknologi memberikan manfaat yang lebih luas. Dukungan terhadap pendidikan AI, literasi digital, penelitian mengenai keamanan teknologi, pengembangan teknologi untuk kelompok rentan, serta program yang membantu masyarakat memahami risiko AI merupakan bentuk kontribusi sosial yang semakin relevan.

Dari Dakwah Digital Menuju Tanggung Jawab Sosial

Persoalan yang sama sebenarnya telah muncul lebih dahulu dalam perkembangan dakwah di ruang digital. Penelitian Ekosistem Dakwah dalam Era Teknologi Disruptif menunjukkan bahwa perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi keagamaan. Dakwah tidak dapat terus bergantung pada pendekatan konvensional karena masyarakat telah hidup dalam lingkungan digital yang dipenuhi internet, media sosial, perangkat pintar, dan berbagai bentuk multimedia.

Perubahan tersebut membuka peluang besar. Dakwah dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun, ruang digital juga memiliki persoalan berupa informasi yang tidak tersaring dan sumber yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, kemampuan masyarakat untuk menilai dan memeriksa informasi menjadi semakin penting.

Dari sini terlihat hubungan antara media, AI, dan dakwah. Ketiganya sama-sama berada dalam ekosistem informasi yang sedang berubah. Media menghadapi perubahan akibat internet, masyarakat menghadapi perubahan akibat AI, sementara dakwah menghadapi perubahan akibat perpindahan aktivitas komunikasi ke ruang digital. Ketiganya membutuhkan satu hal yang sama: tanggung jawab dalam menggunakan teknologi untuk kepentingan manusia.

Dalam perspektif filantropi, teknologi seharusnya tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi pihak yang memiliki dan mengembangkannya. Ada tanggung jawab untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas. Filantropi dapat menjadi salah satu mekanisme untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Bukan hanya melalui pemberian bantuan, tetapi melalui penciptaan ekosistem yang membuat pengetahuan, informasi, pendidikan, dan teknologi dapat memberikan manfaat sosial.

Misalnya, perusahaan teknologi dapat mendukung program literasi digital bagi masyarakat. Perusahaan media dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk mengajarkan kemampuan memeriksa informasi. Lembaga keagamaan dapat memanfaatkan teknologi sekaligus meningkatkan kemampuan para pendakwah dalam memahami karakteristik media digital. Perguruan tinggi juga dapat mengambil peran melalui penelitian dan pendidikan mengenai etika AI, komunikasi digital, serta literasi informasi.

Dengan demikian, filantropi tidak lagi hanya berbicara tentang memberi setelah terjadi masalah. Filantropi dapat ditempatkan sebagai upaya preventif untuk membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi perubahan. Jika masyarakat dibekali literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan akses terhadap informasi yang berkualitas, mereka akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi disinformasi maupun penyalahgunaan teknologi.

Pada akhirnya, persoalan terbesar dari perkembangan teknologi bukanlah apakah manusia mampu menciptakan teknologi yang semakin canggih. Manusia telah menunjukkan kemampuan tersebut. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah manusia mampu memastikan kecanggihan tersebut tetap memiliki arah sosial.

Kematian sejumlah media cetak memperlihatkan bahwa teknologi dapat mengubah sistem informasi yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Peringatan mengenai risiko AI menunjukkan bahwa teknologi baru dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih besar apabila digunakan tanpa pengawasan dan tanggung jawab. Sementara itu, perkembangan dakwah digital menunjukkan bahwa teknologi juga dapat menjadi sarana untuk memperluas akses terhadap pengetahuan, selama digunakan dengan kemampuan dan etika yang tepat.

Karena itu, filantropi di era digital perlu mengalami perubahan cara pandang. Memberi bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang membangun akses, pengetahuan, keamanan, dan kesempatan. Ketika teknologi semakin kuat, tanggung jawab sosial manusia seharusnya juga semakin kuat.

Sebab, teknologi yang maju tanpa kepedulian sosial hanya akan memperbesar kemampuan manusia, tanpa menjamin bahwa kemampuan tersebut digunakan untuk kebaikan bersama. Pada akhirnya, masa depan teknologi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mampu menciptakan inovasi paling cepat, tetapi juga oleh siapa yang bersedia memastikan inovasi tersebut memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin manusia. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment