Palestina, Macklemore dan Musik Sebagai Alat Perjuangan Kemanusiaan
Oleh: Ahmad Fadhlan (Mahasiswa Universitas Gunadarma)

By Revolusioner 28 Sep 2026, 08:40:52 WIB Opini
Palestina, Macklemore dan Musik Sebagai Alat Perjuangan Kemanusiaan

Keterangan Gambar : Foto: Dok.Pribadi Ahmad Fadhlan


Keputusan rapper Macklemore untuk menginisiasi tur independen bertajuk Macklemore and Friends Free Palestine Tour—setelah secara sepihak dicoret dari Loop Tour Ed Sheeran akibat tekanan pemilik Gillette Stadium, Robert Kraft—menjadi momen krusial dalam peta gerakan sosial global.

Penyelenggaraan tur mandiri di Eropa yang mengalokasikan seluruh keuntungan tiketnya kepada 12 lembaga kemanusiaan Palestina (seperti UNRWA, Medical Aid for Palestine, Gaza Soup Kitchen, hingga Heal Palestine) melampaui sekadar aksi kedermawanan biasa. Fenomena ini mencerminkan pergeseran paradigmatik yang sejajar dengan dinamika teori-teori filantropi Islam mutakhir, di mana kedermawanan bertransformasi dari aksi karitatif individual menjadi instrumen perlawanan atas hegemoni modal dan pembungkaman struktur.

Anatomi Pencoretan: Ketika Modal Menentukan Siapa yang Boleh Bersuara

Baca Lainnya :

Akar permasalahan ini bermula pada awal September 2026, ketika Macklemore menyuarakan dukungan untuk Palestina dan membawakan lagu protesnya yang bertajuk “Hind’s Hall” di MetLife Stadium, New Jersey . Aksi tersebut memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk penyanyi P!nk dan Dewan Israel-Amerika, yang mendesak agar rapper tersebut segera dihapus dari daftar tur .

Tekanan tersebut berujung pada pengumuman dari Messina Touring Group selaku promotor tur di Amerika Serikat pada Senin, 14 September 2026. Mereka menyatakan bahwa Macklemore dicoret dari sisa jadwal setelah beberapa pihak penyelenggara menolak menggelar konser jika rapper tersebut tetap masuk dalam daftar tampil .

Salah satu penolakan tegas datang dari Robert Kraft, pemilik Gillette Stadium, yang mengonfirmasi keputusannya untuk melarang Macklemore tampil di venue miliknya pada tanggal 25 dan 26 September karena menilai tindakan tersebut menyinggung komunitas Yahudi.

Macklemore sendiri mengungkapkan bahwa Ed Sheeran meneleponnya untuk menjelaskan bahwa Kraft telah mengintervensi untuk menghentikan penampilannya. “Ed told me that Kraft said I would not be allowed to play in that stadium,” tulis Macklemore dalam unggahan media sosialnya. “Ed also told me that Kraft had rallied some of the other stadium owners and collectively they gave him an ultimatum: if Macklemore stays on the tour, you will not be allowed to play in our venues” .

Orientasi Maqashid Syariah dan Transformasi Tamkin

Dalam kajian filantropi Islam kontemporer, tindakan redistribusi harta tidak dipandang sebatas pemenuhan kesalehan ritual, melainkan instrumen hukum etik untuk menegakkan maslahah atau kemaslahatan publik dan menolak mafsadah yakni kemudaratan serta ketidakadilan.

Komitmen Macklemore menyalurkan hasil tur dan sumbangan pribadi senilai US$1 juta ke lembaga kemanusiaan merupakan manifestasi langsung dari upaya menjaga kelangsungan hidup (Hifzh an-Nafs) korban krisis kemanusiaan di Palestina. Dalam unggahan Instagram-nya, Macklemore menyatakan: “With everything that has happened over the last 48 hours, I want to bring the conversation back to where it belongs: to the Palestinian people who are still being killed, still living under military occupation, and still fighting for their freedom” .

Dana tersebut disalurkan kepada enam organisasi yang bekerja langsung untuk membantu rakyat Palestina: Palestine Children’s Relief Fund, HEAL Palestine, Gaza Soup Kitchen, Medical Aid for Palestinians, UNRWA USA National Committee, dan Anera . Menggunakan panggung seni sebagai sarana penggalangan dana di tengah pembatasan finansial bertindak sebagai bentuk pelaksanaan fardh kifayah kolektif guna merespons penderitaan manusia yang terancam secara sistemik.

Tegasan Macklemore bahwa bersikap apolitis di tengah genosida bukan lagi pilihan—“Being apolitical during a genocide doesn’t work anymore”—sangat relevan dengan konsep Da’wah bil-Hal dan tamkin atau pemberdayaan terstruktur . Filantropi tidak lagi bersikap dingin atau netral, melainkan menjadi alat advokasi atas hak-hak dasar yang dirampas. Tindakan menggalang dana secara mandiri ini membuktikan bahwa filantropi sanggup membebaskan diri dari dikte para elite pemilik modal yang kerap menggunakan kekuasaan finansialnya untuk menyensor narasi kemanusiaan.

Solidarity-Based Philanthropy dan Integrasi Ukhuwah Insaniyah 

Konsep filantropi Islam modern memperluas batas-batas partisipasi melalui nilai ukhuwah insaniyah atau persaudaraan kemanusiaan lintas batas yang bertumpu pada solidaritas organik dan modal sosial. Pengunduran diri serentak musisi pembuka tur Ed Sheeran—seperti Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, dan Beoga—sebagai bentuk protestasi atas pencoretan Macklemore menunjukkan lahirnya ekosistem filantropi berbasis solidaritas yang kuat .

Finneas, yang seharusnya tampil di beberapa tanggal tur Amerika Selatan, menyatakan dengan tegas: “Artists must not be silenced when they speak up for the oppressed. I have decided to withdraw from my upcoming tour dates with Ed Sheeran. I stand with Palestine and its people” .

Aaron Rowe, penyanyi-penulis lagu asal Dublin, menyatakan bahwa ia tidak bisa tinggal diam melihat miliarder menggunakan posisi kekuasaan mereka untuk membungkam suara-suara yang benar. “I cannot stand by and allow billionaires to use their position of power to silence the rightful voices of those who speak up against Israeli genocide and who highlight the savage murder of children,” ujar Rowe .

Lukas Graham, yang juga memilih mundur, menyuarakan sentimen serupa: “Money doesn’t give you the right to own the conversation. Nobody’s bank balance should decide who gets to speak or which suffering we’re allowed to acknowledge” .

Beoga, band tradisional Irlandia yang menjadi pengiring Sheeran, adalah pendiri gerakan Irish Artists for Palestine. Mereka menyatakan mundur “following the silencing of Macklemore by Zionist lobbies” .

Sinergi antara seniman, publik pembeli tiket, serta jejaring 12 organisasi penerima manfaat (termasuk Jewish Voice for Peace dan UNRWA) membuktikan bahwa kekuatan kolektif mampu merobohkan sekat-sekat eksklusif dan menciptakan dampak sosial yang masif.

Tur Free Palestine: Arsitektur Perlawanan Melalui Seni

Tur Free Palestine yang diumumkan Macklemore akan dimulai dengan pertunjukan di 3Arena Dublin pada 26 Oktober 2026, dilanjutkan ke Accor Arena Paris pada 29 Oktober, dan Ovo Arena Wembley London pada 30 Oktober . Tiket untuk pertunjukan di Dublin akan mulai dijual pada 30 September pukul 10.00, dengan harga antara €67,65 dan €77,20 .

Seluruh hasil dari konser ini akan disalurkan kepada organisasi-organisasi yang mendukung Palestina dan gerakan Palestina, termasuk Anera, Glia, Gaza Soup Kitchen, Taawon, HEAL Palestine, Palestinian Youth Movement, Middle East Children’s Alliance, Jewish Voice for Peace, Medical Aid for Palestinians, Institute for Middle East Understanding, Palestine Children’s Relief Fund, dan UNRWA USA .

Macklemore juga menantang Robert Kraft untuk menyamai donasinya. “Whatever we disagree about, perhaps we can agree on this: Palestinian lives are worth protecting. A Palestinian life is no less valuable than any other life on this earth,” tulis Macklemore . Kraft kemudian merespons dengan menyatakan akan menyumbangkan $2 juta untuk bantuan kemanusiaan .

Solusi dan Dampak Jangka Panjang

Fenomena tur Free Palestine yang dipelopori Macklemore memberi cermin jernih bagi arah filantropi modern. Bila dibaca melalui lensa teori filantropi Islam mutakhir, kedermawanan sejati tidak boleh tunduk pada tekanan kapital ataupun pembungkaman elite. Dengan memadukan karya seni, keberanian politik, dan penggalangan dana yang transparan, gerakan ini berhasil membuktikan bahwa filantropi dapat menjadi daya dorong nyata untuk menegakkan nilai-nilai Maqashid al-Shariah dan keadilan kemanusiaan di panggung dunia.

Namun, Macklemore sendiri mengingatkan bahwa bantuan saja tidak cukup. “Aid alone cannot address the conditions that make it necessary. This is a manmade injustice and I believe it requires immediate political change. Palestinians have lived for decades without basic rights and should not have to wait another day to be free” .

Solusi jangka panjang menuntut tiga hal. Pertama, pembangunan ekosistem filantropi berbasis solidaritas yang tidak bergantung pada belas kasihan elite, melainkan pada kekuatan kolektif masyarakat sipil. Kedua, advokasi kebijakan yang menantang struktur kekuasaan yang memungkinkan miliarder menentukan siapa yang boleh bersuara dan siapa yang tidak. Ketiga, integrasi antara bantuan kemanusiaan dan perubahan politik yang mengatasi akar penyebab penderitaan, bukan sekadar gejalanya.

Tur Free Palestine bukan sekadar konser. Ia adalah pernyataan bahwa panggung seni dapat menjadi altar perlawanan, dan bahwa filantropi—ketika diarahkan dengan kesadaran etis dan keberanian politik—mampu menjadi instrumen pembebasan, bukan sekadar amal. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment