Breaking News
- Persis Peduli Evakuasi Korban Longsor Cisarua
- Relawan Muhammadiyah Hadirkan Sekolah Darurat di Aceh
- Lazismu Pekanbaru Salurkan School Kit
- Zakat dan Pendayagunaan Sektor Pendidikan
- Beasiswa Filantropi: Jalan Strategis Pemberdayaan dan Keadilan Pendidikan
- Fadhilah Zakat dan Sedekah pada Ramadhan 2026
- Filantropi Islam dan Tantangan Keberlanjutan Sosial
- Lazismu Riau Kirim Bantuan ke Aceh Tamiang
- PT Telkom dan LAZ Harfa Tanggulangi Stunting di Tiga Provinsi
- Rumah Zakat Pulihkan Fasilitas Sekolah di Kalsel
Dapur Umum BAZNAS, Penjaga Gizi dan Jiwa Penyintas Sumatera

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Baznas.go.id
Musim hujan kali ini datang membawa kabar duka di sejumlah provinsi Sumatera. Banjir bandang dan longsor tak hanya merenggut harta benda dan rumah, tetapi juga menanggalkan kepastian hidup bagi ribuan keluarga. Di Kabupaten Tanah Datar, di Padang yang tergenang, hingga ke Pidie Jaya di Aceh, tenda-tenda pengungsian menjadi tempat berlindung sementara, dipenuhi kelelahan dan ketidakpastian. Di sanalah, sebuah operasi penyelamatan martabat kemanusiaan sedang berlangsung melalui aroma masakan yang mengepul dari Dapur Umum milik Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI.
Dalam situasi sulit, kepedulian sosial dan semangat gotong royong adalah penggerak utama. Layanan ini bukan sekadar tugas logistik; ini adalah janji untuk menjaga perut tetap terisi, kepala tetap tegak, dan hati tetap memiliki harapan. BAZNAS dengan sigap membawa dapur mereka berpindah dari kota ke lokasi bencana, siap memasak ribuan porsi senyum setiap hari, mengubah bantuan yang dihimpun menjadi energi dan kekuatan bagi para penyintas.
Respons Satset di Tiga Provinsi
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, MA., menjelaskan bahwa pendirian dapur umum ini adalah manuver sat set (cepat dan efisien) dalam menghadapi kondisi darurat. Beliau menekankan bahwa kepastian pangan adalah respons pertama yang paling mendesak. "Kami segera mendirikan layanan dapur umum di beberapa titik pengungsian untuk memastikan para penyintas mendapatkan makanan yang layak setiap hari," ujar Saidah, menggarisbawahi komitmen BAZNAS untuk tidak menunda bantuan vital.
Jaringan dapur umum ini terdistribusi secara strategis untuk memastikan cakupan yang luas dan terencana. Di Sumatera Barat, dapur didirikan di Kabupaten Tanah Datar dan Kota Padang, mencakup area yang terdampak longsor dan banjir terparah. Sementara di Sumatera Utara, dapur umum beroperasi di Kabupaten Tapanuli Selatan, fokus melayani pengungsi di wilayah yang terisolasi. Di ujung utara, Aceh juga mendapat perhatian serius, dengan dapur umum berlokasi di Desa Blang Awe (Pidie Jaya) dan Desa Meusi (Kutablang, Bireuen). Pemilihan lokasi ini memastikan bahwa bantuan dapat menjangkau komunitas yang paling terisolasi dan rentan.
Melawan Trauma di Pidie Jaya
Salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus adalah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Di Masjid Kuba, Desa Lhok Puuk, misalnya, situasinya sangat mengkhawatirkan. Banjir yang datang tanpa permisi memaksa warga lari tanpa sempat membawa apa-apa, bahkan perbekalan dasar. Tim BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) segera menyalurkan 250 paket makanan siap saji sebagai pertolongan pertama, namun ini hanya langkah awal.
Saidah Sakwan menceritakan, kondisi lapangan menunjukkan bahwa trauma dan kebutuhan pangan tidak bisa ditangani secara parsial. "Banyak pengungsi yang meninggalkan rumah tanpa membawa perlengkapan karena banjir datang secara tiba-tiba dan cukup tinggi," paparnya. Oleh karena itu, BAZNAS meningkatkan komitmennya, tidak hanya dengan makanan siap saji, tetapi juga dengan mendirikan dapur umum yang mampu memproduksi hingga 1.000 porsi per hari di wilayah tersebut. Kapasitas masif ini menunjukkan tekad BAZNAS untuk menjadi jaring pengaman pangan bagi ribuan kepala keluarga yang kini bergantung pada bantuan.
Bumbu Kerja Keras Relawan
Mengoperasikan dapur umum di lokasi bencana bukanlah perkara mudah. Tantangan logistik menjadi hambatan terbesar. Tim harus memastikan suplai bahan makanan mentah, air bersih, dan pasokan gas untuk memasak terus mengalir lancar, meskipun akses jalan terputus atau rusak parah. "Kami terus melakukan pemantauan dan memastikan bahwa layanan dapur umum ini beroperasi optimal, mulai dari suplai bahan makanan hingga distribusi ke pengungsi" ucap Saidah. Koordinasi ini melibatkan tim BTB yang harus melakukan asesmen rute setiap hari.
Lebih dari itu, dapur umum di masa darurat adalah pertaruhan waktu dan kualitas. Relawan yang sering dijuluki "Chef BAZNAS" harus bekerja tanpa lelah sejak subuh. Mereka mencuci beras dan sayuran yang dibawa dari lokasi yang masih aman, memotong bumbu, hingga mengatur distribusi dengan tertib. Mereka harus memasak dengan cepat agar makanan siap tepat waktu, tetapi tetap harus menjaga standar kebersihan yang tinggi untuk menghindari penyakit pasca-bencana. Komitmen BAZNAS dan relawan adalah menjaga setiap porsi makanan tidak hanya cukup, tetapi layak untuk dikonsumsi, menjadi pengingat bahwa ada orang lain yang peduli, yang diwujudkan dalam sepiring nasi hangat.
Dari Piring ke Pemulihan Ekonomi
Saidah Sakwan menegaskan bahwa layanan dapur umum ini akan terus beroperasi selama masa darurat masih berlangsung. Namun, BAZNAS memiliki visi yang lebih jauh dari sekadar mengisi perut, melihat bencana ini sebagai awal dari proses pemulihan yang panjang. Beliau menjelaskan bahwa kondisi pengungsi masih membutuhkan dukungan berkelanjutan karena banyak yang belum bisa kembali ke rumah dalam waktu dekat.
Setelah fase darurat terlewati, tim BTB akan melanjutkan dengan asesmen mendalam untuk melihat kebutuhan masyarakat selanjutnya. Saidah memastikan bahwa layanan tambahan seperti bantuan kesehatan, penyaluran logistik non-pangan (selimut, pakaian), dan program pemulihan ekonomi akan diberikan pada tahap berikutnya, sesuai dengan kebutuhan unik para penyintas di masing-masing lokasi.
Menyadari besarnya skala bencana, Saidah Sakwan secara tegas menegaskan pentingnya sinergi dan gotong royong dari berbagai pihak. “Kami mengajak seluruh lembaga, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk bersama-sama mendukung pemulihan warga terdampak bencana. Sinergi antar pihak sangat dibutuhkan agar layanan kemanusiaan dapat berjalan lebih cepat dan efektif” ajaknya. Di tengah keruhnya air banjir, nyala api di dapur-dapur BAZNAS di Sumatera adalah mercusuar solidaritas. Setiap porsi makanan yang disalurkan adalah bukti bahwa, meskipun rumah hancur, ikatan persaudaraan sebangsa tetap utuh dan kuat.
Penulis: Yuni Hutandjalay
Editor: MAS
Sumber: Baznas.go.id
Baca Lainnya :
- Pengusaha Istanbul Bantu Warga Gaza Via IHH0
- IHH Bantu Warga Sudan Ratusan Kontainer Paket Makanan0
- Bantuan ke Gaza, Jauh Panggang Dari Api0
- Kolaborasi Filantropi, Qatar CHS Sambangi IHH0
- IKA Unpad Bentuk Unit Pengumpul Zakat0
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments

1.png)







.jpg)
.png)
.png)