- Persis Peduli Evakuasi Korban Longsor Cisarua
- Relawan Muhammadiyah Hadirkan Sekolah Darurat di Aceh
- Lazismu Pekanbaru Salurkan School Kit
- Zakat dan Pendayagunaan Sektor Pendidikan
- Beasiswa Filantropi: Jalan Strategis Pemberdayaan dan Keadilan Pendidikan
- Fadhilah Zakat dan Sedekah pada Ramadhan 2026
- Filantropi Islam dan Tantangan Keberlanjutan Sosial
- Lazismu Riau Kirim Bantuan ke Aceh Tamiang
- PT Telkom dan LAZ Harfa Tanggulangi Stunting di Tiga Provinsi
- Rumah Zakat Pulihkan Fasilitas Sekolah di Kalsel
Bantu Warga Dhuafa, Target Zakat di Jawa Barat Ditingkatkan

Keterangan Gambar : Foto: radarbandung.id
Tingginya jumlah warga Muslim di Jawa Barat, diharapkan bisa
membantu warga miskin. Hal ini bisa terealisasi, jika program zakat, infak dan sedekah (ZIS) yang dicanangkan Badan Amil
Zakat Nasional (Baznas) bisa terealisasi.
Menurut Direktur Akademizi, Nana Sudiana, penduduk Jawa Barat saat ini
diperkirakan sekitar 49,9 juta jiwa pada tahun 2023.
“Berdasarkan data yang kami peroleh, Penduduk Jabar pada 2023 sebesar 49,9
juta jiwa dengan mayoritas beragama Islam,” kata Nana dalam acara Seminar
Tantangan Kesejahteraan Jawa Barat Perspektif
Sosial Budaya dan Strategi Pemberdayaan Berbasis Kearifan Lokal, yang diadakan
di Gedung Serba Guna Salman ITB, Bandung.
Baca Lainnya :
- Solopeduli Berbagi Mushaf Baru untuk Rumah Tahfiz Quran 0
- Kurban, Ibadah yang Dianjurkan di Bulan Zulhijah0
- Sejarah dan Tujuan Ibadah Kurban Menurut Sejarah Islam0
- Bara di Hutan Merdeka: Perang yang Mencabik Republik? (6)0
- Infaq Masjid: Keutamaan dan Manfaat Berdonasi untuk Rumah Allah0
Acara tersebut merupakan Kolaborasi antara Akademisi, IZI, FOZ Jabar,
Syarikat Amil, serta Rumah Amal Salman.
Nana menyampaikan potensi ZIS di Jawa Barat. sangat besar, dan
ini bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.
“Potensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di Jawa Barat sangat besar,
diperkirakan mencapai Rp32 triliun. Namun, Realisasi ZIS di Jabar menurut
Baznas Jabar sampai dengan 2024 baru tercapai Rp6 triliun,” jelasnya.
Nana mengatakan, hal ini yang kemudian menjadi fokus karena pendapatan
pajak harus ditingkatkan dengan rata-rata peningkatan 25-30% setiap tahunnya.
Nana mengatakan, beberapa kabupaten/kota memiliki persentase penduduk
miskin yang lebih tinggi dibandingkan yang lain. Beberapa daerah dengan angka
kemiskinan tertinggi di Jawa Barat antara lain
Indramayu, Kuningan, Kota Tasikmalaya, Majalengka, dan Cirebon, dengan
persentase di atas 10%.
Namun, secara keseluruhan, Jawa Barat menunjukkan
tren penurunan angka kemiskinan. Faktor kemiskinannya adalah rendahnya kualitas
keterampilan tenaga kerja, kurangnya akses perumahan layak, bencana alam,
inflasi, kurangnya lapangan kerja, dan rendahnya Tingkat pendidikan serta
kepemilikan aset.
“Saya menilai, dengan potensi ZIS Jawa Barat yang besar,
semoga bisa membantu menanggulangi berbagai masalah warga miskin di Jawa Barat,
termasuk mengangkat paramustahik untuk mampu menjadi muzaki,” tambah Nana saat
menyampaikan Solusi terkait tantangan kesejahteraan di Jawa Barat.
Sementara itu, Direktur Puskas BAZNAS RI, Muhamad Hasbi Zaenal mengatakan
pada 2024 lalu, raihan zakat di sekitar Rp40 triliun,
dengan capaian dari berbagai badan zakat di seluruh Indonesia.
“Untuk tahun ini ditargetkan Rp50 triliun, tahun 2026 targetnya Rp66
triliun, sampai 2029 Rp 100 triliun,” ujar Hasbi.
Untuk mencapai itu, Hasbi mengatakan bukan sesuatu hal yang mudah,
mengingat kondisi ekonomi masyarakat relative tidak baik-baik saja.
“Ya kita memang mendengar kondisi perekonommmian di Indonesia sedang tidak
baik, daya beli juga turun,” katanya.
Meski demikian, Hasbi mengatakan, bukan tidak mungkin target bisa tercapai,
pasalnya saat pandemi covid-19, di mana kondisi ekonomi juga Tengah terpuruk,
namun pendapatan tidak turun.
“Makanya, kita masih ada harapan bisa mencapai target dari BAZNAS RI,”
jelasnya.
Kontribusi: Fitria Susilawati
Editor: MAS
Sumber: Radarbandung.id

1.png)







.jpg)
.png)
.png)