Akses WiFi Dompet Dhuafa Bantu Guru Honorer Aceh Tamiang

By Revolusioner 19 Des 2025, 14:52:14 WIB LAZ
Akses WiFi Dompet Dhuafa Bantu Guru Honorer Aceh Tamiang

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Dompetdhuafa.org


Malam gelap masih menyelimuti kawasan Rantau, Aceh Tamiang, ketika tim Dompet Dhuafa melintasi jalanan berlumpur sisa banjir bandang yang melanda wilayah tersebut hampir tiga pekan lalu. Di sela-sela kegiatan penyaluran 1.000 porsi makanan bagi warga terdampak, sorot lampu sepeda motor tiba-tiba memecah keheningan. Seorang perempuan tampak menghentikan laju kendaraan tim dengan ekspresi panik dan penuh kecemasan.

Perempuan itu adalah Timah Ros (38), warga Dusun Pajak Pagi, Kelurahan Rantau Pauh. Ia menjadi salah satu korban banjir bandang dan longsor yang merusak rumah serta sebagian besar harta bendanya. Namun malam itu, yang ia butuhkan bukanlah bantuan pangan. “Pak, tolong saya. Hari ini batas akhir pendaftaran,” ujarnya dengan suara bergetar.

Ros merupakan Guru Biologi Honorer di SMA 1 Rantau yang telah mengabdikan diri selama satu dekade. Senin (15/12/2025) menjadi hari penentuan baginya karena bertepatan dengan penutupan pendaftaran P3K Paruh Waktu kesempatan yang ia harapkan dapat mengubah kondisi hidupnya.

Baca Lainnya :

Musibah banjir membuat situasi semakin sulit. Rumah Ros terendam hampir mencapai plafon, laptop yang biasa ia gunakan untuk bekerja rusak total, dan pemadaman listrik menyebabkan jaringan komunikasi di area pengungsian lumpuh sepenuhnya. Baru pada sore hari, ponselnya sempat menyala sesaat dan memberinya kabar bahwa waktu pendaftaran hampir habis.

Tanpa banyak pertimbangan, Ros langsung bergegas mengendarai sepeda motor bersama putra lelakinya, menyusuri malam gelap dengan harapan menemukan sinyal internet, meski tak tahu harus ke mana.

Melihat kondisi tersebut, tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa segera mengambil langkah cepat. Salah satu personel DMC, Afriza Adha, memutuskan untuk berpisah dari rombongan distribusi makanan dan mendampingi Ros menuju Pos Dompet Dhuafa di Kota Langsa yang memiliki fasilitas WiFi darurat.

Afriza menilai kondisi jalan yang rusak dan minim penerangan sangat berisiko jika Ros melanjutkan perjalanan seorang diri. Selain itu, kecemasan yang ia rasakan membuat pendampingan menjadi hal yang mendesak.

Setibanya di Pos Dompet Dhuafa, ketegangan masih terasa. Dengan tangan yang masih gemetar, Ros mulai mengisi data pendaftaran menggunakan akses internet gratis yang disediakan bagi penyintas banjir. Proses tersebut didampingi langsung oleh Afriza hingga seluruh tahapan selesai.

Pukul 22.30 WIB, layar laptop akhirnya menampilkan notifikasi “Pendaftaran Berhasil”. Tangis haru pun pecah. Beban kecemasan yang sejak sore menekan Ros seketika luruh, berganti rasa lega dan syukur. Pelukan hangat dari tim Dompet Dhuafa mengiringi momen bahagia tersebut.

Di tengah kehilangan harta benda akibat bencana, malam itu Ros berhasil mengamankan masa depannya sebagai pendidik. Keberadaan layanan WiFi gratis di Pos Dompet Dhuafa menjadi bukti bahwa akses konektivitas tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga penopang kehidupan bagi mereka yang menggantungkan pekerjaan pada dunia digital.

Bagi Ros, pertemuan dengan tim Dompet Dhuafa malam itu bukan sekadar kebetulan, melainkan jawaban atas doa dan keteguhan untuk terus bertahan.

“Terima kasih banyak. Jika tidak bertemu tim Dompet Dhuafa di jalan tadi, saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca sebelum kembali ke pengungsian dengan hati yang jauh lebih tenang.

Kontributor: Wilsa

Editor: MAS

Sumber: Dompetdhuafa.org 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment