- Persis Peduli Evakuasi Korban Longsor Cisarua
- Relawan Muhammadiyah Hadirkan Sekolah Darurat di Aceh
- Lazismu Pekanbaru Salurkan School Kit
- Zakat dan Pendayagunaan Sektor Pendidikan
- Beasiswa Filantropi: Jalan Strategis Pemberdayaan dan Keadilan Pendidikan
- Fadhilah Zakat dan Sedekah pada Ramadhan 2026
- Filantropi Islam dan Tantangan Keberlanjutan Sosial
- Lazismu Riau Kirim Bantuan ke Aceh Tamiang
- PT Telkom dan LAZ Harfa Tanggulangi Stunting di Tiga Provinsi
- Rumah Zakat Pulihkan Fasilitas Sekolah di Kalsel
Akses WiFi Dompet Dhuafa Bantu Guru Honorer Aceh Tamiang

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Dompetdhuafa.org
Malam
gelap masih menyelimuti kawasan Rantau, Aceh Tamiang, ketika tim Dompet Dhuafa
melintasi jalanan berlumpur sisa banjir bandang yang melanda wilayah tersebut
hampir tiga pekan lalu. Di sela-sela kegiatan penyaluran 1.000 porsi makanan
bagi warga terdampak, sorot lampu sepeda motor tiba-tiba memecah keheningan.
Seorang perempuan tampak menghentikan laju kendaraan tim dengan ekspresi panik
dan penuh kecemasan.
Perempuan itu adalah Timah Ros (38), warga Dusun Pajak Pagi, Kelurahan Rantau Pauh. Ia menjadi salah satu korban banjir bandang dan longsor yang merusak rumah serta sebagian besar harta bendanya. Namun malam itu, yang ia butuhkan bukanlah bantuan pangan. “Pak, tolong saya. Hari ini batas akhir pendaftaran,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ros
merupakan Guru Biologi Honorer di SMA 1 Rantau yang telah mengabdikan diri
selama satu dekade. Senin (15/12/2025) menjadi hari penentuan baginya karena
bertepatan dengan penutupan pendaftaran P3K Paruh Waktu kesempatan yang ia
harapkan dapat mengubah kondisi hidupnya.
Baca Lainnya :
- Pos Medis Dompet Dhuafa Layani Korban Bencana Sumbar0
- DKM Al-Falah dan Rumah Zakat Bantu Penyintas Tapanuli Tengah0
- Kisah Solikatin: Merajut Hidup Sehat dari Pintu ke Pintu0
- Rumah Zakat Salurkan Donasi untuk 4.500 Warga Padang0
- LAZISNU Bondowoso Tebar Sembako dan Layanan Kesehatan 0
Musibah
banjir membuat situasi semakin sulit. Rumah Ros terendam hampir mencapai
plafon, laptop yang biasa ia gunakan untuk bekerja rusak total, dan pemadaman
listrik menyebabkan jaringan komunikasi di area pengungsian lumpuh sepenuhnya.
Baru pada sore hari, ponselnya sempat menyala sesaat dan memberinya kabar bahwa
waktu pendaftaran hampir habis.
Tanpa
banyak pertimbangan, Ros langsung bergegas mengendarai sepeda motor bersama
putra lelakinya, menyusuri malam gelap dengan harapan menemukan sinyal
internet, meski tak tahu harus ke mana.
Melihat
kondisi tersebut, tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa segera
mengambil langkah cepat. Salah satu personel DMC, Afriza Adha, memutuskan untuk
berpisah dari rombongan distribusi makanan dan mendampingi Ros menuju Pos
Dompet Dhuafa di Kota Langsa yang memiliki fasilitas WiFi darurat.
Afriza
menilai kondisi jalan yang rusak dan minim penerangan sangat berisiko jika Ros
melanjutkan perjalanan seorang diri. Selain itu, kecemasan yang ia rasakan
membuat pendampingan menjadi hal yang mendesak.
Setibanya
di Pos Dompet Dhuafa, ketegangan masih terasa. Dengan tangan yang masih
gemetar, Ros mulai mengisi data pendaftaran menggunakan akses internet gratis
yang disediakan bagi penyintas banjir. Proses tersebut didampingi langsung oleh
Afriza hingga seluruh tahapan selesai.
Pukul
22.30 WIB, layar laptop akhirnya menampilkan notifikasi “Pendaftaran Berhasil”.
Tangis haru pun pecah. Beban kecemasan yang sejak sore menekan Ros seketika
luruh, berganti rasa lega dan syukur. Pelukan hangat dari tim Dompet Dhuafa
mengiringi momen bahagia tersebut.
Di tengah
kehilangan harta benda akibat bencana, malam itu Ros berhasil mengamankan masa
depannya sebagai pendidik. Keberadaan layanan WiFi gratis di Pos Dompet Dhuafa
menjadi bukti bahwa akses konektivitas tidak hanya berfungsi sebagai sarana
komunikasi, tetapi juga penopang kehidupan bagi mereka yang menggantungkan
pekerjaan pada dunia digital.
Bagi Ros,
pertemuan dengan tim Dompet Dhuafa malam itu bukan sekadar kebetulan, melainkan
jawaban atas doa dan keteguhan untuk terus bertahan.
“Terima
kasih banyak. Jika tidak bertemu tim Dompet Dhuafa di jalan tadi, saya
benar-benar tidak tahu harus berbuat apa,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca
sebelum kembali ke pengungsian dengan hati yang jauh lebih tenang.
Kontributor:
Wilsa
Editor: MAS
Sumber: Dompetdhuafa.org

1.png)







.jpg)
.png)
.png)